<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639</id><updated>2012-01-30T13:37:13.062+07:00</updated><category term='Episode Mudik..'/><title type='text'>BSE</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>358</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-3436796600530309330</id><published>2012-01-29T10:42:00.004+07:00</published><updated>2012-01-30T10:04:25.146+07:00</updated><title type='text'>Ketika PTK Digoyang</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-jriiAvrJPC8/TyYH338eaXI/AAAAAAAACBk/tyd9QCkIryo/s1600/your_existencefsdf.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-jriiAvrJPC8/TyYH338eaXI/AAAAAAAACBk/tyd9QCkIryo/s400/your_existencefsdf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5703254634603112818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Tinggi di negara ini bukan lagi menjadi barang publik. Semua tahu itu, kini rivalitas untuk menikmatinyapun makin ketat dan (maaf) makin tidak sehat. Tidak hanya lewat jalur tes resmi melalui adu uji pengetahuan tapi juga ada pintu khusus bagi kaum berada yang mampu membeli kursi bergengsi itu. Ekses nya sudah makin jelas, tidak perlu lagi dibahas. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;But at least&lt;/span&gt;, bagi mereka yang tidak beruntung namun masih mampu bersaing sehat, Maka melalui (Perguruan Tinggi Kedinasan) PTK, harapan itu masih ada.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;PTK yang berada di bawah suatu Kementrian atau Badan Pemerintah tertentu, memasok SDM untuk tiap unit nya. Kementerian Keuangan dengan STAN misalnya. Atau BPS dengan STIS, dan juga Kementrian Dalam Negeri dengan IPDN. Terlepas dari bagaimana mekanisme rekruitmennya, namun Mahasiswa/i PTK ini akan dipersiapkan sebagai PNS dengan golongan dan pangkat tertentu disesuaikan dengan jenjang pendidikan yang dijalani. Berikut potongan daftar resmi struktur kepangkatan dari BKN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegawai baru lulusan SMA atau sederajat = II/a&lt;br /&gt;Pegawai baru lulusan D1/D2 atau sederajat = II/b&lt;br /&gt;Pegawai baru lulusan D3 atau sederajat = II/c&lt;br /&gt;Pegawai baru lulusan S1 atau sederajat = III/a&lt;br /&gt;Pegawai baru lulusan S2 sederajad/S1 Kedokteran/S1 Apoteker = III/b&lt;br /&gt;Pegawai baru lulusan S3 atau sederajat = III/c &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkapnya bisa dilihat &lt;a href="http://www.bkn.go.id/in/peraturan/pedoman/pedoman-kenaikan-pangkat.html"&gt;disini&lt;/a&gt;. Jadi bukan seperti yang disampaikan Bapak Soemandjaja (anggota komisi X DPR RI) dalam situs online &lt;a href="http://kampus.okezone.com/read/2012/01/27/373/564955"&gt;disini&lt;/a&gt;. Semua ketentuan ini merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikahttp://www.blogger.com/img/blank.gifn Pangkat Pegawai Negeri Sipil. Bisa dibaca pada pasal 18. Jelas bahwa Bapak Soemandjaja salah mengambil pasal rujukan, mungkin beliau langsung mengambil kesimpulan berhenti pada pasal 8, tanpa melihat perubahan mendasar pada pasal 18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, penting untuk dipahami bahwa PTK ini selain bertujuan mensuplai SDM yang akan menjalankan roda pemerintahan juga melakukan fungsi sosialnya secara tidak langsung dengan menampung para pelajar potensial secara akademik tapi kurang beruntung secara ekonomi (data dari &lt;a href="http://www.bps.go.id/getfile.php?news=821"&gt;BPS&lt;/a&gt; Maret 2010 menunjukkan bahwa 31,02 Juta penduduk masih hidup dibawah garis kemiskinan). Fungsi sosial nya inilah yang sebenarnya lebih membuat PTK mendapat tempat di hati masyarakat. Didamba dan dirindukan, begitu tepatnya. Seperti rindunya seorang pelancong ekonomis untuk kebagian tiket kereta ekonomi yang sudah dinantikannya sejak jam 01.00 dini hari ditengah antrian yang mengular. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Even words can't describe!!.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun menurut saya tidak perlu merasa iri dengan eksistensi PTK ini, tidak ada yang dianaktirikan dengan kemunculan PTK. Justru sebaliknya, semua hanya soal waktu. Memang mahasiswa PTK tidak perlu khawatir lagi untuk mencari pekerjaan karena sudah disiapkan untuk menjadi PNS. Tapi, saya melihat mahasiswa lulusan PTN/PTS justru memiliki kesempatan yang lebih luas karena mereka bisa berkarya di sektor swasta. Mereka yang berlatar belakang PTN/PTS, beberapa tentu sudah memiliki jiwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;survival&lt;/span&gt; ditengah ongkos pendidikan yang kian melambung, salah satu sifat yang dibutuhkan dalam  dunia wirausaha. Lagi pula, agak ganjil kalau semua generasi muda berlomba- lomba menjadi PNS dan tidak ada lagi yang mau berwirausaha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sudah banyak pelaku- pelaku usaha dan kaum birokrat yang dengan tekun berkarya serta bisa dibilang sudah matang dalam peran dan posisi masing- masing. Keduanya jelas berbeda, namun saling melengkapi dan berkaitan dalam kerangka kehidupan bernegara ini. Hal ihwal keterkaitan ini tidak akan dapat terjadi jika eksistensi PTK diberangus. PTK, sebuah institusi pendidikan yang mendidik calon birokrat, suatu pilihan yang masih ada ditengah pendidikan yang sulit dijangkau lantaran rivalitas untuk menikmatinya makin ketat dan (maaf) makin tidak sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebaiknya tidak perlu lagi ada kritik miring atas eksistensi PTK. Bahkan mungkin kini perlu dipertanyakan. Sudah sejauh mana perhatian para pemerintah terhadap pendidikan? Sudah sejauh mana tingkat penyerapan anggaran Rp266,9 Triliun dalam APBN 2011 untuk pendidikan dan juga soal transparansi serta pengawasannya?. Bukan lagi soal PTS, PTN atau PTK tapi soal hak untuk mendapatkan pendidikan yang kian mahal. Karena ketiga hal itu adalah tentang pilihan dan soal sebagian kecil saja dari kebijakan tiap kementrian untuk memperoleh SDM yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://timcourtois.wordpress.com/2011/06/20/is-ness-gods-love-of-existence/"&gt;sini...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-3436796600530309330?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/3436796600530309330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/ketika-ptk-digoyang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3436796600530309330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3436796600530309330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/ketika-ptk-digoyang.html' title='Ketika PTK Digoyang'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-jriiAvrJPC8/TyYH338eaXI/AAAAAAAACBk/tyd9QCkIryo/s72-c/your_existencefsdf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2828074923558277440</id><published>2012-01-28T14:10:00.004+07:00</published><updated>2012-01-28T15:21:24.140+07:00</updated><title type='text'>Touring Bintaro- Baturaja (I)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gyYLyFmFjeo/TyOv3tF5FQI/AAAAAAAACBY/2SrfQewb0WU/s1600/17092011582vdfvv.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 358px; height: 390px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gyYLyFmFjeo/TyOv3tF5FQI/AAAAAAAACBY/2SrfQewb0WU/s400/17092011582vdfvv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702594924713153794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa barang tersisa aku letakkan kedalam satu kardus besar, penuh dan padat isinya kujejali pakaian dan perkakas- perkakas lainnya. Selebihnya aku masukkan ke sebuah kardus kecil berisi beberapa buku dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gear&lt;/span&gt; pendakian, serta ada pula satu buah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;carrier&lt;/span&gt; kecil ukuran 40L yang tadinya mau aku bawa saja, namun tidak memungkinkan daripada membahayakan kukira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya aku keluarkan dari kamar kos lalu aku titip kan untuk dipaketkan saja Februari nanti. Via Pos. Sesaat kuedarkan pandangan sekilas ke beberapa sudut ruangan, lalu tidak kutoleh lagi. Pintu kututup saja. Aku akan menempuh perjalanan jauh dengan motor Scorpio ini. Dari Bintaro (Jakarta Selatan)- ke kampung halaman di Baturaja (Sumatera Selatan). Bismillah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pagi itu pukul 09.30 WIB, aku berpamitan dengan beberapa penghuni dan tetangga kos. Ibu yang biasa membantu bersih- bersih dikos tampak mata nya berkaca- kaca, aku tahu tapi aku segan bersikap emosional. Biar kutertawakan sendiri saja rasa haru ini dari balik kaca helm dan jadinya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tak&lt;/span&gt; kan ada yang tahu, selain aku. Scorpio ini sudah 'panas' dan siap ditunggangi, perjalanan aku mulai melewati jalur Jalan Ceger Jurangmangu Timur menuju Ciledug hingga ke arah Cipondoh sampai tembus ke jalan raya Cikokol, kutempuh dalam waktu 1 jam saja. Karena memang sedang lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Cikokol ini tujuan ku selanjutnya adalah Serang dan targetku pukul 13.00 WIB sudah siap masuk lambung kapal untuk menyebrangi Sunda. Untuk menuju Serang ini jalur yang aku ambil adalah jalur menuju daerah Pos yang satu arah menuju Karawaci dan Perum Tangerang, dan dari situ sampai masuk wilayah Cikupa. Bila sudah masuk Cikupa ini maka sudah cukup aman, karena jalurnya sudah jelas hingga menuju Merak, namun disini justru aku terjebak hampir 1,5 jam karena ada Demo Buruh. Setelah lolos dari kepungan massa demonstrasi ini perjalanan aku teruskan hingga masuk Cikande. Dari sini sudah ada plang penunjuk arah ke Merak sejauh 85KM lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari sudah tinggi waktu aku masuk daerah Cikande ini. Telat pasti, tapi jalan terus saja. Perjalanan ku melewati daerah Balaraja hingga Pandeglang, ini artinya sudah masuk wilayah Serang. Tujuan selanjutnya adalah Cilegon, dan ketika sudah di Cilegon ini dan masuk ke wilayah Pabrik Krakatau Steel sudah ada penunjuk arah Merak 12KM. Aku sempat istirahat di satu pombensin untuk sholat dan ketika akhirnya masuk ke wilayah Merak, aku sempatkan barang 5 menit untuk menikmati debur ombak pantai yang melaju kencang. Dan sekitar pukul 14.00 WIB aku tiba di Merak dan membayar tiket masuk khusus kendaraan motor tipe II sebesar Rp. 32K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setahuku menurut PM Perhubungan No 71 Tahun 2010 Tanggal 15 Nov 2010 (belum ada revisi), tarif kendaraan motor gol II (dibawah 500cc) tarifnya adalah Rp28K. Dan di Merak ini tidak boleh ada pungli, entah kenapa waktu aku bayar petugasnya menjawab Rp32K. Dan tidak bisa menjelaskan waktu aku menolak membayar lebih dari tarif. Akhirnya dengan tidak ikhlas ku bayarkan juga. Bukan masalah nominal tapi ini tentang transparansi dan akuntabilitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung menuju &lt;span style="font-style:italic;"&gt;entrance gate&lt;/span&gt; khusus untuk motor setelah menunggu sebentar lalu Scorpio ini kuparkirkan di tempat khusus para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;motorist&lt;/span&gt;, aku naik ke ruangan khusus penumpang dan menyewa lapak tikar Rp5K selama 3 jam penyeberangan. Lumayan untuk istirahat, namun ketika kapal mulai berlayar ternyata kondisi ombak sedang tinggi, dan ini berarti ada kemungkinan durasi penyebrangan akan molor. Ternyata, setelah 1,5 jam beristirahat seorang penumpang yang sesama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;motorist&lt;/span&gt; memberitahukan bahwa ombak tinggi ini membuat motor berjatuhan roboh berkali- kali. Aku cemas, was- was tapi sebisa mungkin harus tetap berpikir waras. Tak lama kemudian aku segera melihat kondisi dibawah. Hasilnya; speedometer retak, spion kiri pecah, kaca lampu depan lecet dan retak. Dan buffer bodi kanan patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penumpang berkata bahwa ini sudah musibah sudah syukur saja bahwa kita masih selamat. Betul juga ku kira. Dan sudah untung juga penyebrangan ini tidak molor, 3 jam di kapal dan pukul 17.30 WIB aku meneruskan perjalanan. Aku sudah di Titik Gerbang Sumatera, Bakauheni Lampung. Tujuan ku selanjutnya adalah Bandar Lampung untuk menumpang menginap disana, aku sudah mengabarkan satu minggu sebelumnya. Hari sudah petang saat itu, seoptimal mungkin kumanfaatkan hari yang cukup terang itu untuk terus melaju, karena di jalur lintas ini tidak ada lampu penerang jalan jadi hanya mengandalkan lampu dari kendaraan berat didepan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakauheni, Kalianda, Ketibung dan akhirnya tiba di Bandar Lampung pukul 19.30 WIB. Kawanku menjemput di kawasan Taman Makam Pahlawan Kedaton. Namanya Indra, dia bilang istrinya sudah menyiapkan menu istimewa. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alhamdulillah&lt;/span&gt;, Pas sekali mana sedang lapar dan pas saat uang di kantong juga minim. Sebelumnya aku banyak terima kasih untuk Indra dan keluarganya karena sudah memberi tumpangan menginap sekaligus kekeluargaan yang tidak bisa diganti dengan uang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2828074923558277440?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2828074923558277440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/touring-bintaro-baturaja-i.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2828074923558277440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2828074923558277440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/touring-bintaro-baturaja-i.html' title='Touring Bintaro- Baturaja (I)'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gyYLyFmFjeo/TyOv3tF5FQI/AAAAAAAACBY/2SrfQewb0WU/s72-c/17092011582vdfvv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1785844062638900509</id><published>2012-01-26T08:19:00.000+07:00</published><updated>2012-01-27T09:41:36.227+07:00</updated><title type='text'>Merbabu: Bukan Sekedar Saja (END)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-OV5JvhX-zlE/TyIJOzMv7MI/AAAAAAAAB_s/CWpyMZnm2vI/s1600/IMG_1263dsadsasd.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-OV5JvhX-zlE/TyIJOzMv7MI/AAAAAAAAB_s/CWpyMZnm2vI/s400/IMG_1263dsadsasd.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702130228070968514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari masih gelap, deru angin masih kencang, keluar tenda pun jadi enggan, padahal niat yang disepakati kami akan bangun pukul 04.30 untuk ke Puncak Merbabu. Oblok yang kali pertama keluar mendapati indahnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;citylight&lt;/span&gt; Desa Kopeng dan Salatiga di bawah sana, namun kami bangun justru untuk menyeduh air hangat dan menyepakati untuk paling lambat pukul 05.30 saja keluar dari tenda nyaman ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Voilla..&lt;/span&gt; setelah semua siap, kami pun meninggalkan tenda dengan membawa bekal perjalanan 2 jam ke Puncak sana.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6CadVdf0B0A/TyIM5-72GeI/AAAAAAAACA0/wt6lRBfl2h4/s1600/IMG_1273fdvdv.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-6CadVdf0B0A/TyIM5-72GeI/AAAAAAAACA0/wt6lRBfl2h4/s400/IMG_1273fdvdv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702134268490553826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah doa bersama, kami mulai jalan menuju Pos berikutnya yaitu Pos Batas Kabupaten, bukannya Pos Helipad (sepertinya ada pemetaan terbaru, terlihat dari plang pos yang masih baru), untuk menuju pos ini hanya 15 menit saja menuruni medan bebatuan, dan kembali menanjak dengan cukup curam sampai tiba di Pos Helipad, diantara kedua nya ada satu jalur sempit diantara dua jurang kawah yang dinamakan jembatan setan.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Hwlf3y4RDxY/TyIJgzgpQOI/AAAAAAAAB_4/gauEdGK0xv8/s1600/IMG_1239deaf.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Hwlf3y4RDxY/TyIJgzgpQOI/AAAAAAAAB_4/gauEdGK0xv8/s400/IMG_1239deaf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702130537392062690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hampir satu jam pertama, cuaca cerah mendukung, pemandangan hijau perbukitan dapat terlihat dengan jelas dengan perkotaan jauh di ujung sana, bahkan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing berdiri begitu gagah di sebelah timur nya, Gunung Lawu pun dapat dilihat dari sini berdiri dengan puncaknya hilang ditelan awan. Atau Gunung Selamet yang tampak begitu kecil diujung sana serta Gunung Merapi yang berdiri berdampingan disisi Barat Merbabu ini. Ketika tiba di pertigaan antara Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo, kami mencoba untuk menyambangi Puncak Syarif. Hanya 5 menit saja kami sudah ada dipuncaknya. Momen yang kami abadikan dalam poto.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-7v-2E3tFBsU/TyIKMs1fpfI/AAAAAAAACAE/a7iL0cHJmPw/s1600/IMG_1278ffeafaf.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-7v-2E3tFBsU/TyIKMs1fpfI/AAAAAAAACAE/a7iL0cHJmPw/s400/IMG_1278ffeafaf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702131291514709490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Angin kencang kembali datang, kabut tipis yang pelan- pelan menjadi pekat pun turun, kami segera turun kembali meneruskan perjalanan ke Puncak Kenteng Songo, sekitar 15 menit jalan kami tiba disana, sebuah puncak yang berupa lahan cukup luas dan disana ada beberapa batu lesung/cobek yang konon katanya berjumlah 9 namun tim kami hanya melihat 5 saja. Batu lesung yang melegenda itu masih menjadi pertanyaan buatku tentang bagaimana bisa ada disitu, sudah berapa lama, dan apa maksudnya. Dari Puncak Kenteng Songo inilah Gunung Merapi dengan cekungan Pasar Bubrahnya terlihat jelas, pekat asap belerang dari kawahnya mengepul hebat.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-q96o9hnmbDs/TyIK4PoljTI/AAAAAAAACAQ/85rGtKYDZtI/s1600/IMG_1313aerafg.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-q96o9hnmbDs/TyIK4PoljTI/AAAAAAAACAQ/85rGtKYDZtI/s400/IMG_1313aerafg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702132039590186290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat itu masih sekitar pukul 08.00 pagi dan kami masih ada satu tujuan lagi yaitu Puncak Trianggulasi, aku baru tahu kalau ini puncak nya yang tertinggi. Perjalanan ke Puncak ini cukup berat karena suhu dingin dan angin makin kencang menerpa dari sisi yang berlawanan bisa membuat doyong pendaki, untunglah jalur yang ada cukup landai. Kami tiba di Puncak Trianggulasi dalam kondisi angin kencang namun sesekali cukup cerah menyibakkan pemandangan Merapi persis didepan kami dan perbukitan hijau jalur Selo yang menawan. Subhanallah. Khawatir turun hujan dan karena dikejar waktu juga akhirnya kami segera turun ke Pemancar untuk berkemas kembali ke peradaban.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-AmxmXWJdmj0/TyILkRcABEI/AAAAAAAACAc/-mTAUq-OoJ8/s1600/IMG_1358hrthe.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-AmxmXWJdmj0/TyILkRcABEI/AAAAAAAACAc/-mTAUq-OoJ8/s400/IMG_1358hrthe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702132795988509762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat menapaki jalur turun ini, terlihat banyak tugu memorial pendaki yang meninggal di Merbabu ini. Kuduga karena serangan cuaca yang sangat dingin dan angin kencang dan menurut Pak Tono, Gunung Merbabu terkenal dengan angin kencangnya, ditambah pula medannya yang sebagian besar terbuka sehingga mudah menerpa pendaki. Namun bila pas tidak ada kabut dan cuaca normal, maka angin ini akan membuat pemandangan padang bukit ilalang menjadi menarik. Suatu kondisi yang akan sangat aku rindukan. Ilalang yang bergoyang langsung menghadap perbukitan hijau didepannya. Objek yang menarik bagi mereka pecinta fotografi, atau suasana yang pas bagi mereka pencari inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-i7mZyoIhZCU/TyIMdJ8nKCI/AAAAAAAACAo/hjZTUSDmS-4/s1600/fsafsaf.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-i7mZyoIhZCU/TyIMdJ8nKCI/AAAAAAAACAo/hjZTUSDmS-4/s400/fsafsaf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702133773230352418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 13.30 WIB akhinya kami tiba kembali di kediaman Pak Tono, beliau menyambut kami dengan hangat dan sudah menyiapkan makan siang dan teh manis hangat. Kami beristirahat sejenak dan makan siang sambil berbincang seputar pendakian. Menjelang pukul 15.00 WIB kami bersiap pulang menuju Salatiga dengan menumpang mobil kap yang dipesankan Pak Tono untuk mengantar kami hingga pertigaan Pasar Sapi Salatiga, dari sana kami menumpang bis 3/4 tujuan Stasiun Semarang Poncol. Dan menjelang pukul 18.00 kami tiba di Stasiun, Adit meneruskan perjalanan ke Demak dan kami bertiga masuk ke dalam untuk bersiap karena ular besi ini kembali merapat ke Ibu kota satu jam kemudian.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AYP9YCWWmZ0/TyINcwmjb3I/AAAAAAAACBA/FFPhzcz_Vic/s1600/IMG_1457dsc.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-AYP9YCWWmZ0/TyINcwmjb3I/AAAAAAAACBA/FFPhzcz_Vic/s400/IMG_1457dsc.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702134865938575218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ihbzGAt4LM0/TyIOA0hHlgI/AAAAAAAACBM/oiYztgxALqo/s1600/IMG_1448csdac.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ihbzGAt4LM0/TyIOA0hHlgI/AAAAAAAACBM/oiYztgxALqo/s400/IMG_1448csdac.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702135485464811010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih banyak aku ucapkan kepada:&lt;br /&gt;1. Allah. SWT atas ijin sehingga kami bisa naik turun dengan selamat&lt;br /&gt;2. Tim Pendakian Merbabu (Adit, Bange, Oblok dan Bang Jainer)&lt;br /&gt;3. Keluarga Pak Tono yang sudah banyak membantu&lt;br /&gt;4. Bro Ronald yang memesankan tiket pulang ke Jakarta&lt;br /&gt;5. Semua yang sudah membantu lancarnya pendakian ini&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1785844062638900509?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1785844062638900509/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/merbabu-bukan-sekedar-saja-end.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1785844062638900509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1785844062638900509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/merbabu-bukan-sekedar-saja-end.html' title='Merbabu: Bukan Sekedar Saja (END)'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-OV5JvhX-zlE/TyIJOzMv7MI/AAAAAAAAB_s/CWpyMZnm2vI/s72-c/IMG_1263dsadsasd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-8360459350004681004</id><published>2012-01-24T16:11:00.001+07:00</published><updated>2012-01-26T17:52:23.347+07:00</updated><title type='text'>Merbabu: Bukan Sekedar Saja (II)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-NZJX1SBlbMg/TyEt18G_1OI/AAAAAAAAB-k/myuEOY-_9p8/s1600/IMG_1221fsdfsf.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-NZJX1SBlbMg/TyEt18G_1OI/AAAAAAAAB-k/myuEOY-_9p8/s400/IMG_1221fsdfsf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701889007919551714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua orang bisa menikmati setiap langkah pendakian yang ia jalani, aku pun butuh waktu dan tempaan pengalaman untuk bisa paham arti kegiatan 'mendaki gunung', ada tipe pendaki yang memaknainya sebagai keharusan untuk mencapai puncak. Puncak adalah harga mati, begitu kata mereka. Aku tahu seperti apa jadinya punya prinsip seperti itu. Namun ada juga yang beranggapan bahwa bagaimana proses panjang suatu pendakian mampu dilewati dengan tenang dan sabar, justru disitulah makna pendakian itu berada. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kalau kata Sir Edmund Hillary. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;It is not the mountain we conquer, but our selves. &lt;/span&gt; Aku kini cenderung untuk menjadi tipe kedua saja. Lebih tenang dan menenangkan. Bukannya jadi seperti tanpa tujuan namun hanya agar lebih menikmati proses dan mematangkan emosi. Sekedar itu saja. OK, Kembali tentang Merbabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 13.30 WIB kami berlima mulai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trekking&lt;/span&gt; dengan medan awalan berupa perkebunan penduduk sekitar 500 meter pertama dan masih cukup landai. Kentang dan Kol tampak tumbuh subur, mekar sangat indah. Sejurus kemudian kami sampai di Pos Bayangan I kira- kira bukul 13.50 WIB, Pos Bayangan I ini berupa lahan kosong yang sudah didirikan sebuah saung/pondok untuk istirahat. Perjalanan kami lanjutkan dengan jalur yang sudah begitu jelas namun makin menanjak, disisi kiri kanan jalur terdapat beberapa plang himbauan anti aksi Vandal. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dw7J0uRK_L4/TyEuWEkoalI/AAAAAAAAB-w/qjOA8-HFhJY/s1600/IMG_1223dcDC.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-dw7J0uRK_L4/TyEuWEkoalI/AAAAAAAAB-w/qjOA8-HFhJY/s400/IMG_1223dcDC.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701889559947143762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Disini Bang Jainer (Jainer Hasudungan Silalahi) terkena kram cukup parah jadi kami istirahat sekitar 15 menit untuk melemaskan kaki beliau, saat itu sekitar hampir jam 15.00 WIB. Didepan kami tak jauh kemudian kami tiba di Pos Bayangan II, sebuah tanah lapang yang sempit namun tersedia bak penampung air yang sangat bermanfaat kalau lagi musim kemarau. Disini ada plang Larangan Merokok cukup besar, dan dari plang ini sekitar 500 meter bisa ditemukan sumber mata air. 5 menit kemudian kami lanjut.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-5QwtBGctcMA/TyEvFUV8sLI/AAAAAAAAB-8/3wcdyMV2CBw/s1600/IMG_1225vdfsvdv.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-5QwtBGctcMA/TyEvFUV8sLI/AAAAAAAAB-8/3wcdyMV2CBw/s400/IMG_1225vdfsvdv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701890371634376882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pukul 16.30 hujan mulai turun walau sedikit, dan kabut mulai merapat ke bumi membuat kondensasi air jatuh seperti hujan cukup deras namun berhubung angin juga makin kencang dan khawatir hujan, kami memutuskan pakai Jas Hujan, dan saat itu kami sudah tiba di Pos I. Sekitar hampir 7 menit istirahat kami kembali lanjut. Dan medan berganti menjadi makin menanjak dan lebih terbuka membuat tantangan lebih berat karena angin datang dengan kencang dari sisi berlawanan dan kabut mulai turun. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-7__sXzzJl7U/TyEvZcVFfYI/AAAAAAAAB_I/J7HTLX52RqM/s1600/IMG_1226fefa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-7__sXzzJl7U/TyEvZcVFfYI/AAAAAAAAB_I/J7HTLX52RqM/s400/IMG_1226fefa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701890717375626626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 17.00 WIB lewat, angin makin kencang, udara makin dingin. Kaki Bang Jen kram lagi, jadinya kami sepakat agar Bange dan Oblok duluan saja supaya bisa cepat cari tempat dan mendirikan tenda dan menyiapkan minuman hangat dan aku serta Adit menemani Bang Jen dibelakang. Hari kian gelap, sudah hampir jam 18.00 ku kira, target kami saat itu adalah bermalam di Pos Pemancar. Yaitu Pos sesudah Pos IV, Pos Pemancar ini adalah Pusat Stasiun Pemancar di gunung ini, namun terbengkalai karena banyak alat nya yang menurut Pak Tono, dicuri sehingga gagal berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-buOa6jQN5K4/TyEvwcDefxI/AAAAAAAAB_U/FnzF1uA0HaE/s1600/IMG_1232gsbsgb.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-buOa6jQN5K4/TyEvwcDefxI/AAAAAAAAB_U/FnzF1uA0HaE/s400/IMG_1232gsbsgb.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701891112438759186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun, kondisi Bang Jainer sudah jauh membaik sehingga bisa kembali kebut menanjak bahkan kembali kami bertemu Oblok dan Bange yang sudah cukup dekat dengan Pemancar. Sehingga begitu tiba di Pos tersebut kami segera masuk ke bangunan dan mendirikan tenda didalamnya, hangat karena didalam ruangan. Setelah tenda berdiri, dan kami semua sudah berkemas, semua minuman hangat pun sudah tersedia. Diluar masih angin menderu kencang dan hujan masih saja turun. Akhirnya sebelum beristirahat kami cukupi energi dengan makan Indomie goreng pakai cabe olahan Bange Az. Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-itBuik5Pu8U/TyEwDp7vvbI/AAAAAAAAB_g/awP6QYGOPwM/s1600/IMG_1236adAD.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-itBuik5Pu8U/TyEwDp7vvbI/AAAAAAAAB_g/awP6QYGOPwM/s400/IMG_1236adAD.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701891442581945778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-8360459350004681004?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/8360459350004681004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/merbabu-bukan-sekedar-saja-ii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8360459350004681004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8360459350004681004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/merbabu-bukan-sekedar-saja-ii.html' title='Merbabu: Bukan Sekedar Saja (II)'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-NZJX1SBlbMg/TyEt18G_1OI/AAAAAAAAB-k/myuEOY-_9p8/s72-c/IMG_1221fsdfsf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-486261194943292680</id><published>2012-01-23T17:52:00.001+07:00</published><updated>2012-01-24T23:54:47.624+07:00</updated><title type='text'>Merbabu: Bukan Sekedar Saja (I)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pTdsDSOEk8c/Tx7bmDDOIII/AAAAAAAAB9Q/5-jcAImIq2U/s1600/IMG_1189dsfdf.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 258px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-pTdsDSOEk8c/Tx7bmDDOIII/AAAAAAAAB9Q/5-jcAImIq2U/s400/IMG_1189dsfdf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701235624997953666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merbabu berada diketinggian 3150mdpl dan secara administratif masuk wilayah Kecamatan Getasan, Semarang, Jawa Tengah. Gunung yang berdiri memaku tengah pulau Jawa ini berdampingan dengan Gunung Merapi disebelah utara nya. Aku sudah sekitar 3 minggu yang lalu merencanakan pendakian ke Gunung Merbabu, dan akhirnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alhamdulillah&lt;/span&gt; terlaksana juga bersama empat orang tim yaitu: Bange (Cikarang), Bang Jainer (Indramayu), Adit (Demak) dan Oblok (Jakarta). Jalur yang kami pilih adalah Jalur Kopeng Cuntel.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kami berangkat dari Pool Bis Sinar Jaya daerah Cibitung, agak beda kali ini, karena menumpang Bis Eksekutif, bukan karena mau membeli kenyamanan, namun karena sudah kehabisan tiket KA Ekonomi tujuan Semarang. Sebuah pilihan yang membuat biaya membengkak sampai 50%. Itupun dengan bis ini kami berangkat justru menuju terminal Giwangan, Yogyakarta untuk menjemput Bang Jainer dan meneruskan perjalanan ke Terminal Magelang. Perjalanan yang panjang sekitar hampir 12 jam dengan dua kali istirahat di Indramayu dan Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-cHliKNqRdRc/Tx7eATpYizI/AAAAAAAAB-M/aMtmR_I08Ug/s1600/IMG_1202xsax.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-cHliKNqRdRc/Tx7eATpYizI/AAAAAAAAB-M/aMtmR_I08Ug/s400/IMG_1202xsax.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701238275152841522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di bis ini, aku duduk di bangku paling belakang berjendela kaca luas. Pandanganku kubebaskan lepas menerawang langit jalur pantura yang kelam sedikit berbintang. Laju bis membuat semua pemandangan itu tertinggal dibelakang menyisakan semburat remang pertanda kehidupan dijalur ini masih berdenyut walau pelan. Lalu semuanya menjadi sepi, hanya ada bunyi deru mesin bis, dengkur tidur para penumpang dan aku tetap menikmati diorama dunia malam diluar jendela kaca. Gelap namun tidak pekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 06.00 pagi, Bis Sinar Jaya ini tiba namun bukan di Terminal Giwangan, Sopir dan kondektur merekomendasikan untuk turun di Terminal Purworejo saja. Alasan mereka karena lebih dekat untuk ke Magelang daripada harus ke Yogya dulu. Mungkin bis ini yang terlambat aku kira. Namun karena malas mendebat aku segera memberi kabar ke Bang Jainer untuk langsung bertemu saja di Terminal Magelang padahal saat itu ia baru saja akan tiba di Terminal Giwangan. Lalu aku, Bange dan Oblok meneruskan jalan ke Term. Magelang dengan mobil metromini 3/4 elf, sekitar 90 menit akhirnya tiba.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-aGIEN4d9I0M/Tx7b38QEAiI/AAAAAAAAB9c/Prt9aFjlW80/s1600/IMG_1192dc.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-aGIEN4d9I0M/Tx7b38QEAiI/AAAAAAAAB9c/Prt9aFjlW80/s400/IMG_1192dc.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701235932410413602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Terminal Magelang, kami istirahat sebentar, sambil sarapan lalu mandi dan disini Bang Jainer segera bergabung dengan kami untuk meneruskan perjalanan ke Desa Kopeng di Salatiga. Dari sini, sudah ada metromini 3/4 elf yang langsung ke Kopeng dengan lama perjalanan sekitar 60 menit melewati jalanan berbukit, pasar tradisional dan pemandangan khas desa di kawasan pegunungan, tampak dari jalur ini adalah Bukit Telomoyo, dan Gunung Merbabu pun terlihat, berdiri mengangkangi Semarang dengan puncak nya berupa bukit yang berundak- undak secara hierarkis.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-JH8QQ9eUWXI/Tx7cYltSHtI/AAAAAAAAB9o/FZGrulY0IbE/s1600/IMG_1193dcac.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-JH8QQ9eUWXI/Tx7cYltSHtI/AAAAAAAAB9o/FZGrulY0IbE/s400/IMG_1193dcac.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701236493294640850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sepertinya disini, ritme kehidupan berjalan lambat, penduduknya bergerak mencari nafkah tanpa ada ketakutan akan ditelikung masa atau tergilas roda zaman. Keakraban satu sama lain begitu terasa, bahkan antara kondektur angkot dengan para penumpangnya, para ibu mengangkut barang dagangannya dibantu sang kondektur adalah hal biasa, percakapan akrab khas dalam bahasa jawa menjadi simponi alam yang begitu lepas dari beban kehidupan metropolitan sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-H832GK3DX3o/Tx7c1KypOlI/AAAAAAAAB90/hVI-Xx1Ja_M/s1600/IMG_1195cscC.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-H832GK3DX3o/Tx7c1KypOlI/AAAAAAAAB90/hVI-Xx1Ja_M/s400/IMG_1195cscC.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701236984285575762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian kami turun di pertigaan Umbulsongo, melengkapi logistik dan belanja keperluan lainnya, untungnya disini ada toko waralaba yang sudah terkenal. Sehingga tidak perlu repot lagi mencari logistik untuk konsumsi. Dari situ kami berjalan memasuki jalan menuju Desa Cuntel yang berjarak 2,5km dari pertigaan Umbulsongo tadi, kami berjala sekitar 90 menit, dan aku sudah sms Pak Tono, seorang pria paru baya asli desa Cuntel yang sejak awal sering memberi informasi perihal rute atau kondisi pendakian. 30 menit pertama rute masih begitu lazim, perumahan penduduk dengan beberapa villa sederhana yang menawarkan penginapan murah. Lalu kami memasuki gerbang pendakian Cuntel, dan mulai dari sini rutenya makin menanjak dengan dikelilingi pohon pinus dikiri kana jalan.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XVWWaRQmVDY/Tx7dX4GMAPI/AAAAAAAAB-A/HFZznhggJx8/s1600/IMG_1197sa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-XVWWaRQmVDY/Tx7dX4GMAPI/AAAAAAAAB-A/HFZznhggJx8/s400/IMG_1197sa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701237580562694386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 11.30 kami tiba di Basecamp registrasi pendakian, kami langsung disapa ramah oleh Pak Tono dan membantu kami untuk proses registrasi. Lalu kami diajak kerumah beliau untuk beristirahat sembari menunggu 1 orang lagi yaitu Adit. Pak Tono sudah menyiapkan makan siang untuk kami dan dua tabung gas yang kami minta kami kebetulan belum sempat cari waktu di bawah tadi. Pak Tono bercerita bahwa beliau sudah akrab dengan kalangan pendaki dan sudah biasa bila ada pendaki yang hendak beristirahat atau sekedar untuk numpang menginap. Di rumah beliau, kami makan siang untuk mengisi energi perjalanan nanti. Dan tak lama kemudian Adit tiba. Lalu tepat pukul 13.30 kami mulai berjalan menuju medan Merbabu dengan target hingga di pos pemancar.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-d1UUvTeAFaU/Tx7egcEdjzI/AAAAAAAAB-Y/_pCctNWNspI/s1600/IMG_1217ddd.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-d1UUvTeAFaU/Tx7egcEdjzI/AAAAAAAAB-Y/_pCctNWNspI/s400/IMG_1217ddd.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701238827169713970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bersambung... &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-486261194943292680?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/486261194943292680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/merbabu-bukan-sekedar-saja-i.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/486261194943292680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/486261194943292680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/merbabu-bukan-sekedar-saja-i.html' title='Merbabu: Bukan Sekedar Saja (I)'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pTdsDSOEk8c/Tx7bmDDOIII/AAAAAAAAB9Q/5-jcAImIq2U/s72-c/IMG_1189dsfdf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-7897055384054414304</id><published>2012-01-22T22:15:00.000+07:00</published><updated>2012-01-23T22:33:13.899+07:00</updated><title type='text'>Rundown Merbabu</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-AITBA0LtmIw/Tx19X8biKGI/AAAAAAAAB9E/qq1me-Ck0fE/s1600/397116_10150609042245908_678105200_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-AITBA0LtmIw/Tx19X8biKGI/AAAAAAAAB9E/qq1me-Ck0fE/s400/397116_10150609042245908_678105200_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700850553632991330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rute Jalur:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Naek (in) : Jalur Kopeng (Cuntel); Turun (out) : Jalur Kopeng (Cuntel)&lt;br /&gt;Kopeng adalah nama salah satu desa di kecamatan Getasan, Semarang Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Transportasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berangkat (Jakarta- Yogyakarta): Bis Eksekutif Sinar Jaya (Terminal Cibitung- Terminal Giwangan)&lt;br /&gt;Pulang (Semarang- Jakarta) : Kereta Ekonomi Tawang Jaya (St. Semarang Poncol- St. Pasar Senen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Waktu Kegiatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 20- Senin, 23 Januari 2011. Semua berangkat pada tanggal 20 Januari hari Jumat, kumpul di Terminal Cibitung (Kecuali Bang Jainer dan Adit). Harus sudah stand by pukul 16.30 karena Bis berangkat pukul 17.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peserta Kegiatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Jainer&lt;br /&gt;2. Bange&lt;br /&gt;3. Oblok&lt;br /&gt;4. Adit&lt;br /&gt;5. Ebas&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perizinan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perizinan pendakian dilakukan di basecamp Tekelan, yang berada di desa Cuntel. Siapkan fotokopi KTP dan uang administrasi Rp4.