5.31.2012

Finale: Memoar Pendakian Dempo (II)

Di gerbang Pintu Rimba Gunung Dempo, Rabu 16 Mei 2012, baru saja lewat waktu Magrib. Kami berdoa memulai pendakian, di bawah sana, Kampung Empat sepertinya terbiasa melewati malam dalam gelap lantaran listrik hanya masuk dari pagi hingga sore saja. Sehingga tidak ada view kelap kelip lampu perkampungan, yang ada cuma Bukit Barisan yang berdiri gagah mengelilingi hijau lahan dibawahnya. Kami mulai bergerak pelan, masuk ke rimba Dempo dengan headlamp siaga di kepala, sampai detik itu Dempo aku kira masih termasuk gunung yang medannya terbilang lumayan namun tidak untuk detik- detik berikutnya hingga berjam- jam kemudian sekalipun. Karena Dempo ternyata adalah Gunung yang Berat. Mengingatkan siapapun yang pernah mendaki Ciremai via Linggajati/Linggasana dengan tanjakannya ditambah paduan medan basah yang ada di Salak. Event words can't describe!


Rabu, 16 Mei 2012

Pintu Rimba - Shelter I
Perjalanan menuju Puncak Dempo memakan waktu sekitar 5 jam. Namun dengan medan yang terus- menerus menanjak (mungkin sekitar 60 - 70 derajat) nyaris dan sedikit saja dataran, maka toleransi deviasi standar menurutku cukup wajar sekitar 0,5- 1 jam. Sekitar 1 jam dari Pintu Rimba hawa dingin udara pegunungan mulai terasa menusuk sehingga sangat dianjurkan untuk terus berjalan saja hingga istirahat sejenak di Shelter I. Sekitar 1 jam trekking kami tiba di Shelter I, sebuah lahan yang cukup luas untuk beristirahat sejenak sekedar menghangatkan tubuh dengan minuman hangat dan melepas carrier di pundak. Di Shelter I ini belum terdapat sumber mata air, baru akan ada nanti di Shelter II.

Shelter I - Tanjakan Dinding Lemari
Usai refuel dan break sejenak, perjalanan kami lanjutkan, medannya belum terlalu jauh berbeda dari sebelumnya, hanya saja makin didominasi akar pohon menahun dan perdu serta lebih sedikit bonus, yang ada cuma tepian jalur yang disangga oleh reruntuhan pepohonan yang roboh. Lambat laun, kondisi tubuh sudah terbiasa dengan kondisi medan dan mungkin karena didukung juga karena kami mendaki pada malam hari sehingga terjalnya medan tidak terlihat dan secara psikologis kondisi ini memberi ketahanan lebih. Sekitar 1 jam kemudian kami tiba pada satu tanjakan cukup panjang sekitar 4-5 meter dengan kecuraman hingga 90 derajat, namanya Tanjakan Dinding Lemari. Beautifully Dangerous, i called it.
Namun kini di dekat tanjakan tersebut sudah dibuatkan jalur yang lebih aman sehingga pendaki dapat memilih jalur mana yang disukai. Tapi meski begitu, ternyata jalur yang akan dilewati setelah Tanjakan Dinding Lemari semakin terjal daripada yang sebelumnya.

Tanjakan Dinding Lemari - Shelter II
Melewati jalur menuju Shelter II, kami mulai sering istirahat, kondisi jalur yang kian berat, ditambah hari kian malam, rentan membuat siapapun jatuh terkantuk. Namun kami masih tetap berjalan sehingga setelah hampir 1 jam kemudian tiba di Shelter 2. Uwi dan Bange langsung mengambil air ke sumber mata air, sementara aku dan lainnya beristirahat duduk di Shelter 2, bahkan nyaris tertidur dengan posisi carriel masih di pundak, tak lama setelah itu, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum meneruskan perjalanan. Dari sini, citylight kota Pagar Alam sudah mulai terlihat. Begitu indah. Cukup lama istirahat makan, kami meneruskan perjalanan kembali.

Shelter II - Jalur Batuan Cadas - Puncak Dempo
Semakin menanjak keatas mendekati Puncak Dempo, medan pendakian kian terjal namun tidak lagi didominasi akar pohon menahun, hanya semak perdu dan pohon Cantigi, atau oleh penduduk setempat disebut Pohon Kayu Panjang Umur (Kapur). Kondisi fisik kami sepertinya saat itu, sudah mulai diserang kantuk yang amat sangat, ditambah lelah pula. Namun perjalanan tetap kami teruskan melewati makam seorang pendaki yang menurut informasi yang aku dengar adalah pendaki yang pertama kali membuat jalur ini, namanya aku lupa. Hampir 2 jam dan kami akhirnya tiba di jalur batuan cadas. Benar- benar cadas. Dari sini Puncak Dempo sudah tidak jauh lagi, namun kala itu aku pun berjalan seperti sudah tidak sadar menginjak bumi, kantuk ini benar- benar membuat mati rasa, tak lagi terasa lelah, semua mengambang. Sehingga besar sekali dorongan untuk mendirikan tenda sesegera mungkin.
Namun selaku Ketua Tim, Uwi meminta kesediaan kami untuk meneruskan perjalanan. It's sucks! but i realized he knew what he was doing! Dan alhamdulillah akhirnya sekitar 15 menit kemudian tiba di Puncak Dempo (3159 mdpl) kami hanya sesaat saja berdiri disana. Puncak Dempo adalah lahan kecil yang ditutupi vegetasi Cantigi. Kami pun sesuai rencana awal, segera turun ke lembah untuk mendirikan tenda, sebuah turunan yang terjal dan berliku- liku. Ketika 15 menit kemudian kami tiba di lembah, tanpa dikomando tenda langsung segera kami dirikan, dan tanpa ba bi bu, basa basi bisu, aku berlalu, tidur.

Kamis, 17 Mei 2012

Lembah - Puncak Marapi
Pagi, walau malas beringsut, akhirnya aku keluar juga dari tenda. Lembah ini ternyata cukup luas, Cantigi ada dimana- mana dan tidak ada Edelweis terlihat, Puncak Api berdiri kokoh persis didepan kami mendirikan tenda. Kami mulai bersiap untuk sarapan. Tidak jauh dari sini ada semacam aliran sumber mata air bernama Sumber Mata Air Putri, begitu indah, begitu bening dan alami. Disini kami mengambil air dan mencuci perabotan. Setelah sarapan istimewa dengan Pempek Lenjer yang dibawakan oleh Zahri, kami bergerak menuju Puncak Api. 2 Jam pendakian melewati medan kerikil dan sedikit rimba perdu Cantigi, kami tiba di Puncak Marapi Dempo. Puncaknya berupa lahan luas dengan kawah yang masih aktif. Di puncak ini terdapat makam seorang tetua kampung zaman dahulu, yang sayangnya menjadi objek penyembahan mereka yang belum paham. Tanpa bermaksud menggurui, aku jujur menjadi bingung melihat sebuah makam dipuja, disucikan, dan dijadikan tempat meminta.
Puncak Marapi Dempo
Alhamdulillah, kami dikuatkan juga hingga tiba di Puncak Marapi Dempo, lengkap dari awal. Disini, semua keletihan dan beratnya medan semalam bagai tidak terjadi saja. Lupa semua, semua lupa. memang benar bahwa finally the persistence paid off at the end. Dan seperti biasa, tidak lupa kami mengabadikan kenangan dalam gambar, tanpa bermaksud apapun, karena memang tidak ada yang bisa kami ambil selain poto dan poto lah yang kelak belasan atau mungkin puluhan datang mampu bercerita tentang perjalanan ini.
Dengan panduan dari Zahri, kami mengambil rute pendakian dengan jalur Kampung IV dan turun lewat jalur Tugu Rimau. Jalur turunan lewat Tugu Rimau ini benar- benar ekstrim, terdapat dua titik sangat terjal namun sudah terpasang tali sebagai alat bantu, selebihnya adalah jalur terjal dengan lahan perdu terbuka makin turun makin rimba dan sekitar pukul 7 malam kami tiba di Tugu Rimau disambut oleh dingin, sepi dan citylight kota Pagar Alam. Disini kami bermalam di Mushollah untuk keesokan paginya meneruskan perjalanan pulang kembali ke peradaban. Terima kasih banyak kepada Zahri atas segala bantuan sejak awal hingga akhir sehingga kami dapat melaksanakan pendakian ini, we owe you more than thanks.



Buat Uwi, Bange, Aconk, Pak Lurah, Suci, Riya, Ame dan Yuda. Terima kasih banyak. What Dempo served to us might leave us speechless, and the way we handled it was what showing us that we are just stronger than we thought.
P.S:
----
#Di lembah ini, aku heran, ada Burung Merpati putih sendirian, penasaran dari mana datang nya dan mengapa sendirian, agak janggal kalau Burung Merpati terbang setinggi ini. Burung nya jinak, seperti kata pepatah Jinak Jinak Merpati.
#Dikarenakan keletihan fisik, maka poto- poto sepanjang pendakian tidak sempat diambil.
#Courtesy Photo By: Wirawan Yuda dan Moehammad A Noeryadi.

Read more »

5.29.2012

Memoar Pendakian Dempo (I)

Gunung Dempo (3159 mdpl) adalah titik tertinggi Sumatera Selatan dan merupakan salah satu gunung di sepanjang deret Bukit Barisan yang mengelilingi sebuah kota bernama Pagar Alam. Gunung ini menjadi tujuan kami begitu selesai mendaki Gunung Kerinci. Perjalanan menuju Kota Pagar Alam kami tempuh dalam waktu hampir 14 jam dari Kota Sungai Penuh dengan menggunakan jasa Travel yang ongkosnya dipatok Rp. 200.000,-/ orang. Sebetulnya bisa saja kami pakai jalur estafet yang ongkosnya lebih murah, tapi dengan pertimbangan efisiensi waktu dan ditambah keraguan akan ketersediaan bis di malam hari, maka men- charter mobil travel ELF 3/4 bisa kami pikir akan lebih baik. Dan pada tanggal 15 Mei 2012, sekitar pukul 15.00 WIB kami berangkat dari Kota Sungai Penuh (Jambi) menuju Kota Pagar Alam (Sumatera Selatan).

Dengan posisi geografis diantara Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan, maka tentu saja rute yang ditempuh melintasi Bengkulu dengan tujuan Kab. Kepahiang yang berbatasan langsung dengan Kab. Lahat (Sumatera Selatan). Dari Lahat, maka Kota Pagar Alam sudah tidak jauh lagi. Berikut secara ringkas rute yang kami tempuh menuju Dempo ;

Desa Kersik Tuo (Jambi)- Kota Sungai Penuh (Jambi)- Kab Muko-Muko (Bengkulu)- Kab Lais (Bengkulu)- Kota Bengkulu- Kab Kepahiang (Bengkulu)- Pendopo (Sum Sel)- Kota Pagar Alam (Sum Sel).

Berhubung berangkat mulai sore hari, maka hampir total perjalanan kami lewatkan dengan beristirahat sepanjang jalan sampai tertidur, kecuali ketika istirahat makan di daerah Air Hitam, Kab. Muko- Muko, yang belakangan baru aku tahu sangat dekat dengan wilayah Pantai Barat Sumatera. Menjelang pagi hari, ketika kami sudah memasuki wilayah perbatasan antara Pendopo dan Pagar Alam, aku sudah dalam posisi siaga untuk menghubungi teman yang akan menyambut kami di Dempo nanti. Sekitar pukul 06.00 WIB tanggal 16 Mei 2012. Kami tiba di Pagar Alam menuju PTPN Pengelola Perkebunan Teh di Kaki Gunung Dempo dan setelah beberapa kali salah arah akhirnya kami istirahat sejenak di Vila Pemkab Lahat.
Disini kami sempat diskusi alot dengan supir ELF tumpangan kami agar mengantar kami hingga ke titik pendakian yang rupanya masih sangat jauh. Namanya Kampung Empat (IV). Ditengah diskusi ini, teman yang kami nantikan akhirnya datang, namanya Zahri. Walau begitu, tetap saja tidak ada titik temu, dan finally we got a blessing in disguise, sebuah truk pengangkut para petani pemetik teh berkenan memberi kami tumpangan hingga mendekati Kampung Empat. Tak disangka memang, justru dengan berada dalam tumpangan truk ini, kami berkesempatan menikmati pemandangan Gunung Dempo dan lahan perkebunan teh maha luas yang begitu indah. Alhamdulillah. Sehingga bagi siapapun yang hendak mendaki Dempo, harap diperhatikan bahwa sangat jarang ada angkutan yang bersedia mengangkut hingga ke titik gerbang pendakian, jadi jangan sungkan untuk menanti tumpangan truk.
Kampung Empat tempat kami memulai pendakian, hanya sebuah perkampungan kecil yang terdiri beberapa KK saja, namun fasilitas cukup lengkap, ada Taman Kanak- Kanak, Masjid, Air Bersih. Kelihatannya kampung ini memang disediakan oleh PTPN bagi para penduduk yang bekerja sebagai pemetik teh di sekitarnya. Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB 16 Mei 2012 kami sudah tiba di gerbang pendakian sebelum Pintu Rimba, istirahat sejenak untuk repacking dan menikmati udara pagi dan pemandangan yang menenangkan di kaki Gunung Dempo. Sejurus kemudian, perjalanan dimulai. Dipandu oleh Zahri, kami mengambil rute singkat menuju Pintu Rimba walau aku pribadi agak kebingungan. Baru ketika memasuki Magrib kami tiba di Pintu Rimba.

Kota Pagar Alam- PTPN Perkebunan Teh- Kampung I- Kampung II- Kampung IV- Shelter Kampung IV- Pintu Rimba.
To Be Continued...

Photo Courtesy By: Moehammad A Noeryadi dan Wirawan Yuda

P.S:
------
FYI, Dempo sebetulnya lebih dikenal oleh penduduk asli dengan nama Dempu, namun logat Palembang yang lazim mengakhiri suatu kata dengan huruf O maka nama Dempu berubah menjadi Dempo hingga kini.

Read more »

5.27.2012

Finale: Catatan Pendakian Kerinci (III)

Alarm berbunyi pertanda persiapan untuk Summit Attack dimulai dan sesuai rencana, pukul 04.00 kami akan mulai bergerak menuju puncak Kerinci 3805 mdpl. Aku bangun paling awal, namun terdengar suara dari tenda sebelah yang rupanya sudah bangun terlebih dahulu, setelah 'mengumpulkan nyawa' beberapa menit, aku beranikan diri keluar tenda melawan udara dingin. Di Shelter III ini rupanya ada sekitar hampir 8 tenda dari dua tim yang berbeda, tim kami dan satu lagi tim Antjur. Dibawah sana, kota Sungai Penuh dan Desa Kersik Tuo nampaknya masih terlelap dalam tidur nyeyak. Satu- satu dari kami mulai terbangun dan bersiap dengan peralatan masing- masing serta peralatan kelompok; kamera, logistik, P3K, dan air minum serta sebuah daypack.