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perlengkapan dan peralatan pribadi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Headlamp dan baterai cadangan minimal dua&lt;br /&gt;Sleeping Bag&lt;br /&gt;Peralatan Makan (sendok, gelas dan piring)&lt;br /&gt;Geter&lt;br /&gt;Peralatan Mandi (sikat gigi, sabun)&lt;br /&gt;Matras, Jas Hujan (boleh model Ponco atau setelan)&lt;br /&gt;Sepatu Gunung/Sendal&lt;br /&gt;Kaos Kaki (Bawa secukupnya)&lt;br /&gt;Pakaian ganti secukupnya &lt;br /&gt;Sarung Tangan,  Kupluk/Topi, Korek Api&lt;br /&gt;Perlengkapan dan peralatan kelompok:&lt;br /&gt;Carrier,&lt;br /&gt;Daypack,&lt;br /&gt;Tenda, Kompor dan nesting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Logistik Kelompok:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gas 3 tabung, Kopi + Susu, Roti Tawar, Telor, Ikan Teri+ Kacang, Sayur Bumbu, Sambal Masak, Bumbu Masak, Kornet&lt;br /&gt;Buah-buahan Kaleng, Minuman Kemenangan, Snack, Coklat, P3K Kelompok&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;Logistik kelompok dibeli di Kopeng dengan sumber dana dari iuran tim, termasuk unsur dari total dana yang dibutuhkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Logistik Pribadi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beras setiap orang bawa, diisikan ke 1 botol aqua 600mL.&lt;br /&gt;Obat-obatan Pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rundown Kegiatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 20 Januari 2012&lt;br /&gt;16.00- 16.30 : Kumpul di Terminal Cibitung&lt;br /&gt;16.30- 17.00 : Masuk ke Bis Sinar Jaya dan persiapan berangkat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 21 Januari 2012&lt;br /&gt;03.30- 05.00 : Tiba di Terminal Giwangan Yogyakarta, istirahat, Sholat. (Menjemput Bang Jainer).&lt;br /&gt;05.00- 06.30 : Mandi, Sarapan pagi dan Persiapan ke Magelang.&lt;br /&gt;06.30- 08.00 : Perjalanan ke Magelang&lt;br /&gt;08.00- 10.00 : Tiba di Terminal Magelang lanjut ke Kopeng (turun di Umbulsongo)&lt;br /&gt;10.00- 11.30 : Jalan kaki dari Umbulsongo- Basecamp Tekelan Chuntel (Pengurusan Administrasi)&lt;br /&gt;11.30- 12.00 : Istirahat. Sholat. Belanja Logistik. Makan Siang&lt;br /&gt;12.00- 13.30 : Basecamp Tekelan Chuntel- Pos I Pending&lt;br /&gt;13.30- 15.30 : Pos I Pending- Pereng Putih&lt;br /&gt;15.30- 17.30 : Pereng Putih- Kindung Gumuk&lt;br /&gt;17.30- 18.30 : Kindung Gumuk- Lempong Sampan&lt;br /&gt;18.30- 19.00 : Lempong Sampan- Watu Gubuk&lt;br /&gt;19.00- 19.30 : Watu Gubuk- Helipad (ngeCamp + Istirahat + Dinner)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 22 Januari 2012&lt;br /&gt;04.00- 04.30 : Bangun pagi, sholat shubuh dan persiapan summit attack&lt;br /&gt;04.30- 05.00 : Heliped – Jembatan Setan – Puncak Ondorante&lt;br /&gt;05.00- 05.30 : Puncak Ondo Rante- Puncak Kenteng Songo&lt;br /&gt;05.30- 06.00 : Puncak Kenteng Songo – Puncak Syarif&lt;br /&gt;06.00- 07.00 : Sesi Santai di Puncak Syarif&lt;br /&gt;07.00- 08.30 : Puncak Syarif- Helipad&lt;br /&gt;08.30- 09.30 : Berkemas untuk siap turun&lt;br /&gt;09.30- 11.00 : Helipad- Lempong Sampan&lt;br /&gt;11.00- 12.30 : Lempong Sampan- Pereng Putih (ISHOMA)&lt;br /&gt;12.30- 13.30 : Pereng Putih- Pos I Pending&lt;br /&gt;13.30- 14.00 : Pos I Pending- Desa Chuntel&lt;br /&gt;14.00- 15.00 : Tiba di Kopeng lanjut perjalanan ke Pasar Sapi Salatiga&lt;br /&gt;15.00- 15.30 : Tiba di Terminal Pasar Sapi Salatiga&lt;br /&gt;15.30- 17.30 : Perjalanan Salatiga- Semarang St. Poncol&lt;br /&gt;17.30- 19.00 :  Persiapan berangkat kembali ke Jakarta (masuk Peron)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari IV&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Senin, 23 Januari 2012&lt;br /&gt;03.00- 04.00 : Tiba di St. Senen Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Biaya: (Wajib)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Transportasi Bis JKT- JGJ : Rp 95,0K&lt;br /&gt;2. Transportasi Kereta SMG- JKT : Rp 33,5K&lt;br /&gt;3. Transportasi Bis JGJ- MGL: Rp15,0K&lt;br /&gt;4. Transportasi Bis MGL-KPG: Rp10,0K&lt;br /&gt;5. Transportasi Bis ¾ KPG-STG: Rp5,0K&lt;br /&gt;6. Transportasi Bis STG-SMG: Rp10,0K&lt;br /&gt;5. Iuran Logistik Bersama: Rp 20,0K&lt;br /&gt;6. Iuran SIMAKSI: Rp 5,0K&lt;br /&gt;Total Biaya Wajib: Rp. 200K&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tambahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Merbabu tergolong gunung yang kering sehingga kemungkinan beban berat akan bertambah untuk persiapan air, sehingga kondisi cuaca yang agak basah sekarang bisa menjadi menguntungkan. Dan lebih dari itu, pendakian adalah sebuah proses yang harus dinikmati bukan sebuah perlombaan menuju puncak, puncak bukanlah sebuah titik yang harus ditaklukan melainkan sebuah bonus atas pencapaian kita melawan diri kita sendiri. (sok tua banget guee hahahhaa)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-7897055384054414304?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/7897055384054414304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/rundown-merbabu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7897055384054414304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7897055384054414304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/rundown-merbabu.html' title='Rundown Merbabu'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-AITBA0LtmIw/Tx19X8biKGI/AAAAAAAAB9E/qq1me-Ck0fE/s72-c/397116_10150609042245908_678105200_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2175232307473763543</id><published>2012-01-19T07:28:00.004+07:00</published><updated>2012-01-19T09:07:06.369+07:00</updated><title type='text'>Mekanisme Pajak Pigovian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-gf-6Al2xSPY/Txd6fskjd2I/AAAAAAAAB8s/QhnG08q6qn4/s1600/proprights.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 291px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-gf-6Al2xSPY/Txd6fskjd2I/AAAAAAAAB8s/QhnG08q6qn4/s400/proprights.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699158538419664738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pajak, ketika ia turun serta sebagai regulasi dalam permainan mekanisme pasar akan menyebabkan terjadinya defisiensi baik bagi konsumen maupun produsen dan menimbulkan kerugian beban baku yang lebih besar daripada pendapatan yang akan diterima pemerintah. Hal ini terjadi sebab dipasar pajak diaplikasikan dengan fokus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;budgetair&lt;/span&gt;, tetapi kalau fokusnya digeser dengan maksud &lt;span style="font-style:italic;"&gt;regulerend&lt;/span&gt; maka semua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trade-off&lt;/span&gt; yang tadi disebutkan menjadi tidak relevan lagi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sebagai alat untuk mengatur pola atau gaya hidup maka pajak dikenakan atas aspek tertentu dengan maksud meminimalisir dampaknya negatif yang dapat muncul untuk skala pribadi maupun skala korporat, dampak buruk tersebut tentu akan membawa eksternalitas negatif bagi sekitarnya, yang lambat laun akan mengemuka dan merugikan siapapun yang berada atau pernah berada dalam radiusnya. Contoh nyatanya adalah asap rokok, kemacetan jalan raya atau pembuangan limbah industri ke lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya ada pajak khusus atas produk berupa cukai dan para industrialis rokok pernah dibebani kewajiban sebagai pemungut PPh Pasal 22 sebesar 0.15% dari harga bandrol dan PPN sebesar 10%. Namun terhitung sejak 1 Januari 2009, kewajiban untuk memungut PPh Ps 22 itu dicabut, sehingga praktis masa berlakunya hanya 1 tahun. Belum jelas apa motif pencabutannya, namun biaya sosial yang harus ditanggung pemerintah dimasa mendatang pasti akan meningkat, ini tidak menginternalisasikan eksternalitas negatif yang harusnya diminimalisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenaan pajak yang dimaksudkan untuk tujuan semacam ini dikenal dengan mekanisme Pajak Pigovian, diambil dari nama ekonom Universitas Cambridge, Arthur Cecil Pigou (1877- 1959) selaku penggagasnya. Selaku pengelola negara, pemerintah ikut campur dalam kegiatan ekonomi baik dalam bentuk kebijakan berupa pengendalian langsung atau dengan mengenakan pajak, pajak dianggap sebagai pilihan yang memfasilitasi adanya jalan tengah karena menambah pendapatan pemerintah tanpa langsung menurunkan usaha industri. Tetapi, semua pilihan kebijakan ada ongkosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil pajak sebagai alat internalisasi eksternalitas akan membuat pemerintah kehilangan ketegasan dihadapan masyarakat karena sebetulnya hidup tenang tanpa ada gangguan dari eksternalitas negatif adalah hak setiap orang, sementara bagi pasar hal ini adalah peluang untuk melakukan lobi dan transaksi karena terlihat sekali pemerintah membutuhkan uang dengan menetapkan pajak, karena tentu ada saja beberapa korporat yang tidak keberatan membayar pajak jika laba yang mereka peroleh lebih tinggi. Sementara pembatasan langsung tanpa toleransi akan mematikan atau menurunkan produktifitas industri yang akan membawa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;butterfly effect&lt;/span&gt; yang lebih panjang, mulai dari turunnya potensi pembayaran pajak hingga ke PHK karyawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cost- benefit&lt;/span&gt; menjadi penting dalam hal ini. Menimbang mana yang lebih penting antara tujuan dari tiap aspek yang dibahas dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;opportunity cost&lt;/span&gt; yang harus dikeluarkan. Misalkan antara kesehatan/lingkungan dengan sisi perkembangan ekonomi dan kesejahteraan materi masyarakat. Mekanisme Pajak Pigovian bisa menjadi alternatif karena memang dianggap mampu menekan laju peningkatan biaya sosial dimasa depan sementara mekanisme kendalikan langsung bisa diterapkan jika memang sumber penerimaan negeri sudah tangguh dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.bized.co.uk/current/mind/2003_4/271003.htm"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2175232307473763543?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2175232307473763543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/mekanisme-pajak-pigovian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2175232307473763543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2175232307473763543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/mekanisme-pajak-pigovian.html' title='Mekanisme Pajak Pigovian'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gf-6Al2xSPY/Txd6fskjd2I/AAAAAAAAB8s/QhnG08q6qn4/s72-c/proprights.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-7465137763203091916</id><published>2012-01-16T15:09:00.003+07:00</published><updated>2012-01-16T16:45:55.735+07:00</updated><title type='text'>Bukan PNS, Hanya Pekerja Serabutan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-zrk4JRDQK0A/TxPxtpon8VI/AAAAAAAAB8c/kn5zoHsis_c/s1600/Entrepreneur.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 298px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-zrk4JRDQK0A/TxPxtpon8VI/AAAAAAAAB8c/kn5zoHsis_c/s400/Entrepreneur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698163720126460242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku paling benci kalau dulu ada yang bertanya apa pekerjaan Bapak ku. Kalau bisa, aku menghindar untuk menjawab. Jika terdesak, aku bilang Bapakku PNS. Nyatanya Bapak ku pernah bekerja sebagai PNS di Departemen Kehakiman, namun beliau meninggalkannya dengan alasan yang belum bisa aku pahami kala itu. Dan memilih bekerja sebagai pekerja serabutan, kadang- kadang berkebun, kadang jadi makelar, kadang jadi wartawan surat kabar lokal, dan lain- lain. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kadang aku menyesal lahir sebagai anak seorang wiraswasta serabutan, apalagi kalau kawan- kawan sekolah ku mulai saling membanggakan profesi Bapak mereka. Apa yang bisa aku banggakan dari seorang pekerja serabutan? pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian istimewa. Tubuhnya yang gempal dan padat berbalut kaos lengan pendek seadanya berkawan motor GL Pro sederhana yang sudah lewat masa kejayaanya. Jauh dari sosok gambaran orang sukses versi manusia masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi diluar profesinya, Bapak sangat humoris. Tiada hari tanpa gelegar tawa bersama teman- temannya bahkan mungkin kepahitan hidup juga ikut ditertawakan. Seperti ketika bermain gaple atau saat ada kawan beliau yang bertamu kerumah, biasanya diselingi kopi hitam dan pisang goreng buatan sendiri. Bapak suka betul bercerita, selalu saja ada bahan lelucon yang tak habis- habisnya. Bukan hanya humoris, namun beliau punya banyak teman, kemanapun kalau aku ikut ke keliling pakai motor, selalu saja ada temannya di setiap beberapa ratus meter yang berteriak menyapa dengan sapaan khas pergaulan kita kaum laki- laki, mulai dari: Bos.. Komandann..dan lain- lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku tahu Bapak dulu adalah seorang PNS di Departemen Kehakiman Palembang namun saat itu kami keluarga tinggal di Baturaja sehingga tiap akhir pekan Bapak harus ke Palembang untuk bekerja, padahal saat itu gaji PNS golongan II/b tidak seberapa sementara kebutuhan keluarga harus dibiayai, alhasil Bapak juga harus mencari penghasilan tambahan disana sampai akhirnya ia meninggalkan kantor karena akan dipindahkan ke Bangka Belitung yang lebih jauh. Bapak akhirnya menolak dipindahkan, sampai akhirnya malah diberhentikan. Tapi beliau tidak terlalu mempersoalkan, tetap melanjutkan dan menikmati hidup, dengan memilih bekerja sebagai wiraswasta serabutan tidak membuat martabatnya jatuh dan keceriaanya pupus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini 15 tahun lebih sudah Bapak tidak lagi seorang PNS, 2 atau 3 tahun lalu aku tahu kenapa Bapak tidak mau dipindahkan ke Bangka Belitung karena ia tidak mau semakin jauh hidup terpisah dari kami keluarganya di Baturaja. Aku dan kakak ku masih kecil saat itu, Ibu ku juga hanya seorang Ibu Rumah Tangga biasa tanpa penghasilan. Bagiku cerita hidup Bapak adalah contoh nyata kebesaran dan kasih sayang ALLAH.SWT, karena tanpa sumber penghasilan yang pasti setiap bulannya, rejeki untuk kami sekeluarga tetap mengalir lewat kerja keras Bapak. Hampir disetiap kesusahan selalu saja ada jalan keluar berupa rejeki yang tidak disangka- sangka. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Hidup ini sudah diatur oleh ALLAH.SWT, jalani saja berusaha semampunya, selebihnya sukuri lah sudah ada rejeki masing- masing"&lt;/span&gt;. Begitu nasihat Bapak berkali- kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab dan sayangi keluargamu itu adalah nilai lain yang Bapak tekankan. Pengorbanan bapak sepertinya adalah bahasa lain untuk mengatakan bahwa harga diri seorang laki- laki itu adalah bekerja. Setiap hari Bapak pasti keluar dari rumah, entah kemana dan biasanya setiap pulang selalu membawa apapun yang berguna untuk keluarga, mulai dari sayur untuk dimasak, ikan untuk digoreng atau lauk pauk matang sesekali dari warung nasi kesukaannya. Lain cerita kalau baru pulang dari kebun dan sedang musim buah, maka pisang, duku atau rambutan adalah hal biasa bagi kami, bahkan durian juga sesekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini usiaku sudah 24 tahun dan aku hidup dalam kontradiksi hidup beliau. Harusnya aku hidup lebih bahagia dengan gelegar tawa yang lebih membahana dari yang beliau punya, dengan teman yang lebih banyak dimana- mana. Tapi kenyataanya aku bahkan lupa kapan terakhir aku tertawa lepas tanpa beban. Mungkin tampaknya aku belum paham nasihat beliau yang sering diucapkan kepada ku itu. Semoga ini hanya masalah waktu dan kuharap bisa lebih cepat dari biasa, karena aku hanya ingin menikmati hidup. Dan setidaknya sudah sejak lama aku tidak lagi merasa malu atas profesi beliau, karena aku sudah membuka mata untuk menghargai siapapun bukan dari pekerjaanya namun dari nilai hidup yang ada didalamnya. Aku bangga pada bapak, walau dia hanya wiraswasta serabutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak lagi benci kalau ada yang bertanya apa pekerjaan Bapak ku. Aku bilang Bapakku eks PNS. Bapak ku pernah bekerja sebagai PNS di Departemen Kehakiman, namun beliau meninggalkannya dengan alasan yang sudah bisa aku pahami kini. Dan memilih bekerja sebagai pekerja serabutan, kadang- kadang berkebun, kadang jadi makelar, kadang jadi wartawan surat kabar lokal, dan lain- lain. Begitulah...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-7465137763203091916?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/7465137763203091916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/bukan-pns-hanya-pekerja-serabutan.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7465137763203091916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7465137763203091916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/bukan-pns-hanya-pekerja-serabutan.html' title='Bukan PNS, Hanya Pekerja Serabutan'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zrk4JRDQK0A/TxPxtpon8VI/AAAAAAAAB8c/kn5zoHsis_c/s72-c/Entrepreneur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-6712426672156165207</id><published>2012-01-14T11:31:00.005+07:00</published><updated>2012-01-14T13:29:42.858+07:00</updated><title type='text'>A Lecturer and All That</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/--isENQR3Tmk/TxEfBx6h8mI/AAAAAAAAB8Q/gRdJufsB6Ek/s1600/%2528R%2529SP_A0002k.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/--isENQR3Tmk/TxEfBx6h8mI/AAAAAAAAB8Q/gRdJufsB6Ek/s400/%2528R%2529SP_A0002k.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697369119039550050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Satu waktu di ruang kelas Gedung J-104, masa itu adalah pekan pertama perkuliahan semester terakhir dan kami sedang menunggu dosen untuk mata kuliah Komputer Audit. Isu yang kami dengar adalah beliau tipe dosen yang on- time, sehingga sebagai ketua kelas, sudah aku jarkom via sms kepada 30 orang teman satu kelas untuk datang lebih awal, tidak biasanya. Lalu tak lama kemudian sosok pria berkacamata, dengan rambut tampak sudah memutih masuk ke dalam ruangan, sang dosen sudah tiba.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Aku duduk di baris paling depan saat itu, satu bangku dengan kawan dari Sumatera Utara Andi Ginting namanya. Biasanya kalau satu bangku dengan kawan ini, aku sering bercanda namun kali ini tidak, bicara pun harus bisik- bisik takut ketahuan sang dosen, maklum entah kenapa kesan pertama ku dengan beliau memberi semacam sensasi rasa takut, cemas atau khawatir berlipat- lipat. Pertama karena aku memang 'kikuk' jika membahas hal seputar IT, kedua karena citra sang dosen yang kugambarkan seram dalam pikiranku, bermula dari kebiasaan beliau yang on- time, sikap yang sudah langka kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana mulai mencair waktu beliau melakukan presensi kami satu per satu, lalu soal sekilas silabus selama 16 kali pertemuan, juga unsur penilaian yang biasa beliau jalankan terhadap kami para mahasiswa/i. Dan pertemuan hari itu usai. Waktu berlalu, dan minggu demi minggu perkuliahan berlangsung, pembahasan teori lalu praktikum, aku ingat ketika praktikum pertama kali, aku adalah satu- satu nya yang tidak membawa laptop, saat itu aku bilang laptopku sedang dipinjam teman yang lagi kuliah. Padahal sebetulnya, kalau tidak salah ingat karena aku terlambat jadi buru- buru lupa bawa laptop. Bandel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ya&lt;/span&gt;? Aku mohon maaf ya Pak.. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang hampir 5 tahun bekerja di bidang IT, yaitu Sistem Informasi dan SQL serta PL/SQL. Namun itu tidak membuatku 'PD' kalau harus berjibaku dengan urusan komputer, butuh waktu dan dorongan semangat lebih. Dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alhamdulillah&lt;/span&gt; sang dosen berhasil membuatku tetap yakin berusaha, melalui teknik mengajar proaktif yang membuat kami para mahasiswa merasa terlibat secara langsung, sesi tanya jawab yang terbuka dengan banyak kesempatan dan rupanya sang dosen tidak se-ngeri yang aku bayangkan, semakin kesini, semakin kami terasa suasana yang cair dengan beliau. Semua karena kesan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau nilaiku tidak sempurna untuk mata kuliah beliau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(dan memang tidak ada nilaiku yang sempurna untuk semua mata kuliah haha..)&lt;/span&gt;. Tapi, satu semester menjadi mahasiswa beliau, aku merasa, ada bekal ilmu yang aku dapat untuk aku pakai di kantor nanti dan ada pula bekal teladan yang bisa aku bawa soal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;punctuality&lt;/span&gt; dan profesionalisme dalam berkontribusi. Sengaja aku buat tulisan ini justru setelah aku lulus dan tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa beliau demi untuk menjaga sikap. Terakhir aku dengar kabar, beliau menjadi salah satu dosen favorit di kampus. Wajar dan memang sudah sepantasnya. Selamat Pak.. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beliau bernama Ennoch Sindang. Widyaiswara di kampus STAN, dan pengampu mata kuliah Komputer Audit. Seorang dosen yang profesional, on- time dan total dalam mengajar. Hanya bisa mendoakan yang terbaik buat Bapak dan keluarga, amin..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-6712426672156165207?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/6712426672156165207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/lecturer-and-all-that.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6712426672156165207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6712426672156165207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/lecturer-and-all-that.html' title='A Lecturer and All That'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/--isENQR3Tmk/TxEfBx6h8mI/AAAAAAAAB8Q/gRdJufsB6Ek/s72-c/%2528R%2529SP_A0002k.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-9213280355804521258</id><published>2012-01-13T00:32:00.001+07:00</published><updated>2012-01-13T02:51:12.187+07:00</updated><title type='text'>Inginku Tentang Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-9k3T2Of3cwo/Tw85e8cyYVI/AAAAAAAAB74/kJDoBv8CG1A/s1600/IMG_2385dd.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9k3T2Of3cwo/Tw85e8cyYVI/AAAAAAAAB74/kJDoBv8CG1A/s400/IMG_2385dd.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696835257432695122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1 Call Ended&lt;br /&gt;22:35 Thu 12 Jan&lt;br /&gt;+6281958847xxx&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa kita kenang dari hari kemarin saat ribuan lintasan angin mengudarakan suaramu dan suaraku? Nama tempat? Nama orang? atau sekilas bayangan gelak tawa kita? Mungkin tidak ada lagi yang tersisa, tapi satu yang tidak akan tercecer setitik pun, yaitu rasa. Sebut saja rindu, kasih atau sayang. Kian lama kian dalam tanpa pandang jarak, tempat atau waktu, seperti tadi sesaat sebelum kita mengakhiri pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1 New Message &lt;br /&gt;+6281958847xxx&lt;br /&gt;22:39:33&lt;br /&gt;12/01/12&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah ada pada titik untuk belajar menjadi manusia yang paham tentang mencintai dan dicintai, walau mungkin belum sesempurna kau. Lambat laun nanti akan mantap jua, agar pasti kita melangkah maju, tanpa ragu untuk menjadi diri sendiri selalu. Karena seperti lirik lagu, kau adalah salah satu anugerah terindah yang pernah aku terima. Aku butuh kau untuk disisiku. Tapi tidak semudah itu juga bagiku meninggalkan rimba belantara yang kau sebut sebut melelahkan dan penuh resiko, karena bisa jadi mereka adalah guru bagiku untuk dapat mencintaimu dengan sepenuhnya menjadi diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;From: one25_xxxxx@ yahoo.com&lt;br /&gt;Tue, Dec 14, 2010 at 3:36 PM&lt;br /&gt;Subject: Undefined&lt;br /&gt;To: sonzonexx@ gmail.com&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin jika kelak kita sudah bersama dalam satu ikatan yang sah, untuk mengajak mu kesatu tempat yang selalu aku bayangkan untuk bersamamu disana, menikmatinya dan kembali mengukir rasa yang tidak akan tercecer sedikit pun, menjadikannya satu hal yang tidak akan terlupakan meski bila kelak bahkan kita tidak mampu lagi ingat apapun. Gili Nanggu, pulau kecil di Lombok ini sepertinya sangat teduh, bersih lagi jauh dari kebisingan hidup, berjalan di bibir pantai diantara debur tepi air laut sambil menantikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sunset&lt;/span&gt; disana. Denganmu, sayangku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;13 Januari 2011&lt;br /&gt;02:33:53 Dini hari&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-9213280355804521258?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/9213280355804521258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/inginku-tentang-kita.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/9213280355804521258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/9213280355804521258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/inginku-tentang-kita.html' title='Inginku Tentang Kita'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-9k3T2Of3cwo/Tw85e8cyYVI/AAAAAAAAB74/kJDoBv8CG1A/s72-c/IMG_2385dd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-5543109797203927606</id><published>2012-01-12T22:37:00.003+07:00</published><updated>2012-01-13T00:03:46.302+07:00</updated><title type='text'>Sekilas Thanksgiving</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-EJx6klg7WLM/Tw8SAiMfjSI/AAAAAAAAB7g/x_toeTg3was/s1600/Thanksgiving-Day.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 308px; height: 325px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-EJx6klg7WLM/Tw8SAiMfjSI/AAAAAAAAB7g/x_toeTg3was/s400/Thanksgiving-Day.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696791854035471650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Kamis di pekan keempat bulan November setiap tahun di Amerika Serikat, atau di Senin pekan kedua bulan Oktober di Kanada, adalah hari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thanksgiving&lt;/span&gt; (pengucapan syukur) dimana para keluarga akan berkumpul menikmati makan malam bersama diisi obrolan tentang hal- hal yang membuat mereka bersyukur, satu per satu oleh masing- masing anggota keluarga. Hari itu adalah hari libur nasional tahunan disana. Satu hari yang tidak ada di sistem kalender negara kita Indonesia, dan bukan hal yang penting untuk diperdebatkan cuma masalah adat/ kultur sahaja.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tulisan ini aku buat karena rasa penasaran mengapa di daerah sana ada hari khusus untuk bersyukur, dan ternyata ini dilatar belakangi oleh suatu adat kebiasaan mereka untuk mengucapkan terima kasih dan rasa bersyukur di akhir musim panen. Hanya itu? Sesederhana itu? Tidak ternyata, ini semua berhubungan dengan era dulu ketika migrasi besar- besaran dari Eropa khususnya Inggris ke benua baru yakni Amerika beratus- ratus tahun lalu terjadi. Kala itu, Eropa dilanda kekacauan berlatar belakang agama dan banyak penghukuman terjadi atas nama agama, mereka yang menentang ajaran gereja Katolik lalu menjadi Kristen Protestan banyak lari ke benua baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang lari ke benua Amerika harus mampu bertahan hidup, menyesuaikan diri dengan musim dingin, mereka membentuk koloni (era balu kolonisasi di benua Amerika) bernama Plymouth Bay (diambil dari nama pelabuhan ketika mereka tiba), kondisi musim dingin kala itu begitu ekstrim banyak mereka yang meninggal atau memilih kembali ke Eropa. Mereka yang tinggal memilih untuk bertahan dalam kelaparan hingga ketika musim semi tiba mereka yang disebut juga sebagai kaum Pilgrim ini melakukan pertanian secara besar- besaran, bersama- sama dalam asas kebersamaan. Mereka begitu bersemangat terutama setelah melalui masa- masa musim dingin dan kelaparan hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu, dengan berbagai inovasi dan adaptasi yang mereka lakukan dalam hal sistem pengelolaan akhirnya kaum Pilgrim yang merupakan cikal bakal kaum kolonis benua Amerika mampu mencukupi kebutuhan mereka karena mungkin mulai mengenal sistem barter sejalan dengan penyesuaian sistem yang dilakukan. Saat- saat inilah yang oleh kaum Pilgrim dipandang sebagai sebuah mukjizat yang harus mereka syukuri setelah melewati tempaan musim dingin yang berat. Hingga kala itu mereka mengadaan jamuan/ pesta makan dengan mengundang juga suku Indian asli Amerika, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wampanoag&lt;/span&gt;. Tradisi ini terus berlanjut dari masa ke masa terjaga hingga menjadi tradisi nasional di Amerika Utara yang dikenal dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thanksgiving Day.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha bertahan dari sebuah kondisi yang berat ternyata membuahkan hasil, dan itu wajar jika diapresiasi, mungkin esensinya bukan berarti hanya hari itu saja orang Amerika Utara bersyukur tp lebih ke arah bagaimana mereka mengenang upaya keras mereka kala itu dengan menjadikan hari- hari tertentu sebagai hari untuk mengenang masa itu lalu memaknai dalam sebuah syukur mendalam. Bukan hal yang aneh aku kira, justru yang aneh adalah jika adat ini diikuti oleh negara/ bangsa lain yang tidak pernah mengalami hal ekstrim sedemikian rupa untuk menikmati hasil panen. Karena intinya bahwa setiap hari adalah waktu untuk bersyukur kepada ALLAH.SWT karena telah/ masih memampukan diri untuk berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Jadi ingin mencicipi ayam kalkun bakar, enak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ya&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://concordpastor.blogspot.com/2011/11/prayers-for-thanksgiving-day.html"&gt;sini&lt;/a&gt;, dan sumber bacaan yang menjadi referensiku adalah&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Bloomberg News&lt;/span&gt; edisi 21/11/2001.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-5543109797203927606?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/5543109797203927606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/sekilas-thanksgiving.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5543109797203927606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5543109797203927606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/sekilas-thanksgiving.html' title='Sekilas Thanksgiving'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-EJx6klg7WLM/Tw8SAiMfjSI/AAAAAAAAB7g/x_toeTg3was/s72-c/Thanksgiving-Day.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-7463129533653873908</id><published>2012-01-11T23:09:00.004+07:00</published><updated>2012-01-11T23:49:46.211+07:00</updated><title type='text'>Memoar Elpeje</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-8zVAGx7Wh4c/Tw22ZrIHeTI/AAAAAAAAB7U/cmTh02SDC5Y/s1600/2012-01-11%2B21.12.25.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8zVAGx7Wh4c/Tw22ZrIHeTI/AAAAAAAAB7U/cmTh02SDC5Y/s400/2012-01-11%2B21.12.25.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696409655883299122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Every ending is just a new beginning for another thing&lt;/span&gt;, begitu kata kawanku (namanya Nasikhudin) waktu semua Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) DINAMIKA selesai kami serahkan kepada Badan Eksekutif Mahasiswa kampus. Sudah tiga hari ini, waktu ku tersita bersama Nash, Mima, Nunah merampungkan LPJ yang jatuh tempo 10 Januari kemarin sebetulnya. Lega? Iya. Lapang? belum terlalu sebetulnya, karena LPJ yang sudah diserahkan ini masih harus menjalani proses verifikasi dan klarifikasi dengan pihak lain, sebut saja BLM dan BAK. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;But at least&lt;/span&gt;, bersyukurlah akhirnya rampung juga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Aku patut berterima kasih banyak kepada Nash dan Nunah sebagai Bendahara sudah menyusun Laporan Keuangan yang melihat isinya saja sudah cukup membuat kening berkrenyit. Juga pada Yemima sebagai Sekretaris untuk ketelatenannya menyusun dan memeriksa kembali semua dokumen yang masuk dari tiap eks ketua bidang sampai mengkompilasinya dan lebih dari itu karena ia yang akan menjadi satu- satunya eks Badan Pelaksana Harian (BPH) yang masih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;stay&lt;/span&gt; di kampus, karena kami bertiga (aku, Nash dan Nunah) sudah akan kembali kerja dalam waktu dekat. Juga untuk Remon, untuk kesediaannya membantu transportasi dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;printing&lt;/span&gt; sampai larut malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu aku ucapkan terima kasih juga kepada rekan- rekan eks ketua bidang atas dedikasinya dalam menyusun LPJ bidang masing- masing. Aku kira tidak mudah melakukannya karena butuh komitmen untuk meng-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kick&lt;/span&gt; diri sendiri ditengah kesibukan yang mulai rutin seperti ini apalagi mengingat DINAMIKA sendiri sudah lewat hampir 30 hari yang lalu. Voila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang kesibukan selama 3 hari belakangan ini, dimulai dari pagi hingga malam bahkan larut. Kamar kos Nash sudah penuh dengan berkas dan kami yang berbagi tugas, carut marut yang terlihat elegan ditengah tiga buah laptop dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;printer&lt;/span&gt;. Hahaha.. Bahkan sempat tidak enak dengan Bapak Kos nya karena harus mundar- mandir buka tutup pintu gerbang sehingga garasi beliau jadi becek. Ah, untung tanki oli motor ku sudah diperbaiki, kalau tidak mungkin jadi tambah kotor itu garasi. Sekarang semua sudah selesai, tinggal menunggu panggilan jika memang perlu kami dipanggil. Disitu, didalam LPJ yang tebal bersampul merah putih itu, semua cerita DINAMIKA kami terangkum. Harapan kami sederhana, semoga LPJ itu bermanfaat guna bagi para penggunanya di masa mendatang. Sehingga keberadaan kami didalam kepanitiaan kemarin tidak sekedar numpang lewat melainkan berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Every ending is just a new beginning for another thing&lt;/span&gt;, begitu kata si Nash.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-7463129533653873908?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/7463129533653873908/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/memoar-elpeje.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7463129533653873908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7463129533653873908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/memoar-elpeje.html' title='Memoar Elpeje'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-8zVAGx7Wh4c/Tw22ZrIHeTI/AAAAAAAAB7U/cmTh02SDC5Y/s72-c/2012-01-11%2B21.12.25.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-5207041079328500714</id><published>2012-01-10T06:03:00.000+07:00</published><updated>2012-01-14T11:11:37.963+07:00</updated><title type='text'>When Time Heals</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-xHEFyxkxjF4/TxA5WSjKJlI/AAAAAAAAB8E/L-ZiXbK7FOA/s1600/_MG_9281vdfzdfv.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-xHEFyxkxjF4/TxA5WSjKJlI/AAAAAAAAB8E/L-ZiXbK7FOA/s400/_MG_9281vdfzdfv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697116583722886738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dulu sepertinya aku belum siap, tapi aku nekad untuk melanjutkan cerita ini, cerita tentang kita. Dan lama- lama aku menjadi bingung. Sepertinya aku yang menjadi berlebihan. Mungkin bingung, sebab rupanya aku belum siap menjadi diriku yang baru, dengan mu. Lucu, aku seperti merasa bingung ketika diperhatikan, disayangi atau mungkin dicintai. Sepertinya paradigma ku dulu salah, aku kira dulu aku hanya hidup ditakdirkan hanya untuk mencintai bukan dicintai. Semua berubah ketika kau masuk kedalam kehidupan ku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kini aku mulai takut kehilanganmu, aku mulai rela meninggalkan ambisiku, menanggalkan impian tinggiku untuk bisa menjadi lebih dekat denganmu, mewujudkan impian kita. Melihatmu seperti aku menemukan jalan kehidupanku yang seharusnya aku jalani. Entah aku yang menemukan mu, atau kau yang menemukan aku, yang jelas kita dipertemukan. Singkatnya memang seperti inilah takdir kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari titik kenyamanan cara hidup untuk menuju suatu perubahan, kata orang adalah sebuah kemajuan. Itu artinya aku harus sepenuhnya menjadi orang yang layak dicintai, sebab aku sudah terlalu lama nyaman dengan cara kemarin, sendiri, hanya berkawan sekedar berkawan, tanpa kawan yang benar- benar bisa dimaknai sebagai 'kawan hidup'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku lebih bingung lagi, aku yang memulai cerita kita, namun aku juga yang bingung. Aku hanya tidak ingin kebingungan ini semakin besar menjadi ketakutan yang berlebihan. Sudah sepantasnya aku mulai menerima kehidupan ku sekarang sewajarnya dengan mu lalu seiring waktu sajalahh sayang, mari kita lanjutkan cerita hari esok.. yang jelas aku tahu sebetulnya aku begitu sayang padamu. Maafkan aku jika satu dua hal belum bisa aku tepati..&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Mengenang satu malam yang kita habiskan di Monas Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-5207041079328500714?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/5207041079328500714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/when-time-heals.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5207041079328500714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5207041079328500714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/when-time-heals.html' title='When Time Heals'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-xHEFyxkxjF4/TxA5WSjKJlI/AAAAAAAAB8E/L-ZiXbK7FOA/s72-c/_MG_9281vdfzdfv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-7445344125493786448</id><published>2012-01-01T10:38:00.005+07:00</published><updated>2012-01-01T13:38:49.652+07:00</updated><title type='text'>Kompleksitas Penentuan Tarif Pajak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-otEF4oPd1Rg/Tv__Fv8RqwI/AAAAAAAAB6Y/RKu3HtCfQb0/s1600/1301695692-47.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 361px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-otEF4oPd1Rg/Tv__Fv8RqwI/AAAAAAAAB6Y/RKu3HtCfQb0/s400/1301695692-47.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5692548928253307650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah tahun 2012, Ditjen Pajak kembali menerima tugas mencari uang untuk negara dari sektor perpajakan dengan target yang (biasanya) akan lebih tinggi dari tahun fiskal sebelumnya. Target yang ditentukan oleh Badan Kebijakan Fiskal ini merupakan angka yang harus diusahakan Ditjen Pajak selama setahun kedepan melalui berbagai upaya. Di tahun 2011 kemarin, dari sumber tak resmi yang penulis dengar lewat seorang teman mengatakan bahwa sekitar 95% yang sudah mampu dicapai dari target yang ditetapkan, dan untuk itu apresiasi layak diberikan kepada Ditjen Pajak atas pencapaian ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Upaya pencapaian target yang dilakukan oleh Ditjen Pajak dilakukan dengan langkah yang sifatnya pendekatan berupa pengawasan atau penetapan kebijakan terkait dengan tarif. Yang ingin penulis angkat dalam postingan blog ini adalah terkait dengan tarif. Sering kita dengar bahwa DJP menerapkan kebijakan baru atas tarif suatu objek, baik itu menaikkan atau menurunkan yang semata- mata tujuannya hanya satu yaitu menjaga stabilitas prospek potensi penerimaan dari objek tersebut, penerapan kebijakan ini dapat berdampak secara langsung (budgetair) atau tidak (regulerend).