Senin. 14 Mei 2012, sekitar pukul 04.00 WIB.
Kami semua berdiri melingkar, lalu berdoa sebelum mulai menuju puncak, headlamp dalam status menyala karena kondisi gelap, beruntung beberapa meter awal medan menuju puncak didominasi pohon Cantigi dan jalur yang cukup jelas namun cukup sempit. Dalam kondisi gelap ini, terjalnya medan dan jauh nya jarak belum terlihat jelas, hanya pancaran lampu headlamp pendaki lain di atas sana yang terlihat kecil cukuplah menunjukkan bahwa jarak tempuh keatas begitu jauh dan terjal. Semakin keatas, vegetasi makin jarang ditemui yang ada hanya medan kerikil dan bongkahan batu vulkanik yang bisa dijadikan sandaran. Aku mengambil posisi didepan tepat dibelakang guide Herru, bersama dengan Riya.

+/- 1 jam kemudian...
Perjalanan kami makin berat, nafas kian tersengal- sengal. Medan yang dilewati murni pasir kerikil dan bersandar pada batu, sehingga sangat dianjurkan mengenakan sepatu trekking supaya menghindari infeksi kuku lantaran infiltrasi pasir. Berat dan curamnya medan ini berpadu dengan hawa dingin. Sangat tidak baik berdiam diri terlalu lama karena udara dingin ditambah kantuk bisa menyebabkan hipotermia. 15-20 langkah dan berhenti 1 menit, itu formula yang aku pakai. Persiapan fisik beberapa minggu sebelumnya benar- benar bermanfaat ketika dalam kondisi seperti ini karena ketahanan nafas berperan penting. Jaket tebal yang hangat, windstopper, sarung tangan begitu berguna. Bagi yang khawatir dengan pasokan Oksigen yang kurang, sebaiknya membawa Oxycan 500 cc untuk persediaan cadangan.

+/- 1 jam kemudian...
Langit mulai cerah, gelap berganti jingga dan Matahari mulai muncul dari ufuk Timur, Danau Gunung Tujuh terlihat jelas dan begitu indah, sementara di sisi Barat sana, Samudera Hindia terlihat jelas bahkan garis putih deburan pantai di tepi pantai barat Sumatera bisa terlihat. Kami menikmati pemandangan ini dari Tugu Yuda (3605 mdpl), sebuah Tugu yang dibangun untuk memperingati seorang pendaki bernama Yuda yang hilang disekitaran koordinat ini ketika menuju Puncak Kerinci. Dari sinilah kami menikmati sunrise dan melihat langit perlahan mulai terang. Aku dan Riya memutuskan untuk mendahului rombongan, karena aku khawatir pada kondisi fisik Riya yang bila dibiarkan terlalu lama istirahat membuat nya harus aklimatisasi lagi dari awal.

Menjelang pukul 07.00
Puncak Kerinci mulai terlihat jelas, suara- suara mereka yang sudah tiba terlebih dahulu terdengar menyemangati, apalagi bila bertemu rombongan lain yang justru sudah hendak turun. Menoleh kebawah, terlihat bentangan hutan hijau Kerinci, area tempat kami bermalam terlihat begitu kecil dan warna warni oleh tenda. Sejujurnya aku katakan, aku belum pernah se-enjoy ini dalam mendaki, medan yang berat kunikmati di tiap langkahnya, tanpa beban, atau ambisi apapun, hanya semata- mata untuk menikmati. Aku berjalan sambil menyemangati Riya dengan gaya intimidasi yang terdengar kejam atau memaksa, namun aku kira memang tidak ada cara lain dalam memperkenalkan suatu kegiatan pendakian. Selain kenyataan bahwa alam tidak akan pernah membedakan jenis kelamin, alam tidak akan memberitahu dahulu bilamana ia hendak murka. dsb. dsb. Dan aku sudah siap jika ini akan membuatku terlihat tidak berperasaan. Semata- mata kulakukan untuk kebaikan.

Sekitar Pukul 07.30 WIB
Puncak Kerinci akhirnya terlihat depan mata, membuat semangatku terpacu lebih kuat. Dan akhirnya sujud syukur ku kepada ALLAH.SWT karena tiba juga aku di Atap Sumatera 3805 mdpl. Semua rasa lelah terbayar dengan kepuasan dan keterpesonaan akan keindahan ciptaan ALLAH.SWT. Hutan hijau, Pemandangan Danau Gunung Tujuh, Samudera Hindia, dan Kawah Kerinci yang mengeluarkan kepulan asap belerang pekat. Pekatnya belerang memang membahayakan, sehingga aku minta Riya untuk tidak berlama- lama di puncak dan turun kebawah dengan rombongan Tim Antjur, sementara dengan masker aku masih tetap diatas sambil menunggu mereka yang masih di bawah sana.

And... We have such a celebration..
Akhirnya semua tim tiba juga di puncak, sempurna! Alhamdulillah. Riya, Herru, Uwi, Fita, Jainer, Aconk, Fikri, Bange, Yuda, Ame dan Suci. We did it!. It is time to perpetuate these precious moments!! 14 Mei 2012, mungkin bisa saja akan terlupa dalam kehidupan kita, tapi tidak dengan momen yang terjadi didalamnya, berdiri bersama di ketinggian 3805 mdpl, Puncak Berapi Tertinggi di Indonesia, Atap Sumatera berkat ridho Tuhan yang Maha Kuasa.

Kepada semua tim Kempo, terima kasih banyak, i salut you for being brave and strong! dan dari sini perjalanan kita masih panjang, juga terima kasih banyak kepada Herru dan Bang Johan atas bantuannya selama di Kersik Tuo dan menemani pendakian ini. Juga kepada Tim Antjur, plang baru buatan dari tim ini kami jadikan model dalam beberapa poto yang kami ambil. juga khususnya kepada Ociel atas bantuannya merawat Riya yang tepar ketika tiba di Shelter III dan menemani nya ketika turun kembali kebawah. Tak lupa juga kuucapkan terima kasih kepada Kak Feri dan Andreas yang membantu ketika kami di Jambi dan memberi kami bantuan transportasi serta tumpangan menginap sebelum meneruskan perjalanan ke Kerinci.

Mei 2012
Salam.
Ebas.

P.S:
----
Photo Courtesy BY: Moehammad A Noeryadi & Bhulblues Antjur

Read more »

Catatan Pendakian Kerinci (II)

Di pagi hari dari basecamp, begitu membuka pintu, gagah dan indahnya Gunung Kerinci langsung terlihat jelas, nyaris tanpa terselubung kabut! Kepulan asap putih dari puncaknya memang sempat menjadi sorotan media, namun bagi masyarakat Desa Kersik Tuo, hal itu sudah biasa dan sama sekali tidak membuat mereka gentar. Kehidupan berjalan seperti biasa tanpa distraksi yang berarti disini; bertani, berdagang, memetik teh, menarik hewan ternak dll. Setelah beberapa saat menikmati Gunung Kerinci dari kejauhan, sarapan pagi dengan sambal kentang hasil pertanian asli Desa Kersik Tuo dan repacking, kami berangkat memulai pendakian dengan dijemput angkot untuk menuju titik gerbang pendakian, Pintu Rimba didekat pondokan R10 (1580 mdpl).