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata perihal ini sudah dibahas melalui pemikiran seorang ekonom di abad ke 14 yaitu Ibnu Khaldun yang berabad- abad kemudian menjadi cerminan Arthur Laffer, ekonom asal USA, yang menggambarkan hasil pemikiran Ibnu Khaldun dalam bentuk kurva sederhana (secara sekilas) yang sarat makna, dikenal dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laffer Curve&lt;/span&gt;. Inti dari pemikiran Ibnu Khaldun adalah bahwa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"In the early stages of the state, taxes are light in their incidence, but fetch in a large revenue...As time passes and kings succeed each other, they lose their tribal habits in favor of more civilized ones. Their needs and exigencies grow...owing to the luxury in which they have been brought up. Hence they impose fresh taxes on their subjects... and sharply raise the rate of old taxes to increase their yield...But the effects on business of this rise in taxation make themselves felt. For business men are soon discouraged by the comparison of their profits with the burden of their taxes... Consequently production falls off, and with it the yield of taxation."&lt;/span&gt; (http://en.wikipedia.org/wiki/Muqaddimah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ikhtisar pemikiran beliau penulis menyimpulkan ketika tarif pajak rendah sebut saja misal 0% maka tidak ada penerimaan yang bisa didapat negara dari pajak, dan masyarakat akan memiliki penghasilan tinggi namun tanpa pelayanan publik yang memadai, keadaan ini mungkin terjadi dijaman dahulu ketika manusia hidup dalam pola yang bisa dibilang tidak memiliki peradaban. Seiring waktu ketika tingkat peradaban mulai berkembang yang diikuti peningkatan kebutuhan akan tata negara yang baik maka disaat itu dibutuhkan iuran berupa pajak dengan tarif yang hingga kini belum bisa ditentukan berapa tingkat wajarnya, andai disebutkan 100% (kondisi ekstrim) maka hal ini akan membuat efek domino berupa penurunan produktivitas (sengaja memilih tidak bekerja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan ini sejalan dengan Kurva Laffer yang dibuat tahun 1974 dan dipopulerkan oleh Jude Wanniski:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-32RijZ_nIC8/Tv_nD2I1SFI/AAAAAAAAB6M/ZDitzfoTl5w/s1600/745px-Laffer-Curve.svgvdfv.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 322px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-32RijZ_nIC8/Tv_nD2I1SFI/AAAAAAAAB6M/ZDitzfoTl5w/s400/745px-Laffer-Curve.svgvdfv.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5692522507277781074" /&gt;&lt;/a&gt;Menjadi tugas Kementrian Keuangan (melalui DJP) untuk menentukan tarif pajak yang dianggap wajar dalam menjaga penerimaan negara, dan ternyata penentuan ini tidak semudah yang dibayangkan, ada lebih dari sekedar kalkulasi matematis namun juga semacam pertimbangan respon perilaku pasar (wajib pajak yang bertransaksi) yang kadang sulit ditebak, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kecuali jika memang objek/barang transaksi sifatnya memang primer/pokok maka efeknya tidak akan terlalu berpengaruh (sifatnya inelastis)&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikembalikan pada kondisi ekstrim tadi (kesimpulan penulis atas pemikiran Ibnu Khaldun) bisa jadi adalah dengan menurunkan tarif pajak pada tingkat tertentu yang akan mendorong perilaku pasar menunjukkan respon maksimal atas insentif ini. Karena secara teori justru peningkatan tarif akan membuat pasar jadi lesu, dan ini menimbulkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;deadweight loss&lt;/span&gt; (kerugian beban baku) yang lebih besar bagi produktivitas pasar (Mankiw 2009). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kesimpulan teoritis penulis ini masih dibayangi oleh keraguan akan stabilitas politik pemerintahan dalam negeri yang belum optimal memberikan perhatian pada respon pasar atas kebijakan perpajakan yang dibuat Ditjen Pajak. Terlebih pada penduduk negeri ini yang berhak akan kehidupan yang layak dan pelayanan publik yang baik. Apa mungkin pemikiran Ibnu Khaldun dan Kurva Laffer akan menjadi anomali di negeri ini? Semoga tidak. Karena tuntutan kebutuhan penyelenggaraan kehidupan negeri ini makin meningkat dan membutuhkan dana besar yang menjadi tugas berat Ditjen Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://3.bp.blogspot.com/-BSSpk-Re_qY/TbUlDT8Zp6I/AAAAAAAAAI0/VXWZFMjZtPk/s1600/1301695692-47.jpg&amp;imgrefurl=http://qisyoung.blogspot.com/2011/04/habisfinishtamat.html&amp;usg=__18UunNVx3X1_Nlqa2QFjmOOyzKk=&amp;h=495&amp;w=548&amp;sz=98&amp;hl=id&amp;start=13&amp;sig2=G-uMawLPYmc2XbzdYpKdcA&amp;zoom=1&amp;tbnid=UNePf5OnEQdcCM:&amp;tbnh=120&amp;tbnw=133&amp;ei=mv7_TomJC82zrAfF9qH0Dw&amp;prev=/search%3Fq%3DKEUANGAN%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN%26biw%3D1280%26bih%3D678%26tbm%3Disch&amp;um=1&amp;itbs=1"&gt;sini&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://kangamir.blogspot.com/2007/11/laffer-curve.html"&gt;sinih&lt;/a&gt;!!.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-7445344125493786448?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/7445344125493786448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/kompleksitas-penentuan-tarif-pajak.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7445344125493786448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7445344125493786448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2012/01/kompleksitas-penentuan-tarif-pajak.html' title='Kompleksitas Penentuan Tarif Pajak'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-otEF4oPd1Rg/Tv__Fv8RqwI/AAAAAAAAB6Y/RKu3HtCfQb0/s72-c/1301695692-47.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1869131194438639833</id><published>2011-12-30T00:00:00.005+07:00</published><updated>2011-12-31T08:55:12.377+07:00</updated><title type='text'>Judisium, Sebuah Sisi Lain.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-rpiime5h_ig/TvyexVNaIeI/AAAAAAAAB6A/qeK0DEq_ZVk/s1600/379126_2942962215652_1309126947_3347754_1667381686_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-rpiime5h_ig/TvyexVNaIeI/AAAAAAAAB6A/qeK0DEq_ZVk/s400/379126_2942962215652_1309126947_3347754_1667381686_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691598599433626082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku judisium, tepatnya tanggal 27 Desember kemarin. Dan artinya mulai saat itu statusku sudah bukan Mahasiswa atau Pegawai Tugas Belajar lagi. Kini aku sedang menanti untuk ditempatkan di kantor yang baru. Dimana? Kalau permintaan ku dikabulkan maka aku akan berkantor di Kota Palembang, sekaligus memulai hidup baru disana, mempersiapkan banyak hal untuk kehidupan yang sudah aku coba rancang. Dan mengucapkan selamat tinggal serta terima kasih kepada rimba Metropolitan Jakarta untuk masa 7 tahun belakangan ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Life goes on and it can't wait, so let us move on!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Judisium, prosesi singkat namun sakral dan wajib ini nyaris aku lewatkan lantaran ketinggalan pesawat di Bandara Juanda Surabaya sehari sebelumnya, untungnya bantuan Tuhan lewat seorang teman datang disaat yang tepat. Sehingga pagi tanggal 27 Des itu aku sudah bangun dengan suasana berbeda, bergegas mandi, menyiapkan seragam serta sedikit berkaca untuk meyakinkan bahwa aku cocok juga mengenakan dasi. Kuhitung seumur hidup sangat jarang aku berpakaian serapi dan selengkap ini. Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 09.00 WIB hari itu, 91 orang total rekan satu angkatan ku sudah berkumpul di Gedung G Aula Kampus. Mereka nampak rapi, sumringah dan cerah. Beberapa bahkan bisa aku pastikan sengaja membeli kemeja atau celana baru untuk prosesi monumental ini. Aku? Ah, jangan ditanya. Sudah bagus masih mau mencukur kumis dan brewok ini. Dasi pun dapat minjam dari teman. Kenapa? Ya, karena memang sudah cukup nyaman dengan kemeja putih dengan kancing lepas satu ditengah (untung ketutupan sama dasi) dan celana panjang hitam yang jahitan bawahnya agak robek. Lagi pula, prosesi nya tak lama, hanya 2-3 jam saja. Sayang dan sungkan kalau repot- repot beli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Judisium pun dibacakan oleh Pihak Kampus, ibarat Ijab Qabul yang menjadi sarat sah pernikahan, maka sah sudah kami lulus. Tepuk tangan kami pun membahana, sorakan kami begitu gegap gempita memenuhi langit- langit aula gedung ini. Selanjutnya pembacaan peringkat. Namaku dipanggil, Erikson Wijaya dengan IPK ?,?? Peringkat ? dari 91 orang. Berdiri sebentar terus duduk lagi. Lega! Sekaligus senyum lapang karena akhirnya 1 fase sudah terlewati. Sambil duduk kemudian aku termenung, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eitss..&lt;/span&gt; sebaiknya aku tidak boleh lupa bahwa bertambahnya jenjang pendidikan maka akan diikuti oleh bertambahnya tanggung jawab atas penguasan ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari selama 2 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab ini seperti beban moral tak tampak yang akan mudah terlupakan jika tidak dibarengi dengan dedikasi dan kesadaran dalam berkarya. Tapi sisi lain dari tanggung jawab ini sebetulnya adalah sebuah cara untuk mempertahankan apa yang sudah didapat, memperbaharui serta membagikannya dengan cara yang senyaman mungkin tanpa bermaksud merasa lebih baik dari orang lain. Sisi lain ini kelihatannya akan mengalihkan tanggung jawab akademis praktis yang mulanya terlihat seperti beban menjadi sebuah hobi yang terasa nikmat untui digilai dan diaktualisasikan. Semacam mental yang sifatnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;unstoppable learning machine.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, baru ingat seperti nya selain itu aku juga harus menyiapkan kembali mental untuk siap berjibaku dengan aktifitas kantor dan rutinitas yang akan menjemukan jika tidak disiasati dengan kreatif. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Working is just like biking, it keeps you from falling because it will let you keep pedalling, but you need to take a brief halt periodically to strecht your leg&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1869131194438639833?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1869131194438639833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/judisium-sebuah-sisi-lain.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1869131194438639833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1869131194438639833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/judisium-sebuah-sisi-lain.html' title='Judisium, Sebuah Sisi Lain.'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rpiime5h_ig/TvyexVNaIeI/AAAAAAAAB6A/qeK0DEq_ZVk/s72-c/379126_2942962215652_1309126947_3347754_1667381686_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-4580323992472257222</id><published>2011-12-26T11:52:00.018+07:00</published><updated>2011-12-27T15:47:58.921+07:00</updated><title type='text'>Melepas Ego di Gunung Raung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-cd0lGffOuv0/Tvl7YaJQibI/AAAAAAAAB4I/PxwTtgQ3uBI/s1600/PC235014okkkk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-cd0lGffOuv0/Tvl7YaJQibI/AAAAAAAAB4I/PxwTtgQ3uBI/s400/PC235014okkkk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690715263424563634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Siang itu ditengah angin kencang, udara dingin, hujan dan kabut pekat, pada ketinggian beberapa puluh meter di bawah Puncak Sejati Gunung Raung 3332mdpl, sekelompok anak muda tengah berjuang untuk meneruskan pendakian. Dan, saat berteduh di sebuah tepi cekungan dibawah Puncak Tusuk Gigi, ternyata disanalah perjuangan yang sebetulnya baru akan terjadi. Puncak Tusuk Gigi, puncak ketiga setelah Puncak Bendera dan Puncak Kemukus.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Adalah aku Ebas (Erikson Bin Asli Azis), Joneh (Bagus Pujo Trilaksono), Poski (Surahman), Ichank (Ichsan Permana) dan Tople (Chairus Topan), keenam pemuda yang tepat pada 24 Desember 2011 kemarin berjibaku dalam dingin dan hujan untuk memenuhi mimpi kami menuju Puncak Sejati Raung dengan dipandu oleh Cak Nyung (Josinyo) dari REGASSPALA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang terjadi didetik- detik siang itu, merupakan momen yang sangat berkesan dan akan terkenang selalu. Sebuah momen tentang apa yang oleh Norman Edwin sebut kan dalam kuotasi terkenalnya yang kurang lebih berbunyi: "Bukan Gunung yang kita taklukan tapi diri kita sendiri".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati medan hutan dan tiba di batas vegetasi, semua dari kami sepertinya mulai terperanjat dalam diam, aku yakin ada semacam sensasi komplek ketika melihat hamparan medan karang membentuk bukit terjal menjadi atap hutan hijau nan berkabut dibawah sana, turun naik meliuk- liuk membentuk lajur menuju beberapa titik yang lebih tinggi diatas sana. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-82xU-tGktCI/Tvl734f6-vI/AAAAAAAAB4U/qShHkHi5Gjg/s1600/PC245052okookok.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-82xU-tGktCI/Tvl734f6-vI/AAAAAAAAB4U/qShHkHi5Gjg/s400/PC245052okookok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690715804148628210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kami terus mengikuti jalur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trek&lt;/span&gt; bebatuan dan cuaca masih cukup cerah menjanjikan. Hijau hutan dibawah sana lantang terlihat. Dan medan masih cukup landai untuk menuju puncak pertama yaitu Puncak Bendera. Ketika menuju Puncak Bendera ini, ada semacam tumpukan bebatuan yang terjadi secara alamiah betul- betul menakjubkan. Dan ketika sudah tiba di Puncak Bendera, kami bersiap untuk turun menapaki lembah menuju puncak selanjutnya yaitu Puncak Kemukus. Perjalanan menuju puncak Kemukus ini tidak mudah, untuk turun kami memilih cara aman dengan menggunakan webbing.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-epmxCcDjQY4/Tvl8oqJA3JI/AAAAAAAAB4g/A98NiGeJJbA/s1600/oooko.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-epmxCcDjQY4/Tvl8oqJA3JI/AAAAAAAAB4g/A98NiGeJJbA/s400/oooko.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690716642108038290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pilihan lain selain menggantungkan diri menuju jalan ke bawah berpegangan tangan pada seutas webbing, beberapa dari kami yang tidak biasa dengan kondisi ini harus berjuang lebih kuat mempertahankan keyakinan untuk bisa sampai ke bawah, termasuk aku. Disaat ini, hujan mulai turun, udara dingin mulai menyergap kencang dan kabut perlahan menghalangi jarak pandang. Ichank bertanya apa akan diteruskan? Dan berkata: "Kondisi mulai tidak memungkinkan, mungkin sebaiknya inilah puncak sejati kita, disini!! Apa kita yakin akan tetap lanjut?!!!". Aku jawab: "Lanjut!!!"&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-hxKGmfv9Wjg/Tvl_qMg8hCI/AAAAAAAAB5Q/0RmD8MhdPhY/s1600/PC245050ooo.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-hxKGmfv9Wjg/Tvl_qMg8hCI/AAAAAAAAB5Q/0RmD8MhdPhY/s400/PC245050ooo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690719967049974818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat semua sudah sampai dibawah, kami kembali meneruskan perjalanan menuju Puncak Kemukus, (beberapa menyebutnya Puncak 17 Agustus), dan ketika tiba di puncak ini, udara makin dingin, ditambah medan yang makin berat membuat pegangan tangan pada batu karang menjadi tidak kuat, sementara untuk mencapai Puncak Sejati masih ada satu puncak lagi yaitu Puncak Tusuk Gigi. Alam benar- benar tidak bisa ditebak, memang sepanjang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trekking&lt;/span&gt; kemarin kami dirundung hujan, namun menurut informasi terakhir di pos awal, kondisi ini jarang terjadi di Puncak sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hujan makin deras, angin kian kencang dan dingin kian menyergap serta kabut yang tambah pekat kami memutuskan untuk beristirahat sebentar menunggu kondisi mereda di sebuah cekungan di tepi tebing tepat dibawah puncak Tusuk Gigi. Tapi nyatanya, kondisi tidak membaik sementara kami juga dikejar waktu agar bisa segera turun kebawah secepatnya. Saat itu aku masih ingin meneruskan hingga ke Puncak Sejati, tekad ku sudah bulat (atau nekad?) namun di tim ternyata Joneh, Ichank dan Tople memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan. Hanya Poski yang bersedia lanjut. Dari sini, konflik bermula.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-vd_jE2c_nX0/Tvl9PifnNEI/AAAAAAAAB4s/h3PAVkBepvI/s1600/PC245058okoko.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-vd_jE2c_nX0/Tvl9PifnNEI/AAAAAAAAB4s/h3PAVkBepvI/s400/PC245058okoko.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690717310070240322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lebih ngeri dari itu semua adalah kilatan petir ditengah gemuruh awan pada langit hujan, Cak Nyung memberikan peringatan untuk kembali mempertimbangkan dengan kondisi petir ini. Setelah kembali meyakinkan semua anggota tim akhirnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fixed&lt;/span&gt; bahwa Joneh, Tople dan Ichank menunggu dibawah, ditengah dingin hanya berlindung jas hujan dan sedikit ransum. Sementara aku dan Poski akan tetap menuju Puncak Sejati. Bendera- bendera titipan saudara dari Bekasi sudah aku pegang untuk dibawa keatas dan dikibarkan. Joneh, Tople dan Ichank memberikan semangat dalam diam mereka. Kami semua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;speechless&lt;/span&gt;. Belum pernah aku seemosional ini dalam sebuah pendakian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di titik ini, saat semua kami terdiam merenungi kondisi yang benar- benar tidak terduga ini, Poski dan Cak Nyung berdiskusi berdua dalam bahasa Jawa, dan suasana kembali berubah. Kondisi ku yang sempat kelelahan ketika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trekking&lt;/span&gt; dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;camp&lt;/span&gt; 8 ke Pos 4 membuat Cak Nyung khawatir jika aku turut serta keatas, terkesan dipaksakan tanpa menimbang resiko apalagi medannya tentu lebih berat karena menanjaki bebatuan sambil dikepung udara dingin,  khawatir nanti akan membuat waktu tempuh lebih lama sementara waktu kami terbatas dan tentu akan membuat mereka bertiga menunggu lebih lama dibawah bertahan dalam dingin, bagaimana kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan?&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-lN-4u7mp-Hs/TvmAVyXjFSI/AAAAAAAAB5c/Hg_7XNvbpnM/s1600/PC245064dsv.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lN-4u7mp-Hs/TvmAVyXjFSI/AAAAAAAAB5c/Hg_7XNvbpnM/s400/PC245064dsv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690720715945481506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku paham maksud nya sampai disini, intinya Cak Nyung selaku pemandu kami, khawatir bila aku ikut serta keatas, namun beliau segan untuk menyampaikannya mengingat aku begitu bersemangat menggebu- gebu sejak awal. Poski yang menyampaikan kepadaku, sambil menawarkan solusi supaya cukup ia dan Cak Nyung saja yang keatas dengan memberikan pertimbangan kondisi medan yang berat, fisikku yang sempat drop di bawah tadi. Aku keberatan saat itu! Puncak Sejati sudah terlihat sangat dekat dari tempat kami beristirahat, bagaimana mungkin aku dengan mudah melepasnya, setelah dua bulan lebih aku merindukannya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran- gambaran euforia pendakian Raung beberapa minggu lalu pun melayang- layang didalam benakku. Ketika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hunting&lt;/span&gt; alat, ketika pesan tiket yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;useless&lt;/span&gt;, ketika mencari pelarian ke Gunung Gede, ketika latihan fisik, ketika main ke Cibogo, ah terlebih lagi bila ingat tahun depan aku sudah pindah domisili ke Sumatera Selatan, maka entah kapan lagi aku bisa mendaki Raung ini. Semacam obsesi. Mulailah, disini pertarungan yang melibatkan ego/ambisi menuju puncak Sejati dengan sikap berbesar hati makin memuncak. Bagai orkestra dengan segala instrumen yang dimainkan dengan nada yang tinggi, lalu meninggi dan meninggi kemudian makin meninggi. Tapi, tiba- tiba berhenti. Klimaks, Lalu tenang dan Terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, abang kan tadi sempat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;drop&lt;/span&gt; dibawah, kalau kita paksakan keatas bertiga nanti takutnya abang gak bisa cepat ngikutin kita, malah memperlambat, jadi kasihan dengan mereka bertiga yang menunggu dibawah, kelamaan kedinginannya, apalagi kan kita diburu jadwal kereta besok. Atau cukup aku dan Cak Nyung aja yang keatas, abang menunggu disini saja sama mereka, lebih meminimalkan resiko itu, kami paling 2 jam saja sudah balik lagi kesini. Gimana Bang?" Poski berkata.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-fPN2_RQk7Hw/TvmBd3SMH9I/AAAAAAAAB50/Dfo-1Sl5-Pw/s1600/PC245062csdc.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 301px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-fPN2_RQk7Hw/TvmBd3SMH9I/AAAAAAAAB50/Dfo-1Sl5-Pw/s400/PC245062csdc.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690721954215763922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudahlah, aku tunggu disni saja sama mereka. Kalian berdua yang keatas" Aku jawab demikian sambil mengingat- ingat kembali alat- alat yang mungkin perlu mereka bawa keatas, termasuk bendera Caracol Veneno, Nandjak Adventure dan Bendera Merah Putih lalu menyerahkannya. Lalu Poski dan Cak Nyung mulai menuruni jalur menuju puncak Tusuk Gigi hingga akhirnya tiba di Puncak Sejati. Saat itu aku mulai mencoba memaknai pendakian ini sebagai pendakian oleh satu team, bukan secara personal yang kebetulan sedang bersama. Hingga aku rela melepas raungan ego, ditengah kondisi alam yang sedang tidak bisa ditebak dapat saja membahayakan, penuh resiko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam selanjutnya aku habiskan bersama Joneh, Tople dan Ichank sambil berlindung jas hujan, kami menyalakan api untuk menghangatkan diri. Sesekali badai berlalu, kabut pekat lewat berganti cerah, namun sesaat kemudian datang lagi bersama hujan, sampai dua jam berselang, Poski dan Cak Nyung kembali lagi, walau belum sepenuhnya lepas namun setidaknya saat itu aku mulai belajar memandang keutuhan kebersamaan ini atas nama satu tim. Keberhasilan Poski dan Cak Nyung sampai ke Puncak Sejati kucoba untuk kumaknai sebagai keberhasilan tim ini. Bendera yang dititipkan sudah berhasil dikibarkan. Kami berjalan kembali untuk pulang ke pos peristirahatan dibawah sana. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-PbkiNPUKb9I/Tvl_OGasynI/AAAAAAAAB5E/7X5buqgqFJ4/s1600/PC245056ljnij.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PbkiNPUKb9I/Tvl_OGasynI/AAAAAAAAB5E/7X5buqgqFJ4/s400/PC245056ljnij.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690719484376828530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Don't look back and keep walking"&lt;/span&gt;. Begitu seharusnya, namun sesekali aku masih sempat menoleh kebelakang melihat puncak sejati dari kejauhan, secara personal aku memang tidak mencapai Puncak Sejati, namun secara mental aku telah berhasil mencapai puncak yang lebih tinggi yaitu puncak penaklukan ego untuk tidak melawan alam dan bersifat realistis terhadap kondisi diri dan keadaan. Sebuah pembelajaran baru yang aku dapat dari pendakian Gunung Raung. Gunung yang bagiku sepertinya bukan hanya sekedar gunung namun lebih dari itu seperti guru yang keras dalam menempa para pendaki yang ingin memaknai arti sebuah pendakian. Ditengah hujan, dingin dan kabut, Puncak Sejati makin jauh terlihat namun kenangan dan pelajaran darinya makin dekat dan terasa sayang untuk dilepas.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ioU_vT_3dUE/TvmA0axwA7I/AAAAAAAAB5o/1khv3DacJ74/s1600/PC255070cdaawc.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ioU_vT_3dUE/TvmA0axwA7I/AAAAAAAAB5o/1khv3DacJ74/s400/PC255070cdaawc.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690721242188874674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Keesokan harinya&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah di bandara Juanda Surabaya, pulang mendahului Tople, Ichank, Poski dan Joneh karena dikejar jadwal Yudisium yang wajib diikuti dikampus ku. Bagai manusia dengan jiwa yang baru saja aku disini. Pagi disini sudah ramai, riuh rendah suara calon penumpang beradu pelan dengan bunyi derit troli kereta dorong mereka. Tapi suara gemuruh suasana kemarin siang di Puncak Raung sana marih meraung kencang memberi tanda untuk selalu ingat tentang makna sebuah pendakian, kebersamaan dan lebih jauh lagi adalah tentang kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alhamdulillah ya ALLAH, semoga hamba dan saudara- saudara sependakian kemarin termasuk dalam golongan hambaMU yang dapat mengambil pelajaran, Amin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-TUvNM14ttwY/Tvl63K2XfnI/AAAAAAAAB38/4qM_-xV99Ts/s1600/PC265077okk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-TUvNM14ttwY/Tvl63K2XfnI/AAAAAAAAB38/4qM_-xV99Ts/s400/PC265077okk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690714692383112818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Diatas langit Surabaya, Pesawat Garuda Citylink ini terbang membawaku menuju Jakarta menderukan mesin seperti  sedang membuang obsesi ku mencapai Puncak Sejati dan menggantinya dengan setumpuk pelajaran berharga nan tak ternilai. Bukan lah gunung yang kita taklukan namun diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-UfVTjt4kjuM/Tvl6jOk5NVI/AAAAAAAAB3w/6wHoTT104cs/s1600/PC265078okkk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-UfVTjt4kjuM/Tvl6jOk5NVI/AAAAAAAAB3w/6wHoTT104cs/s400/PC265078okkk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690714349786182994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, hari ini aku Yudisium, statusku sudah bukan Mahasiswa lagi, tinggal menunggu masa magang dan akhirnya kembali kekantor, insyaALLAH di Palembang, Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Untuk foto- foto di puncak Sejati, file nya belum terkumpul.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-4580323992472257222?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/4580323992472257222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/melepas-ego-di-gunung-raung.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4580323992472257222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4580323992472257222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/melepas-ego-di-gunung-raung.html' title='Melepas Ego di Gunung Raung'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-cd0lGffOuv0/Tvl7YaJQibI/AAAAAAAAB4I/PxwTtgQ3uBI/s72-c/PC235014okkkk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-3633666238429395117</id><published>2011-12-16T19:32:00.003+07:00</published><updated>2011-12-16T19:50:35.959+07:00</updated><title type='text'>Drama Stasiun Senen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-BG1lVmUocWE/Tus-JV8j-bI/AAAAAAAAB3k/H8VfYfY5D-U/s1600/PICT0003ok.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-BG1lVmUocWE/Tus-JV8j-bI/AAAAAAAAB3k/H8VfYfY5D-U/s400/PICT0003ok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5686707284716288434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekedar Sharing Pengalaman Hari ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya aku sudah berangkat menunumpang Matarmaja tujuan Malang, tapi karena suatu hal terpaksa dimundurkan jadi hari Rabu. Jadi begini, minggu kemaren aku pesan tiket kereta ekonomi Matarmaja tujuan Malang untuk keberangkatan hari ini 16 Desember (karena hanya H-7 yang dilayani). aku pesan sen untuk 7 orang. Dan ketika tiket diberikan, disitu tertera tulisan :"BERANGKAT DARI STASIUN SENEN".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tidak menngerti itu tulisan maksudnya apaan, dan tidak terlalu aku anggap penting! Karena mikirnya tidak apa- apa, 3 anggota tim saja yang berangkat dari Stasiun Senen, selebihnya 4 orang dari stasiun Bekasi. Dan ternyata ketika tadi sampai Stasiun Senen mau berangkat, ada banner lumayan besar ukurannya ditempel di pintu ruang tunggu (jauh dari ruang pemesanan tiket) bunyinya, kira- kira begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mulai dari 1 Des 2011 Kereta Ekonomi Jarak jauh tidak berhenti di stasiun Bekasi, Cikampek.. bla..bla.. Jadi harus berangkat dari stasiun Senen, Kota, Tanah Abang atau Tanjung Priok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shock&lt;/span&gt;!! Itu bagaimana nasib nya sodara2 yang di Bekasi??? Alamat bakalan repot ini urusanya, mana peralatan pendakian di Bekasi semua!! Dan akhirnya aku berusaha menemui pihak stasiun, tapi jawabanya kita diminta menghubungi Kepala Stasiun Bekasi, dan kebetulan pas salah satu dari kita sudah menunggu di Bekasi jadinya bisa menemui langsung Ka. Stasiun, namun hasilnya nihil, dengan alasan pertaruhan jabatan.. bla.. bla.. bla..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadinya cuma bisa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;say goodbye&lt;/span&gt; sama Matarmaja, dan sialnya lagi baru sadar bahwa tiket yang sudah dipegang tidak bisa ditukar jadwal dengan alasan sudah lewat H-1 dan sudah tidak bisa di batalkan karena sudah lewat 30 menit sebelum keberangkatan. Akhirnya Raung disepakati untuk dimundur saja ke hari Rabu insyaALLAH.. Dan berhubung semangatnya sudah semangat Raung, agak berat rasanya kalau mau putar haluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha berprasangka baik saja dengan kejadian ini, mungkin Tuhan punya maksud lain. Selebihnya aku lalu pulang lagi kekos, sambil menyempatkan membeli dua ikat Rambutan untuk dimakan di Bis Patas AC 44 jurusan Ciledug- Senen. Ah, hidup memang penuh dengan kejutan, dan tiba- tiba aku teringat perkataan Khalifah Ali RA.Beliau RA berkata bahwa kalau kita tidak mendapatkan apa yang kita senangi maka senangilah apa yang kita dapatkan. Mungkin semacam ikhtiar kecil untuk menjadi lebih bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-3633666238429395117?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/3633666238429395117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/drama-stasiun-senen.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3633666238429395117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3633666238429395117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/drama-stasiun-senen.html' title='Drama Stasiun Senen'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-BG1lVmUocWE/Tus-JV8j-bI/AAAAAAAAB3k/H8VfYfY5D-U/s72-c/PICT0003ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-972136210379328623</id><published>2011-12-15T22:44:00.003+07:00</published><updated>2011-12-15T23:30:56.768+07:00</updated><title type='text'>Cerita Porter Gunung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-LTfF0IURvOg/Tuof0qa9SxI/AAAAAAAAB3U/NqN3skiudRU/s1600/DSC06138ok.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-LTfF0IURvOg/Tuof0qa9SxI/AAAAAAAAB3U/NqN3skiudRU/s400/DSC06138ok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5686392469109689106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika sekelompok orang, mungkin aku salah satunya, memaknai sebuah pendakian sebagai sebuah pelarian dari hingar bingar kehidupan, atau dengan sederet alasan filosofis lainnya, maka ada sebagian kelompok yang lain beranggapan bahwa mendaki gunung untuk menyambung hidup, mereka adalah para porter (pengangkut barang). Dan, memang begitu kenyataannya, keberadaan mereka para porter bisa dengan cukup mudah ditemui misalnya di Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Namanya Roni, berkepala plontos, dengan senyum ramah dan polos. Usianya baru 19 Tahun, aku berkenalan dengannya Juni lalu ketika mendaki Rinjani, ia diminta pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani untuk menjadi porter yang akan menemani perjalanan aku dan kedua temanku. Awalnya aku menyangsikan tubuh mungilnya untuk mengangkat barang- barang kami yang berat. Namun, entah betisnya yang khilaf atau tubuhnya yang kalap, tapi kedua pundaknya seperti tampak biasa dibebani dua keranjang penuh isi, kakinya pun tetap lincah untuk sedikit berlari. Agak malu juga aku kalau sempat tertinggal jauh jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu istirahat, kami bercerita tentang apapun seputar Gunung Rinjani, sampai ke pengalaman Roni menjadi porter, yang intinya bahwa menjadi porter bagi penduduk kampung gerbang masuk kawasan pendakian Rinjani sudah menjadi semacam pekerjaan tetap disamping pekerjaan mereka sebagai petani musiman, mereka menyambung hidup dengan naik turun gunung. Upah yang mereka terima lumayan besar daripada menggantung hidup sebagai petani, itu kenapa pilihan menjadi porter lebih menarik, apalagi jika yang dibantu adalah pendaki dari luar negeri, mereka kadang terkenal royal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang mereka antisipasi adalah ketika pihak balai menutup kawasan di periode Desember- Januari biasanya, disitu tidak ada aktivitas pendakian, sehingga banyak dari mereka mengalihkan sumber pencaharian dengan menjadi buruh kasar musiman di Malaysia dan kembali lagi menjadi porter bila jalur sudah dibuka kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haha, yang lucu adalah ketika mereka pulang dari Gunung maka kabar itu akan menyebar ke satu kampung dan mereka akan didatangi oleh sanak famili untuk mencicipi cipratan rejeki porter. Dan yang menyentuh adalah waktu aku sampai pada kesimpulan bahwa,  mungkin inilah salah satu maksud ALLAH.SWT menciptakan Gunung Rinjani. Tanpa keberadaan Rinjani mungkin mereka sudah kehilangan pilihan untuk menopang hidup. Aku hanya khawatir dan jangan sampai Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani senasib dengan Kawasan Taman Nasional Batang Gadis di Sumatera Utara yang digadang- gadang akan dijadikan areal proyek tambang jika betul demikian maka tentu saja dapat mengancam keseimbangan ekologi dan sumber rejeki penduduk lokal (para porter, red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, ketika sekelompok orang, mungkin aku salah satunya, memaknai sebuah pendakian sebagai sebuah pelarian dari hingar bingar kehidupan, atau dengan sederet alasan filosofis lainnya, maka inilah Roni, berkepala plontos, dengan senyum ramah dan polos. Usianya baru 19 Tahun dan sudah menikah serta beranak satu, ia memaknai pendakian sebagai upaya untuk menyambung hidup. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Just for a living, nothing more.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Ditengah persiapan menuju Gunung Raung besok 16 Desember.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-972136210379328623?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/972136210379328623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/cerita-porter-gunung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/972136210379328623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/972136210379328623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/cerita-porter-gunung.html' title='Cerita Porter Gunung'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LTfF0IURvOg/Tuof0qa9SxI/AAAAAAAAB3U/NqN3skiudRU/s72-c/DSC06138ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1433732046948865207</id><published>2011-12-11T19:48:00.002+07:00</published><updated>2011-12-11T21:45:53.498+07:00</updated><title type='text'>Kebebasan Itu?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ry6ZYasImS4/TuTB63bmPUI/AAAAAAAAB3I/J7LgjHjHZLs/s1600/_DSC5705ok.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 344px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ry6ZYasImS4/TuTB63bmPUI/AAAAAAAAB3I/J7LgjHjHZLs/s400/_DSC5705ok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684881846704684354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti orang kebanyakan, aku suka dengan kebebasan, bebas mau kemana saja, melakukan apa saja. Bagai setiap hari sudah jadi milikku sepenuhnya. Tertawa, berkelana, gembira lalu lelap seketika. Tapi ah, aku lihat kebebasan itu memang tidak ada di dunia ini. Karena selalu dibatasi oleh tanggung jawab dan setiap manusia yang hidup, sedikit atau banyak pasti telah mengambil tanggung jawab dengan atau tanpa disadari. Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Andaikan tidak ada tanggung jawab lain yang harus aku penuhi, mungkin setiap hariku akan terisi dengan petualangan demi petualangan mendaki pegunungan dari Sabang hingga Merauke. Namun itu tidak mungkin karena aku hidup bukan untuk diriku sendiri, lagipula harus punya uang untuk bisa kemana-mana itu tadi, uang yang hanya bisa aku dapat kalau aku menjalankan tanggung jawab sebagai pegawai yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki penikmat kebebasan, begitu mungkin judulnya kalau sudah berkumpul dengan teman2 bahkan aku bagai tidak ingat bahwa kodrat lelaki dewasa yang sudah mampu itu adalah menikah lalu menjadi suami kemudian ayah. Siklus kehidupan yang harus disyukuri, lagi-lagi karena aku hidup bukan untuk diriku sendiri melainkan demi mereka yang menjadi alasan mengapa aku diciptakan, mungkin nanti kalau sudah terasa hikmahnya maka aku baru bisa senyum ikhlas melepaskan kesenangan masa muda yang penuh dengan fantasi petualangan yang liar turun ke rimba menikmati alam dari ketinggian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yah sudahlah, berbesar hatilah. Pepatah lama dari Negeri Jerman berkata bahwa mereka yang berbahagia adalah mereka yang bisa melupakan apa saja yang tidak bisa mereka raih. Lalu aku belajar melupakan. Ajaran agamaku, Islam mengatakan bahwa kunci kebahagiaan adalah bersyukur. Lalu aku belajar mensyukuri selalu hingga nanti aku mati. Karena tiada yang tahu prihal umur. Semoga kesadaran penuh dan dalam tentang makna kebebasan dan tanggung jawab bisa aku pahami dan jalankan disisa umur ku kedepan. Amin. Karena aku hanya ingin hidup tenang dengan mereka yang aku sayangi, iya kamu dan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Malam ini dingin karena hujan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1433732046948865207?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1433732046948865207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/kebebasan-itu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1433732046948865207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1433732046948865207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/kebebasan-itu.html' title='Kebebasan Itu?'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ry6ZYasImS4/TuTB63bmPUI/AAAAAAAAB3I/J7LgjHjHZLs/s72-c/_DSC5705ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-366361972005919942</id><published>2011-12-10T19:36:00.003+07:00</published><updated>2011-12-10T19:47:41.217+07:00</updated><title type='text'>Rundown Raung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-tiPORMmaK6I/TuNUU33WvqI/AAAAAAAAB28/YMwLu-GYCsI/s1600/4%2BGungung%2BRaung.