Minggu, 13 Mei 2012 Basecamp- Pintu Rimba- Pos I
Kami berdua belas sudah tiba di Pintu Rimba (1600 mdpl) dan memulai pendakian, medan awal masih terbilang landai dan terbuka. Karena masih lokasi lahan pertanian penduduk, para petani sibuk bercocok tanam, kami berlalu dengan beraklimatisasi lantaran berat beban carriel di pundak. Pintu Rimba ini merupakan batas Taman Nasional Kerinci Seblat dengan areal pertanian. Memasuki wilayah rimba tropis hutan Kerinci, flora khas hutan basah begitu lebat dan rapat. Wajar bila fauna liar hutan tropis masih begitu banyak disini, bahkan hingga ketinggian 2000 mdpl, merupakan habitat asli Harimau (Phantera Tigris). Sekitar hampir 1 jam dari Pintu Rimba, kami sudah tiba di Pos I (1800 mdpl).

Minggu, 13 Mei 2012
Pos I- Pos II
Perjalanan berlanjut ke Pos 2 (1909 mdpl). Medan masih relatif sama, masih cukup landai namun kondisi flora makin lebat dan rapat, meski begitu jalurnya bisa dilihat dengan jelas. Di sisi kiri kanan begitu sering dijumpai pohon menahun yang tinggi dengan diameter batang yang lebar. Kicauan burung dan nyanyian jangkrik hutan makin kentara, harmoni alam! Hampir 1 jam perjalanan dan akhirnya kami tiba di Pos 2 ini.

Pos II- Pos III
Menuju Pos 3 (2000 mdpl), medan sudah mulai agak curam, jalan semakin sempit ditambah pula kondisi yang basah membuat jalur makin licin. Kondisi flora tropis sepanjang jalur menuju Pos 3 ini makin lebat. Pohon lebar dan tinggi makin sering dijumpai. Kami tiba di Pos 3 setelah trekking hampir 1 jam. Sangat dianjurkan untuk berpakaian senyaman mungkin selama menempuh jalur ini, mengingat beratnya medan dapat membuat keringat ekstra.

Pos III- Shelter I
Dari Pos menuju Shelter. Memang penamaanya begitu, tanpa alasan khusus mengapa. Namun waktu tempuh dari Pos ke Shelter lebih panjang dari pada antar pos sebelumnya, sekaligus lebih berat dan lebih curam. Vegetasi yang ada sepanjang jalur sudah mulai menunjukkan iklim pegunungan. Simbiosis antara pohon dengan jumputan gelantungan rumput hijau dapat dijumpai dengan mudah. 2 jam perjalanan kami tiba di Shelter 1 (2225 mdpl), sebuah area luas untuk beristirahat, sholat dan makan. Dan, rupanya kami disini mulai underschedule karena terlalu lama beristirahat.

Shelter I- Shelter II
Waktu tempuh antara dua shelter ini sekitar 2,5 jam karena memang cukup jauh dan medannya makin terasa berat. Makin dekat ke Shelter II (3071 mdpl), vegetasi sudah mulai didominasi tumbuhan perdu dan Cantigi, bahkan jika cuaca cerah, maka di sepanjang jalur, dapat terlihat Danau Gunung Tujuh. Camp Area di shelter ini berupa lahan yang cukup luas, namun terbuka sehingga tidak dianjurkan untuk bermalam disini. Namun, disarankan untuk istirahat agar tubuh kembali fit mengingat perjalanan menuju Shelter berikutnya makin berat.

Shelter II- Shelter III
Dari Shelter II sebetulnya perjalanan ke Shelter III sudah tidak terlalu jauh lagi, namun beratnya medan tempuh membuat energi dapat terkuras sehingga memperlambat perjalanan, jadi sangat disarankan agar kondisi tubuh cukup prima agar bisa melewati medan terjal dan bebatuan cadas hingga sampai di Shelter III. Normalnya, waktu tempuh dari Shelter II ke Shelter III adalah 1 jam, namun deviasi standar untuk toleransi mungkin bisa ditambahkan sekitar 0,5- 1 jam. Shelter III (3320 mdpl) adalah lahan luas yang biasa dijadikan Camp Area untuk persiapan Summit Attack besoknya. Dari sini, sudah terlihat jelas bentangan pemandangan Desa Kersik Tuo, Kota Sungai Penuh hingga Danau Gunung Tujuh, terlebih jika di malam hari maka citylight pemandangan tersebut akan sangat sayang dilewatkan.

Tiba di di Shelter III ini disaat magrib, setelah mendirikan tenda dan menyiapkan beberapa hal. Setelah semua anggota tim berkumpul, kami makan malam bersama diselingi minuman hangat yang begitu nikmat disesap antara hawa dingin Gunung Kerinci. Besok pagi, persiapan menuju puncak, maka setelah makan malam, kamipun beristirahat. Aku yang tidur paling cepat, sayup- sayup tidak terdengar suara apalagi, hanya aku,mereka, malam dan dingin.

P.S:
-----
Photo, Coutesy By: Moehammad A Noeryadi.

Read more »

Catatan Pendakian Kerinci (I)

Kerinci dengan ketinggian 3805 mdpl merupakan Gunung Berapi tertinggi di Indonesia, berada di Kabupaten Kerinci, Kec Kayu Aro, Desa Kersik Tuo. FYI, dulu nya Kabupaten Kerinci ini masuk wilayah Provinsi Sumatera Tengah, namun pada 1957 ketika Provinsi Sumatera Tengah di pecah, maka wilayah Kerinci ditambahkan dengan bekas wilayah Kesultanan Jambi menjadi Provinsi Jambi berdiri sebagai satu kesatuan wilayah bersama dengan 27 provinsi lainnya kala itu. That is just a brief view. Catatan ini menjelaskan rute, waktu tempuh dan medan pendakian Gunung Kerinci yang kira- kira sepekan lalu kami lakukan.

Rute dan Waktu Tempuh;

Kami memilih transportasi darat dari Palembang pada tanggal 11 Mei 2012. Berangkat dari Pool Bis AKAP IMI AC di KM 12 seberang Asrama Haji Palembang, dengan tiket Rp. 60K. Ketika itu pukul 10.00 WIB dengan tujuan Kota Jambi. Karena menurut informasi yang kami peroleh tidak ada Bis langsung dari Palembang ke Kerinci, melainkan hanya sampai di Kota Jambi. Sehingga rutenya adalah: Palembang- Jambi- Kerinci.

1. Palembang- Kota Jambi, 11 Mei 2012 @11.00 WIB

Bis IMI mulai berjalan pukul 11.00 WIB dari Kota Palembang, dengan waktu tempuh normal sekitar 5 jam, maka aku kira sebelum Magrib kami sudah akan sampai di Kota Jambi, dan juga masih banyak tersedia Travel ke Kerinci. Perjalanan ini melewati jalur Lintas Timur Sumatera, yaitu: Palembang- Betung- Sei Lilin- Bayung Lincir- Tempino- Kota Jambi. Adapun Betung, Sei Lilin dan Bayung Lincir masih masuk dalam Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musi Banyu Asin. Sampai di Tempino, maka sudah wilayah Provinsi Jambi. Namun, karena kendala teknis, Bis yang kami tumpangi baru masuk Kota Jambi menjelang magrib dan tiba di pool terakhir pukul 18.30 WIB. Alhasil, kami sudah ketinggalan travel tujuan Kerinci. Alhamdulillah, Berkat bantuan seorang teman di Jambi, kami menginap di Hotel Aini dan baru berangkat ke Kerinci besok pagi dengan travel Safa Marwah.