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tiPORMmaK6I/TuNUU33WvqI/AAAAAAAAB28/YMwLu-GYCsI/s400/4%2BGungung%2BRaung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684479872241942178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NAMA KEGIATAN:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tamasya Raung Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RUTE JALUR:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Naek (in) : Jalur Kalibaru&lt;br /&gt;Turun (out) : Jalur Kalibaru&lt;br /&gt;Kalibaru adalah sebuah kecamatan di Banyuwangi yang menjadi salah satu lokasi pintu masuk pendakian Raung, disini ada Posko REGASSPALA, KPA yang dua orang personilnya akan menemani pendakian kita, mereka yang sudah begitu paham mengenai medan jalur utara sampai menghantarkan ke Puncak Sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transport: Kereta Ekonomi Matarmaja&lt;br /&gt;Tujuan: Stasiun Kotabaru Malang&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;WAKTU KEGIATAN:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;16-21 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Note:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ditanggal keberangkatan, tim akan berangkat menjadi tiga titik sebar: Stasiun Senen (3), Stasiun Bekasi (4) dan Kalibaru (1). Masing-masing harus stand by jangan telat, apalagi ketinggalan kereta, usahakan 30 menit sebelum kereta masuk, sudah siap di peron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PESERTA KEGIATAN:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bange&lt;br /&gt;Ichank&lt;br /&gt;Tople&lt;br /&gt;Pujo&lt;br /&gt;Kubil&lt;br /&gt;Willy&lt;br /&gt;Poski&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERIZINAN:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perizinan Gunung Raung menurut informasi bisa dibilang sederhana, siapkan fotokopi KTP dan dari tim kita akan disiapkan surat perizinan oleh Sobat Bange yang akan ditujukan ke Kecamatan, Desa, Polsek dan Koramil yang berada di Kalibaru, penyampaiannya akan dibantu oleh REGASSPALA, sudah dikoordinasikan. Kemungkinan tetap ada biaya administrasi, namun tidak terlalu material dan ditanggung kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERLENGKAPAN DAN PERALATAN PRIBADI:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Headlamp dan baterai cadangan minimal dua&lt;br /&gt;Sleeping Bag&lt;br /&gt;Peralatan Makan (sendok, gelas dan piring)&lt;br /&gt;Geter&lt;br /&gt;Peralatan Mandi (sikat gigi, sabun)&lt;br /&gt;Matras&lt;br /&gt;Drigen ukuran 5Lt&lt;br /&gt;Sepatu Gunung/Sendal&lt;br /&gt;Kaos Kaki (Bawa secukupnya)&lt;br /&gt;Pakaian ganti secukupnya&lt;br /&gt;Sarung Tangan&lt;br /&gt;Kupluk/Topi&lt;br /&gt;Jas Hujan (boleh model Ponco atau setelan)&lt;br /&gt;Korek Api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERLENGKAPAN DAN PERALATAN KELOMPOK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carrier, cukup 5 saja yang bawa supaya bisa gantian, selebihnya daypack&lt;br /&gt;Daypack, 3 orang bawa daypack yaitu: Tople, Poski dan Pujo&lt;br /&gt;Tenda, kita bawa 2 disiapkan oleh Bange, 1 tenda solo juga dibawa oleh Willy&lt;br /&gt;Kompor dan nesting, bawa masing-masing 2 oleh Ichank dan Bange&lt;br /&gt;Golok, bawa 3 oleh Tople, Ichank dan Poski&lt;br /&gt;Webing, kita usahakan sampai 100 meter lebih kalau bisa, sejauh ini sudah ada 60meter oleh Bange, Ichank dan Poski&lt;br /&gt;Karabiner, bawa 4. Masing-masing kita usahain bawa 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Note:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk Webing, masih kurang banget jadi tolong masing2 usahain juga ya supaya aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LOGISTIK KELOMPOK:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gas 5 tabung&lt;br /&gt;Kopi + Susu&lt;br /&gt;Roti Tawar&lt;br /&gt;Telor&lt;br /&gt;Ikan Teri+ Kacang&lt;br /&gt;Sayur Bumbu&lt;br /&gt;Sambal Masak&lt;br /&gt;Bumbu Masak&lt;br /&gt;Kornet&lt;br /&gt;Buah-buahan Kaleng&lt;br /&gt;Minuman Kemenangan&lt;br /&gt;Snack&lt;br /&gt;Coklat&lt;br /&gt;P3K Kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;note:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Logistik kelompok dibeli di Kalibaru dengan sumber dana dari iuran tim, termasuk unsur dari total dana yang dibutuhkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LOGISTIK PRIBADI:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beras setiap orang bawa, diisikan ke 1 botol aqua 600mL.&lt;br /&gt;Obat-obatan Pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RUNDOWN KEGIATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari I&lt;br /&gt;Jumat, 16 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;13.00- 13.30: Kumpul di stasiun Senen, dekat ATM Center.&lt;br /&gt;13.30- 14.00: masuk ke peron, siap berangkat menuju Malang Kotabaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari II&lt;br /&gt;Sabtu, 17 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;07.00- 08.00: Tiba di Stasiun Kotabaru Malang, istirahat dan sarapan pagi.&lt;br /&gt;08.00- 08.30: Menuju terminal Arjosar Malangi untuk cari Bis ke Banyuwangi (Kalibaru)&lt;br /&gt;09.00- 14.30: Perjalanan ke Kalibaru&lt;br /&gt;14.30- 15.00: Tiba di Kalibaru, ke Basecamp REGASSPALA, mengurus perijinan, makan siang.&lt;br /&gt;15.00- 16.00: Belanja Logistik di Kalibaru&lt;br /&gt;17.00- 19.00: bermalam di Posko REGASSPALA*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari III&lt;br /&gt;Minggu, 18 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;05.30- 06.00: Bangun pagi, sarapan&lt;br /&gt;06.00- 07.00: Packing dan Check alat, bersiap berangkat&lt;br /&gt;07.00- 08.00: Perjalanan ke Desa Terakhir. Naek Ojek.&lt;br /&gt;08.15- 09.15: Tiba di Pos I, mempersiapkan air, sumber mata air terakhir.&lt;br /&gt;09.15- 12.30: Tiba di Pos II (Semar), istirahat, sholat, makan snack ringan&lt;br /&gt;12.30- 14.30: Tiba di Pos III (Petro), istirahat makan snack ringan&lt;br /&gt;14.30- 20.00: Tiba di Pos IV (Bagong), nge-camp disini untuk summit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari IV&lt;br /&gt;Senin, 19 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;05.30- 07.00: Sholat, bangun pagi, sarapan dan summit&lt;br /&gt;07.00- 09.00: Tiba di Puncak Sejati, Raung.&lt;br /&gt;09.00- 10.00: Santai di Puncak, istirahat, enjoy the moment&lt;br /&gt;10.00- 12.00: Tiba di Pos IV, sholat, makan siang dan berkemas untuk turun.&lt;br /&gt;12.00- 16.00: Tiba di Pos III, istirahat makan snack ringan.&lt;br /&gt;16.00- 18.00: Tiba di Pos II, istirahat makan snack ringan.&lt;br /&gt;18.00- 20.00: Tiba di Pos I, istirahat, makan malam dan lanjut naek ojek.&lt;br /&gt;21.00- 22.00: Tiba di Posko REGASSPALA, istirahat, tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari V&lt;br /&gt;Selasa, 20 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;08.00- 13.00: Perjalanan Banyuwangi-  Malang&lt;br /&gt;13.00- 13.30: Berangkat ke Jakarta dari Malang, Matarmaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari VI:&lt;br /&gt;Rabu, 21 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;07.30- 08.00: Tiba di Jakarta, kembali beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;BIAYA-BIAYA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1. Kontribusi Buat REGASSPALA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rp 50.000 x 8 orang hari= Rp 400.000 (Rp 50.000/orang)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;2. Transportasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kereta Matarmaja: Jakarta- Malang: Rp 50.000&lt;br /&gt;Kereta Matarmaja: Malang- Jakarta: Rp.40.000&lt;br /&gt;Ongkos Bis Malang- Kalibaru: Rp 45.000 x 2&lt;br /&gt;Ongkos Ojek Basecamp- Pos I: Rp 30.000 x 2&lt;br /&gt;Ongkos Kotabaru - Terminal Arjosari: Rp 5.000 x 2&lt;br /&gt;REGASSPALA: Rp50.000 (sebagai tanda terima kasih kita, mereka tidak pernah minta)&lt;br /&gt;Konsumsi Kelompok: Rp.50.000&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Estimasi Biaya/orang: Rp 350.000 (estimasi mark-up)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;RENUNGAN:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendakian ini, kita adalah tim, dan kita harus saling menjaga dan membantu bila diperlukan dan jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan. Harus sigap dan siap setiap saat karena alam/gunung bisa berubah dalam hitungan detik, ia tak selamanya bersahabat dan tidak bisa memahami kekurangan kita. Lagipula kata banyak orang bijak: Bukan gunung yang kita taklukan tapi diri kita sendiri. sadaapppphh sok tua banget guaa.. udahh yaa :D. Bismillah!! Semangat Raung!!! Berang2 Makan Cucut!! Berangcut!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-366361972005919942?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/366361972005919942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/rundown-raung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/366361972005919942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/366361972005919942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/rundown-raung.html' title='Rundown Raung'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tiPORMmaK6I/TuNUU33WvqI/AAAAAAAAB28/YMwLu-GYCsI/s72-c/4%2BGungung%2BRaung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-7967377556609858201</id><published>2011-12-07T14:13:00.003+07:00</published><updated>2011-12-08T08:48:10.568+07:00</updated><title type='text'>Memaknai Kelulusan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-slrKMXYrBrs/TuAXJqIWI6I/AAAAAAAAB2w/RLEderzJwUg/s1600/_MG_9723ok.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-slrKMXYrBrs/TuAXJqIWI6I/AAAAAAAAB2w/RLEderzJwUg/s400/_MG_9723ok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683568184437121954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku lulus, hampir sebulan aku menunggu kabar ini, lega rasanya karena bisa juga aku lewati semester terakhir sekaligus semester yang menurutku berat diantara 3 semester lainnya.Berat, karena semua mata kuliahnya sangat teknis dan praktikal. Alhamdulillah, ini artinya sudah mau selesai statusku sebagai Mahasiswa Tugas Belajar, tinggal menunggu yudisium akhir bulan ini dan harus segera dikembalikan ke kantor baru. Entah dimana, hanya Tuhan yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pagi ini sambil duduk menghadap laptop, diluar sana udara dingin sisa hujan tadi malam masih sangat terasa sementara didalam sini dikepalaku semua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;scene&lt;/span&gt; hari demi hari selama dua tahun ini melintas cepat terasa enggan untuk singgah. Ya sudahlah, memang kita tak akan mampu menahan waktu sebab ia akan terus berjalan tanpa mau menunggu tanpa mau tahu. Dan demi apapun, tahun depan aku harus sudah melangkah pergi dari kampus ini menuju tempat dimana aku diharapkan, setelah memegang selembar surat keterangan yang memberi keterangan bahwa aku lulus sehingga siap dinaikkan pangkatnya, kemudian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;take-home-pay&lt;/span&gt; nya, atau malah sedikit saja status sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya aku bahagia atau setidaknya mengembangkan senyum sumringah kepada nasib saat ini, namun aku manusia yang dikaruniai otak dan hati, dan tidak mau terjebak dalam kepasrahan terselubung dalam kemasan kenyamanan hidup. Kudapati banyak orang melewati periode indoktrinasi pendidikan secara ekstrim baik dan lupa untuk membebaskan kreatifitas dan imajinasi walau sedikit saja agar berani mengemukakan perbedaan pendapat, hanya demi dianggap patuh atau demi mendapat nilai yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kegelisahan yang tidak bisa aku pungkiri, semacam ekspresi kekecewaan kepada lingkungan yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'pragmatis'&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'oportunis'&lt;/span&gt;, berada bersama keduanya membuatku merasa tidak nyaman dan makin menjadi tidak nyaman karena tahu bahwa aku tidak akan bisa berbuat apapun untuk mengubah keadaan itu. Akhirnya aku cuma bisa berdamai dengan keadaan. Lalu berbesar hati dan Ya sudahlah. Aku hanya mulai berpikir bahwa aku harus mampu bertahan dengan prinsip ku sendiri ketika harus terus menjalani fase pendidikan kedepan. Berani mengambil resiko walau harus menjadi berbeda dengan orang kebanyakan. Karena yang kucari bukan nilai, pangkat atau uang. Namun kesempatan untuk mengembangkan diri walau setitik demi setitik setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Diantara kamar yang berantakan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-7967377556609858201?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/7967377556609858201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/memaknai-kelulusan.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7967377556609858201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7967377556609858201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/memaknai-kelulusan.html' title='Memaknai Kelulusan'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-slrKMXYrBrs/TuAXJqIWI6I/AAAAAAAAB2w/RLEderzJwUg/s72-c/_MG_9723ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-414170682936748842</id><published>2011-12-04T11:52:00.004+07:00</published><updated>2011-12-04T16:53:04.227+07:00</updated><title type='text'>Dinamika DINAMIKA 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-z8cEdGVIwGs/Ttr8uZH8idI/AAAAAAAAB2k/LMUTBXmMtCw/s1600/319101_2631319305732_1337854145_32913218_2116940126_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 193px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-z8cEdGVIwGs/Ttr8uZH8idI/AAAAAAAAB2k/LMUTBXmMtCw/s400/319101_2631319305732_1337854145_32913218_2116940126_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682131753829698002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selamat datang Kawan, Salam kenal Sahabat&lt;br /&gt;Bersama menjemput pengetahuan di kampus kita tercinta&lt;br /&gt;Jangan patah semangat, mari bulatkan tekad&lt;br /&gt;Demi raih prestasi meski rintangan kan slalu menghadang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Penggalan Lirik Jingle DINAMIKA 2011, by: Mia Putri Melani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Tuhan yang tahu kebingungan dan kekhawatiran ku waktu diserahi amanah menjadi ketua panitia DINAMIKA 2011. Kala itu Oktober kemarin aku sudah memutuskan untuk maju saja mendaftarkan diri untuk posisi Ketua Panitia, bermodal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;grand design&lt;/span&gt; seadanya yang aku tulis sampai bergadang menjelang pagi dan sedikit keberanian untuk mengikuti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;interview&lt;/span&gt; namun bagaimanapun entah mengapa aku pikir ini jadi semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Blessing in Disguise&lt;/span&gt; akibat pembawaan ku yang kurang mampu membedakan makna nekad dan berani. Dan kemudian, Tuhan memberikan jalan kemudahan, kehadiran para rekan yang bersedia mengikuti serangkaian proses rekruitmen sampai akhirnya bergabung menjadi panitia makin memantapkan langkah, dan roda kepanitiaan mulai berjalan, makin lama makin cepat karena dikejar waktu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Lalu hari hari selanjutnya adalah tentang menjalani konsekuensi dari komitmen, tanpa ada kata tanya atau ragu-ragu lagi. Karena komitmen bukan tentang eksistensi tapi dedikasi dan kontribusi. Aku bersyukur ada bersama para rekan yang sadar penuh tentang sebuah tanggung jawab. Kala harus rapat berjam- jam meski dilanda lelah dan kantuk tidak lagi jadi soal atau ketika harus berat menyiapkan hal- hal kecil demi kelancaran esok hari. Jangan tanya lagi tentang siapa diatas siapa, karena bagai berenang yang mulai lelah tidak ada jalan lain selain terus maju jika tidak ingin tenggelam. Sementara ombak di belakang siap menyeret kembali perenang ke daratan. Kalau ada kata yang lebih tinggi maknanya dari 'terima kasih' tentu akan aku pakai untuk mengapresiasi semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada begitu banyak yang bisa kuceritakan. Namun singkat saja jadi dua kata: Aku bersyukur. Pengalaman selama satu bulan terakhir ini menjadi hal mendalam yang tak bisa dilupakan. Aku menyadari makna penting untuk berbesar hati, memaklumi dan belajar diam jika belum mampu memberi solusi. Dan apa lagi ya? Ah, mungkin kita semua memulai ini dari pameo sederhana bahwa hal baik lakukan saja sepanjang niatnya baik maka insyaALLAH ada saja jalannya. Sampai akhirnya kemarin waktu penutupan DINAMIKA 2011. Lagi-lagi hanya Tuhan yang tahu bagaimana akumulasi semua sensasi keluar dalam bentuk mata yang berkaca-kaca bahkan pecah jadi air mata. Bersujud syukur atas semua kelancaran yang diberikan. Akhirnya kerja keras setiap kita dalam panitia terbayar dengan euforia gembira para Mahasiswa /Mahasiswi baru dalam momentum sore kemarin, 03 Desember 2011, diantara baliho besar penyambutan mereka dan bunyi letupan kecil kovayet yang melemparkan serpihan kertas warna warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hari ini mulai terasa berbeda lantaran, semua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;scene&lt;/span&gt; yang pernah ada di hari- hari kemarin sudah habis masanya dan harus tergantikan dengan kesadaran bahwa waktu akan terus berjalan, tanggung jawab baru lainnya harus segera dihadapi dan diselesaikan, dan cukuplah hari kemarin menjadi sejarah yang sarat dengan pelajaran. Aku kira tidak ada waktu yang cukup lagi untuk turun kedalam emosi karena amanah sebagai pribadi dan bagian dari suatu entitas harus segera diselesaikan, termasuk menyusun Laporan Pertanggungjawaban DINAMIKA 2011 yang harus sudah jatuh tempo 24 Desember hingga 10 Januari nanti. Mungkin DINAMIKA 2011 ini adalah salah satu rangkaian penutup tahun selain mendaki Gunung Raung yang akan aku lakukan dua minggu lagi. Bismillah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Ah, baru sadar masa kontrak kamar kos ini akan segera habis. Mari berkemas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-414170682936748842?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/414170682936748842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/dinamika-dinamika-2011.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/414170682936748842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/414170682936748842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/12/dinamika-dinamika-2011.html' title='Dinamika DINAMIKA 2011'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-z8cEdGVIwGs/Ttr8uZH8idI/AAAAAAAAB2k/LMUTBXmMtCw/s72-c/319101_2631319305732_1337854145_32913218_2116940126_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-5308351703164085273</id><published>2011-11-19T21:51:00.004+07:00</published><updated>2011-11-19T22:30:27.355+07:00</updated><title type='text'>Bukan Sekedar Mendengar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ff7N1v5i5Kc/TsfLEUcwcoI/AAAAAAAAB2Y/y8dhK4rcYKA/s1600/Posk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 302px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ff7N1v5i5Kc/TsfLEUcwcoI/AAAAAAAAB2Y/y8dhK4rcYKA/s400/Posk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676729130393039490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku cukup sering melihat atau terlibat dalam suatu pembicaraan yang kedua pihak sama- sama ingin terus bicara, tak ada jeda untuk mendengar, apalagi memahami. Yang susah adalah kalau bertemu lawan bicara yang bersikeras walau sudah diberitahukan seperti apa seharusnya. Ujung- ujungnya, dengan terpaksa mengalah, capek kalau diteruskan. Lebih gawat lagi kalau sampai emosi alias marah. Bisa jadi lebih tidak berguna lagi. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Aku kira mungkin di titik ini adalah tanda bahwa aku sebaiknya belajar lebih banyak untuk mendengar, bukan sekedar mendengar, tp mendengar untuk memahami agar bisa melihat suatu hal dari sisi lain, lalu memutuskannya dengan benar. Bukan baik, karena kebenaran insyaALLAH baik, tapi kebaikan tidak selalu benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak mendengar memang seperti terlihat tidak menguasai pembicaraan, namun jika sekiranya lebih banyak bicara akan menunjukkan ke-tidak-mengerti-an tentang topik bahasan, maka lebih arif untuk mendengar saja, supaya informasi yang kita terima lebih banyak dan menuntun pada kesadaran bahwa ada hal yang mungkin terlewat atau belum dipahami. Bahaya kalau terus-terusan bicara tanpa tahu inti atau tema utama yang dibicarakan. Diam untuk saat saat seperti ini memang akan lebih menjadi emas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Introspeksi diri sepertinya bisa jadi jawaban, mengetahui dan mencoba memahami poin yang belum dipahami agar pembicaraan menjadi lebih terarah dengan realistis dan objektif, singkatnya seperti menjauhkan diri dari debat kusir yang tak kunjung usai. Keahlian mendengar sepertinya menjadi suatu keahlian yang tidak dianggap penting padahal begitu besar menfaatnya dalam pergaulan atau hubungan sosial. Mungkin memang kita lebih baik banyak mendengar daripada bicara karena bisa jadi itulah maksud Tuhan menciptakan dua telinga dan hanya 1 mulut. Dan disaat sudah mengetahui kebenaran suatu hal maka sikap diam saja saat perdebatan sengit atas hal itu, tentu tidak akan menjadi emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Diantara&lt;br /&gt;Deru Kipas Angin&lt;br /&gt;Detak Jam Dinding&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-5308351703164085273?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/5308351703164085273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/11/bukan-sekedar-mendengar.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5308351703164085273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5308351703164085273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/11/bukan-sekedar-mendengar.html' title='Bukan Sekedar Mendengar'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ff7N1v5i5Kc/TsfLEUcwcoI/AAAAAAAAB2Y/y8dhK4rcYKA/s72-c/Posk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-8514696943725566333</id><published>2011-11-18T07:52:00.002+07:00</published><updated>2011-11-18T08:53:19.776+07:00</updated><title type='text'>Take It or Leave It!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-z0NH3mhR0E4/TsW6ehlKzXI/AAAAAAAAB2I/moYD-ehNQgg/s1600/297580_2074378259820_1255855832_31923368_853442648_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-z0NH3mhR0E4/TsW6ehlKzXI/AAAAAAAAB2I/moYD-ehNQgg/s400/297580_2074378259820_1255855832_31923368_853442648_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676147938943487346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada dua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;genre&lt;/span&gt; besar pertunjukkan yang biasa dipertontonkan dalam panggung kehidupan, yaitu kebaikan dan keburukan. Tentu saja keduanya memiliki nilai pengajaran yang sama berharganya, yang berbeda adalah dalam hal penyampaiannya saja. Dan sepertinya mereka yang mendapat pengajaran melalui kejadian-kejadian baik, disampaikan oleh orang-orang yang dipandang baik adalah orang yang beruntung karena tidak perlu mengalami pergolakan batin, atau semacam keraguan, untuk menerima nilai pengajaran yang berharga itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tapi itu tidak terjadi bila mendapati pengajaran melalui kejadian yang buruk, melawan norma bahkan ditentang agama atau melalui orang-orang yang sepertinya bukan orang baik-baik, entah karena kesan sekilas, gaya bicara atau laku sehari-hari. Karena tantangan berat pertama yang harus dihadapi adalah bersabar untuk tidak buru-buru menghakimi petuah sang kawan tersebut. Sebab bisa jadi aku lupa, bahwa bukan masalah siapa yang menyampaikan tapi apa yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bertemu hal demikian maka memang bukanlah keteladanan yang sedang mereka tunjukkan, nilai pengajarannya sendiri aku rasa tidak mudah bahkan untuk sekedar dilihat sekalipun, jadi apalagi untuk diambil hikmahnya. Mungkin kejernihan berpikir dan kelapangan untuk menerima akan dapat mempermudah untuk menerima nilai pengajarannya mulai dari yang paling sederhana, yaitu: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Belajar hal baik dari hal buruk, dengan melihat konsekuensi keburukan yang dialami sang tokoh yang telah memberi pengajaran kepada kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai bertanya-tanya, mungkin mereka sengaja dikirim Tuhan untuk dipertemukan dengan ku dalam satu garis takdir kehidupan, entah apapun rencanaNYA. Mungkin inilah yang terbaik. Tidak patut kemudian mereka dibenci atau dijauhi karena mereka adalah guru yang memberi pengajaran tanpa mereka sadari. Lagi pula hanya Tuhan yang tahu seberapa bagus diri kita ini. Tanpa mereka mungkin masa depan ku tidak akan kaya dengan nilai yang menguatkan mental dan kebijaksanaan, kemudian kehidupan ku tidak akan pernah sama dengan kini. Lagi, lagi mungkin inilah yang terbaik. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;And the choice lies in me to make how this thing will turn out.&lt;/span&gt; Bismillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Bintaro Pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-8514696943725566333?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/8514696943725566333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/11/take-it-or-leave-it.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8514696943725566333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8514696943725566333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/11/take-it-or-leave-it.html' title='Take It or Leave It!'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-z0NH3mhR0E4/TsW6ehlKzXI/AAAAAAAAB2I/moYD-ehNQgg/s72-c/297580_2074378259820_1255855832_31923368_853442648_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-6437196224048863687</id><published>2011-11-11T22:00:00.005+07:00</published><updated>2011-11-11T22:49:09.452+07:00</updated><title type='text'>Wae Wa E O (Kita Bisa)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-BTG1lj3W5ls/Tr1DkrC5dYI/AAAAAAAAB14/JE2vplZ03kA/s1600/1794113.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-BTG1lj3W5ls/Tr1DkrC5dYI/AAAAAAAAB14/JE2vplZ03kA/s400/1794113.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673765402865923458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Walau negeriku ini sudah carut marut sama kasus korupsi dan kisruh politik. Tapi rupanya masih mampu menyajikan pesta pembukaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sea Games&lt;/span&gt; dengan meriah dan gegap gempita. Sehingga membuat negeri tetangga patut aku kira angkat topi dan membuka sebelah matanya agar tidak lagi memandang sebelah mata. Karena nyatanya Indonesia juga mampu menggelar perhelatan akbar dengan pembukaan yang menyemarakkan langit kota Palembang. Dan untuk itu aku bangga menjadi pemuda Indonesia, semoga kamu dan kita semua akan selalu begitu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Banyak yang membuat perhelatan ini menjadi semarak, selain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;event&lt;/span&gt; Olah Raga itu sendiri, coba cermati lagu resmi dan video klipnya yang berjudul Wae Wa E O (Kita Bisa), ciptaan Yovie Widianto yang dinyanyikan oleh Yovie dan teman-teman. Pemain video klipnya menunjukkan wajah ceria dan optimis dan yang aku paling suka itu intro nya yang menunjukkan atlet dari Timur Indonesia, dengan iringan aransemen yang khas Indonesia yang timur. Jelas nian tersirat pesta olah raga ini menjadi kesempatan untuk menyatukan negeri ini dari Barat ke Timur. Apalagi dengan maskot Modo Modi ciri Nusa Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai olah raga adalah agama mungkin sudah banyak yang jadi penganutnya, lihat saja betapa mudahnya kita menjadi damai dan bersatu karenanya seolah lupa dengan kisruh para oknum pejabat negeri ini lantaran seputar urusan politik. Kita mungkin sudah lama bosan memberi sadar mereka bahwa masih banyak yang perlu diurus sebetulnya, jadi lebih baik kita alihkan sejenak perhatian kita untuk mendukung negeri ini agar para atletnya mampu memberi usaha terbaik pantang menyerah sampai titik penghabisan. Lalu kita nikmati kebersamaan karenanya, bergendengan tangan menuju mimpi yang sama. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-s9_BpcZAJ6U/Tr1Cl-xtekI/AAAAAAAAB1s/SSTefZBo8sw/s1600/seagames.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-s9_BpcZAJ6U/Tr1Cl-xtekI/AAAAAAAAB1s/SSTefZBo8sw/s400/seagames.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673764325830785602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Merubah negeri ini hanya bagai mimpi jika tidak didahului perubahan diri sendiri. Dan aku pun begitu, sebaiknya aku harus selalu ingat kenyataan bahwa kita berbeda dalam banyak hal, namun sama dalam Indonesia. Walau perhelatan ini akan lewat sebagai euforia sesaat tapi setidaknya, lebih baik kita tidak kehilangan momentum untuk bersatu dalam satu irama, menunjukkan kepada dunia bahwa Kita Bisa. Agar mereka tahu bahwa masih ada yang mampu menyatukan kita walau ditengah tanda tanya akan kepedulian para oknum pembesar negeri tentang nasib yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olah Raga dan Seni. Mohon kiranya dua gula itu tidak ditetesi empedu kisruh politik lagi, karena disitulah kami tertawa dan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wae Wa E O.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Bintaro Malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.inilahjabar.com/read/detail/1794113/27-atlet-dayung-jabar-siap-berlaga-di-sea-games"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-6437196224048863687?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/6437196224048863687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/11/wae-wa-e-o-kita-bisa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6437196224048863687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6437196224048863687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/11/wae-wa-e-o-kita-bisa.html' title='Wae Wa E O (Kita Bisa)'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-BTG1lj3W5ls/Tr1DkrC5dYI/AAAAAAAAB14/JE2vplZ03kA/s72-c/1794113.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-916804523836935497</id><published>2011-11-08T12:48:00.000+07:00</published><updated>2011-11-10T22:09:20.308+07:00</updated><title type='text'>Lantai Tiga Pagi Ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-j8yCbm3zGX4/TrvowRdESFI/AAAAAAAAB1g/PfWWlvCuL-c/s1600/IMG_7717.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 370px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-j8yCbm3zGX4/TrvowRdESFI/AAAAAAAAB1g/PfWWlvCuL-c/s400/IMG_7717.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673384071619954770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku ujian terakhir tingkat tiga, sudah masuk hari ketiga ruanganya dilantai tiga dengan posisi di deret ketiga. Entah apa salah si angka Tiga sampai harus aku ulang berulang ulang sampai bosan mengulang, lalu apa lagi ini salah si Ulang sampai harus aku ulang- ulang lagi berulang- ulang. Ah sudahlah. Tapi pagi ini tidak seperti hari sebelumnya, aku sudah diruangan beberapa belas menit sebelum, lain hal kemarin waktu aku tergopoh-gopoh menaiki tangga karena sudah mepet waktu. Sebuah kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Begitu sampai aku duduk dan melepas pandangan menembus dinding ruangan berkaca yang bukan karena tingginya ia jadi istimewa, tapi pas saja menghadap ke jalanan Bintaro Utama, masih pagi jadi nampak sekali terlihat geliat kehidupan disini baru mau mulai. Diluar sana cuaca seperti masih dingin lembap, asik kalau dibawa tidur aku kira. Satu dua mobil melintas tidak memberi takut seorang Ibu yang menggandeng anaknya melenggang menyebrang jalan, mungkin mau mengantar ke sekolah. Putih Merah seragam sang anak aku lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barisan ruko yang memagarai kompleks perumahan dibelakang bagai masih malas saja tuk menyambut aktivitas pagi ini. Berdiri kokoh tapi dingin, enggan untuk beringsut walau cuma sejengkal, tapi aku suka melihatnya, dalam tenang, ada sepi kemudian menenangkan. Apalagi kalau langit sedang cerah, sepertinya kalau tidak salah lihat ada gunung jauh menjulang di ujung belakang nya. Kata kawan ku itu Gunung Salak, entah mana yang benar, karena semula aku kira itu Gunung Gede atau Pangrango. Aha! Mungkin aku saja yang sedang merindu turun ke rimba. Desember ini memang ada rencana mau ke Raung, andai Desember bisa datang lebih cepat. Seperti orang gila saja. Haha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tempat yang sama, bisa dengan jelas terlihat dua tiga mahasiswi berjalan santai memasuki gerbang kampus sambil kedua tangan mensedekapi buku Akuntansi tebal didada, mungkin adik kelas. Tapi sesaat kulihat didepan aku lihat ada keberuntungan. Pengawas ujian hari ini cantik, lebih cantik dari hari yang sudah-sudah. Dan ah, ternyata ujian sudah mau dimulai. Semoga besok pengawas yang sama datang lagi. Duduk sekitar hampir 3 jam didepan memberi awas gerak gerik pengadu nasib di lantai tiga seperti pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Sudut Kamar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-916804523836935497?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/916804523836935497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/11/lantai-tiga-pagi-ini.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/916804523836935497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/916804523836935497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/11/lantai-tiga-pagi-ini.html' title='Lantai Tiga Pagi Ini'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-j8yCbm3zGX4/TrvowRdESFI/AAAAAAAAB1g/PfWWlvCuL-c/s72-c/IMG_7717.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-5058041229310463145</id><published>2011-10-29T12:49:00.002+07:00</published><updated>2011-10-29T14:52:04.859+07:00</updated><title type='text'>Move On</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-W7xfPx1KHDs/Tquwfu3YXKI/AAAAAAAABzk/FsNGKBxPPOI/s1600/DSC06082.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 378px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-W7xfPx1KHDs/Tquwfu3YXKI/AAAAAAAABzk/FsNGKBxPPOI/s400/DSC06082.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668818615178648738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini aku suka dengan kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Move On"&lt;/span&gt; ini. Pertama dengar waktu kawan satu kelas ada yang lagi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;down&lt;/span&gt; karena satu hal, kemudian kawan yang lain memberi masukan dengan kata-kata ini. Terus waktu di kampus dua hari lalu dapat sms undangan datang ke &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Conversation Club&lt;/span&gt; dengan tema bahasannya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Move On&lt;/span&gt;. Sebuah kebetulan? Only God knows.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Setiap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;scene&lt;/span&gt; perjalanan hidup ini pasti pernah bertemu dengan suatu peristiwa, momen yang memberi pengalaman emosi yang baru, mungkin sama saja sebetulnya karena berkutat dengan emosi buruk atau baik, tapi ada pembaruan yang mematangkan jiwa dan pola pikir, tapi dengan catatan jika ada keberanian untuk lanjut melangkah, sebab terlalu lama melambung dengan kegembiraan akan membuat lupa dengan tanggung jawab yang sebenarnya, dan terlalu lama tenggelam dalam duka akan mengikis rasa syukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen atau peristiwa itu memang tidak bisa dihindari tapi bukan berarti tidak bisa ditinggalkan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Move on&lt;/span&gt; adalah kuncinya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Move on&lt;/span&gt; saja jangan terlalu peduli, perkara nanti lihat saja bagaimana nanti, yang penting hari kemarin harus berani untuk ditinggalkan. Karena tanggung jawab di hari esok sudah menanti. Ah, aku bagai sudah dewasa dan matang saja menulis demikian ini. Tapi memang nyatanya setiap kita pernah menjalani pengalaman, dan punya cara sendiri-sendiri untuk mengambil pelajaran dan membuatnya sebagai peringatan yang keras lagi kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Nabi Muhammad SAW yang hijrah dari Mekkah ke Madinah, disana beliau dan kaum Muhajirin melanjutkan hidup (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Move On&lt;/span&gt;) dan meninggalkan semua kenangan semasa hidup sejak dahulu demi hidup yang lebih tenang dan lebih baik di Madinah sana. Hanya dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Move On&lt;/span&gt;, maka Nabi Muhammad SAW dapat melanjutkan dakwah yang merupakan tugas yang lebih utama yang menanti untuk ditunaikan. Aku kira begitu juga setiap kita, mungkin dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Move On&lt;/span&gt; apa yang menjadi tugas utama akan dapat terlaksana dengan lebih baik, lebih tepat sasaran dan tidak sia-sia. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Die for something is better than life for nothing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas,&lt;br /&gt;Bintaro, siang ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-5058041229310463145?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/5058041229310463145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/move-on.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5058041229310463145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5058041229310463145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/move-on.html' title='Move On'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-W7xfPx1KHDs/Tquwfu3YXKI/AAAAAAAABzk/FsNGKBxPPOI/s72-c/DSC06082.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2104279410346155909</id><published>2011-10-28T18:39:00.005+07:00</published><updated>2011-10-28T19:19:36.711+07:00</updated><title type='text'>Gracias a Dios.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-BkOMadt5GDY/Tqqa7UrynKI/AAAAAAAABzY/fClEfbpBNf4/s1600/DSC06016-ok.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 355px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-BkOMadt5GDY/Tqqa7UrynKI/AAAAAAAABzY/fClEfbpBNf4/s400/DSC06016-ok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668513424954530978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja aku sepertinya belum terlalu baik dalam membedakan berani dengan nekad, sebab bagi ku keduanya sama berarti melangkah maju tanpa tahu apa yang akan terjadi didepan, dengan menjawab pertanyaan 'bagaimana nanti?' dengan kalimat 'kita lihat nanti!'. Terdengar naif namun memang itu yang terjadi, mungkin seperti tidak paham antara beda keinginan dengan emosi sesaat, yang akhirnya membuat sesuatu menjadi tidak tuntas, bahaya sekali ini aku kira. Sampai kapan aku terus seperti ini? Tidak boleh berlama- lama lagi!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Melalui &lt;span style="font-style:italic;"&gt;chat room&lt;/span&gt;, seorang teman pernah memberi jawaban ketika aku pernah suatu kali mengeluh tentang amanah yang dulu dengan yakinnya aku ambil. Ia hanya berkata bahwa karena aku telah mengambilnya maka aku harus menyelesaikannya dan bertanggung jawab atasnya, bukankah sebelumnya sudah aku sudah beri tahu diriku sendiri mengenai resiko pribadi dan psikologis yang akan aku hadapi nantinya? Akhirnya, tidak ada pilihan lain selain menyelesaikannya. Dan kini sudah 10 bulan aku menjalankan amanah ini, seperti ada rasa lega bahwa tanggung jawab ini akan berakhir 1 bulan lagi dan rasa syukur bahwa ternyata akhirnya bisa aku selesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanah yang aku maksud adalah memegang tanggung jawab sebagai Ketua Angkatan, tidak mudah, sama sekali tidak mudah, bagian yang terberat adalah bagaimana mengenali dan mengendalikan diri sendiri supaya dapat tampil lebih baik dalam melayani orang lain, yang notabene selalu aku persepsikan sebagai tugas pokok sebuah kepemimpinan yaitu melayani kepentingan orang lain, mendahulukannya diatas kepentingan pribadi, walau harus menjadi yang terakhir yang penting tugas dapat terlaksana. Dan dapat mempertanggung jawabkannya di pengadilan Tuhan yang maha adil, di akhirat kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah aku sekali waktu terpikir untuk mundur namun motivasi ku sejak awal untuk dapat melakukan kebaikan lebih banyak membuat aku bertahan walau berat tapi selalu aku coba sanggupkan diri. Semua ini tidak akan pernah dapat terjadi tanpa pertolongan Tuhan yang memberi kekuatan dan kemudahan melalui kehadiran banyak rekan dan berbagai pihak hingga pertolongan demi pertolongaNYA datang disaat yang tepat. Aku kira semua ini telah menjadi pembelajaran buat ku dalam mengambil langkah ke depan untuk berani maju mengambil tanggung jawab walau hanya didasari dengan niat baik lalu aku coba putuskan dengan bijak dan aku jalankan dengan berani, selebihnya aku serahkan pada Tuhan yang maha menentukan hasil dan maha tahu apapun yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2104279410346155909?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2104279410346155909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/gracias-dios.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2104279410346155909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2104279410346155909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/gracias-dios.html' title='Gracias a Dios.'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-BkOMadt5GDY/Tqqa7UrynKI/AAAAAAAABzY/fClEfbpBNf4/s72-c/DSC06016-ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-3248126655701423288</id><published>2011-10-25T16:52:00.000+07:00</published><updated>2011-10-26T19:32:58.647+07:00</updated><title type='text'>Vamos Pronto!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-kJGKh89O3vs/Tqf9z-vksLI/AAAAAAAAByQ/DUQr1mTMOaA/s1600/DSC06034-okk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 374px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-kJGKh89O3vs/Tqf9z-vksLI/AAAAAAAAByQ/DUQr1mTMOaA/s400/DSC06034-okk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667777725526749362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku buka twitter sore tadi, begitu lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;timeline&lt;/span&gt;, seorang teman SMA dulu me &lt;span style="font-style:italic;"&gt;retweet&lt;/span&gt; sebuah tweet dari akun yang aku kenal, dan isi tweetnya membuat aku merasa sensasi sore ini beda, bukan sekedar sore dengan hujan yang biasa dingin namun pikiran serta sudut pandang yang baru, walau tidak baru sekali karena seringkali terlupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RT@xxxxx: Jngn pernah meremehkan dirimu. Tuhan memberikanmu hidup bkn krena kamu membutuhkannya, tapi karena seseorang membutuhkanmu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Begitulah isi tweet yang aku maksud, aku tersenyum dalam hati membacanya, senyum senang karena aku mulai merasa tidak sia-sia hidup ini, aku tahu bahwa tweet itu bukan kutipan ayat suci sehingga kebenarannya masih perlu dipertanyakan, namun buatku, dari mana kebenaran itu datang, tidaklah jadi soal, karena kebenaran itu selalu insyaALLAH baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar ada orang yang membutuhkanku sehingga aku diciptakan,dan mereka setidaknya membuat hidupku tidak sia-sia karena mungkin kini garis takdir tengah mempertemukan kami atau justru sudah lewat masa-masa itu tanpa disadari dan mungkin saja belum terjadi. Begitupun mungkin mengapa mereka diciptakan adalah karena aku membutuhkan mereka di suatu dimensi waktu yang mungkin tidak aku sadari telah terlewat atau mungkin tengah kulewati kini atau belum hingga nanti terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku kira patutlah aku ucapkan Terima Kasih, lalu dari sini sebagusnya aku harus bergerak atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;move on&lt;/span&gt; menjalani hidup untuk mana tahu akan menjumpai orang-orang yang membutuhkan ku dan saat itu mana tahu aku pun pasti membutuhkan orang lain walau hanya sesaat atau berkelanjutan. Doakan aku harus pergi kalau begitu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-3248126655701423288?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/3248126655701423288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/vamos-pronto.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3248126655701423288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3248126655701423288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/vamos-pronto.html' title='Vamos Pronto!'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-kJGKh89O3vs/Tqf9z-vksLI/AAAAAAAAByQ/DUQr1mTMOaA/s72-c/DSC06034-okk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-4100366062326433222</id><published>2011-10-24T16:13:00.008+07:00</published><updated>2011-10-24T21:19:53.052+07:00</updated><title type='text'>Merapi, Kali Ini.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-BIvWL8vYjos/TqVwaMDQsWI/AAAAAAAABxg/PrTmhbHzvss/s1600/328718_2459327331810_1510968354_32647394_772986285_o.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-BIvWL8vYjos/TqVwaMDQsWI/AAAAAAAABxg/PrTmhbHzvss/s400/328718_2459327331810_1510968354_32647394_772986285_o.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667059301329449314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akhirnya tercapai juga keinginan mendaki gunung di Jawa Tengah. Merapi, kali ini. Alhamdulillah walau agak gentar kalau aku ingat erupsi nya yang masih baru dalam hitungan tahun, sampai juga ke puncaknya yang pekat belerangnya dan panas uapnya, 2911 mdpl lewat jalur Selo, Semarang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan ini, 21-23 Oktober aku ikut serta dengan 23 orang yang dikoordinir oleh Lisna (temen sependakian Semeru dan Ciremai beberapa waktu lalu) merapat ke Merapi, beberapa orang dari kami berangkat dari Stasiun Senen menumpang Kereta Tawang Jaya tujuan Stasiun Semarang Poncol, selebihnya naik dari Stasiun Bekasi dan 1 orang di Terminal Terboyo, Semarang. Kereta Ekonomi yang kami tumpangi lebih tertib, tidak berjejalan dan tidak ada yang berdiri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Berangkat dari Jakarta pukul 21.30 malam kami sampai di Semarang pukul 06.00 pagi waktu setempat, istirahat sejenak dan sarapan pagi di warung makan keluar stasiun (tapi menurutku kurang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;recommended&lt;/span&gt; karena harganya mahal untuk ukuran wilayah Jawa yang sering aku dengar murah biaya makan). Sekilas aku perhatikan Semarang memang khas, dibeberapa titik banyak bangunan yang masing sangat khas era Belanda-nya, wajar kalau sempat dijadikan salah satu lokasi syuting SHG 6 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan lanjut menuju Terminal Terboyo, untuk transit menuju Boyolali sekaligus menjemput Bang Jainer Hasudungan (anggota tim berangkat dari stasiun kereta Api Cirebon). Kemudian dengan menumpang Bis Ekonomi non-AC kami total 23 orang menuju Boyolali, perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam, melintasi beberapa daerah yang sering aku dengar salah satunya : Salatiga. Sekitar siang pukul 10 pagi kami sudah tiba di Terminal Boyolali, setelah berbenah diri sejenak perjalanan lanjut kembali dengan menumpang angkutan 3/4 tipe ELF jurusan Selo yang langsung akan mengantarkan kami ke &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Base Camp&lt;/span&gt; pendakian Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Selo itu ibarat kawasan Puncak, Selo Pass begitu warga sekitar menamainya, di akhir pekan menjadi ramai kunjungan wisatawan untuk menikmati pemandangan dari ketinggian yang langsung mengadap ke Gunung Merbabu. Kurang lebih 1 jam kemudian kami tiba di Pos Pendaftaran pendakian, dan setelah hampir 2 jam istirahat dan persiapan kamipun mulai mendaki.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-bDCxe7qVL_M/TqVyOZJaCuI/AAAAAAAABx4/4LwFf0VLD64/s1600/340229_2459735022002_1510968354_32647792_1063013692_o.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-bDCxe7qVL_M/TqVyOZJaCuI/AAAAAAAABx4/4LwFf0VLD64/s400/340229_2459735022002_1510968354_32647792_1063013692_o.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667061297709714146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendakian dimulai dengan melintasi jalur aspal sebagai pembuka, namun terbilang tinggi juga tanjakannya. Sampai kemudian mulai memasuki area perkebunan warga. Aku agak terkejut secara fisik dengan medan kali ini, walau sudah masuk ke area perkebunan sekalipun, tidak banyak ditemui kawasan hutan pepohonan menahun yang biasanya membuat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trekking&lt;/span&gt; tidak terlalu panas, yang ada hanya pepohonan perdu begitu terus sampai ke perbatasan vegetasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini membuat aklimatisasi tubuhku agak lambat, jantung berdegup kencang dan cepat namun beberapa kali aku paksakan untuk terus berjalan. Jalur yang ada memang cukup jelas namun banyak percabangan, semacam jalur yang baru dibuka. Menjelang magrib kami istirahat di tanah yang cukup datar, agak luas untuk Sholat dan bersantai. Dari sini, kami kembali mendaki dan masing-masing mulai menyalakan senter. Baru beberapa menit &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trekking&lt;/span&gt; tiba-tiba hujan cukup deras, mentalku agak gentar disini, mungkin karena sudah agak lama tidak mendaki bersamaan dengan hujan, terakhir tahun lalu, aku ingat betul itu, waktu ke Cikuray.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kami adalah mendirikan tenda di pos terakhir, Pasar Bubrah. Hujan masih turun sementara angin justru bertiup makin kencang, ujian yang berat aku pikir, sudah mental sempat agak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;down&lt;/span&gt; kini fisik juga diserang, namun beginilah alam. Ketika sudah tiba di batas vegetasi kawasan batuan cadas, angin yang berhembus kian kencang,belum lagi kata seorang kawan berkata bahwa jalurnya sudah banyak berubah pasca erupsi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hopeless&lt;/span&gt;. Baru kali ini aku mendaki gunung yang untuk menuju ke pos terakhirnya saja seperti beratnya medan untuk menuju puncak, hanya bebetauan kering yang cukup curam. Aku pikir dalam hati: Bagaimana menuju puncaknya nanti??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah bersusah payah, kami tiba di Pos Pasar Bubrah, pos ini berupa dataran luas yang banyak bebatuan. Malam itu pukul 22.00 dan kami langsung mendirikan tenda, dibawah intimidasi angin malam Merapi yang dingin yang kencang, adalah sebuah pengalaman baru atau ujian baru, entahlah aku bingung juga, begitulah memang selalu ada kapok kalau sedang susahnya begitu, tapi kembali rindu kalau sudah usai begini, inilah katanya yang dinamakan candu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Q-gFCnszzcY/TqVz3k2cZhI/AAAAAAAAByE/h3AGxw7ammg/s1600/299176_2338337991276_1634681971_2260905_453411460_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Q-gFCnszzcY/TqVz3k2cZhI/AAAAAAAAByE/h3AGxw7ammg/s400/299176_2338337991276_1634681971_2260905_453411460_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667063104737666578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi kami sudah bangun, sudah agak terang suasana dari luar tenda. Aku mau keluar cuman rasanya malas, bagus di dalam tenda saja. Kalau ingat angin tadi malam rasanya sungkan untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;summit attack&lt;/span&gt;, terbayang kencang dan dinginnya pasti, namun setelah Sholat Subuh aku pakai baju empat lapis, celana dua lapis, kupluk dan kaos kaki dua lapis lalu keluar bergabung dengan tim yang akan menuju puncak. Setelah lengkap membawa logistik dan air minum kami bergerak, tapi tidak lupa berdoa, itu jangan lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai menapaki punggungan Merapi dari jalur yang murni bebatuan kerikil sebesar kepala bayi hingga medan dengan batuan karang sebesar bola kaki. Harus ekstra hati- hati agar pijakan yang salah tidak melongsorkan batuan tadi ke tim yang ada dibawah. Batuan yang keras bisa dijadikan pegangan namun hati-hati dengan batuan kapur yang rapuh, jangan salah ambil pegangan. Aku terus menapak satu dua hingga tiga langkah lalu istirahat menghela nafas sambil memperhatikan jalur didepan yang baik diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur medan berat yang dilewati tadi malam ternyata memberikan aku keyakinan dan kekuatan untuk bisa menuju puncak. Medan ke puncak memang lebih berat, lebih terjal dan lebih berbatu dibanding &lt;span style="font-style:italic;"&gt;track&lt;/span&gt; terakhir menuju Pasar Bubrah hanya bedanya angin tidak sekencang tadi pagi, cuma kabut saja yang sering mengganggu pandangan. Tidak perlu pakai tali atau SRT untuk melewati medannya, namun harus pandai melihat mana jalur yang pas untuk dilewati dan minimum resikonya. Sekitar 2 jam mendaki puncak, akhir nya aku tiba juga, seperti biasa, aku sujud syukur dan menyadari aroma pekat belerang di Puncak ini sangat kuat dan memang sebaiknya harus segera turun, pemandangan di kawah sangat pekat kabutnya seperti mendidih saja mungkin. Sementara disisi lain, hamparan kota Semarang tampak kecil seujung kuku tidak berarti. Sungguh suatu anugrah bisa melihat dan menikmati ini semua.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-5BoTdd19t20/TqVx3KYXEjI/AAAAAAAABxs/tXSHQgvUwZk/s1600/339004_2459701421162_1510968354_32647773_737782846_o.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5BoTdd19t20/TqVx3KYXEjI/AAAAAAAABxs/tXSHQgvUwZk/s400/339004_2459701421162_1510968354_32647773_737782846_o.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667060898608910898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pilihan lain jika sudah tiba dipuncak, kecuali turun. Begitu juga kalau sudah digunung. Kami mulai berangsur-angsur turun, namun hanya aku yang salah ambil jalur, maksud hati mau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;by pass&lt;/span&gt; tapi malah hampir terhempas di jalur berpasir kerikil yang rentan dilewati bebatuan yang jatuh dari atas. Nyawa taruhannya, untung dasar nasib umur masih panjang akhirnya sampai juga dibawah sambil berlari atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sandboarding&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;di jalur yang landai dan aku baru sadar bawah Pos Pasar Bubrah ini luas sekali, dan ada banyak tenda pendaki di sisi sisi yang lain. Dari Pasar Bubrah, Sindor- Sumbing dapat terlihat jelas (CMIIW) dan Merbabu juga tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiba di Pasar Bubrah, kami semua langsung &lt;span style="font-style:italic;"&gt;repacking&lt;/span&gt; dan menyiapkan untuk segera turun kembali ke peradaban. Tentunya setelah makan siang dan merekam kebersamaan dalam gambar kenangan (singkatnya: berfoto), akhirnya 23 orang ini turun kembali karena dikejar jadwal kereta pukul 19.00. Meninggalkan Puncak Merapi dan Pasar Bubrah dengan kebisingan angin yang tenggelam dimakan hening bebatuan. Meninggalkan hembusan angin dingin yang tadi malam bergerak hebat mengarak awan mencerahkan sang mega menjadi biru terang kontras berlatar kepulan kawah sang Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk 23 orang tim pendakian Merapi via Selo: (&lt;a href="http://www.facebook.com/WiwikNiy"&gt;Mbak Wiwik&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1510968354"&gt;Arief&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100001840896427"&gt;Uwi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/jainer.hasudungan"&gt;Bang Jainer&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/arinadi.panggih"&gt;Oblok&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1042358514"&gt;Lisna&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1036328612"&gt;Yuda&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100002538465382"&gt;Bang Lukman&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/zy.amour"&gt;Oji&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/Ikhsan.Permana"&gt;Ichank&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1723740453"&gt;Aconk&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/chairust"&gt;Kofle&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1319275480"&gt;Pak Lurah&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1428723005"&gt;Bange&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1764837788"&gt;Iyenk&lt;/a&gt;, Mbak Efi, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1083594099"&gt;Kang Erry&lt;/a&gt;, Dani, Harun, Kentung, Eddy. Terima kasih banyak untuk kebersamaannya dan aku tunggu kalau ada kabar mau mendaki lagi. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebas&lt;br /&gt;Sudut Kamar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-4100366062326433222?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/4100366062326433222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/merapi-kali-ini.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4100366062326433222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4100366062326433222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/merapi-kali-ini.html' title='Merapi, Kali Ini.'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-BIvWL8vYjos/TqVwaMDQsWI/AAAAAAAABxg/PrTmhbHzvss/s72-c/328718_2459327331810_1510968354_32647394_772986285_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2153653725949076467</id><published>2011-10-19T18:53:00.000+07:00</published><updated>2011-10-20T19:13:34.046+07:00</updated><title type='text'>Dinamika Sebuah DINAMIKA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-gK2VyVaMccQ/TqAQC871A2I/AAAAAAAABxE/0J9DqVZt8j4/s1600/HR-outsourcing.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 395px; height: 304px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-gK2VyVaMccQ/TqAQC871A2I/AAAAAAAABxE/0J9DqVZt8j4/s400/HR-outsourcing.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5665545974134932322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DINAMIKA (Studi Perdana Memasuki Kampus) STAN dari tahun ke tahun terus mencari bentuk yang ideal dengan tema yang khas, memorable, dan aplikatif. Menurut saya ini wajar karena sebagai sebuah prosesi singkat tentu ada banyak usaha dan dinamika pemikiran untuk memaksimalkan waktu yang tersedia dalam menuju hasil yang diinginkan, sehingga apapun tema yang diangkat dan bagaimana pengejawantahannya harus lah berimbas pada pembentukan pribadi baru yang mencintai almamater dan berkepribadian paripurna (sosial, akademis, inisiatif) sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman yang makin kompetitif tanpa meninggalkan budaya ketimuran yang identik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KONDISI KINI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi tuntutan tersebut, maka akan muncul pertanyaan besar yaitu apakah dalam waktu singkat itu akan memicu munculnya pribadi paripurna yang diharapkan? Memang proses pembentukan sebuah kepribadian adalah proses panjang dan melibatkan banyak aspek. DINAMIKA adalah salah satu dari sekian banyak aspek itu, dan ekspektasi riil yang menjadi target utama adalah bagaimana DINAMIKA itu sendiri dapat menjadi kawah candradimuka para mahasiswa baru dalam memasuki arena yang lebih panjang lagi. Sehingga manakala mereka terjun ke lingkungan perkuliahan dan dunia kerja, setidaknya DINAMIKA sudah berhasil menanamkan gambaran nyata tentang dua aspek tersebut dan membuat mereka tahu bagaimana bersikap positif demi menjaga nama baik almamater dan tidak menciderai nilai nilai akademisi serta kemanusiaan. Sehingga ada dua tujuan yang hendak dicapai disini yaitu tujuan Akademis dan tujuan Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEBUAH KONSEP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Mahasiswa/i Baru wajarnya dipandang sebagai sebuah investasi yang harus dirawat untuk jangka panjang, bukan hanya sebagai aset yang hanya difokuskan untuk habis dipakai tanpa diberdayakan, pemikiran seperti ini harus berlaku dua arah.  DINAMIKA adalah salah satu jalan untuk menanamkan mindset ini kepada diri para mahasiswa/i baru melalui penugasan-penugasan yang bermuatan edukatif dan berlandaskan alasan yang logis mengenai tugas yang diberikan, supaya ada transfer nilai yang kooperatif dan meminimalisir kesan ‘perploncoan’. Artinya sudah saatnya jika para mahasiswa/i baru dilibatkan secara langsung dalam menentukan tugas yang hendak dikerjakan, yang bermula dari usulan panitia kemudian bisa ditanggapi oleh mahasiswa/i tersebut sepanjang menyertakan penjelasan yang rasional dan logis, karena panitia bukan Malaikat yang selalu benar dan mereka Mahasiswa/i baru juga bukan (maaf) Kerbau yang hanya menurut saja, pengkondisian semacam ini juga melatih keberanian mereka dalam mengemukakan pendapat dan bersikap kritis serta mengajarkan pada diri kita sendiri untuk terbuka menyikapi perbedaan pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus sarat dengan pencarian dan kajian ilmiah sebagai tanda adanya geliat kehidupan akademis didalamnya, disini muncul sebuah tantangan yang kita tengah hadapi bersama yaitu dimana STAN sebagai kampus ‘birokrat’ juga harus mampu hadir sebagai ‘research center’ yang juga concern dengan pembahasan kritis mengenai suatu keilmuan, khususnya dibidang Ekonomi. DINAMIKA merupakan salah satu media untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menyajikan sebuah konsep yang mampu menanamkan nilai kepedulian akan ilmu pengetahuan kepada para mahasiswa/i baru. Bersyukur sebuah konsep dasar yang ditetapkan Badan Eksekutif Mahasiswa telah mengakomodir kebutuhan ini dengan menghadirkan sesi seminar wajib dan pilihan sesuai dengan preferensi. Poin yang perlu diperhatikan kembali adalah tolak ukur yang tepat untuk melihat sebuah potensi yang ada dari para mahasiswa baru, yaitu bagaimana respon mereka terhadap pembahasan dalam seminar tersebut mampu dituangkan dengan baik secara lisan ataupun tulisan untuk kemudian dibukukan menjadi sebuah dokumentasi atas nama angkatan mereka, hal ini tentunya akan memunculkan kebanggaan satu angkatan dan mendorong sebuah penghargaan yang menyadarkan potensi yang mereka miliki dan patut untuk dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penugasan-penugasan serupa hal ini sangat penting untuk menanamkan sikap kritis dan berani berpendapat yang sangat berguna dalam dinamika dunia kampus atau dunia kerja. Tetapi ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan bahwa seorang manusia yang paripurna adalah ia yang tahu bagaimana bersikap dalam perannya sebagai anggota sosial masyarakat sehingga DINAMIKA harus menjadi sebuah kesempatan untuk menyadarkan para mahasiswa/i baru akan hal mendasar ini. DINAMIKA seyogyanya tidak hanya antara Panitia-Kampus-Mahasiwa/i, karena untuk mencapai tujuan sosialnya alangkah baiknya jika sejak dini dihadirkan sebuah pengkondisian bagi mahasiswa/i baru untuk turun ke lapangan kehidupan bermasyarakat yang membuat keberadaan mereka lebih bernilai ditengah lingkungan. Hal ini juga merupakan upaya kita untuk menjawab selentingan miring dari masyarakat akan apatisme mahasiswa/i STAN dengan lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Ideal merupakan sebuah bentuk yang dianggap paling pas mengenai suatu atau beberapa hal yang muncul dari opini seseorang, setelah tadi saya coba memaparkan konsep dari sisi mahasiswa/i selaku pelaku aktif atau peserta. Kini, sisi lain yang ingin saya soroti adalah dari sisi panitia. Kepanitiaan dalam hal ini merupakan kerja sama yang sehat antara Lembaga dan Mahasiswa penyelenggara, keduanya harus saling mengawasi dan berkomunikasi dengan baik. Sekretariat bukan atasan dan Mahasiswa juga bukan anak emas yang dalam posisi harus dilayani. Keduanya harus berjalan dalam posisi saling mengawasi dan mengingatkan, sehebat apapun kreasi dan imajinasi mahasiswa penyelenggara dalam mengkonsep acara DINAMIKA ini, tentu perlu diperhatikan lewat monitoring yang baik dari pihak sekretariat, jadi ada semacam pengawalan langsung dari lembaga yang tentu saja berguna untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti campur tangan pihak lain yang tidak berkepentingan atau kendala lain yang bersifat birokrasi yang mengganggu kelancaran pelaksanaan acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia dan lembaga dapat bekerja sama dengan membuat semacam ‘kontrak’ yang berisi kejelasan tugas, pokok dan fungsi masing-masing keduanya dan kejelasan secara langsung petugas yang saling in-charge didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TANTANGAN DAN KESEMPATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan bahwa tantangan utama dalam sebuah DINAMIKA adalah bagaimana merubah pola pikir dan sikap para mahasiswa/i baru dari dunia SMA ke dunia Kampus, namun untuk DINAMIKA kali ini justru lebih kompleks lagi yaitu bagaimana menanamkan nilai-nilai positif yang berguna di dunia kerja yang dalam waktu tidak lama akan mereka geluti. Dan yang perlu digaris bawahi disini adalah sebuah tugas pokok dari DINAMIKA itu sendiri yaitu membuka cakrawala, memberi arahan dan gambaran lalu menanamkan nilai positif yang berguna bagi mereka dalam jangka panjang, karena DINAMIKA ibarat sebuah kawah candradimuka. Keberadaan panitia penyelenggara yang semuanya berasal dari para mahasiswa/i tugas belajar adalah potensi untuk mendukung pencapaian tujuan itu melalui pembahasan yang matang mengenai pola koordinasi dan komunikasi antar panitia. Belum lagi mereka tentu akan menjadi tokoh-tokoh yang secara lebih matang memberikan informasi dan arahan kepada para mahasiswa/i baru yang membutuhkan asupan informasi awal yang jelas dan tepat mengenai dunia kerja dan dunia kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan DINAMIKA yang sukses tentu menjadi keinginan semua elemen kampus ini, dan tujuan yang ingin dicapai adalah hadirnya para generasi paripurna yang berjiwa sosial, berhasrat tinggi untuk mengembangkan diri dalam ranah keilmuan dan berinisiatif dalam berkontribusi di dunianya. Dan semua nilai-nilai tadi akan kita coba bersama tanamkan kepada mereka melalui sebuah studi perdana sebelum mereka menjalani aktivitas perkuliahan, sebuah prosesi yang kita sebut DINAMIKA dan tentu saja dengan segala dinamikanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DISCLAIMER&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Konsep yang saya buat ini tentu membutuhkan masukan dan saran untuk menjadi lebih baik lagi untuk meminimalisir unsur subjektifitas yang tidak diperlukan. Karena saya sendiri sadar bahwa saya memiliki keterbatasan dan hanya mencoba memberikan yang terbaik yang saya bisa tanpa bermaksud menggurui atau merasa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.montekservices.com/recruitment/hr-outsourcing-training-recruitment-pune/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2153653725949076467?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2153653725949076467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/dinamika-sebuah-dinamika.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2153653725949076467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2153653725949076467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/dinamika-sebuah-dinamika.html' title='Dinamika Sebuah DINAMIKA'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gK2VyVaMccQ/TqAQC871A2I/AAAAAAAABxE/0J9DqVZt8j4/s72-c/HR-outsourcing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-5388874072284477327</id><published>2011-10-18T18:41:00.004+07:00</published><updated>2011-10-18T22:53:19.491+07:00</updated><title type='text'>La Indonesia Es No Pequeno</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-YbHSx0608ZE/Tp2gfEZ4tSI/AAAAAAAABw4/XszPSeY2Ips/s1600/savana.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-YbHSx0608ZE/Tp2gfEZ4tSI/AAAAAAAABw4/XszPSeY2Ips/s400/savana.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664860361920656674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku mendengar tiga kabar yang sama diputar oleh 3 acara berita yang tidak sama. Tentang kisruh perbatasan RI-Malaysia, ini cerita lama yang timbul tenggelam pembahasannya, kadang panas namun mereda diam dan tiba-tiba meledak lagi. Indonesia ini memang tidak kecil. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;La Indonesia Es No Pequeno&lt;/span&gt; kalo kata orang Spanyol. Dan setiap pagarnya menjadi rentan konflik atau setidaknya menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;leverage&lt;/span&gt; oleh bangsa tetangga dalam pertaruhan keutuhan dan kedaulatan negeri tercinta ini ketika kita lengah oleh caruk maruk urusan mereka yang kita titipi amanah untuk mengurus negeri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Disebutkan juga tadi bahwa DPR mengadakan Sidang membahas konflik perbatasan ini, para pejabat seperti Menlu dan Menhan, sekilas ditampakkan ketika mereka berpoto bersama sesaat sebelum atau sesudah rapat dalam pakaian rapi khas pejabat. Aku penasaran tentang apa yang mereka bicarakan dalam rapat itu, atau lebih jauh lagi aku pengen tahu apakah mereka yang hadir dalam rapat itu sudah pernah melihat langsung turun ke lapangan lokasi perbatasan di tanah Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor yang memicu masalah perbatasan ini mengemuka, selain keadaan internal negara kita yang sedang sibuk dalam stabilisasi kehidupan politik sehingga ranah kesejahteraan publik kurang diperhatikan para petinggi negeri dan faktor eksternal dari negeri tetangga yang sudah lebih makmur sehingga terus berpikir bagaimana menjaga kemakmuran dan menambah sumber daya salah satunya dengan mempersengketakan batas yang mungkin sudah lama mereka incar melalui perawatan secara ilegal ketika kita lengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah perbatasan ini muncul saat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reshuffle&lt;/span&gt; sedang ramai dibahas, sepatutnya Presiden mempertimbangkan pejabat yang membawahi prihal ini untuk diganti dengan pejabat yang lebih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;concern&lt;/span&gt;, berani dan total tanpa kompromi dalam mengurusi urusan perbatasan negara karena menyangkut wibawa negeri di mata tetangga. Selain masalah kinerja ada hal lain yang memicu konflik perbatasan yaitu masalah tingkat kesejahteraan penduduk yang bermukim diwilayah pagar negara tersebut. Jangan bicara soal nasionalisme atau berharap mereka untuk tetap mencintai negeri ini jika mereka diabaikan sementara buaian kemakmuran dari negeri tetangga terus kencang merayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ancaman yang terdengar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;naive&lt;/span&gt; dari seorang penduduk wilayah perbatasan Kalimantan- Serawak, Malaysia, bahwa ia mengancam untuk menggeser wilayah perbatasan jika pemerintah tidak memperhatikan keadaan mereka. Wajar memang, infrastruktur seperti yang diberitakan terlihat sangat minim bahkan untuk memasok logistik sehari-hari sekalipun sementara akses ke Malaysia justru lebih mudah sehingga penduduk setempat lebih cenderung ke Malaysia untuk belanja kebutuhan sehari-hari, bahkan isi dapur mereka banyak diisi produk Malaysia seperti minyak goreng atau beras. Mereka telah mulai berpikir realistis. Ancaman yang lebih bernada harap atas perbaikan nasib mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di banyak titik pagar negeri ini, negeri tetangga mungkin telah banyak menanamkan jejak perawatan ilegal yang nanti bisa menjadi senjata ketika mempersengketakan prihal batas ini hingga terbawa ke Mahkamah Internasional. Didukung pula oleh dokumentasi arsip kepemilikan batas dan bukti keberadaan serta perawatan atas penguasaan wilayah tersebut maka wajar jika Mahkamah Internasional akan cenderung melepas wilayah tersebut dari RI ke negara lain. Sementara kita harusnya telah belajar dari kasus Sipadan dan Ligitan hampir 10 tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah harusnya memang para pejabat yang rapat membahas konflik wilayah perbatasan ini untuk turun (jika memang belum) dan merasai kehidupan di teras negeri ini bersama penduduk yang bahkan mungkin tidak pernah tahu apa itu arti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reshuffle, Galaxy Tab, iPad, Blackberry, dll&lt;/span&gt;, yang belum kenal siapa itu Nazaruddin dan Gayus Tambunan atau yang lebih paham dengan mata uang Ringgit ketimbang Rupiah. Namun jika sudah mungkin perlu dirasa sesekali menginap dan mendengarkan cerita mereka yang hidup di perbatasan mengenai sulitnya akses untuk memperbaiki kesejahteraan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Le Indonesia es Grandes, Yo Estoy Seguro en Indonesia es Mis Nasionalidad. Vosostros sois estupendo, Realmente!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.trekearth.com/gallery/Africa/Kenya/West/Rift_Valley/photo315214.htm"&gt;sini&lt;/a&gt;, melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-5388874072284477327?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/5388874072284477327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/la-indonesia-es-no-pequeno.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5388874072284477327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5388874072284477327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/la-indonesia-es-no-pequeno.html' title='La Indonesia Es No Pequeno'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-YbHSx0608ZE/Tp2gfEZ4tSI/AAAAAAAABw4/XszPSeY2Ips/s72-c/savana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-8524843329336296793</id><published>2011-10-16T21:59:00.004+07:00</published><updated>2011-10-16T23:24:24.212+07:00</updated><title type='text'>Perdagangan Organ Tubuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-zcWVCXZ5Ff4/TpsDvKiHjPI/AAAAAAAABws/hSyf5HN7pS4/s1600/Humanity.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 326px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-zcWVCXZ5Ff4/TpsDvKiHjPI/AAAAAAAABws/hSyf5HN7pS4/s400/Humanity.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664125065164721394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Coba perhatikan lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tidak mau, sadar tidak sadar kondisi pasar sudah bergerak sendiri menurut tuntunan tangan tak tampak mungkin sudah masuk ke segala aspek, namun jangan sampai menyentuh sisi sosial yang sangat mendasari kehidupan yang harusnya bisa dinikmati semua kita umat manusia, lebih lagi yang mengaku sebagai manusia yang bertuhan. Disini pemerintah harus berani tegas mengambil sikap karena jika hanya diam maka sama dengan sebuah pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai perihal ini, setiap kita, manusia, tentu ingin hidup dalam kehidupan secara fisik yang baik dan tentunya dengan dukungan organ tubuh yang sehat. Dan bagi masyarakat kebanyakan, sehat saja bahkan mungkin sudah cukup dan melampaui keinginan material dan prestis lainnya yang sepertinya masih didamba sebagian golongan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sering kita dengar kabar berita mengenai kegiatan donor dan implantasi organ tubuh dari tubuh pendonor ke tubuh resipien. Hal ini sah dan dibenarkan karena bukan dalam rangka jual beli namun untuk tujuan sosial atas nama kemanusiaan, sama halnya ketika kita mendonorkan sekantong darah kita dalam kegiatan Donor Darah yang biasa digelar Palang Merah Indonesia. Tapi kalau ditujukan untuk tujuan mencari keuntungan materi maka hal tersebut tidak dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku sendiri tergerak melakukan donor karena tahu sulitnya mencari sekantong darah waktu orangtua ku dirawat dirumah sakit dan secara intensif membutuhkan darah, belum lagi kalau susah lantaran golongan darahnya tidak cocok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU 36/2009”). Hal ini ditegaskan dalam Pasal 64 ayat (3) UU 36/2009, yang menyebutkan bahwa organ dan/atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun. Tetapi sebuah pandangan baru datang dari seorang ekonom Harvard, dalam bukunya ia mengatakan bahwa mungkin kini sudah saatnya era bebas perdagangan organ tubuh, sebuah pandangan yang menuai pro dan kontra. Pro karena menjanjikan kesejahteraan dan penyelamatan hidup bagi dua pihak. Namun kontra karena membuat banyak kaum marginal akan 'kaya mendadak' dengan mempertaruhkan hidup mereka sendiri dan perlahan menggeser nilai sosial kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling jelas diketahui bahwa ada organ dalam tubuh kita yang belum diketahui secara pasti hubungan antara jumlah dan optimalisasi fungsinya, seperti ginjal kita, Terdiri dari dua, namun masih menjadi pertanyaan apakah kedua nya harus ada dalam tubuh untuk menopang sistem organ menjadi organisme yang bernama manusia. Jika organ yang masih rancu seperti ini saja tidak memberi rasa tenang untuk dilepaskan, maka tidak mungkin aku kira untuk organ yang penangkatannya menyebabkan kematian. Lagi pula banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk melegalkan perdagangan organ tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ginjal atau darah jika dilegalkan untuk diperdagangkan tentu tidak akan lagi menjadi barang langka dan makin lama nilainya makin turun karena akan makin banyak orang yang rela melepas darah dan atau ginjalnya demi uang. Pada awalnya mungkin penjual organ akan mengalami surplus konsumen yang signifikan namun kelangkaan lama- lama akan lenyap dan menggeser nilai surplus ke arah si pembeli. Lebih jauh lagi untuk organ selain Darah dan Ginjal akan memicu munculnya sindikat yang membunuhi anak jalanan untuk diambil organnya lalu dijual, seperti yang banyak difilmkan. Memicu kriminilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin jalan tengah yang bisa diambil untuk menjembatani keadaan ini adalah dengan tetap menempatkan sisi mulia keberadaan organ tubuh sebagai karunia Tuhan yang jika diinginkan dapat dijadikan alat untuk saling berbagi setelah meyakini pertimbangan medis yang teruji atau pilihan hidup yang diikhlasi. Tanpa kompensasi dalam bentuk lembaran rupiah. Demi menghindari pergeseran nilai kemanusiaan dan menjunjung tinggi makna kehidupan tentang bersyukur serta kerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jadi...Coba perhatikan lagi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://jaimedrew.blogspot.com/2011/02/faith-humanity.html"&gt;sini&lt;/a&gt;, melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-8524843329336296793?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/8524843329336296793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/perdagangan-organ-tubuh.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8524843329336296793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8524843329336296793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/perdagangan-organ-tubuh.html' title='Perdagangan Organ Tubuh'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-zcWVCXZ5Ff4/TpsDvKiHjPI/AAAAAAAABws/hSyf5HN7pS4/s72-c/Humanity.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-7473292871959327866</id><published>2011-10-13T21:44:00.005+07:00</published><updated>2011-10-14T12:45:40.590+07:00</updated><title type='text'>Menilik Ongkos Demokrasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-wXRD8yszqcE/Tpe_h1Wpe_I/AAAAAAAABwg/Jhc75veLcTE/s1600/democracy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 245px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-wXRD8yszqcE/Tpe_h1Wpe_I/AAAAAAAABwg/Jhc75veLcTE/s400/democracy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663205644420348914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah 10 tahun lebih berlalu sejak rezim orde baru, otoritarianisme, hengkang dari tatanan kehidupan politik negeri ini, dan kala itu demokrasi lahir menjadi sistem baru yang dianggap paling tepat sebagai lokomotif menuju kemajuan dan perbaikan. Pertanyaanya sudah sampai mana kemajuan tersebut serta perbaikan yang dilakukannya? Laiknya lokomotif yang memerlukan bahan bakar, begitu pula demokrasi membutuhkan biaya. Berapa besar?