2. Kota Jambi- Kab. Kerinci, 12 Mei 2012 @11.00 WIB

Pagi hari pukul 09.00 WIB kami berempat (Aku, Yuda, Ame dan Riya) sudah dijemput oleh Travel Safa Marwah (kami pesan tiket ini di terminal pool bis IMI semalam begitu sudah tidak ada alternatif loket lain, dari agen yang ada di sana, namanya Bapak Tampubolon) dengan tiket sebesar Rp. 120K kami akan diantar sampai di Kota Sungai Penuh, dan dari sana kami berencana menumpang angkot ke Desa titik awal pendakian, Desa Kersik Tuo, Kec. Kayu Aro. Adapun rute dari Kota Jambi menuju Sungai Penuh, adalah sebagai berikut: Kota Jambi (Simp. Rimbo)- Sarolangun- Bangko- Sungai Penuh. Menurut informasi, waktu tempuh Kota Jambi- Sungai Penuh (Kab. Kerinci) adalah 12 jam, wajar saja, karena Kabupaten ini sudah hampir berbatasan dengan Sumatera Barat, bahkan 4 jam perjalanan sudah bisa sampai ke Kota Padang.

Perjalanan darat Kota Jambi- Sungai Penuh menempuh jalur yang berkelok- kelok, terlebih ketika sudah melewati Bangko menuju Sungai Penuh. Sangat dianjurkan untuk membawa obat anti mual atau masuk angin. Ketika kami istirahat makan di Sarolangun, kami memutuskan untuk langsung minta diantarkan ke Desa Kersik Tuo, karena diperkirakan kami tiba di Sungai Penuh pada malam hari dan sulit untuk mencari angkot yang masih beroperasi. Dengan menambah ongkor Rp. 37.500 per orang kami pun sepakat! Tiba di Bangko sore hari perjalanan langsung berlanjut ke Sungai Penuh dan tiba disana pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB. Sekitar 23.30 WIB kami pun sudah masuk di Desa Kersik Tuo dan turun persis di depan Tugu Macan, yang sudah menjadi ikon kenamaan desa ini.

Kamipun beristirahat di basecamp milik keluarga Heru, setelah dijemput oleh rekan kami Bang Johan, sambil menunggu rombongan anggota tim yang berangkat lewat jalur udara dari Kota Padang. Mereka pun baru tiba pada pukul 02.00 dini hari 13 Mei 2012. We're ready for Kerinci today! Bismillah...

To be continued...

P.S:
----
Photo, Courtesy By: Moehammad A Noeryadi.

Read more »

5.20.2012

Pendakian Kempo: Sebuah Catatan Pengantar

We may forget the dates but the moments happened within will remain eternal as memories and lessons as well as experience.

10 hari perjalanan panjang dalam rangkaian pendakian Gunung Kerinci dan Gunung Dempo baru saja usai. Rencana yang disiapkan berbulan- bulan silam ini berjalan lancar meninggalkan pengalaman yang sepertinya akan selalu lekat dalam ingatan setiap kami yang ikut serta didalamnya. Terima kasih atas kebesaran mu Tuhan, tanpa izin dan ridho Mu, mustahil perjalanan ini berjalan dengan hidup dan berkesan. Kau ijinkan kaki kaki kecil ini menapak diatas dua ciptaanMu, Gunung Kerinci (3805 mdpl) dan Gunung Dempo (3159 mdpl). Kusadar kebesaranMu Tuhan sekaligus betapa kecil dan lemahnya diri ini.

Pendakian Kempo (Kerinci dan Dempo) ini menyatukan kami 11 anak manusia dalam satu arah perjalanan dan tujuan yang sama. Uwi (Ketua Tim), Bange, Pak Lurah, Aconk, Suci, Fita, Riya, Yuda, Ame, Jainer dan Ebas. Well, garis suratan yang mempertemukan kita dalam sejurus persinggungan takdir kali ini atau mungkin juga kali lain nanti. Sebagaimana segala sesuatu sudah tertulis untuk ditempuhi dengan doa dan sabar. (Ah, mudahnya berkata, lidah memang tidak bertulang. Mungkin beginilah yang disebut pembelajaran). Terima kasih aku ucapkan untuk kalian! Things might never be tasted this deep if it was without you all guys! Apresiasi ku yang tinggi pun untuk kalian untuk segala pengorbanan dan perjuangan mewujudkan Pendakian Kempo ini, We just did an experience which money can't buy.

Perjalanan selama 10 hari (11- 20 Mei 2012) mengantarkan kita pada pengalaman lintas ruang (Sumatera Barat- Jambi- Bengkulu- Sumatera Selatan) dan budaya yang mungkin sama sekali baru bagi kita. Mulai dari sensasi pengalaman pertama membelah langit Ibu kota, melintasi jalur darat yang meliuk- liuk antara keindahan alam dan kengerian medan, Hijau dedaunan teh dan biru bersihnya langit, Nyanyian serangga pohon atau deru aliran sungai, logat bahasa dan aksen bicara yang terasa unik, gelap dan dinginya malam dalam dekapan hawa beku yang menusuk, hingga wisata kota dan kuliner di Palembang. Untuk sejenak kita telah mengosongkan kepala dari hiruk pikuk 'rimba' metropolitan.

Selancar apapun pendakian ini berlangsung, tidak akan lengkap aku kira tanpa bantuan Bang Johan, Heru dan Keluarganya juga Murdam yang banyak membantu selama berada di Desa Kersik Tuo dan juga pendampingannya ketika pendakian Kerinci berjalan. We owe you more than thanks, dudes/ dudettes! serta untuk Zahri, Arindi dan Keluarga Pak Anton di Pagar Alam yang telah banyak membantu selama berada di Pagar Alam dan pendakian Dempo. We owe you a treat, indeed! Tunggu saja akan kami segera tag poto- poto nya. Juga kepada Keluarga Pak Bambang (Bapak Kos) di Palembang atas tumpangan dan santapan semasa kedatangan kami di kota ini. Serta kepada Pak Sarono, atas kesediaanya memberi bantuan transportasi selama di Palembang sehingga memudahkan mobilitas.

Kini, setelah apa yang kita lewati, sudah saatnya kembali bersiap untuk 'berekspedisi' pada kehidupan yang sudah sama- sama kita tahu. Some people call it a normal life, but to me it is just a 'normal life'. And on behalf of everything, i am gonna miss those whole things! Salam penuh semangat untuk semua rekan- rekan pendakian Kempo! Let's live our life! Pelan- pelan dalam diam yang dalam kusadari, kini aku punya alasan dan motivasi lebih untuk kembali ke Jakarta, selain karena pendidikan juga agar bisa merajut cerita ekspedisi lainnya bersama kembali!!! Bismillah..

Ebas
Langit Jingga Kota Palembang
Mei 2012

Read more »

5.07.2012

The Firm Film Series

Setelah Prison Break, seperrtinya belum lagi mendapatkan film serial yang terbilang cerdas dan menarik. Namun The Firm membuat penantian itu selesai. The Firm kini masih tayang di Amerika untuk Season 1 Episode 15 dari 22 episode secara keseluruhan. Diadaptasi dari novel karya John Grisham dengan judul yang sama, menceritakan tentang Mitchelle Y Mc Deere, seorang pengacara lulusan Harvard yang hidup dalam pelarian lantaran satu kasus besar yang ditanganinya membuat ia menjadi buron komplotan mafia Keluarga Morolto.

The Firm Film Series merupakan lanjutan kisah Pengacara lulusan Harvard Law School, bernama Mitch, setelah lari dari Memphis dan memulai kehidupan baru bersama Istri dan anaknya (Abby dan Claire) di Washington dengan mendirikan sebuah Biro Hukum (The Firm) berkolaborasi dengan Saudara laki- lakinya Ray Mc Deere dan Tammy (kekasih Ray Mc Deere). Di Washington, dimana kehidupannya tidak lagi dalam program perlindungan saksi oleh FBI, ia menjalani karir sebagai pengacara independen yang piawai menangani kasus- kasus pelik dan penuh intrik. Kepercayaan publik atas kapabilitasnya mengalir deras.