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Demokrasi memakan biaya dalam penerapannya, baik secara ekonomi atau atau non-ekonomi, dalam sistem demokrasi sudah pasti biaya yang dikeluarkan tidak sedikit untuk memfasilitasi aspirasi banyak pihak melalui pemilihan umum (Pemilu). Indonesia yang terdiri dari 33 provinsi dan 349 kabupaten (data dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jumlah_wilayah_administratif_di_Indonesia"&gt;sini&lt;/a&gt;) tentu saja setiap periode tertentu harus menyelenggarakan pemilu dari berbagai level ini, sebut saja pemilihan anggota DPR/DPRD/DPD, pemilihan Kepala Daerah level Gubernur atau Bupati (Pilkada) serta Pemilihan Kepala Negara. &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Semakin berat jadinya beban APBN/D, apalagi dengan wacana penambahan pejabat Wakil Menteri bersamaan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reshuffle&lt;/span&gt; Kabinet Indonesia bersatu Jilid II, semakin pening kepala Menteri Keuangan mencari uang.&lt;/blockquote&gt; &lt;br /&gt;Tapi setidaknya sistem ini lebih baik jika dibandingkan dengan sistem diktator yang mengekang kebebasan bersuara atau sistem korporatokrasi yang menguntungkan para pemodal yang memiliki agenda pribadi. Karena hanya dengan Demokrasi setiap orang berhak untuk menjadi presiden, berhak untuk memilih secara langsung serta berhak untuk beraspirasi atas jaminan kehidupan yang aman dan adil. Tapi bukan berarti bahwa Demokrasi adalah sistem yang terbaik didunia. Karena sejarah telah mencatat sistem Khalifah di jaman kala itu telah membuat kehidupan jazirah Arab lebih bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh mana negara kita bergerak dari titik start 10 tahun silam? Miris mendengar pendapat seorang anggota DPR-RI (lupa namanya) bahwa wajar negara kita sekarang dilanda carut marut yang kompleks sekarang ini, karena kita sedang berada dalam masa transisi. 10 Tahun masih belum bergerak juga dari masa transisi? Lalu kira-kira berapa lama normalnya sebuah masa transisi itu? Kemajuan secara peradaban mungkin hanya dirasa olah kaum ekonomi menengah keatas, namun kemajuan dalam konteks perbaikan tingkat kesejahteraan bagi kaum marginal masih patut dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang jadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;stressing point&lt;/span&gt; disini bukan sistemnya tapi siapa yang ada didalam sistem itu dan bagaimana mereka menjalankannya, bisa jadi sebagian mereka yang kini duduk di pemerintahan adalah mereka yang terpilih dengan sokongan dana kampanye dari pihak yang memiliki kepentingan pribadi, sehingga ada semacam politik balas budi dalam konteks negatif yang terjadi kemudian serta berbuntut panjang, dan fakta yang harus kita terima adalah bahwa Demokrasi di negara kita telah melahirkan pembuat keputusan yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;poltical will&lt;/span&gt; nya masih abu-abu antara membela kepentingan rakyat dengan kepentingan golongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://cakrawalainterprize.com/?p=2331"&gt;sini&lt;/a&gt;, melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-7473292871959327866?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/7473292871959327866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/menilik-ongkos-demokrasi.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7473292871959327866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7473292871959327866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/menilik-ongkos-demokrasi.html' title='Menilik Ongkos Demokrasi'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-wXRD8yszqcE/Tpe_h1Wpe_I/AAAAAAAABwg/Jhc75veLcTE/s72-c/democracy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1400851894284838129</id><published>2011-10-13T08:30:00.002+07:00</published><updated>2011-10-13T08:49:02.377+07:00</updated><title type='text'>Dua Tahun Tak Lama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-0sFZUl6j1DM/TpZDJru-3yI/AAAAAAAABwU/Cwb-t1U8kGo/s1600/john-titor-time-travel.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 298px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-0sFZUl6j1DM/TpZDJru-3yI/AAAAAAAABwU/Cwb-t1U8kGo/s400/john-titor-time-travel.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662787415102644002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun bukan waktu yang lama, cukup tundukkan kepala sejenak lalu bayangan tentang hari 2 tahun lalu itu sudah muncul seperti masih kemarin saja, jelas dan hidup. Aku sukuri semua yang terjadi dua tahun ini pada hidupku, walau godaan dengan kata 'jika saja', 'seandainya', 'apabila' selalu datang meminta untuk kuturuti, tapi untungnya tidak. Karena aku diberi akal yang harus aku gunakan untuk berpikir bukan untuk merasa, karena rasa tempatnya di hati.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dua tahun ini 2010-2011 seperti menjadi kesempatan ku untuk mengenali diri sendiri dengan lebih baik. Dan tanpa sadar hal ini membentuk aku yang sekarang. Terima kasih ya ALLAH sudah menuntun ku menjalani jalur ini. Aku senang karena keputusan ku untuk menjadi ketua angkatan dan dua tahun menjadi ketua kelas di bangku kuliah mengantarkan pada pengalaman dan pemahaman yang sangat berguna. Tentang sabar, berbuat baik, bergaul dan bersikap positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku jatuh karena emosi dan artinya aku gagal, namun belajar dari kegagalan lebih baik daripada aku gagal menyikapi keberhasilan. Semoga di masa depan nanti, semua pengalaman ini membantu ku untuk menjadi pemenang dalam hidup, dan aku tahu bahwa masih banyak yang harus dipelajari untuk menjadi pemenang yang dapat mengatasi kesulitan, rintangan dalam kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku harus jujur pada hal apa saja yang harusnya tidak aku lewatkan, aku kira masih ada waktu sebelum tahun ini ditutup, seperti biji kurma yang masih dapat ditanam walau esok mungkin sudah kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I am sorry for being a little bit dramatic but I'm so incredibly heartened by what have been happening in my life on this last two years.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://raffa-thexfile.blogspot.com/2011/06/mengungkap-misteri-time-traveller.html"&gt;sini&lt;/a&gt;, melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1400851894284838129?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1400851894284838129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/dua-tahun-tak-lama.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1400851894284838129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1400851894284838129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/dua-tahun-tak-lama.html' title='Dua Tahun Tak Lama'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-0sFZUl6j1DM/TpZDJru-3yI/AAAAAAAABwU/Cwb-t1U8kGo/s72-c/john-titor-time-travel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-6620658109453701885</id><published>2011-10-09T09:36:00.007+07:00</published><updated>2011-10-09T09:46:53.469+07:00</updated><title type='text'>J E D A &amp; H E L A</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-00_cqRwGNCU/TpEK4fVrYaI/AAAAAAAABwM/hvXNvG-7UpQ/s1600/sentence-structure.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-00_cqRwGNCU/TpEK4fVrYaI/AAAAAAAABwM/hvXNvG-7UpQ/s400/sentence-structure.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661318172182798754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalimat, seindah apapun itu, tidak akan indah jika ditulis tanpa jeda, dibaca tanpa hela. Iya jeda, bukan titik atau koma, tapi jeda. Sekali lagi, jeda. Jeda memberi kesempatan otak untuk mencerna informasi, memungkinkan hati merasai makna dan menuntun pada pemahaman utuh yang bermanfaat. Bukan sekedar sebaris kalimat tanpa nilai yang menguap bersama angin, lepas hilang tanpa bekas sepersekian detik setelah ia dilemparkan. Semua karena tidak ada jeda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Lalu hela, sama halnya seperti jeda, namun hela beda karena tidak ada tanda tertulis dan semuanya masih tersimpan di memori kepala, berontak keras ingin keluar beradu tangguh dengan alam sadar bahwa semua ada giliranya, tanpa hela, semua informasi akan menghambur keluar tak berkesan, percuma. Penting untuk mengontrol ucapan agar tidak keluar terlalu lancar dan yang keluar kemudian tidak menjadi ucapan kosong yang dikangkangi emosi, tanpa bekas yang bisa disimpan di memori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bagai membaca, harus ada jeda supaya maksudnya dapat dipahami. Aku sesekali menantang maut demi menikmati jeda, bukan untuk beristirahat lama lalu menjadi mati, namun hanya jeda sesaat untuk momen refleksi diri sebelum rutinitas merampas kompas hidup, karena aku tidak mau hidup tanpa jeda, tanpa hati bagai gila lantaran ditelikung masa. Hidup kemudian adalah sumber bacaan yang tidak pernah habis dan bicara adalah produk dari berpikir, harus ada hela nafas yang menyempatkan pikiran mencerna tiap kata yang mau diucapkan, bagai sabda yang tanpa dosa begitu mungkin kiranya. Tidak apa bila kemudian menjadi lambat tapi setidaknya tidak akan ada yang menggores kecewa disetiap katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak dari setiap jeda dan hela adalah seuntai kalimat sarat makna, sepenggal ucapan sarat damai. Keduanya tidak nihil dalam manfaat, bila tidak dalam waktu dekat, mungkin nanti atau mungkin kini di babak kehidupan orang lain, tanpa kita tahu waktu karena tidak mungkin menunggu selalu untuk tahu hidup orang lain. Aku belajar bertanggung jawab atas hidup ku melalui jeda dan hela, agar kalimat dan ucapan menjadi terjaga. Supaya ada kesan baik ditiap perkenalan, bertambah kabar berguna dan menuntun hati menjadi lebih menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekali dua aku naik pitam dengan mereka yang berhasil membuatku menunggu sesuai janji. Tapi aku kesulitan mencari cara agar darah yang sudah terlanjur naik ini dapat keluar dengan hela berjeda sehingga cukup mulut saja yang berbicara tanpa mata yang mendelik, tangan yang mengancam atau rona yang memasam. Mungkin dengan mengambil jeda hidup tadi aku bisa memaklumi, lalu belajar pula memaklumi diri sendiri berlaku bagai mereka, dan aku coba ungkap melalui sektsa dan untaian kalimat berjeda yang dibaca dengan hela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://house-of-sternberg.blogspot.com/2010/08/pesky-sentence.html"&gt;sini&lt;/a&gt;, via google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-6620658109453701885?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/6620658109453701885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/j-e-d-h-e-l.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6620658109453701885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6620658109453701885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/j-e-d-h-e-l.html' title='J E D A &amp; H E L A'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-00_cqRwGNCU/TpEK4fVrYaI/AAAAAAAABwM/hvXNvG-7UpQ/s72-c/sentence-structure.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2315759188515810506</id><published>2011-10-07T22:37:00.005+07:00</published><updated>2011-10-08T06:15:03.470+07:00</updated><title type='text'>Who Pays Tax - The Buyer or the Seller?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-tPmBx5PLK68/To-GKMfBoyI/AAAAAAAABv8/9KUUHKSeKzc/s1600/transaksi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tPmBx5PLK68/To-GKMfBoyI/AAAAAAAABv8/9KUUHKSeKzc/s400/transaksi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660890766336172834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pajak memang merusak pergerakan pasar, itu kenapa banyak orang enggan membayar pajak, sementara nasionalisme tanpa imbalan langsung belum cukup menggugah jutaan penduduk negeri ini untuk gotong royong membangun negeri melalui pajak. Banyak faktor, bisa karena belum percaya dengan pemerintah atau memang alasan pribadi lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sebut saja Udin si pemilik baju di negeri Entah Dimana, biasanya Udin menjual per potong kaos oblong dari lapaknya dengan harga Rp 20.000,- dan rata- rata setiap hari terjual 6 potong, itu jadinya si Udin membawa uang Rp 120.000,- tiap hari dari hasil jualan bajunya, sampai suatu hari Udin menggerutu karena ada kebijakan dari pemerintah yang lagi kekurangan uang untuk mengenakan pajak sebesar Rp 5.000,- pada setiap potong bajunya, itu berarti Udin harus menjual bajunya seharga Rp 25.000,- kecuali Udin mau menanggung sendiri beban pajak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan memasang harga baru sebesar Rp 25.000,- Udin sedang mengalihkan semua beban pajak ke calon pembeli dan resikonya Udin harus rela kehilangan pelanggan, seperti hari ini hanya ada 3 pembeli, turun 50% dari biasanya, Udin berpikir keras bagaimana supaya ia tidak kehilangan pelanggan, lebih jauh lagi tidak kehilangan penghasilannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin menghubungi sahabat dekatnya, Nadzar. Udin lalu menceritakan keluhannya dan beruntung Nadzar yang juga membuka lapak di Negeri Abulbul pernah mengalami problem yang sama, lalu ia menceritakan pengalamannya pada Udin sekaligus jalan keluar yang ia ambil kala itu, berikut penjelasan Nadzar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadzar: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"I once had the same problem you are dealing with now, and i felt stupid and afraid to loose buyers because i had no option but increasing the price to include tax within it, and unfortunately it was just a matter of time until finally most my buyers went way"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"That is why i am here, telling my story to person who turned his calamity into a challenge, did a breakthrough to got rid of it soon and ended it up in a success. So, please tell me your best secret helping me surmount this hard time."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadzar: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"O, man... i put my bussiness in a risk while trying this method but thanks God i am good at risk management so i can measure, if it failed i wouldn't fall my self to a big adversity and it is ok because i am not gonna loose my everything. All i have been doing so far is just dividing the tax burden in a proportional way between me and the costumers, do you feel me?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"No i do not, what do you mean by "Dividing the tax burden"? i am not sure i understand what you are getting at."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadzar: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Well, here is the thing, every single step we take is all about risk, but it contains some trade-off too, you only have too choose step that gonna make you loose less. So applying my step doesn't mean you will have nothing gone. But at least you keep your costumers stay with you because you make them throw some cash in a same amount they did before the tax burdening your price or just smaller than the current price you are having now."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"O Really??? But i have no idea how to work it out?? I have no right to eliminate or even reduce the tax indeed, i am nobody, i am not government guys like those taxmen!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadzar: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Really!! and sure you are not, because you have nothing to do with that tax but determining the price is absolutely is still in your area! You have to start to lower the price in a level where you remain safe, not too low but it is enough to make you not losing more your costumers because by doing so you are sharing tax burdening not only by yourself but embracing them too in a way they never got angry too much."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"I don't what you are talking about, can you come up with a real example? as far i can tell, i now sell my chlote Rp 25.000/piece including Tax for Rp 5000,-. And it makes me loose 50% my costumers per day not like when the price was Rp 20.000,- with no tax to include."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadzar: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"I am just curious, Why do you persist on loosing 50% of them if you can keep 70% by lowering the selling price? Here is the thing, you just need to put a Rp 18.000,- for cost of good sold and after including tax it will be Rp 23.000,- which is cheaper than the previous one without lowering the cost of good sold, you may have your gross income reduced but at least you are not gonna loose more costumers because the price is still in their range."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Ok, I see... but in what part that the illustration show me so-called tax burdening you keep on saying? it is not clear to me, but i try to catch up with your understanding."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadzar: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"You said that the Tax costs you for Rp 5.000,-. When a costumer pay you Rp 23.000,- remember that the price apparently still Rp 20.000,- so the costumer contribute to pay tax for Rp 3.000 and the rest, Rp 2.000 is taken from your income which now is smaller than before because of that new allocation (Rp 20.000,- - Rp. 18.000,-). How does that sound?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"I understand, meaning that i just reduce the risk of loosing my income by doing this tax incidence rather than loosing them at all so i don't have too pay the tax all by myself then. Thank you very much, man! i owe you a treat! i will be waiting for you to stop by my house and see what you will get! :D "&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Udin pulang ke Negeri Entah Dimana dan keesokan harinya ia mulai menurunkan harga pokoknya sebesar Rp 18.000,- saja sehingga ia harus menjual pakaian termasuk nilai pajak Rp 23.000,- yang jelas lebih murah daripada ia harus menjual Rp 25.000,- namun ini berhasil membuatnya membagi beban pajaknya antara ia dengan pembeli dengan proporsi 2 banding 3. Sehingga ia tetap bisa menjalankan usahanya dengan kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya adalah pajak memang merusak aktivitas pasar namun pajak sendiri adalah keharusan yang menjadi kewajiban, dan pasar cenderung akan mencari cara untuk melakukan penyesuaian atas perubahan harga yang terjadi baik disisi penjual maupun disisi pembeli, salah satunya adalah pembagian beban pajak, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tax Incidence&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.threestar-evoucher.com/format-transaksi"&gt;sini&lt;/a&gt;, melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2315759188515810506?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2315759188515810506/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/who-pays-tax-buyer-or-seller.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2315759188515810506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2315759188515810506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/who-pays-tax-buyer-or-seller.html' title='Who Pays Tax - The Buyer or the Seller?'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tPmBx5PLK68/To-GKMfBoyI/AAAAAAAABv8/9KUUHKSeKzc/s72-c/transaksi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-7841537147227159980</id><published>2011-10-06T13:36:00.003+07:00</published><updated>2011-10-06T14:05:56.200+07:00</updated><title type='text'>UMR: Buah si Malakama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-pLgKC6eDgMg/To1Nu644-ZI/AAAAAAAABv0/drJ9F5i1fm4/s1600/bursa-kerja1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 303px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-pLgKC6eDgMg/To1Nu644-ZI/AAAAAAAABv0/drJ9F5i1fm4/s400/bursa-kerja1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660265775151774098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;UMR, Upah Minimum Regional di negara kita Indonesia konon kabarnya adalah termasuk yang terendah, itu mengapa banyak perusahaan luar negeri yang mendirikan pabriknya disini karena tersedia tenaga kerja yang banyak dengan biaya murah, terlepas apapun niatnya. Namun setidaknya ini telah membantu negeri ini memberikan lapangan pekerjaan, investasi dan pembelajaran ihwal teknologi dari negara maju. Mengenai UMR, menjadi negara dengan UMR yang rendah telah mendatangkan konsekuensi sebagaimana sudah disebutkan diatas, tetapi yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, seberapa besar dampak positif itu dapat kita nikmati kebermanfaatannya? Bagaimana dengan trade-off yang bisa jadi muncul sebagai dampak jangka panjang penerapan UMR rendah itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Lapangan pekerjaan dan tenaga kerja ibarat dua hal dalam mekanisme pasar membentuk kedudukan masing-masing sebagai penawaran dan permintaan, lebih detilnya: Lapangan pekerjaan menawarkan pekerjaan dan tenaga kerja melakukan permintaan lapangan pekerjaan tersebut. Bayangkan, sebuah keadaan ini tanpa adanya UMR, maka kedua unsur ini akan dengan sendirinya menemukan harga yang tepat untuk harga upah dan jumlah tenaga kerja. Namun demikian hal ini dinilai tidak dapat mengangkat derajat hidup jumlah penduduk miskin lebih banyak, sebabnya adalah karena pasar dengan sendirinya menentukan harga dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Kemudian muncul pertanyaan, apa dengan penetapan UMR justru betul betul akan membantu penduduk miskin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah menetapkan UMR dengan harapan mengangkat derajat tenaga kerja yang tergolong miskin dan menyediakan lapangan kerja lebih luas bagi pengangguran. Itu cita-cita yang diinginkan. Sehingga UMR harus sedemikian rupa ditentukan agar tidak terlalu rendah sehingga tidak berdampak, namun jangan terlalu tinggi sehingga merugikan, bagaimana kedua hal itu dapat terjadi? Sebuah ilustrasi sederhana adalah sebagai berikut: Ketika UMR ditetapkan dibawah harga upah pasar maka UMR itu tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk menentukan jumlah tenaga kerja yang dapat diserap, dan jika pasar terus menggerakkan harganya makin tinggi maka ini membuat peran UMR menjadi tambah tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi berikutnya ketika UMR lebih tinggi dari harga upah pasar, maka akan menimbulkan situasi jumlah lahan pekerjaan lebih banyak daripada jumlah tenaga kerja yang dapat diserap akibatnya akan terjadi penggangguran yang tidak seharusnya, sebuah ironi karena masih ada lapangan pekerjaan. UMR yang meningkat akan menarik jumlah pendatang yang berharap pada lapangan pekerjaan atau menggugah hati pelajar nekad untuk berhenti sekolah dan memilih bekerja. Semua tenaga kerja yang tidak terserap ini akan menjadi masalah sosial kesejahteraan baru yang harus ditangani sebelum menjadi masalah kriminalitas dan kepadatan penduduk yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang, khususnya tenaga kerja yang terampil dan pengalaman maka makin tinggi UMR adalah anugerah, sebab meningkatnya UMR akan membuat penyerapan tenaga kerja menjadi lebih sedikit dan selektif kemudian menjadikan tingkat pengangguran makin membesar karena jarak antara jumlah tenaga kerja yang tersedia dengan jumlah lahan pekerjaan yang ada makin besar. Akibatnya tujuan dan niat baik dari UMR itu sendiri tidak tercapai. Dari sini terlihat bahwa masalah penetapan UMR bukan hal mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang tidak setuju mengenai UMR, benar ketika mereka mengatakan bahwa UMR tidak selalu dapat membantu kaum miskin karena kadang mereka yang menikmati penghasilan diatas UMR adalah tenaga kerja pengalaman dan terampil yang sudah mapan didunia kerja mereka. Sementara bagi para pendukung UMR, juga benar saat dinyatakan bahwa tanpa UMR bukan tidak mungkin akan menciptakan perbudakan oleh perusahaan asing di Indonesia yang membutuhkan tenaga kerja banyak. Aku berpendapat lain perihal UMR, ada cara lain yang bisa dijadikan alternatif dalam membantu mengangkat kesejahteraan hidup penduduk, tidak selalu dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang memiliki standar UMR, tapi memberi modal kepada mereka untuk menciptakan lapangan pekerjaan berupa unit usaha mandiri kreatif yang bergerak disektor riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UMR dibutuhkan ketika berkaitan dengan upaya menjagakan harkat para tenaga kerja yang merupakan manusia bermartabat, bukan budak yang dimanfaatkan negara asing. Tapi UMR bukan satu satunya jalan yang dapat diambil untuk mengangkat derajat hidup mereka yang perlu dibantu, mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan. Melalui kerja sama yang baik antara Unit pemerintah untuk memberdayakan para penduduk maka tidak perlu lagi ada kekhawatiran akan pengangguran dan kriminalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://tabloidbantenekspose.blogspot.com/2010/04/17-ribu-lowongan-kerja-di-job-fair.html"&gt;sini&lt;/a&gt;, melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-7841537147227159980?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/7841537147227159980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/umr-buah-si-malakama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7841537147227159980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7841537147227159980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/umr-buah-si-malakama.html' title='UMR: Buah si Malakama'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pLgKC6eDgMg/To1Nu644-ZI/AAAAAAAABv0/drJ9F5i1fm4/s72-c/bursa-kerja1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-5724837822799262643</id><published>2011-10-04T15:35:00.012+07:00</published><updated>2011-10-04T16:50:27.223+07:00</updated><title type='text'>Touring ke Puncak.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-BNzSBCfMn_I/TorSFDQMYYI/AAAAAAAABuk/nkQb6hFoYwQ/s1600/17092011575.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-BNzSBCfMn_I/TorSFDQMYYI/AAAAAAAABuk/nkQb6hFoYwQ/s400/17092011575.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659566865958855042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu aku touring ke Puncak, 17 September tepatnya. Tidak ada alasan yang pasti, hanya sekedar dorongan saja, rasa ingin semata. Tujuannya sederhana, menggunakan waktu yang ada sebelum nanti menjadi keinginan yang tertunda, apa lagi dendam tak sudah, jangan sampai. Bahaya, karena katanya terus menerus menyimpan dendam itu tidak baik. Aku dan tiga kawanku: &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1405729942"&gt;Yoga&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/arif.nr.ok"&gt;Arif NR&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=523234674"&gt;Furqan&lt;/a&gt; menyusuri jalur Ciputat- Bogor- Ciawi- Tajur- Puncak, meninggalkan Bintaro sejak pagi pukul 09.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sejak pagi aku sudah bersiap dengan jaket kulit hitam (pemberian Bapak waktu mudik kemarin), sepatu, sarung tangan, kaca mata hitam dan memanaskan Kalajengking Kesayangan Kita untuk dibawa melaju jauh. Setelah saling menunggu, kami berangkat dan kawasan Bintaro seperti sudah sibuk dengan aktivitasnya, namun belum ramai. Berbelok menuju arah Ciputat, perjalanan lancar melewati kampus UIN, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fly over&lt;/span&gt; terus hingga sampai kedaerah Pondok Cabe lalu tiba diujung perbatasan Kabupaten Bogor- Ciputat. Disini mulai ramai karena ada terminal angkot, bahkan sesaat terjebak macet.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-tZ5YH9c0WUk/TorV_qjkRcI/AAAAAAAABvk/m_a3vIOKqpc/s1600/17092011585.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tZ5YH9c0WUk/TorV_qjkRcI/AAAAAAAABvk/m_a3vIOKqpc/s400/17092011585.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659571171476391362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jalur ini merupakan jalur yang lebih pendek daripada jalur yang aku tempuh 2 tahun lalu dari Kampung Melayu- Keramat Jati- Jalan Raya Bogor. Dari gerbang kawasan Kab Bogor masih lumayan jauh untuk sampai ke Bogor Kota, sekitar 1 jam. Melewati &lt;span style="font-style:italic;"&gt;under pass&lt;/span&gt; dan tiba di ujung perempatan lampu merah melewati Univ Ibnu Khaldun aku langsung mengambil jalur kanan ke arah Bogor Kota, sementara Furqan dan Arif dibelakang menyusul. Bisa dibilang jalur dari Ciputat menuju Puncak ini sederhana hanya lurus saja terus dan baru berbelok sesuai arah penunjuk jalan menuju Bogor atau Puncak. Memasuki kawasan Bogor Kota melewati Terminal Baranangsiang, ciri khas rimbun Kota Bogor mulai terlihat, dengan keramaian disana sini, terutama di seputaran Kampus Univ Pakuan Bogor, yang tepat ditengah Kota.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Vnf6hqi-kCU/TorWgRKmYDI/AAAAAAAABvs/q9b4lROvqKc/s1600/17092011578.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Vnf6hqi-kCU/TorWgRKmYDI/AAAAAAAABvs/q9b4lROvqKc/s400/17092011578.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659571731596468274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terus meninggalkan kawasan Bogor Kota, kami mengambil jalur belok berputar melipir tepi jalur tol menuju Ciawi terus saja lurus dan hari belum terlalu panas, bahkan ketika memasuki kawasan Tajur yang ramai, namun untungnya jalurnya tidak terlalu macet, meninggalkan kawasan Tajur, rute yang kami lewati mulai variatif, naik turun namun cukup landai. Tak lama kemudian udara dingin khas kawasan Puncak mulai terasa.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-DlHJTj6QEpU/TorVOXR5pCI/AAAAAAAABvc/612v1ievkeA/s1600/17092011588.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-DlHJTj6QEpU/TorVOXR5pCI/AAAAAAAABvc/612v1ievkeA/s400/17092011588.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659570324488430626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Taman Safari, Perkebunan Teh kami lewati dan kemudian kami memasuki kawasan padat lalu lintas dengan bis besar tujuan Bandung via Puncak mulai merayap pelan melintas, tidak terasa kemudian sekitar 2,5 jam menempuh perjalanan kami sampai di tepi area puncak, dengan kedai khas menghadap pemandangan hijau mulai terlihat sepanjang jalan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-OcHorCsFsMU/TorSUXgbg5I/AAAAAAAABus/Ylq-rPMGq1s/s1600/17092011528.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-OcHorCsFsMU/TorSUXgbg5I/AAAAAAAABus/Ylq-rPMGq1s/s400/17092011528.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659567129093702546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kami beristirahat disalah satu warung, menikmati kopi susu dan Ubi Cilembu manis yang masih hangat. Begitu nikmat, sambil melempar pandangan ke area kebun teh ada sekelompok orang bermain terjun payung diatasnya. Hendak mencoba, namun tidak jadi karena pasti tidak puas jika bermain tanpa persiapan matang, selain pemborosan saja.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-WJkG1vW0tDk/TorTW0-ECCI/AAAAAAAABu8/JkW8EJNVAr0/s1600/17092011559.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-WJkG1vW0tDk/TorTW0-ECCI/AAAAAAAABu8/JkW8EJNVAr0/s400/17092011559.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659568270873987106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kami teruskan untuk sholat Zuhur di Masjid At-Tawun di Puncak, dilanjut makan siang dan santai sejenak. Masjid At-Tawun, ada ramai orang disana, masjid khas kawasan Puncak ini memang terkenal dan beruntung aku bisa juga sampai disini. Disini banyak orang timur tengah juga yang aku lihat sejak memasuki kawasan puncak. Makan siang dengan Indomie rebus pakai nasi cukuplah lalu kembali meneruskan perjalanan ke puncak yang lebih puncak, yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rest area&lt;/span&gt; restoran Rindu Alam yang berada tak jauh dari kawasan Telaga Warna, sekitar 1 jam waktu kami habiskan disana menatap pemandangan puncak dengan bis besar yang nampak kecil dari atas diantara pelukan kebuh teh yang hijau berkabut tipis, dingin.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-E1N6QeMqQOo/TorTnYCJ0-I/AAAAAAAABvE/y7gdq__6pX0/s1600/17092011574.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-E1N6QeMqQOo/TorTnYCJ0-I/AAAAAAAABvE/y7gdq__6pX0/s400/17092011574.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659568555164292066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-55EHGrDltY8/TorSmLXaa4I/AAAAAAAABu0/YoY2GTM5kNQ/s1600/17092011546.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-55EHGrDltY8/TorSmLXaa4I/AAAAAAAABu0/YoY2GTM5kNQ/s400/17092011546.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659567435072301954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kami menyempatkan berkunjung ke kawasan Agrowisata Gunung Mas untuk sejenak beristirahat dan sekedar berkeliling kebun teh lebih dekat, sesuai rekomendasi seorang kawan, namun sialnya pabrik Teh yang biasa dibuka, saat itu sedang tutup dan baru buka pada malam hari,padahal ingin melihat bagaimana proses pembuatan teh, jadinya percuma bayar dan tidak dapat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-GPU3VyJq3Fk/TorUsPU2vUI/AAAAAAAABvU/F_-nrcwkoTw/s1600/17092011584.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-GPU3VyJq3Fk/TorUsPU2vUI/AAAAAAAABvU/F_-nrcwkoTw/s400/17092011584.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659569738237787458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-MCUjyKMPndA/TorT5WikbYI/AAAAAAAABvM/jR9vRYkcevI/s1600/17092011582.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-MCUjyKMPndA/TorT5WikbYI/AAAAAAAABvM/jR9vRYkcevI/s400/17092011582.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659568864001027458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa hari sudah mulai petang, setelah itu kami meneruskan perjalanan pulang, dan dari situ aku baru ingat bahwa si Kalajengking Kesayangan Kita ini sudah lama tidak diservis, sempat ada aksi mogok ketika beristirahat di Masjid Agung Bogor dan Parung. Untunglah masih sempat juga sampai ke Bintaro pada malam hari pukul 19.00 WIB. Dan aku kira sudah waktunya untuk diservis dan mengganti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;spare part&lt;/span&gt; yang sudah habis masa pakainya. Harusnya ini jadi persiapan sebelum memulai perjalanan panjang. Penyesalan selalu datang terlambat tapi ketidak beranian mengambil resiko bisa membuat penyesalan makin dalam, terdengar seperti pembelaan diri :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-5724837822799262643?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/5724837822799262643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/touring-ke-puncak.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5724837822799262643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5724837822799262643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/touring-ke-puncak.html' title='Touring ke Puncak.'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-BNzSBCfMn_I/TorSFDQMYYI/AAAAAAAABuk/nkQb6hFoYwQ/s72-c/17092011575.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1087249233107935385</id><published>2011-10-02T10:56:00.005+07:00</published><updated>2011-10-02T12:37:11.544+07:00</updated><title type='text'>Sensus Pajak Nasional, Bukan Sensus Biasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-hv3pUHdhl5g/Tof08lfmwkI/AAAAAAAABuc/iH0jQ6rf-_A/s1600/Stiker.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 272px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-hv3pUHdhl5g/Tof08lfmwkI/AAAAAAAABuc/iH0jQ6rf-_A/s400/Stiker.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658760778508321346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kini sebuah langkah tengah diambil Ditjen Pajak dalam bentuk Sensus Pajak Nasional, SPN sering disingkatnya. Dimulai dari Oktober hingga 31 Desember 2011. Ada yang menarik untuk dibahas ihwal Sensus Pajak Nasional ini. Apa maksudnya? Untuk apa dan siapa? Tujuannya apa? dan apa-mengapa yang lainnya lagi. Aku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;browsing&lt;/span&gt; internet dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;keyword&lt;/span&gt; Sensus Pajak Nasional, ada begitu banyak halaman yang memuat kabar ini. Kemudian aku coba simpulkan dan menulisnya dalam postingan ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa itu Sensus Pajak Nasional?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu aku yakin kita sudah cukup familiar dengan istilah sensus atau cacah jiwa, sensus penduduk begitu istilahnya yang ditujukan untuk menghitung jumlah dan memberi gambaran demografi penduduk secara lebih akurat dan aktual dalam skala nasional. Kemudian kalau sekarang Pajak pun melakukan sensus, tentu saja tujuannya terkait dengan dunia perpajakan negeri ini. Jemput bola begitu istilahnya, mungkin metode melalui sosialisasi dan advertensi sudah dianggap cukup sehingga tidak salah kalau kali ini dicoba metode yang lebih pro-aktif. Petugas yang turun ke lapangan adalah petugas PNS dari Ditjen Pajak dan petugas honorer yang diterima untuk memperlancar program yang berlangsung mulai Oktober hingga Desember 2011, serentak secara nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa tujuan Sensus Pajak Nasional?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPN, dimaksudkan untuk mendata potensi pajak yang belum optimal tergali di masyarakat dengan cara turun langsung ke lapangan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;door-to-door&lt;/span&gt;) khususnya di kawasan yang menjadi sentra bisnis atau area hunian yang dianggap potensial. Dalam SPN, digali informasi lebih mendalam mengenai besaran tagihan listrik, telepon, PDAM serta informasi seputar aset yang kemudian akan ditindak lanjuti oleh pihak DJP dengan membandingkannya terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan yang telah dilakukan Wajib Pajak yang bersangkutan. Disaat yang bersamaan sosialisasi secara personal mengenai perpajakan juga akan dilakukan oleh petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengapa baru sekarang dijalankan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak sudut pandang untuk menjawab pertanyaan ini, namun aku kira ini ada kaitannya dengan maksud ekstensifikasi Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP )yang kini masih terlampau sedikit. Proyek ekstensifikasi NPWP 10 juta yang tidak berjalan lancar karena akurasi data sumber (data sekunder) yang minim membuat jumlah WPOP masih belum signifikan dibanding potensi yang ada hingga kini, belum lagi mungkin dalam rangka tujuan intensifikasi ini ada hubungannya dengan tujuan untuk mengejar target penerimaan tahun 2011. Semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;extra effort&lt;/span&gt; yang dikemas melalui teknik sosialisasi dan edukasi langsung di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa tindak lanjut dari pelaksanaan SPN?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua data yang terhimpun akan menjadi data masukan yang akan diproses lebih lanjut, untuk dibandingkan antara potensi dan realisasi dalam perpajakan, sehingga setiap ada data yang belum dikenakan pajak atasnya atau dilaporkan pajaknya dalam jumlah yang tidak seharusnya, maka pemilik data tersebut akan dihimbau oleh Ditjen Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya atau diminta untuk memiliki NPWP terlebih dahulu jika belum menjadi wajib pajak. Diharapkan penduduk untuk bersikap kooperatif selama SPN berlangsung karena petugas SPN yang datang ke lokasi bukan untuk menghakimi atau memberi sanksi namun untuk menghimbau, memberi sosialisasi dan edukasi sambil menggali data potensial yang dimiliki WP. Sikap kooperatif dari penduduk sangat membantu kelancaran program ini termasuk ketika menanggapi himbauan sebagai tindak lanjut SPN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selama SPN berlangsung, apa hak penduduk (WP)?