Hingga suatu hari sebuah Biro Hukum kenamaan yang bermarkas di Washington mengajaknya untuk bergabung, dengan status kerja sama secara asosiasi akhirnya Mitch menerima tawaran tersebut dan memulai penanganan kasus Sarah Holtz seorang perawat yang dituduh membunuh pasiennya. Tak disangka pembunuhan tersebut adalah sebuah konspirasi yang didalangi oleh petinggi perusahaan asuransi (Noble Insurance) dengan motif uang dan menjadi makin pelik ketika terungkap bahwa Biro Hukum partner asosiasinya dalam menangani kasus ini juga terlibat. Mitch kemudian sadar bahwa dilibatkannya ia dalam kerja sama ini adalah bagian awal dari sebuah konspirasi besar.

Kehidupan Mitch dan keluarganya yang kemudian kembali tak luput dari teror menjadikan setiap episodenya kian seru ditambah kekompakan Mitch, Abby, Ray dan Tammy dalam menghadapi situasi ini membuat kisah ini menjadi menarik untuk diikuti. Akal- akalan cerdik dan penuh trik dalam melakukan investigasi dilakoni Ray dan Tammy untuk mendukung upaya Mitch yang beradu intelektual dengan pengacara lain di tiap persidangan. Hingga suatu hari Abby diculik sebagai 'leverage' lantaran Mitch memegang rahasia jahat Noble Insurance dalam sebuah Harddisk. Apa isi harddisk tersebut dan bagaimana kemudian nasib Abby? Saksikan hanya di The Firm Film Series...

Read more »

4.29.2012

It Is About To Come, May!

Sudah sekitar seminggu aku tidak update blog, it feels like loosing an apetite and not knowing what to eat karena masalah penjual paket internet 3GB/3bln yang tidak memberitahukan bahwa kuota tersebut dibagi rata tiap tiga bulan dan ketika kuota bulanan habis maka harus menunggu aktivasi dari provider di bulan berikutnya untuk dapat terhubung dengan internet kembali. Is it sucks??? Heaven, yeahh!!! i wonder why they didn't tell me this thing from the beginning! Berhati- hati dan bersikap kritislah ketika membeli simCard Internet, tak masalah jika ini membuat kita tampak bodoh dan menyebalkan daripada di ujung baru ketahuan dan mereka malah menjawab: "Karena situ gak nanya!"

April akan segera berakhir dalam 2 hari lagi, Mei sudah akan tiba. I don't know what the future will bring, tapi apa yang terjadi sebagai pengalaman selama dua bulan belakang ini, sudah mengajarkan bagaimana seharusnya aku bereaksi pada kehidupan. Life never teach me in the way that school do. It shows me how any tests or constraints tend to let me off the hook and at the same time showing me that i have to choose my thinking rather than reacting for my emotion.I just found out when i am on my way to be better in life it may end up accepting life as it is. Apapun yang nanti terjadi kedepan, Mei, adalah bulan yang sudah terpampang di kalender meja kerja, dengan libur tengah bulan yang sudah kulingkari sejak lama. No hesitating. No Boastfullness, just run what i have been planning.


Read more »

4.22.2012

4 Hal Budaya yang Kebablasan di Indonesia

Orang Indonesia itu Sopan. Adat Indonesia Menjunjung Tinggi Sopan Santun dan Saling Menghargai. Well okey dari aku cukup dua aja, jadi silahkan kalau ada yang mau menambahkan lagi karena aku yakin bakal nerima 10 tambahan statement yang berbeda seandainya aku nekad keluar di terik siang bolong ini buat nanya ke 10 orang lagi diluar sana yang mungkin sedang asik nongkrong di Sevel atau Starbuck or anyplace you name it! Lalu inti dari semua itu adalah bahwa kita sejak kecil ternyata sudah berhasil didogma tentang identitas ketimuran yang membuat kita sebagai pribadi yang sopan, toleran, ramah, dan berkepedulian tinggi dan lain sebagainya. But, frankly speaking guys, as we grow older we need to take a look back and ask ourselves. Are we really surrounded by polite-tolerant-friendly-attentive people? Kita sepertinya harus mulai mikir kembali tentang kebenaran dogma itu, karena kelihatannya, at least for me, some parts of this nation are really in serious problem ini defining that stuff! Inilah sejumlah dogma yang santer terdengar dari dulu sejak jaman kita masih gaya dengan model potongan rambut yang kinyis-kinyis sampai sekarang sudah bisa cukuran sendiri sampai jadi klimis!!!

Serious Problem, I call it. But, don't get me wrong! Disni aku cuma mau menyampaikan bahwa tidak ada yang salah dengan semua sikap itu. Menjadi sopan, ramah, toleran atau berkepedulian sedikit banyak akan membuat kita semua hidup serasa dalam surga dunia yang damai, tenang dan tenteram karena memang itu lah tujuan semuanya. Well, if you already live your life that way, i am glad because that all i want, dan semua yang tertulis dalam artikel ini memaparkan kenyataan bahwa kamu sudah begitu beruntung menjadi demikian damai, tenang dan tenteram! Because you know what?! These dogmatized things are now likely to be exxagerated by those that i call getting serious problem! Sebelum aku bahas lebih jauh soal ini, tidak lupa aku sampaikan bahwa aku belum pernah tinggal di Eropa atau Amerika jadi ini tidak ada hubungannya dengan perbandingan kultur dunia barat dan timur, dan sejujurnya aku masih bingung sampai sekarang kenapa masih ada dikotomi seperti itu mengingat bumi itu bulat, Well, untungnya itu bukan pembahasan utama. Hahaha.. you may get bored with this bullshit! Just wait a second! i am about to show you the real thing. Take a note! :D

And here they are in a random order...

1. Orang Indonesia itu Memiliki Kepedulian yang Tinggi
Aku termasuk orang yang nyaman dengan aplikasi kepedulian yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang kecil saja seperti sapaan pagi yang ramah dari tetangga ketika berangkat kerja atau sekedar senyuman sekilas dari teman sekantor ketika suatu hari aku berangkat kerja naik motor. Belakangan aku sempat merasa beruntung cukup lama terjebak dalam mindset bahwa jalanan dari tempat tinggal ke kantor aku adalah jalanan di Manhattan New York or Baton Rouge Lousiana, seperti yang sering aku lihat di film- film hollywood! Sampai suatu hari aku mulai merasa sadar (yah aku 'sadar') akan kepedulian teman2 sekantor aku yang setiap hari makin banyak dan makin sering nanya: lu, kekantor jalan kaki ya?????? Well, honestly i am sick of being asked about it again and again, every day! Mungkin ya mungkiiiiin... ini juga yang membuat Eat Pray and Love directed by Ryan Murphy memunculkan dialog "I am so sick of people telling me that i need a man" ketika syutingnya dilakukan di Bali.
Aku masih ingat ketika suatu hari aku ditanya soal teman aku yang ngejual motor kesayangannya dan menggantinya dengan motor dinas kantor, seorang teman yang lain langsung menanyakan:"Emang kenapa ya dijual?" Hello, i am not his father, go ask by yourself! dalam hati aku jawab gitu mengingat aku tidak tertarik untuk tahu lebih lanjut kenapa dia sampai menjual motornya karena buat aku kelihatannya itu sudah jadi urusan pribadi nya yang bersangkutan. MYOB!!!!
Itu poin yang begitu jelas menurut aku, kadang kepedulian oleh kita dimaknai lebih jauh sampai ke ranah pribadi masing- masing, sekedar cukup tahu sudah cukup, kalaupun ingin membantu maka tidak perlu lebih jauh tahu soal latar belakang ini itu, just help, and it is God will take care of the rest!