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk sebagai pihak yang disensus berhak untuk menanyakan keabsahan petugas yang datang meliputi identitas resmi petugas sensus, surat tugas (pengantar dari kantor pajak) dan kerahasiaan data yang disensus. Penduduk juga berhak atas pelayanan dengan sikap yang ramah dan sopan serta berhak atas penjelasan mengenai tujuan, maksud dan edukasi dibidang perpajakan terutama mengenai arti penting pajak, bagaimana memenuhi kewajiban perpajakan dan berhak atas partisipasi aktif mengawasi penggunaan uang pajak, melaporkan ketidakberesan yang mungkin dilakukan pihak Ditjen Pajak sendiri atau pihak lain melalui &lt;span style="font-style:italic;"&gt;call center&lt;/span&gt; 500 200.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa penduduk harus selalu setuju mengisi Formulir Isian Sensus (FIS)?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika penduduk tidak mau memberi keterangan atas potensi yang dimilikinya, maka petugas SPN akan meminta ybs untuk mengisi Surat Pernyataan Tidak Bersedia Mengisi FIS namun jika masih juga enggan mengisinya maka petugas SPN akan membuat Berita Acara Tidak Bersedia Menandatangani Surat Pernyataan, yang perlu diperhatikan penduduk adalah jika Ditjen Pajak memilii data akurat mengenai potensi yang dimiliki penduduk tersebut, maka bukan tidak mungkin akan dilakukan pemberian NPWP secara jabatan tanpa persetujuan penduduk ybs.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin program ini terkesan seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ad-hoc&lt;/span&gt;, tapi aku kira kalau dijalankan dengan baik akan berbuah jangka panjang terutama jika potensi yang diperoleh dapat dipertahankan dengan baik, namun sebagaimana suatu kebijakan lazimnya, selalu saja ada pertentangan dan prasangka. Ditjen pajak kini sedang melakukan langkah visioner untuk meningkatkan kesejahteraan negara ini, karena tuntutan zaman membuat peran pajak dalam menopang roda kehidupan negara menjadi kian besar. Semoga apapun target yang ditetapkan para pembuat kebijakan di Ditjen Pajak dapat tercapai melalui program ini dan secara jangka panjang dapat membangun negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.isnan-wijarno.com/?p=731"&gt;sini&lt;/a&gt;, melalui google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1087249233107935385?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1087249233107935385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/sensus-pajak-nasional-bukan-sensus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1087249233107935385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1087249233107935385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/sensus-pajak-nasional-bukan-sensus.html' title='Sensus Pajak Nasional, Bukan Sensus Biasa'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-hv3pUHdhl5g/Tof08lfmwkI/AAAAAAAABuc/iH0jQ6rf-_A/s72-c/Stiker.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1420209456337291674</id><published>2011-10-01T10:10:00.004+07:00</published><updated>2011-10-01T11:08:26.065+07:00</updated><title type='text'>Elastisitas Warteg Kampus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ezCAf8ob4zQ/ToaQ0Nx59aI/AAAAAAAABuM/3W_TQd9RitU/s1600/warteg.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 263px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ezCAf8ob4zQ/ToaQ0Nx59aI/AAAAAAAABuM/3W_TQd9RitU/s400/warteg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658369208564184482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian kalangan mahasiswa, keberadaan warung makan sangat penting, ini menjawab mengapa warteg/warnas begitu menjamur dilingkungan kampus, termasuk dikampus ku kini, STAN. Dari gerbang masuk sampai gerbang keluar mungkin ada puluhan warteg dan aku senang sebagian besar dari mereka sudah pernah aku sambangi, semacam wisata kuliner. Bagi para pengusaha warteg sendiri tentu saja ini adalah prospek cerah dan menjanjikan atau setidaknya memberikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;return of investment&lt;/span&gt; yang cukup tinggi bila dikelola dengan baik dalam banyak aspek.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Aku tidak sedang menawarkan proposal bisnis atau tawaran kerja sama, melainkan untuk mengutarakan sebuah pandangan pribadi tentang bagaimana pengusaha harus dapat berhati- hati dalam mendirikan usaha ini mulai dari awal sampai kontinuitasnya kedepan. Modal yang ditanamkan dalam pendirian tentu saja harus dikembalikan dalam sebuah target tertanggal dengan besaran yang mampu menutup operasionalnya dan selebihnya menjadi laba pribadi dan sebagian lagi di reinvestasi, tapi sebaiknya target tersebut harus ditetapkan dengan wajar yang ditentukan melalui harga jual dalam satuan piring dengan lauk pauknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan, bagi kalangan mahasiswa adalah suatu kebutuhan utama yang sifatnya sangat sensitif dengan perubahan harga, itu menjelaskan mengapa suatu warteg begitu ramai di masa promosi karena menawarkan harga promo yang menyenangkan. Sensitifitas ini menjadi tanda sifat elastis makanan yang kalau kita lihat dalam kurva elastisitas harga permintaan akan menggambarkan kondisi yang landai (seperti lengkungan dalam huruf 'e'), bukan tidak mungkin kenaikan seribu rupiah dalam tiap lauk pauk dengan sepiring nasi dan secangkir es teh manis dapat menurunkan 50% dari jumlah porsi yang terjual dan para mahasiswa berpaling ke warteg yang lebih murah. Sebab kondisi pasaran warteg bukan pasar monopolistis, tapi pasar sempurna dengan banyak penjual dan pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini jelas bahwa jika suatu warteg hendak mengukur pencapaian target, maka itu adalah hasil perkalian jumlah porsi dan harga satuannya, dalam proses menuju kesana konsep yang harus ditanamkan adalah peningkatan harga dapat mengurangi pendapatan karena akan terjadi penurunan jumlah pembeli (Q) secara signifikan dan dalam ukuran proporsional akan lebih besar daripada kenaikan harga (P). Dimana (P/Q;2) kondisi setelah kenaikan dan (P/Q;1) adalah kondisi semula sebelum kenaikan. Akibatnya: &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;P2 x Q2 &lt; P1 X Q1 &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Pilihan untuk menaikkan harga diatas harga rata-rata harga pasar (warteg lain) bukan pilihan yang tepat sebaiknya diambil, bahkan jika memang terdapat modal lebih dan berani berinovasi, lebih baik dicoba menurunkan harga diatas harga pasar, karena dapat menarik pembeli dan peningkatan jumlahnya secara proporsional akan lebih besar daripada penurunan harga yang dilakukan. Sehingga:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;P2 x Q2 &gt; P1 X Q1 &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin ini adalah sebuah pertimbangan sederhana namun ekonomis dalam mengambil langkah awal bagi para pengusaha warteg untuk memulai usaha dilingkungan kampus manapun, tapi kalau ada peraturan baru dalam perpajakan mengenai warteg mungkin ceritanya akan agak sedikit lain (terakhir jika berpenghasilan di atas Rp60 juta saja itupun harus dikaji dulu kebenaran omzetnya), tapi semoga saja pemerintah punya kebijaksanaan tersendiri dalam mengenai pajak atas warteg, sebab warteg adalah sektor riil yang menggeliat pelan tapi pasti. Sepasti mahasiswa yang membutuhkan kehadiran warteg di lingkungan kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://populerfashion.blogspot.com/2010/12/wowwarteg-dikenai-pajak.html"&gt;sini&lt;/a&gt;, melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1420209456337291674?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1420209456337291674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/elastisitas-warteg-kampus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1420209456337291674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1420209456337291674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/10/elastisitas-warteg-kampus.html' title='Elastisitas Warteg Kampus'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ezCAf8ob4zQ/ToaQ0Nx59aI/AAAAAAAABuM/3W_TQd9RitU/s72-c/warteg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-7540918829851454377</id><published>2011-09-29T19:04:00.004+07:00</published><updated>2011-09-29T22:55:29.153+07:00</updated><title type='text'>Sisi Lain Konflik Film.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-FKRLhDg2a6E/ToSTrVmjzMI/AAAAAAAABuE/6vSBUkxCkfM/s1600/film.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-FKRLhDg2a6E/ToSTrVmjzMI/AAAAAAAABuE/6vSBUkxCkfM/s400/film.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657809404626717890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku suka menonton film, namun tidak terlalu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;up-to-date&lt;/span&gt;. Hanya kalau waktu senggang saja kecuali khusus untuk film serial, biasanya menyempatkan menonton 2-3 episode dalam satu hari, maklum penasaran. Selain melatih kemampuan Bahasa Inggris, mungkin karena aku sudah jadi salah satu generasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;get philosophy from the movies&lt;/span&gt;, seperti kebanyakan kawan sekalian kini mungkin. Kedengarannya seperti malas membaca ya? Mungkin benar, tapi mungkin karena kita lagi butuh hiburan, jadi sekalian saja.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pikiranku melayang, jauh dan bertanya-tanya. Mengapa sampai ada film? Aku dapati jawabannya sederhana karena memang ada cerita yang pantas untuk dibagi dan dipertontonkan, entah dengan maksud menghibur, menginspirasi atau mengajarkan tentang apapun. Lalu bagaimana kemudian sampai muncul nuansa hiburan, inspirasional dan edukatif itu? Aku kira karena ada pengalaman dari sang tokoh yang memuat konflik dalam hidup nya entah sebagian atau seluruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, konflik yang secara kejiwaan dan pikiran mempengaruhi sikap dan jalan pikiran sang tokoh mulai dari cara bergaul dan kehidupan sehari-harinya. Sampai akhirnya sang tokoh menemukan maksud dari kehidupannya yang penuh konflik atau semacam logika berpikir yang menjelaskan mengapa akhirnya ia memilik hidup yang berkonflik. Dan akhirnya disuatu titik pada babak kehidupannya, kesadaran dan pengalaman itu menjadi pelajaran yang bagi para sineas kini menjadi modal dasar untuk dibesut menjadi sebuah karya yang kita sebut: Film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pernah menonton Film serial &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Prison Break&lt;/span&gt; mungkin Michael Scofield yang jenius bertanya-tanya mengapa sejak kecil ia hidup berdua saja dengan saudara nya Lincoln Burrows, rupanya setelah 30 tahun kemudian terungkap bahwa kejeniusannya membawanya pada usaha untuk mengeluarkan Lincoln dari hukuman mati, empati yang muncul dari sifat dasar sang tokoh yang sejak kecil hidup dalam kemandirian bangkit menjadi pedoman setelah mengetahui bahwa Lincoln kakaknya berhutang $90.000 untuk menopang hidup dan menyelamatkan masa depannya. &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ah memang selalu ada rahasia ALLAH. SWT untuk setiap alasan, entah kita yang menemui takdir atau takdir yang menemui kita. Pasti bertemu juga. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Menonton film dengan bumbu konflik yang kadang rumit dan menekan jiwa para tokoh didalamnya memberi pelajaran tersendiri bahwa setiap orang pasti memiliki ujian masing-masing yang tidak sama, jika kadang aku mulai merasa segala sesuatunya menjadi sulit, maka pengalaman dari film tadi dan keyakinan akan kekuatan doa bisa mengembalikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;spirit&lt;/span&gt; dan menjalani lagi hari hari sebagaimana biasa apa adanya, tanpa banyak apa atau mengapa. Karena pada akhirnya pasti bertemu juga dengan hari yang dijanjikanNYA. Entah kematian yang indah (semoga) atau hidup dengan rencana terindahNYA. Sebab aku hanya bisa berusaha dan berdoa lalu hanya ALLAH.SWT yang maha tahu, apapun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*) Tulisan ini terinspirasi dari hasil melamun dikelas pas perkuliahan Pajak Penghasilan Pemotongan dan Pemungutan siang hari tadi. Maaf pak Dosen, kali ini pikiranku tidak sejalan dengan tubuh ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://apoenkreseach.wordpress.com/2010/05/15/download-film-gratis-di-www-thehack3r-com/"&gt;sini&lt;/a&gt;,melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-7540918829851454377?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/7540918829851454377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/sisi-lain-konflik-film.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7540918829851454377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7540918829851454377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/sisi-lain-konflik-film.html' title='Sisi Lain Konflik Film.'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-FKRLhDg2a6E/ToSTrVmjzMI/AAAAAAAABuE/6vSBUkxCkfM/s72-c/film.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-840364751220701243</id><published>2011-09-27T22:57:00.006+07:00</published><updated>2011-09-28T02:05:42.454+07:00</updated><title type='text'>Orkestra Ekonomi Pasar Rokok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-NTOyPIWtoy8/ToIdTnO8VYI/AAAAAAAABt8/k3CJRskPBEk/s1600/tobacco12.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 275px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-NTOyPIWtoy8/ToIdTnO8VYI/AAAAAAAABt8/k3CJRskPBEk/s400/tobacco12.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657116304717141378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Invisible Hand&lt;/span&gt;, begitu Adam Smith menyebut pemandu tak tampak yang mengatur ekonomi pasar. Skala lokal saja kita sebut. Kita ambil contoh pasar Rokok, karena merupakan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan pengaturan yang dijalankan sang pemandu ada dua instrumen sederhana yang memberi informasi lengkap dalam menentukan harga, yaitu: Permintaan dan Penawaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(demand &amp; supply)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Rokok, terlepas dari segala kontroversi secara sosial dan agama, dalam postingan ini hanya aku maksudkan sebagai contoh sederhana untuk membantu memahami bagaimana suatu sistem perekonomian berjalan dengan membahas dari sisi penawaran dan permintaannya. Penawaran sendiri dalam konteks ini adalah semua jumlah yang mampu dijual produsen rokok dan Permintaan adalah semua rokok yang dibutuhkan konsumen, keduanya bertemu di pasar secara transaksional menghasilkan suatu titik yang memuaskan kemampuan kedua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan atas rokok diawali akan adanya kebutuhan konsumen atas rokok, yang bisa kita buat menjadi dua segmentasi: Remaja dan Dewasa. Dengan menggambarkan situasinya secara sederhana hanya terdiri dari dua unsur saja (prinsip &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cateris paribus&lt;/span&gt;) maka tingkat permintaan atas rokok sangat dipengaruhi oleh tingkat harga, dan kaum Remaja menjadi konsumen yang sangat peka jika harga meningkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi cerita belum berakhir sampai disitu, ada faktor lain yang dalam dunia nyata tidak bisa dianggap nihil; yaitu: Pendapatan, Barang Substitusi dan Selera. Pendapatan yang meningkat tetap tidak akan membuat konsumen mengurangi konsumsi rokoknya, atau jika pendapatan tetap sekalipun sementara ada barang substitusi lain seperti rokok tembakau sederhana, maka konsumsi produk lain serupa rokok pun tetap tinggi, apalagi kalau sudah menyangkut urusan selera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Di negara kita, usaha untuk menangkal regresifitas konsumsi rokok adalah dengan menambah himbauan tertulis/peringatan bahaya merokok dan produk tembakau lainnya di kotak rokok dan menayangkan sejumlah iklan layanan masyarakat mengenai larangan merokok, sementara menerapkan tarif baru atas pajak untuk rokok belum menjadi pilihan yang populer yang bisa diambil. Karena perlu dipikirkan dampak buruk yang muncul jika harga rokok meningkat, seperti meningkatnya kriminalitas.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara disisi lain, para produsen yang menghasilkan rokok akan terus bergerak memproduksi sejumlah rokok menyesuaikan dengan kondisi permintaan dipasar, meskipun ada kondisi yang membuat permintaan rokok menurun karena harga meningkat, lazimnya para produsen berinovasi dengan menekan biaya produksi melalui pemanfaatan tekonologi dan mencari sumber input lain yang harganya lebih murah. Namun jika hal ini gagal diupayakan produsen maka penawaran akan mengalami kelesuan bahkan bisa dibawah jumlah yang diminta (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;shortage&lt;/span&gt;) akibatnya pilihannya ada dua: membatasi jumlah produksi atau menaikkan harga untuk membiayai ongkos produksi namun dengan menyertakan inovasi yang meningkatkan nilai rokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kondisi dari Penawaran dan Permintaan ini tidak bisa berjalan masing-masing, sebab saling bergantung satu sama lain. Jika digambarkan dalam sebuah kurva maka keduanya akan bertemu pada satu koordinat, yaitu kuantum dan harga. Sehingga harga yang menentukan tingkat permintaan rokok dan berapa jumlah rokok yang diproduksi pada jumlah yang memenuhi kebutuhan kedua pihak. Secara tidak langsung hal ini sudah terdesentralisasi dan memberikan pasar peran yang cukup besar dalam membuat keputusan melalui tarik ulur kepentingan dalam kegiatan Penawaran dan Permintaan. Dan Gregory Mankiw berpendapat bahwa sistem harga adalah sebuah tongkat dirigen yang dipakai untuk seluruh orkestra ekonomi. Itu berarti begitu juga untuk orkestra ekonomi rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.tobacco-facts.net/2010/01/senecas-confront-tobacco-roadblock"&gt;ini&lt;/a&gt;, melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-840364751220701243?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/840364751220701243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/orkestra-ekonomi-pasar-rokok.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/840364751220701243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/840364751220701243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/orkestra-ekonomi-pasar-rokok.html' title='Orkestra Ekonomi Pasar Rokok'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-NTOyPIWtoy8/ToIdTnO8VYI/AAAAAAAABt8/k3CJRskPBEk/s72-c/tobacco12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-8388886690974465297</id><published>2011-09-26T23:58:00.002+07:00</published><updated>2011-09-27T00:48:55.970+07:00</updated><title type='text'>Catatan Reuni Sekolah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-S62VkBp-XPg/ToC67FUgCQI/AAAAAAAABt0/OVLxxvU5Ies/s1600/IMG_1752ok.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 364px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-S62VkBp-XPg/ToC67FUgCQI/AAAAAAAABt0/OVLxxvU5Ies/s400/IMG_1752ok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656726656180553986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu, di Taman Mini Indonesia Indah Rumah Anjungan Sumatera Selatan untuk yang kali kedua aku menghadiri acara halal bihalal sekaligus temu kangen Alumni SMA N 1 Baturaja (Ogan Komering Ulu) yang berdomisili di Jabodetabek, berada di sana sampai pukul 14.00 WIB, demi apapun telah melemparkan memori dan pikiran ini ke masa lalu dan benar adanya bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;life is an art of drawing without an eraser and i just found out that it is damn true.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Acara ini dihadiri semua angkatan, seingatku yang tertua hadir adalah angkatan 1976, 4 tahun lebih muda dari angkatan Almh. Ibu yang juga merupakan alumni sekolah yang sama, bahkan kami sempat diajar dua guru yang sama dan sang guru juga mengenal Almh. Dan yang termuda adalah aku, angkatan 2004. Harusnya banyak, namun yang hadir cuma aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah adat Sumatera Selatan, sebuah rumah panggung yang sudah mulai jarang ditemui di banyak wilayah Bumi Sriwijaya ini bahkan bisa dibilang di jalan tempat tinggalku, rumah kami menjadi 4 dari sekian puluh rumah yang masih bisa dibilang bernafas adat. Selebihnya sudah berkonsep minimalis, berdinding semen kokoh, modern. Namun rumah tempat tinggalku bukan sekedar rumah, dan lebih manis dari sekedar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;home sweet home&lt;/span&gt;. Pernah ada sejarah, cerita dan kenangan dua generasi keluarga. Dulu rumah itu terasa begitu besar waktu aku masih kecil, namun rumah itu aku lihat mulai seperti mengecil disaat aku tumbuh besar. Entah kenapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua barang kuno khas rumah dulu itu, membuat semua gambaran cerita lampau menjadi sangat nyata, bahkan bergerak hidup dalam banyangan ku. Menyajikan kaleidoskop soal kenakalan atau kebodohan kami para cucu yang tidak akan bisa aku hapus atau perbaiki lagi. Di saat yang sama, seperti waktu yang terus melaju meninggalkan hari kemarin dengan kenangan, ada pula kilasan potret saat saat bahagia bersama dengan orang terkasih yang sudah pergi mendahului. Ikhlas saja dan sebaiknya lanjutkan hidup kini.&lt;br /&gt;Bukan tak sayang, tapi doa aku kira lebih bermanfaat dari air mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak akan banyak bercerita sudah jadi apa saja para alumni SMA ku. Karena aku termasuk salah satu yang menghindari esensi reuni sebagai ajang unjuk keberhasilan, menggali relasi untuk mengukuhkan nepotisme dan kesempatan membuktikan siapa kita sekarang dan hal lain yang bertendensi menciptakan jurang sosial. Yang ada dalam benakku sederhana saja, kenapa kemudian tiba-tiba saat itu, aku merasa kepemilikan kartu nama menjadi penting sebagai nilai jual dalam sebuah perkenalan? Karena memang sampai sejauh ini aku belum punya alasan kuat untuk memilikinya. Bukan tidak mungkin aku punya, tapi nanti, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;time will tell, as it passes us by.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang reuni, seorang alim pernah berkata bahwa salah satu esensinya adalah mendekatkan yang jauh, sehingga kemudian menjalin silaturahim. Dan tentu saja bagi aku yang masih terbilang muda ini, melihat mereka yang sudah jauh diatas, adalah kesempatan untuk belajar dari pengalaman mereka, karena aku tidak punya penghapus kalau dalam hidup aku melakukan kesalahan, jadi sebelum berbuat salah sebaiknya aku pastikan aku memang belum pernah belajar atau terpikirkan mengenai hal itu, supaya kesalahan tadi berbuah pelajaran dan tidak memperpanjang daftar penyesalan. Sehingga kalau nanti umurku panjang, dimasa depan aku akan melihat kaleidoskop perbuatan baik dan pengorbanan yang tepat yang sudah aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-8388886690974465297?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/8388886690974465297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/catatan-reuni-sekolah.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8388886690974465297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8388886690974465297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/catatan-reuni-sekolah.html' title='Catatan Reuni Sekolah'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-S62VkBp-XPg/ToC67FUgCQI/AAAAAAAABt0/OVLxxvU5Ies/s72-c/IMG_1752ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2109378045506319225</id><published>2011-09-23T19:12:00.003+07:00</published><updated>2011-09-23T23:16:19.970+07:00</updated><title type='text'>Teka Teki Silang (TTS)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-oJ6pMUQV_TI/Tnywna7nSCI/AAAAAAAABts/7O_XOxJplO8/s1600/crossword5.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 399px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-oJ6pMUQV_TI/Tnywna7nSCI/AAAAAAAABts/7O_XOxJplO8/s400/crossword5.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655589423361247266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adalah Arthur Wyne yang dianggap sebagai penemu Teka Teki Silang pada 21 Desember 1913 dan saat itu bentuknya sederhana dan mudah dimainkan. Sudah beberapa minggu ini aku mulai mencoba mengisi waktu luang dengan bermain TTS. Lumayan menghibur dan berguna, mengalihkan perhatianku ke hal yang lebih bermanfaat dari sekedar memikirkan hal lalu yang tidak enak diingat. Atau kalau sedang suntuk dari membaca dan kegiatan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Scrabble&lt;/span&gt;, sudah lama juga aku menggemari TTS ini sebetulnya, mulai dari iseng menjawab rubrik Asah Otak di koran KOMPAS (tapi TTS disini sulit sehingga ada yang mempelesetkannya menjadi Teka Teki Sulit) atau kalau sedang iseng waktu pulang les SMP dulu membeli kacang rebus yang biasanya dibungkus lembaran TTS bekas. Banyak kosa kata yang biasa aku dengar namun baru aku pahami maknanya melalui TTS ini, seperti demosi, erata, kolaborasi, krida dan maulana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTS juga menyelamatkanku dari kejenuhan macet 15 jam di Merak mudik kemarin, seperti ada semacam penyaluran emosi dan kepenatan dengan lepas habis, tanpa sisa, plong. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;it makes me feel relieved&lt;/span&gt;. Dan tanpa sadar aku menambahi koleksi kosa kata yang berguna sebagai bekal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;blogging&lt;/span&gt; atau kegiatan lainnya. Bahkan ada rumor, kegiatan mengisi TTS dapat mencegah dari kepikunan karena faktor usia karena membuat otak tetap dibuat dalam keadaan "bekerja". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Henry Brodaty, Profesor Psikogeriatik dari Universitas New South Wales mengatakan bahwa di fase usia lanjut, otak dihadakan pada pilihan untuk digunakan atau dinonaktifkan. TTS adalah salah satu jalan untuk tetap membuat otak digunakan.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan dan Ujian tanpa beban, begitu kata Heru Triatmono dalam sebuah tulisan yang mengulas mengenai salah satu manfaat TTS ketika menyebutkan pendapatnya. Dan memang begitu kurang lebih yang aku rasakan. Enjoy tanpa ada tekanan untuk bersaing memperebutkan apapun, selain untuk menjadi lebih baik dari diri sendiri dihari yang lalu. sebuah keadaan yang betul betul saya inginkan. Stres menjadi lebih dapat diminimalisir karena dikelola dan disalurkan dengan cara yang membuat diri menjadi lebih positif. Mungkin kalau ada kesempatan harusnya aku ucapkan terima kasih kepada Arthur Wyne, tokoh yang dianggap sebagai penemu TTS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.churchmusicdublin.org/crossword5"&gt;sini&lt;/a&gt; melalui google&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2109378045506319225?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2109378045506319225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/teka-teki-silang-tts.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2109378045506319225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2109378045506319225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/teka-teki-silang-tts.html' title='Teka Teki Silang (TTS)'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-oJ6pMUQV_TI/Tnywna7nSCI/AAAAAAAABts/7O_XOxJplO8/s72-c/crossword5.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-3757466423236612434</id><published>2011-09-22T21:26:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T23:00:27.355+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Berilmu dan Terpelajar?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-YyVhN3Lh200/TntbRWUzROI/AAAAAAAABtk/_aKJvEVxJ9A/s1600/testgie.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YyVhN3Lh200/TntbRWUzROI/AAAAAAAABtk/_aKJvEVxJ9A/s400/testgie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655214110702519522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan harian Gie, begitu lulus SMA: 'Sekolah SMA baru saja selesai, semua kenangan manis terbayang kembali, dan aku sadar bahwa semuanya akan dan harus berlalu, ada perasaan sayang akan kenangan kenangan tadi, aku seolah-oleh takut menghadap ke muka dan berhadapan dengan masa kini dan masa lampau terasa nikmatnya, tetapi aku mempunyai kesadaran yang teguh banwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;let the dead be dead&lt;/span&gt;...'&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Bukan kebetulan jika malam ini aku ingat sepenggal isi diari Gie mengenai kelulusan sekolah, saat postingan ini ditulis mungkin gegap gempita perhelatan yang digelar para mahasiswa di gerbang utama dekat lapangan depan kampus belum usai. Mereka bersukacita karena akhirnya menamatkan 3 tahun masa kuliah. Tamat dan menjadi Alumni. Lebih jauh lagi, besok pagi mereka sudah bangun dengan tanggung jawab baru menjadi sebagai akademisi, terpelajar dan terdidik. Lalu janji Tuhan pun terkabul untuk mereka, derajat mereka ditinggikan karena ilmu yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lulus saja bukan akhir cerita, justru baru saja dimulai dengan peran yang lebih berat, sebagai kaum berilmu, seperti layaknya Sarjana dengan segala gelar keilmuan. Aku sendiri masih harus bersabar untuk menapaki jalan cita menjadi Sarjana, masih panjang dan berliku. Maklum, konsekuensi hidup sebagai Birokrat. Aku usahakan agar mensukuri dan menikmati saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun belakangan aku mulai berpikir mengenai Karya. Karya dari para kaum terpelajar yang sudah dinyatakan lulus dari institusi pendidikan, entah Karya Tulis, Skripsi, Tesis atau Disertasi. Karya tersebut ibarat sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;master piece&lt;/span&gt; dari seorang terpelajar yang menunjukkan bahwa hidupnya yang berilmu itu bermanfaat, namun kebermanfaatan yang diharapkan disini adalah sebuah kesinambungan yang bukan sekedar mencari status atau mencapai kata LULUS. Karena ilmu yang telah lampau akan usang dan berganti, mau tidak mau, suka tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelulusan seperti langkah awal untuk terus berkarya, sekecil apapun manfaatnya bahkan walau untuk diri sendiri terlebih dahulu sekalipun, karena setidaknya dengan membuat suatu karya maka seseorang telah memenuhi panggilan prinsip sejati mengenai pendidikan yaitu belajar walau sudah lepas dari lingkungan akademisnya dan menuangkan hasil pembelajarannya dalam bentuk karya yang bermanfaat. Sehingga pola ini membebaskan diri dari semacam pragmatisme pendidikan yang hanya semata untuk mencari ijazah dan pekerjaan. Sikap enggan menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;never-ending learning&lt;/span&gt; lambat laun dapat menciderai citra pendidikan dimata awam, yang bisa membuat banyak orang berpikir untuk apa berpendidikan tinggi jika nanti dimasyarakat tidak ada bedanya dengan mereka yang kurang beruntung tidak bisa merasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru, mereka harus bisa bebas disegala arus arus masyarakat yang kacau, tetapi mereka tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya, yakni bertindak demi tanggung jawab sosialnya apabila keadaan telah mendesak, kaum intelejensia yang terus berdiam ketika keadaan mendesak telah melunturkan semua kemanusiaa, ketika Hitler mulai membuas maka kelompok xxxxx berkata tidak, mereka punya keberanian untuk berkata tidak, mereka walaupun masih muda berani menentang geng-geng pemimpin bajingan, rezim NAZI, bahwa mereka mati itu bukan soal, mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir, tiada indahnya penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran....&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi itu adalah sepenggal perkataan Gie di filem Gie yang menggambarkan peran ideal kaum terdidik dalam fungsi sosialnya di masyarakat. Sebuah keadaan didalamnya memang sudah tidak relevan namun hikmahnya bisa dapat diadopsi tanpa batasan zaman dan waktu, tergantung telinga hati, mampukah memenuhi panggilan seorang pemikir? agar berkarya dan memastikan bahwa hidupnya bermanfaat bagi umat, meski tahu pragmatisme mengiming-imingi insentif yang sebetulnya ditentang kata hati bagi mereka yang bernurani. Mari berkarya. Mari bermanfaat seperti pesan sang Nabi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-3757466423236612434?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/3757466423236612434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/menjadi-berilmu-dan-terpelajar.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3757466423236612434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3757466423236612434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/menjadi-berilmu-dan-terpelajar.html' title='Menjadi Berilmu dan Terpelajar?'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YyVhN3Lh200/TntbRWUzROI/AAAAAAAABtk/_aKJvEVxJ9A/s72-c/testgie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-4808369551154154932</id><published>2011-09-21T19:19:00.002+07:00</published><updated>2011-09-21T20:41:48.597+07:00</updated><title type='text'>Cerita Ratu Aathena</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" http://www.blogger.com/img/blank.gifhref="http://3.bp.blogspot.com/-NCAegcxr7ck/TnnpcgCpMOI/AAAAAAAABtU/cClE8wt-_iE/s1600/blogwalking.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 357px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-NCAegcxr7ck/TnnpcgCpMOI/AAAAAAAABtU/cClE8wt-_iE/s400/blogwalking.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654807482987000034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa kapan dan bagaimana ceritanya bisa kenal dan akrab dengan bloggerwati satu ini, yang aku ingat, dia adalah teman satu SMA dari kawan satu kantor dulu, yang kebetulan juga adalah seorang blogger musiman yang nama blognya &lt;a href="http://berkejaran.wordpress.com/"&gt;Berkejaran&lt;/a&gt;. Namun tidak untuk kini. Ada semangat baru. Tetap semangat kawan!. Namun bukan si Berkejaran yang sedang aku bahas, tapi bloggerwati tadi. Ada kutipan kalimat yang aku ingat, bahkan selalu ingat dari postinganya, padahal sudah 2 tahun lalu postingan ini ia buat.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Jangan merasa bersalah atas hati-hati yang lain, karena kau bahkan hanya punya satu hati. Serahkan pada yang menciptakan hati itu, karena hanya Dia-lah yang berhak atasnya. Penguasa hatimu yang sejati.. Allah…"&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Blog nya punya maskot &lt;a href="http://aathena.blogspot.com/"&gt;flypuCino&lt;/a&gt;,jangan tanya, apa artinya, karena aku tidak tahu. Mungkin ada hubungannya dengan Secangkir Capuccino yang diminum sambil terbang sehingga namanya flypuCino. Hanya mungkin tapi. Blognya biasa dan sederhana, tapi tidak dengan isi nya. Baca saja, seperti aku juga sering membacanya dan mendapatkan pemikiran-pemikirannya yang bernas dan penuh kedalaman makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama aslinya sampai sekarang pun aku tidak tahu, walau aku merasa berkawan seperti sudah lama kenal denganya. Nama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;facebook&lt;/span&gt;nya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asyifa Dasyuki&lt;/span&gt;. Cari saja. Aku kira cuma ada satu nama itu di dunia. Saat sering &lt;span style="font-style:italic;"&gt;blogwalking&lt;/span&gt; ke blog flypuCino, aku sering bertanya apa maksud nama Aathena dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;url address&lt;/span&gt; nya. Ah, lupakan saja. Karena kadang nama tidak lebih penting dari pribadinya, mirip seperti pilihan jalan yang kadang tidak lebih penting dari tujuan kita. Sederhananya, anggap saja sekarang sedang ke dunia negara maya flypuCino dengan ratunya bernama Aathena, Begitu pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, aku belum tahu banyak soal karya salah satu novelis kenamaan negeri ini, Dee. Tapi, waktu aku mulai menandaskan Perahu Kertas dan Filosofi Kopi. Dari situ aku mulai mengira, bahwa sang ratu Aathena memiliki bakat yang diberikan Tuhan kepada Dee, menulis dengan jiwa dan daya imajinasi yang tinggi. Tertata, klimaks dan menyentuh. Pernah suatu hari di bulan Desember 2009 aku akhirnya bertemu dengan sang ratu, di kota Malang dekat stasiun sewaktu turun dari pendakian Gunung Semeru lalu. Orangnya baik, ramah dan sederhana, dalam artian tidak berlebihan dalam bersikap dan berpenampilan. Ini bukan pujian, hanya kesan sekilas sebagaimana wajarnya dua orang yang baru pertama kali berjumpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nama Asyifa Dasuki (AD), akhirnya aku terbiasa menyapanya dengan nama AD, entah di komen blog, di obrolan via sms atau telpon, bahkan namanya di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;phonebook&lt;/span&gt; pun aku buat AD. Dan diapun begitu, menyapaku dengan inisial EW. Selalu saja ada kejutan setiap aku membaca karya postingannya, entah sebuah pencerahan, guratan senyum yang mengembang atau sesekali berupa tamparan yang mengenai tepat di pikiranku. Seperti waktu itu dalam hidup, ketika aku kira aku banyak kecewa dalam beberapa hal, tepat di postingannya aku menemukan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"'Aku tak tahu bos.. saat bos mengajariku bermimpi.. aku hanya menurut saja. Aku mimpi setinggi yang aku inginkan. Lalu setiap pagi saat aku bangun tidur.. Aku ucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim…dengan Nama Mu Ya Rahim.. ijinkan aku mewujudkan mimpi-mimpiku hari ini..’” &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, aku menyukai karyanya yang semoga menjadi jalan Tuhan untuk mengangkat hakikat hidup sang ratu, karena melalui karyalah seorang manusia itu dikenang dan berumur panjang bahkan saat ia sudah harus pulang kampung ke Akhirat. Kau hebat, aku tahu itu. Dan kau bahkan lebih hebat dari yang kau tahu. Betulkan AD? Selamat berkarya kawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari sini&lt;/span&gt;&lt;a href="http://anggasona-anotherbestblog.blogspot.com/2010/07/jangan-sepelekan-blogwalking.html"&gt; melalui google.&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-4808369551154154932?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/4808369551154154932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/cerita-ratu-aathena.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4808369551154154932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4808369551154154932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/cerita-ratu-aathena.html' title='Cerita Ratu Aathena'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-NCAegcxr7ck/TnnpcgCpMOI/AAAAAAAABtU/cClE8wt-_iE/s72-c/blogwalking.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2756420934088694647</id><published>2011-09-18T15:02:00.002+07:00</published><updated>2011-09-18T15:33:42.217+07:00</updated><title type='text'>Dua Kali Kecewa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-U46GhZQCXLo/TnWs3IDsLyI/AAAAAAAABtM/QFDhal7CGYw/s1600/iseng.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 295px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-U46GhZQCXLo/TnWs3IDsLyI/AAAAAAAABtM/QFDhal7CGYw/s400/iseng.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653614970289270562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini panas, mungkin sore nanti baru turun hujan, tapi setidaknya sudah dua kali aku dibuat kecewa yang pertama sama BRI Bank Rakyat Indonesia. Aku heran kenapa Kantor ku masih menjalin kerja sama dalam hal transfer gaji bulanan dengan Bank ini, setiap awal bulan atau disaat kapan pun yang hanya BRI dan Tuhan yang tahu, selalu saja ATM Bank ini rusak, mulai dari dengan ucapan 'Maaf, sementara sedang dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;temporarily service&lt;/span&gt;' sampai tanpa ucapan maaf.