2. Orang Indonesia itu Sopan Santun dan Toleran
Coba cek buku raport waktu masih sekolah dulu, aku yakin kebanyakan pasti nilai untuk mata pelajaran PPKn minimal paling kecil 7, jarang sekali yang sampai dibawah itu. Yap, nilai 7, 8, atau 9 untuk mata pelajaran yang satu ini bukan hal yang aneh, justru aneh kalau dibawah itu. Tanya kenapa? Karena Sopan Santun dan Toleran itu begitu mudah secara teori. Even for some cases, you don't have to look at the question just pick one answer out! and voillaaaa... you get an A! :) tapi begitu dibawa kedalam dunia nyata baru terasa gagap! Istilahnya antara praktik dan teori tidak cocok!
Karena nilai yang baik tidak menjamin perilaku akan baik pula, ini menjelaskan kenapa kekerasan masih sering terjadi disana sini, sehingga koran Lampu Merah masih laku keras di Ibu Kota Jakarta! Dan beberapa terminal sangat tidak recommended karena adanya tingkat kriminalitas yang tinggi and no wonder why some high school students are really busy engaging with a gang fight. Polite, huh?
Yang juga geli untuk dibahas yaitu soal Toleransi, aku menganggap kebanyakan dari kita menganggap sikap toleran itu adalah cenderung mengalah terus even when we know that somebody screws us! akhirnya terlalu lelah mengalah, malah jadi api dalam sekam, dipendam jadi dendam! And here the story goes... in the morning Tn A killed his neighbour because of loosing temper after feeling tired of being played! Wow, seandainya budaya toleran kembali diletakkan dalam batasan yang tidak melanggar hak- hak pribadi dan sosial, dan menggunakan rasio untuk mempertahankan hak sepertinya kasus pembunuhan berdarah dingin atau konflik dalam dendam yang tak berkesudahan setidaknya tidak perlu terjadi. Do we dare to be that way? or do we dare not? Think about it guys!

3. Orang Indonesia itu Gemar Gotong Royong
Putar balik memori terbaik yang teman2 punya tentang kegotong royongan di Indonesia! Fortunately, i got one! Sudah lama sekali yaitu waktu di kampung halaman aku sedang ada anggota penduduk yang membangun rumah dimana sebagian masyarakat di kampung ikut memberikan sumbangan tenaga!
Kini seiring waktu, jumlah lingkungan pedesaan makin tergerus modernisasi jaman and it ends up reducing Gotong Royong spirit among us. Well, you can give me a big NO, but there is one thing you get to know guys that there is no such a free lunch nowadays! It is a damn true! Tapi walau demikian aku yakin bahwa masih ada segelintir orang yang mau membantu walau dapatnya cuma thank you! namun jumlah yang (semakin) sedikit ini makin membuat citra ke-Gotong Royong-an Indonesia kian tenggelam. Tidak usah jauh- jauh, dilingkungan kerja saja misalnya. Prinsip umum yang secara rahasia berlaku adalah everyone works for money, if you want a loyalty, please hire a dog!
Gotong Royong itu soal ketulusan dan ketulusan adalah hal yang sulit ditemukan kalau sudah soal urusan pekerjaan. Stay close to your friends and your enemies closer! so if there is something you need from them you can get it easily and just leave if you get no more ponies on the race! Sebuah justifikasi bijak yang suka aku dengar sebagai kemakluman atas realita ini adalah: 'yah namanya orang ya macam- macam, jadi ya sabar saja'. Hell yeah, by saying so, to me, you just admit that most people are being selfish lately and you want us to be patient? who do you think we are? angels??
Anyway, you may ask for help to people on behalf of Gotong Royong, but C'est la vie! You need to prepare some cashes!
Setidaknya dari sini aku mulai mengingat bahwa semangat Gotong Royong adalah jiwa mendasar kehidupan bangsa Indonesia, bangsa yang kita cintai ini, maka tidak ada cara lain untuk menjaganya selain memulainya dari diri sendiri, namun dengan tambahan satu prinsip: If you expect for some money in return, It promises you nothing.


4. Orang indonesia itu Kekeluargaanya Tinggi
Ok aku ulang sekali lagi. Kekeluargaan. Yah teman2 tidak salah dengar, dogma ini merupakan salah satu dari beberapa yang sering kita terima sejak kecil baik langsung atau tidak langsung, dikatakan tinggi karena walau secara silsilah sudah jauh, tetap saja disebut- sebut bahwa hubungan keluarga masih ada dan karena keseringan dibahas akhirnya bukan tuntas malah makin meluas, sebabnya adalah kadang dari pembahasan itu diketemukan satu hubungan yang baru biasanya karena hubungan pernikahan.
So it is not solely from the blood to be considered as family but through marriage as well! Aku mau menekankan bahwa tidak ada yang salah dengan tingginya tingkat kekeluargaan ini, justru bagus! Tapi pleaseee... sejauh mana ketulusan dalam memaknai kekeluargaan itu, hanya kita yang tahu. Kekeluargaan itu adalah kehangatan. Namun faktanya, dalam strata kehidupan sosial terkecil yang kita sebut keluarga besar itu , we will tend to be treated differently based on what we can bring to the table, i mean if you are rich and success i am pretty sure you will get their hospitality, but if you are not, again and again i just can give you an old advice: be patient!
Tidak sampai disitu, hal yang lebih repot adalah bahwa kadang tingginya tingkat kekeluargaan itu menjadikan beberapa dari kita harus siap manakala nama kita dijual untuk kepentingan tertentu. Contoh: "Pak tolong buatkan saya kartu ini dan kartu itu, saya tahunya terima beres ya, gak pake ribet! Oh ya, kepala kantor kalian ini adalah paman saya dari sepupu mbah saya yang menikah dengan sepupunya mbah tetangga saya, jadi mbah saya dan mbah dia sama- sama mbah.. mbah.. bla..bla..bla..." Well, it is sucks to confront with this alien because they have no idea or willingness to understand how things run. Just say: "Go to hell with your relatives position here in this office i get nothing to do with that, a rule is a rule and always will be!!!
Begitulah kenyataannya, kekeluargaan yang tinggi dimaknai secara sempit lewat kesuksesan duniawi dan nama besar anggota keluarga dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi! I take a pity on that! and guys, you know what the consequences are when considering somebody else as family, it is not only about considering but also caring and loving whatever they are!

Jadi aku pikir setelah menuliskan empat poin ini, semoga pikiran kita terbuka dan bisa terus terbuka lebar just like the blue sky untuk memahami kenyataan bahwa semua cerita manis tentang Indonesia pelan- pelan sudah mulai ditinggalkan walaupun banyak yang membohongi diri sendiri dengan menganggap seolah-olah berbagai penyesuaian yang terjadi hanya sesaat saja. Well, we can make our eyes wide open to see how these beloved things are fading! and we also can encourage ourselves to maintain it as it used to be although it means we have to be ready to get nothing but a thank-you. You be the judge!

Ebas adalah bukan Ibas anaknya SBY, bukan juga Bebas yang kehilangan huruf B. Namun Ebas hanyalah Laki- Laki yang tanpa huruf L akan menjadi keriput!!! :)

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini dan sini...

Read more »

4.15.2012

When Things Go Sucks!

Akhir pekan ini kuhabis kan di kos saja dengan rutinitas biasa: membaca buku, internet surfing, atau berolah raga jogging. Seminggu belakangan aku memang makin intens jogging di Kambang Iwak Palembang, untuk persiapan pendakian Kerinci dan Dempo bulan depan. Pelan- pelan sepertinya memang aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan kota ini. Walau sejujurnya pekerjaan dikantor yang berpotensi menjemukan (karena tidak sesuai dengan latar belakang pendidikanku) terbukti ampuh membuatku ingin segera enyah dari kota ini jika memang ada kota lain yang memberikan pekerjaan dengan job description yang (maaf) lebih menghargai pendidikanku.

Aku insyaALLAH siap untuk pergi merantau ke Pulau Belitung sekalipun daripada memendam kekecewaan atas pengkhianatan pada keilmuan yang telah kuperjuangkan di kampus. Begitulah, kepalaku memang sudah terisi dengan harapan untuk berada di suatu tempat yang peranku dapat kumainkan dengan baik bermodalkan bekal ilmu, bakti dan semangat belajar yang tidak akan luntur. Untungnya aku masih bisa bersikap baik di kantor dengan menampakkan performa yang (mungkin) membuat beberapa orang menilai bahwa aku menikmati apa yang kukerjakan, namun jauh dalam pikiran dan harapanku, bayangan soal peranan lebih, kebermanfaatan lebih dan kepuasan aktualisasi diri selalu saja hidup dengan jelas. Tersimpan dengan jelas dan dalam.

Kejujuran diatas bisa jadi terdengar seperti ketidakpuasan atau ketidakbersyukuran, namun jika ada yang masih berkenan menganggap bahwa harapan itu sebagai sikap ketidakmenyerahan-kepada-nasib, frankly speaking dude or dudette, i owe you more than thanks! Karena aku geram juga bila beberapa mungkin akan berkomentar bahwa ALLAH.SWT akan memberikan azab yang pedih karena dinilai ini sebagai sikap yang tidak bersyukur. Well, let me tell you one thing, i suggest you learn to differentiate between complaining and 'looking-for-something-better'. Oh wait, one more, i am sure ALLAH.SWT will not fall His torment to me as He knows what i am up to'.

Namun, mungkin memang bagian ini adalah titik kebenaran bahwa bureaucracy is sucks! It looks never get interested in what you come with instead of putting you on any vacant place you may not deserve it and that what happens to me now. I am sick of this, indeed. Aku cuma hanya bisa bersabar dan terus menjaga harapan semoga kelak semua bayangan tadi menjadi nyata suatu saat nanti, i make myself get busy living everyday rather than get busy dying, while waiting for the hope to be real. Because i am sure that hope is the best thing ever in life, and it will never die. Bismillah. Ah, tidak terasa sudah masuk tiga bulan aku disini, dan rencana perjalanan bulan depan tampaknya bisa menjadi refreshing untuk mere-charge energi untuk hidup. I just can't wait!

Read more »

4.14.2012

Ketika Gerbong Mutasi Lewat

Dikantor baru saja ada mutasi rutin, ada yang promosi dan (mungkin) ada juga yang didemosi. Sebagai yang masih bisa dibilang baru dikantor, aku belum banyak mengenal mereka secara dekat, dan waktu salah satu dari mereka pindah ikut serta dalam gerbong mutasi, aku ucapkan selamat semoga diberi ketabahan dan kekuatan dalam mengemban amanah di tempat yang baru. Salah satunya kepada Pak Imranuddin.

Terima kasih untuk keramah-tamahan, keceriaan, nasihat serta semangat yang diberikan (walau cuma sebentar), semoga bisa selalu kuingat. Bengkalis, tempat yang baru nanti, memang jauh dari Palembang. 7 jam dari Pekanbaru perjalanan darat! belum lagi ditambah menyeberangi laut. Semoga rejeki yang halal untuk Bapak dan keluarga selalu mengalir dari jalan yang tiada disangka- sangka. Well.. kalau bisa diprotes harusnya para pengambil keputusan mempertimbangkan faktor usia dan keluarga.


Now i know one fact about bureaucracy, it is something sucks and i learn to be well-prepared (and patient) for another sucking things which may come to me!

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini via google.

Read more »

4.12.2012

Maskulinitas Tanpa Otot dan Ereksi?


Tahun ini usiaku masuk 1/4 abad. Sebagian dari tahun- tahun dalam 1/4 abad itu habis dengan menjadi seperti apa dulu kulakoni dan jalani, selebihnya ya menjadi apapun yang orang katakan tentang aku kini mulai dari 'Rik, kamu nyadar gak kamu tuh berubah??' atau sampai ke yang harsh 'kok lo sekarang jadi aneh? sejak kapan?'. Haha.. It's been a while since the last time i care too much to what people said about me, but now their words just go with the wind. Srew you guys! :).

Aku lagi berpikir tentang bagaimana sisa umur kedepan ini mau kuhabiskan. Hal maskulin apa yang belum dan perlu aku lakukan?
Touring sendirian sejauh 820KM? Sudah!
Berkelahi sampai mata lebam dan kacamata pecah? Itu bodoh!
Being so penniles at the middle of the month?! Cukup, jangan dibiasakan!
Berdiri di puncak beberapa paku bumi di nusantara? I can't tell you the pride!
Doing things when brain left behind? Itu tanda bahwa kita tidak jauh beda dengan Tupai sesekali.

Life is not a video game! It starts to take my focus to certain things i consider principle! Others? They will take care of themselves to the place they deserve, the garbage! Ok, aku tidak sedang bicara tentang video game yang kugandrungi sejenak (Oya, hanya beberapa minggu mungkin) waktu kelas 2 SMP dulu, tapi ini tentang maskulinitas ku sebagai lelaki yang harus kupertanggungjawabkan kepada anak atau istriku kelak bila sudah berumah tangga, semua nya kucoba susun menjadi milestone setahap demi setahap even if it takes years because so far i get no an instant way to pass it. Let me repeat it! Years! not months or even weeks! Take a note! :)

Maskulinitas bukan lagi soal seberapa kuat ereksi penis di pagi hari atau seberapa six-pack otot perut ini, tapi juga soal keberanian mengambil sikap, melakukan hal- hal baru, dan mengambil pelajaran agar makin dapat sejalan dengan pepatah makin tua makin bijaksana. Well, people grow old but still we need to question about the wisdom, because being old and being wise are two different thing! Just like the fact some students are not studying! Pilihan sikap yang diambil selalu sejalan dengan resiko, selagi masih muda aku tidak mau hidup susah dihari tua sehingga aku siap kerja keras selagi usia muda ini.

Pikiran ku jauh melayang, (but i still keep my feet to the ground) tentang gambaran hari depan dan tentang Bebek yang dikawinkan dengan Berang- berang dan akhirnya melahirkan Platypus! Forget about it! Sejauh ini aku seperti Komodo yang setia hanya pada satu pasangan saja, itu bukan berarti aku tanpa nafsu namun aku memang tipe lelaki yang sulit jatuh cinta. Pacarku hanya satu dari dulu, dan kini aku tengah mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk modal menikah! Culture is sucks for traping our mindset to conduct such a damn expensive matrimonial ceremony! If only i live in an uncivilized society (which is impossible) i may be a father of 3 or more :).

Jadi terjawab sudah, Hal maskulin apa yang belum dan perlu aku lakukan? Menikah! Bukan supaya maskulinitas bisa kembali ke makna awamnya yaitu seberapa kuat ereksi penis di pagi hari atau seberapa six-pack otot perut ini tapi agar aku bisa mengambil sikap, melakukan hal- hal baru, dan mengambil pelajaran dari situ. Begitu, padahal sudah mau masuk 1/4 abad umurku! :)

P.S:
-----
Gambar diambil dari sini!

Read more »