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Bukan soal kalau aku lagi ada uang kas didompet, tapi itu jarang sekali terjadi, nasib baik aku tidak bernasib nahas seperti si kawan yang kartu ATM nya ditelan bulat-bulat sama ATM ini, atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;being debited without throwing some cash as withdrawaled&lt;/span&gt;. Tapi sudahlah, pun aku yakin sudah banyak yang kecewa dan menyampaikan keluhan ini ke pihak terkait walau sampai sekarang belum ada tindakan preventif yang signifikan, atau mungkin masih banyak orang yang sabar di kantorku, atau mungkin keluhan itu tidak sampai ke BRI, masuk ke kuping siluman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaksa, akhirnya aku ambil uang dengan ATM lain untuk bayar uang servis motor, sambil menunggu servis selesai, aku pergi ke warnet, disini kekecawaan kedua dimulai, panas kuping dan hati ku lama-lama di warnet ini. Anak-anak di warnet ini seperti santai saja mengucapkan kata-kata kotor sebagai bagian dari pergaulan mereka, ya aku juga punya pergaulan dan bukan termasuk yang suci-suci sekali, tapi paling tidak aku sadar dan ingat mana kata yang pantas dan mana yang tidak sesuai dengan norma seperti memanggil seorang dengan nama binatang atau kotoran. Pun, waktu muda aku tidak seliar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma bisa menahan sabar dalam hati saja mendengarnya. Dan mungkin siapapun tidak mau disapa dengan sapaan seperti itu, termasuk BRI. Namun aku khawatir kalau anak anak warnet ini menjadi nasabah BRI, dan kesal dengan layanan BRI yang maaf, agak mengecewakan ini, bukan tidak mungkin sapaan khas anak-anak ini tertuju ke BRI ini. Dan mungkin kata nenekku benar, bahwa mencegah lebih baik untuk mengobati. BRI harus mencegah hal ini terjadi dan aku harus mencegah diri dari lama-lama mendengar ucapan anak ini dengan segera cabut balik ke bengkel motor.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2756420934088694647?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2756420934088694647/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/dua-kali-kecewa.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2756420934088694647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2756420934088694647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/dua-kali-kecewa.html' title='Dua Kali Kecewa'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-U46GhZQCXLo/TnWs3IDsLyI/AAAAAAAABtM/QFDhal7CGYw/s72-c/iseng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1273227833282133649</id><published>2011-09-16T15:13:00.001+07:00</published><updated>2011-09-16T17:05:34.215+07:00</updated><title type='text'>Personality Profile of Erikson</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-JHYP7pPQsk0/TnMe0f0oawI/AAAAAAAABs8/V4kmlb7h_FM/s1600/_MG_0723.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 353px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-JHYP7pPQsk0/TnMe0f0oawI/AAAAAAAABs8/V4kmlb7h_FM/s400/_MG_0723.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652895844524387074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkunjung ke &lt;a href="http://moody-ninneta.blogspot.com/"&gt;Blog Ninneta&lt;/a&gt;, aku tertarik mencoba semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;personality test&lt;/span&gt; yang ada disebuah situs bernama &lt;a href="http://www.mypersonality.info/"&gt;mypersonality&lt;/a&gt;, tesnya gratisan namun ulasan hasilnya cukup informatif dan kalau mau yang lebih lengkap ada, tapi ambil yang pro/premium alias berbayar. Di web tersebut disebutkan bahwa akurasi hasil tes ini tidak 100%, sehingga sifatnya hanya sebagai informasi sahaja. Bukan patokan apalagi pegangan. Jadi jangan sampai terbatasi atau terlalu bangga karena hasil tes ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Memang sejak lama aku selalu ingin mengenal diriku lebih jauh, jadi aku tidak heran kalau aku tertarik dengan hal-hal semacam ini, yang sifatnya psikologis. Dari tes yang disediakan situs itu, ada dua macam tes yaitu tes tipe kepribadian dasar dan tes &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mutilple intelligence&lt;/span&gt; (kira-kira maksudnya apa ya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tes yang pertama yaitu tes Tipe Kepribadian Dasar, aku diminta mengisi 50an lebih pertanyaan yang jawabannya adalah insting naluriah pertama yang muncul jadi tanpa rekayasa, durasi pengerjaannya 20 menit namun tidak diberi pengingat waktu. Hasilnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;INTJ - The "Strategist"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTJs are introspective, analytical, determined persons with natural leadership ability. Being reserved, they prefer to stay in the background while leading. Strategic, knowledgable and adaptable, INTJs are talented in bringing ideas from conception to reality. They expect perfection from themselves as well as others and are comfortable with the leadership of another so long as they are competent. INTJs can also be described as decisive, open-minded, self-confident, attentive, theoretical and pragmatic. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini diagram lengkapnya:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-t1A2TFgG0_w/TnMdnCozWwI/AAAAAAAABss/CCZymzUrU0I/s1600/2011-09-16_153610.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 255px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-t1A2TFgG0_w/TnMdnCozWwI/AAAAAAAABss/CCZymzUrU0I/s400/2011-09-16_153610.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652894513840216834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tes yang kedua, aku diminta mengisi 80an soal tanpa batasan waktu dengan prinsip menjawab sama seperti tes yang pertama tadi. Hasilnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;People with Linguistic intelligence love and are talented with words. They enjoy reading, writing and learning languages. They have an ability to teach and explain things to others. They learn best by reading, taking notes and going to lectures. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Common Characteristics :Notices grammatical mistakes, Often speaks of what they have read, Likes to use "fancy" words, Loves word games, Cherishes their book collection&lt;br /&gt;Easily remembers quotes and famous sayings, Likes puns and rhymes, Enjoys writing, Enjoys foreign language, Always enjoyed English class.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Career Matches: Writer (any type), Editor, Public Speaker, Politician, Preacher, Teacher, Journalist, Broadcaster, English / Writing Tutor, Actor / Actress.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini diagram lengkapnya:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-r1wUIhzXTus/TnMeoztCstI/AAAAAAAABs0/HjecxoxI0rY/s1600/2011-09-16_153451.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 139px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-r1wUIhzXTus/TnMeoztCstI/AAAAAAAABs0/HjecxoxI0rY/s400/2011-09-16_153451.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652895643702833874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya begitulah, kadang kegiatan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;blogwalking&lt;/span&gt; mengantarkan kita pada hal yang tidak disangka, bukan hanya merawat hubungan sesama blogger tapi juga membuka kesempatan untuk mengetahui banyak hal baru, termasuk kesempatan untuk mengetahui lebih dalam mengenai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;personality&lt;/span&gt; kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1273227833282133649?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1273227833282133649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/personality-profile-of-erikson.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1273227833282133649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1273227833282133649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/personality-profile-of-erikson.html' title='Personality Profile of Erikson'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-JHYP7pPQsk0/TnMe0f0oawI/AAAAAAAABs8/V4kmlb7h_FM/s72-c/_MG_0723.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1173277391168414438</id><published>2011-09-15T08:51:00.005+07:00</published><updated>2011-09-15T11:40:49.786+07:00</updated><title type='text'>Musim Kemarau Panjang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-P6vM7THU9rs/TnGARhRvymI/AAAAAAAABsc/IV74NA_Nupw/s1600/dry-season-sept-09.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-P6vM7THU9rs/TnGARhRvymI/AAAAAAAABsc/IV74NA_Nupw/s400/dry-season-sept-09.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652440045805619810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah 3 bulan ini aku tidak melihat hujan yang cukup deras, memang lagi musim kemarau. Di TV disiarkan bahwa diperkirakan hujan baru akan turun di awal bulan Oktober. Masih agak lama. Sementara kabar kelangkaan air dan gagal panen sudah cukup marak disiarkan. Agak mengkhawatirkan memang kalau terlalu lama musim kemarau. Apalagi bagi kita yang notabene terlahir sebagai orang tropis. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu, aku ikut Bapak ke kebun (baca &lt;a href="http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/berkebun-di-new-york.html"&gt;disini&lt;/a&gt;) dan musim kemarau kali ini memang memberi dampak yang terasa. Daun pepohonan banyak yang jatuh meranggas tanah lahan menjadi kering, kolam buatan menjadi retak membelah seperti menganga meminta hujan. Sungai di ujung kebun kami pun menyurut sampai jarak antara dua seberang menjadi lebih dekat. Hal yang lebih buruk terlihat di beberapa titik di jalan lintas perbatasan provinsi Sumatera Selatan dan Lampung, ada kebakaran yang cukup luas di daerah tersebut, kemungkinan karena lahan tersebut ditumbuhi ilalang yang mati mengering dan menjadi sumber api lebih cepat menyebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang jauh lebih memprihatinkan adalah kelangkaan air. Air yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat menjadi sulit didapat di beberapa daerah di Jawa misalnya Pacitan dan Gunung Kidul, menurut berita yang aku lihat dua hari lalu di TV. Walau dengan kondisi ini ada beberapa daerah yang mencoba berinovasi merekayasa hujan hanya saja belum semua daerah mampu melakukannya dan masih menunggu waktu supaya dampaknya terasa lebih luas. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;It takes months or even years.&lt;/span&gt; Kekecewaan tentu saja dirasakan para petani karena musim kemarau ini membuat panen menurun. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-WzapsXQRbKc/TnGBLrFBd2I/AAAAAAAABsk/hKJ2RE1F4P0/s1600/dry-season-gunungkidul.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-WzapsXQRbKc/TnGBLrFBd2I/AAAAAAAABsk/hKJ2RE1F4P0/s400/dry-season-gunungkidul.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652441044869019490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika sepanjang tahun 2009 dan 2010 petani Bawang Merah dan Kentang di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mampu menghasilkan 133.945 ton dan 104.324 ton untuk Bawang Merah serta menghasilkan 5.030 ton dan 5.130 ton untuk Kentang (data dari &lt;a href="http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&amp;daftar=1&amp;id_subyek=55&amp;notab=15"&gt;sini&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&amp;daftar=1&amp;id_subyek=55&amp;notab=14"&gt;sini&lt;/a&gt;). Maka ada kemungkinan kemarau menjadikan hasil panen tahun 2011 turun cukup drastis. Dan dampak ini sifatnya nasional jadi tidak heran kalau produktivitas sektor ini menurun karena faktor iklim yang masih diluar kendali dari faktor produksi yang bisa diusahakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan semacam ini jika digambarkan dalam sebuah kurva batas kemungkinan produksi, atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;production possibilities frontier curve&lt;/span&gt; membuat titik kemungkinan produksi sektor pertanian berada di bawah garis maksimum batas kemungkinan lantaran musim kemarau yang tidak bisa ditanggulangi dampaknya, kecuali kemajuan disektor pertanian dengan penerapan yang global mampu menciptakan kondisi yang menihilkan dampak buruk kemarau panjang ini maka bukan tidak mungkin titik tersebut tetap stabil di garis batas maksimum kemungkinannya. Untuk Hasil yang melampaui kemungkinan maksimum hanya mungkin terjadi jika faktor produksi yang sudah ada ditambah dan sepanjang tahun musim kemarau yang terjadi tidak membawa dampak merugikan seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap waspada sangat diperlukan dalam keadaan seperti ini, baik dari masyarakat juga dari pemerintah supaya dampak buruk musim kemarau ini tidak meningkat, bencana kebakaran misalnya dapat saja menyebabkan tidak hanya gagal panen tapi juga menimbulkan kerugian material yang mempersulit hidup petani. Dan dilain sisi, kemajuan teknologi dalam bidang pertanian dan pemerataan pemanfaatanya seperti hujan buatan tadi, sangat diharapkan untuk segera terwujud supaya kesejahteraan hidup masyarakat tetap terjaga dan tidak menimbulkan efek domino lainnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Because living in a drought leads us into a big worry.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://zimbabwewilddogs.wildlifedirect.org/2010/01/16/zimbabwes-turn-for-a-drought/"&gt;sini&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.planetmole.org/archives/yogyakarta/page/4/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1173277391168414438?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1173277391168414438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/musim-kemarau-panjang.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1173277391168414438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1173277391168414438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/musim-kemarau-panjang.html' title='Musim Kemarau Panjang'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-P6vM7THU9rs/TnGARhRvymI/AAAAAAAABsc/IV74NA_Nupw/s72-c/dry-season-sept-09.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-6802572490603939206</id><published>2011-09-14T22:54:00.000+07:00</published><updated>2011-09-16T23:26:31.870+07:00</updated><title type='text'>Keunggulan Komparatif Individual</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-PqMGtgyVhA4/TnN4klgPmEI/AAAAAAAABtE/xr-jsZOP-BA/s1600/comparative-advantage1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 397px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-PqMGtgyVhA4/TnN4klgPmEI/AAAAAAAABtE/xr-jsZOP-BA/s400/comparative-advantage1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652994527218079810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia kerja, kita berbeda dalam banyak hal. Itu jelas. Namun, penekanan disini adalah sebuah kesadaran mengenai kenyataan (agar selalu ingat) bahwa dalam dunia kerja setiap orang tidak dapat dinilai dari satu sudut saja, ada banyak sudut yang menentukan keberhasilan suatu pekerjaan terutama pekerjaan yang mengatasnamakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Team Work&lt;/span&gt;, ada diantara kita yang handal secara konsep, atau mumpuni di lapangan, atau pandai berkomunikasi, atau menguasai bidang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Information &amp; Technology&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Seseorang yang handal secara konsep bukan berarti ia sama sekali tidak paham mengenai IT, hanya saja pengetahuannya atas hal tersebut mungkin sebatas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;interface&lt;/span&gt; saja yang tidak cukup mampu membuat kemampuan konseptualnya menjadi lebih berarti. Sedangkan orang lain yang menguasai IT paham betul bagaimana mewujudkan sebuah konsep menjadi lebih aplikatif dalam jika dibangun secara nyata dilapangan melalui dukungan sistem IT yang baik. Tapi sayang orang tersebut tidak memiliki gambaran yang inovatif mengenai konsep yang mutakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi sederhana diatas menunjukkan bahwa dari sisi IT, sang master IT memiliki keunggulan komparatif dibanding sang konseptor, sedang kan secara konseptual maka yang terjadi adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;vice versa&lt;/span&gt;. Mungkin atas dasar inilah kerja sama menjadi sebuah kebutuhan mendasar dalam menjalankan perusahaan, atau dalam kontek apapun terkait kehidupan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya negara tropis memiliki hasil pertanian dan peternakan melimpah namun kurang dapat memenuhi kebutuhan akan minyak yang sangat berlimpah di negara timur tengah. Sebetulnya, hidup masih tetap dapat berjalan bahkan ketika pihak dengan keunggulan masing-masing pun hendak berjalan tanpa menginisiasi rencana kerja sama. Namun apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kemudian yang terjadi adalah tidak maksimalnya manfaat yang harusnya bisa didapat seandainya kedua pihak mau berkolaborasi. Sang konseptor disebuah kantor dapat melihat konsepnya menjadi kenyataan jika mau meminta sang komunikator menyampaikan idenya dengan baik kepada pihak pelaksana lapangan dan pendukung IT. Namun hal ini tidak akan terwujud jika Sang konseptor enggan dan hanya mau berusaha sendiri saja. Manfaat keunggulan komparatif yang unik dari setiap individu tidak bisa maksimal memberi manfaat bagi kelangsungan kantor/perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas bahwa pergaulan dalam dunia kerja disini membawa manfaat dalam memuluskan pencapaian tujuan, sehingga harus ada satu waktu dimana pikiran/pandangan tertentu mengenai motif individual harus dikesampingkan, demi profesionalisme dan kebermanfaatan. Mungkin Filsuf Schopenhaur ada benarnya bahwa kita ibarat landak yang saling membutuhkan dalam suatu musim dingin untuk saling mendekat demi kehangatan namun tidak terlalu dekat supaya tidak tertusuk duri masing-masing kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://paulbarsch.wordpress.com/2010/11/02/win-the-world-over-with-comparative-advantage/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-6802572490603939206?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/6802572490603939206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/keunggulan-komparatif-individual.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6802572490603939206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6802572490603939206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/keunggulan-komparatif-individual.html' title='Keunggulan Komparatif Individual'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-PqMGtgyVhA4/TnN4klgPmEI/AAAAAAAABtE/xr-jsZOP-BA/s72-c/comparative-advantage1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-3854640075703322071</id><published>2011-09-13T13:25:00.003+07:00</published><updated>2011-09-13T14:14:00.550+07:00</updated><title type='text'>Sarung Bantal PERURI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-m13PfltYGAo/Tm8CgMhMmhI/AAAAAAAABsM/LeON4oyT4kc/s1600/ilustrasi-inflasi1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 319px; height: 278px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-m13PfltYGAo/Tm8CgMhMmhI/AAAAAAAABsM/LeON4oyT4kc/s400/ilustrasi-inflasi1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5651738809512794642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ibuku (almh) rajin memanfaatkan bahan apa saja yang sekiranya masih layak pakai untuk dijahit menjadi lebih bermanfaat, sebut saja sarung bantal dan lainnya. Dan satu kali aku pernah melihat bahan dasar bertulisan PERURI sudah jadi sarung bantal dirumah. Aku kecil sudah berpikir nakal waktu itu, mungkin karena baru tahu bahwa uang bisa dicetak jadi aku kira mungkin harusnya cetak saja uang sebanyak-banyak nya supaya bisa hidup enak dan tidak miskin melarat. Kala itu suatu siang di tahun 1990an. Aku masih SD.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sekarang aku tahu kenapa rupanya cara itu tidak bisa digunakan. Sebetulnya sudah sejak beberapa tahun ini aku mulai mengenali konsep dan hukum sebab akibat perihal ini. Tapi baru sekarang ini gambaran jelasnya muncul. Akibat nyata jika pemerintah mencetak uang terlalu banyak adalah kenaikan harga, makin banyak jumlah yang dicetak maka makin naik pula nilai suatu barang. Istilah lain untuk menggambarkan keadaan ini adalah inflasi. Yaitu peningkatan/kenaikan harga secara keseluruhan dalam suatu perekonomian negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inflasi besar-besaran yang terjadi di Jerman tahun 1920an dan di Zimbabwe beberapa waktu lalu adalah contoh nyatanya. Dimana harga barang kecil saja harus dibayar dengan membawa uang yang didorong dengan menggunakan grobak berisi uang semua. Atau seperti harga koran di Jerman yang di tahun 1922 (November) senilai 70 Juta Mark. Repot ya jadi belanjanya..! Hahaha... kasian dengan bank yang tentu saja akan kebingunan menyiapkan ATM atau brankas ukuran ekstra besar untuk menyimpan uang kas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas memang Inflasi membawa dampak positif seperti perputaran barang/jasa menjadi lebih cepat dan mengurangi angka pengangguran karena kegiatan investasi tentu akan meningkat serta tentu saja bagi sebagian orang khususnya pengusaha ini akan membuat pendapatan (secara nominal) bertambah. Namun demikian akibat buruk nya juga tidak kalah banyak. Misalnya bagi mereka yang berpenghasilan tetap tentu kenaikan pendapatan yang diperoleh tidak akan setinggi mereka yang spekulatif sehingga secara tidak langsung makin memperlebar kesenjangan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang dapat terjadi adalah kerugian yang bisa muncul bagi para nasabah bank yang nilai uang mereka akan turun karena tidak sebanding dengan kenaikan harga barang/jasa diluar. Ini menyebabkan kesadaran untuk menabung akan menurun (padahal tabungan masyarakat adalah salah satu unsur penunjang dalam perekonomian agregat suatu negara) dan makin berkurangnya nilai uang di mata masyarakat. Dan seandainya saja di tahun 1990an kala itu Indonesia tengah dilanda inflasi hebat, bukan tidak mungkin Ibuku (almh) akan menjadi pengusaha sarung bantal dengan omzet nominal yang tinggi. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://bisnis-jabar.com/index.php/2011/09/inflasi-jabar-agustus-2011-sebesar-054/ilustrasi-inflasi-4/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-3854640075703322071?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/3854640075703322071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/sarung-bantal-peruri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3854640075703322071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3854640075703322071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/sarung-bantal-peruri.html' title='Sarung Bantal PERURI'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-m13PfltYGAo/Tm8CgMhMmhI/AAAAAAAABsM/LeON4oyT4kc/s72-c/ilustrasi-inflasi1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-5586023778871197482</id><published>2011-09-12T21:08:00.009+07:00</published><updated>2011-09-12T23:34:33.696+07:00</updated><title type='text'>Balada PNS Tugas Belajar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-YGzhHODvbEs/Tm4z28FZlcI/AAAAAAAABsE/q0HBWjR_kEk/s1600/end%2Bof%2Bthe%2Bweak%2Blogo.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 362px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-YGzhHODvbEs/Tm4z28FZlcI/AAAAAAAABsE/q0HBWjR_kEk/s400/end%2Bof%2Bthe%2Bweak%2Blogo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5651511601331279298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah mau lulus kuliah. Mungkin kalau aku hitung-hitung sekitar kurang lebih 1,5 bulan lagi masa tersisa untuk duduk di bangku kuliah, karena awal November sudah Ujian Akhir Semester terakhir dan Desember awal sudah Yudisium. Namun itu bukan akhir dari cerita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak lulus DI tahun 2005, meneruskan kuliah ke DIII Khusus, sudah jadi cita-cita, ya seperti Gunung yang akan selalu ada, ditempatnya (kecuali kalau meletus ya!) cita-cita ini tidak bergeser barang sedikit pun. Walau harus 1x gagal dan baru lulus setelah 2x mencoba (bisa dibaca di &lt;a href="http://blogsierikson.blogspot.com/2009/06/alhamdulillah-lulus-tahap-i.html"&gt;ini&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://blogsierikson.blogspot.com/2009/06/cerita-psikotes-erikson.html"&gt;ini&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://blogsierikson.blogspot.com/2009/07/alhamdulillah-lulus-d3-khusus.html"&gt;ini!&lt;/a&gt;.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenuhnya aku sadar betul, akibat wajar kalau seorang PNS berubah status jadi Tugas Belajar, yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;take home pay&lt;/span&gt; (THP) bulanan bakal dipotong dan walau waktu itu aku belum paham sekali soal konsep &lt;span style="font-style:italic;"&gt;opportunity cost&lt;/span&gt; atau Biaya Kesempatan dan Insentif. Aku tak peduli, yang aku tahu akhirnya bisa dapat kesempatan buat sekolah lagi. Belajar lagi. Cukup, itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tradeoff&lt;/span&gt; atau pertukaran yang terjadi. Selisih nilai THP yang (lebih dari) cukup itu aku lepas, dan berganti jadi kesempatan untuk duduk di bangku kuliah, serta menjadi mahasiswa dengan waktu luang yang berlimpah, sebuah keadaan yang memang sejak awal sudah aku kira akan aku dapat, belakangan aku tahu bahwa itulah yang disebut dengan keuntungan marginal. Dan sepertinya total keseluruhan selisih THP tadi yang menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biaya Kesempatannya&lt;/span&gt; tidak sebanding, bahkan jika dirupiahkan sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari bahwa setiap keputusan akan selalu menghadapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tradeoff&lt;/span&gt;, hal ini membuat aku sadar mana keputusan yang harus aku ambil, tentu nya dengan mempertimbangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;opportunity cost&lt;/span&gt; yang lebih minimal dan diselaraskan dengan visi jangka panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sekali-kali seperti manusia kebanyakan. Aku menyesal :) Penyesalan yang muncul lebih karena enggan kehilangan kesempatan menikmati THP tadi, padahal bagaimanapun, itu adalah biaya yang aku bayarkan untuk D3 Khusus ini. Hahaha..Dasar rakus! Mungkin benar kata kawanku, &lt;a href="http://www.facebook.com/randy.sitompul"&gt;Randy Suqih Lambok Sitompul&lt;/a&gt; hidup itu adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tradeoff&lt;/span&gt; tidak semua bs kita miliki sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Gambar diambil dari sini.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://slimandstrongin2009.blogspot.com/2011/06/i-feel-weak-what-should-i-do.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-5586023778871197482?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/5586023778871197482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/balada-pns-tugas-belajar.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5586023778871197482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5586023778871197482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/balada-pns-tugas-belajar.html' title='Balada PNS Tugas Belajar'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-YGzhHODvbEs/Tm4z28FZlcI/AAAAAAAABsE/q0HBWjR_kEk/s72-c/end%2Bof%2Bthe%2Bweak%2Blogo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-6356799262879157976</id><published>2011-09-09T09:09:00.003+07:00</published><updated>2011-09-09T09:51:21.013+07:00</updated><title type='text'>Memaknai Undangan via Facebook</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-eyfWYIx_O80/Tml-mdYA3PI/AAAAAAAABr8/duI8yHZCGRg/s1600/rip3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 356px; height: 333px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-eyfWYIx_O80/Tml-mdYA3PI/AAAAAAAABr8/duI8yHZCGRg/s400/rip3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650186406698474738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku sering menerima undangan acara via &lt;span style="font-style:italic;"&gt;facebook&lt;/span&gt;, entah acara pernikahan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;launching&lt;/span&gt; bisnis atau sekedar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;meeting&lt;/span&gt; rutin komunitas tertentu. Tapi kadang ragu untuk menghadirinya. Jangan-jangan kawan yang mengundang ini tidak sengaja meng-klik nama ku di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fb&lt;/span&gt; makanya aku diundang apalagi kalau si pengundang ini adalah kawan yang cuman kenal didunia maya saja. Kalau kawan yang sudah lama kenal aku kira aku berani tanya langsung niatnya untuk mengundang. Kecuali kalau undangan itu datang dalam bentuk fisik mungkin siapapun yang mengundang ada juga tergerak pikiranku untuk menghadirinya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Begitulah sekarang ini, kemajuan teknologi disatu sisi memudahkan karena kita tidak perlu lagi repot membuat undangan dan menyebarkannya satu per satu kalau mau menyelenggarakan acara. Tinggal buka &lt;span style="font-style:italic;"&gt;facebook&lt;/span&gt;, klik menu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;event&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;filling the detail&lt;/span&gt; lalu tentukan tamu nya (bisa di pilih atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;send to all&lt;/span&gt;). Sesederhana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi disisi lain, ini mulai menggeser nilai-nilai silaturahim dari yang tadinya tatap muka dirasa begitu perlu, menjadi terwakilkan dengan kehadiran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notifications on facebook&lt;/span&gt; saja. Aku kira kita sebaiknya tetap selalu memandang fasilitas ini hanya sebagai sarana pelengkap yang menjadi tidak berarti tanpa adanya undangan resmi yang datang secara fisik atau kalaupun tidak memungkinkan, komunikasi langsung bisa dijadikan alternatif entah telepon/sms atau email pribadi yang sifat pengirimannya lebih terasa personal supaya niat mengundangnya lebih terasa. Atau kalaupun hendak membuat undangan khususnya acara pernikahan via &lt;span style="font-style:italic;"&gt;facebook&lt;/span&gt; ada baiknya lebih selektif dalam mengundang, pastikan bahwa yang diundang adalah orang yang kita kenal. Sehingga ada respon secara naluriah bagi yang menerima. Tapi inipun tetap dengan memandangnya sebagai fasilitas pelengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mungkin saja banyak orang diluar sana sering menganggap angin lalu saja undangan yang dikirim secara kolektif dan umum, apalagi kalau yang mengundang adalah pihak yang namanya hanya sering muncul di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;news feed&lt;/span&gt; saja, kecuali kalau undangan event yang memang sifatnya umum, maka wajar jika sifat pengirimannya pun kolektif dan umum. Seperti misalnya undangan pameran beasiswa, lukisan seni, atau undangan pasar kaget yang sering diumumkan lewat pengeras suara dengan keliling kampung yang semua orang boleh datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Picture was taken from &lt;a href="http://www.specialistweddings.com/%20/105-wedding-invitations.html"&gt;here.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-6356799262879157976?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/6356799262879157976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/memaknai-undangan-via-facebook.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6356799262879157976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6356799262879157976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/memaknai-undangan-via-facebook.html' title='Memaknai Undangan via Facebook'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-eyfWYIx_O80/Tml-mdYA3PI/AAAAAAAABr8/duI8yHZCGRg/s72-c/rip3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-6379277050561702129</id><published>2011-09-08T20:27:00.007+07:00</published><updated>2011-09-08T21:32:52.685+07:00</updated><title type='text'>[Exemplary] Action Needed</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-5EUWdMsab90/TmjRhHucXAI/AAAAAAAABr0/PFVPWLpIjSI/s1600/imtihan1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5EUWdMsab90/TmjRhHucXAI/AAAAAAAABr0/PFVPWLpIjSI/s400/imtihan1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649996099476020226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau sedang mudik seperti ini, aku sering menjadi petugas penegak disiplin bagi para adik dan ponakan dirumah. Jangan dikira enak ya. Karena peran seperti ini tidak cukup pasang wajah sangar, marah-marah dan kadang memberi hukuman fisik, tapi lebih dari itu ada yang lebih penting yaitu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;can i practice what i preach?&lt;/span&gt; Sebabnya adalah suatu pepatah lama yang bunyinya kurang lebih seperti ini: "Satu tindakan lebih memberikan keteladanan dari 10 nasihat kata-kata".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pas mudik kali ini, aku sekalian membawa semua koleksi buku bacaan untuk aku taruh dirumah supaya bisa dibaca keluarga lagipula tidak repot untuk nanti kalau aku mau pindah kos setamatnya kuliah Desember 2011 ini insyaALLAH. Buku-buku ini ada banyak mungkin sekitar 100 lebih. Aku memberi tugas kepada keponakan ku untuk membaca buku yang sesuai minat mereka dan menuliskan pemahaman yang mereka dapat disebuah buku yang aku minta mereka namai "Ringkasan Membaca". Isinya bukan sekedar ringkasan, tapi apa saja pemahaman yang mereka dapat setelah membaca buku tersebut, tidak perlu panjang-panjang asal mereka benar-benar memahami. Sekaligus melatih mereka untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mereka membaca aku menemani sambil membaca juga, karena kurang etis rasanya meminta seseorang menjadi begitu disiplin sementara kita begitu toleran terhadap diri sendiri. Bahkan ketika meminta mereka mengatur jadwal mereka agar hidup lebih teratur dengan melakoni kegiatan yang bermanfaat, aku juga ikut menemani, seperti mencuci piring atau sholat yang kami lakukan secara berjamaah. Ini membuat aku jadi berpikir untuk terus memperbaiki dan konsisten terhadap diri sendiri agar tetap bisa menjadi teladan bagi mereka. Walau aku sendiri sadar aku begitu banyak cela, tapi setidaknya aku sudah mengingatkan dan mengarahkan mereka akan banyak hal yang bermanfaat bagi hidup mereka nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap habis sholat kami berdoa, dan aku juga memberitahukan kepada mereka untuk tidak lupa berdoa khususnya supaya diberi kemudahan dalam mengejar ilmu yang bermanfaat dan menjadi anak yang sholeh/sholehah serta berguna dalam hidup kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Semoga ALLAH.SWT menerima doa kami. Amin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-6379277050561702129?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/6379277050561702129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/exemplary-action-needed.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6379277050561702129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/6379277050561702129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/exemplary-action-needed.html' title='[Exemplary] Action Needed'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5EUWdMsab90/TmjRhHucXAI/AAAAAAAABr0/PFVPWLpIjSI/s72-c/imtihan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1522753452998857061</id><published>2011-09-05T09:00:00.006+07:00</published><updated>2011-09-06T08:08:19.667+07:00</updated><title type='text'>Tinjauan Singkat Pajak dan Zakat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-D2JZ2GRg-Lg/TmVw4G322OI/AAAAAAAABrg/DZARyAu4058/s1600/20090408145448-3_5%2BKalkulator%2BZakat-vert.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 291px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-D2JZ2GRg-Lg/TmVw4G322OI/AAAAAAAABrg/DZARyAu4058/s400/20090408145448-3_5%2BKalkulator%2BZakat-vert.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649045416826034402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pajak dan Zakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pemenuhan kewajiban baik dalam kehidupan bernegara maupun beragama. Apapun entitasnya baik individu maupun korporat. &lt;/span&gt;Terutama individu karena untuk korporat atau perusahaan belum ada kesepakatan kesatuan pemikiran &lt;span style="font-style:italic;"&gt; (unity of tought )&lt;/span&gt; dari para ulama Indonesia. Walau demikian, sudah banyak perusahaan yang membayar zakat atas dasar kesadaran berkontribusi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Pada praktik pelaksanaanya tidak sedikit masyarakat yang masih bingung mengenai dua hal ini, ada yang beranggapan bahwa keduanya saling menegasikan dan ada juga yang berpendapat bahwa keduanya saling berdiri sendiri, serta kombinasi pelakuan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, baik pajak maupun zakat memiliki persamaan yaitu tujuan yang sama untuk menyelesaikan masalah ekonomi dan keduanya telah diatur agar dapat dikelola menurut cara yang dianggap tepat untuk mencapai tujuan tadi, yaitu dengan menyetorkan pembayarannya ke lembaga resmi yang sudah disahkan pemerintah. Selain itu tidak semua orang dikenakan kewajiban dua pungutan ini, semuanya dikembalikan kepada batas minimum untuk dapat dikenakan kewajiban menjadi wajib bayar pajak dan zakat. Di Pajak batas ini dikenal dengan istilah (Penghasilan Tidak Kena Pajak) dan Nishab jika pada Zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara mendasar Pajak sendiri berumur lebih muda daripada Zakat, Zakat sudah dikenal jauh sebelum sistem perpajakan masuk ke Indonesia, pada masa kerajaan Islam berkuasa di Nusantara, sudah berdiri &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Baitul Maal&lt;/span&gt; yang menjadi pusat pengelolaan keuangan kerajaan, namun sistem ini secara perlahan mulai digantikan seiring dengan kedatangan kaum imperialis Eropa yang mengadopsi sistem perpajakan dinegara mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sistem yang merupakan konsekuensi logis dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Du Contract Sosial&lt;/span&gt; atau Perjanjian Sosial hasil pemikiran JJ. Rousseau. Artinya kondisi ini membuktikan bahwa walaupun sifatnya lokal, Zakat dapat diandalkan sebagai penopang keuangan negara. Dan dengan demikian tidak heran jika eksistensi Zakat tidak bisa dihilangkan ketika membahas perekonomian negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang paling pokok antara Pajak dan Zakat adalah sumber perintah pelaksanaanya, Zakat bersumber dari Al-qur'an sementara Pajak bersumber dari Undang-Undang dan regulasi lain yang merupakan buatan para penyelenggara negara. Sehingga hal ini berdampak pada niat saat membayar. Tanpa bermaksud mengukur kadar keikhlasan, mungkin para Muzakki (pembayar Zakat) lebih ikhlas melakukannya daripada pada Wajib Pajak walaupun kedua pungutan ini sama-sama tidak memberikan imbalan langsung kepada pembayarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, praktik perpajakan yang berlaku telah menempatkan Zakat sebagai unsur yang tidak dipisahkan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan para wajib pajak. Zakat, bersama dengan sumbangan keagamaan lainnya yang bersifat wajib, menjadi pengurang penghasilan neto wajib pajak (bisa dilihat di formulir induk SPT Tahunan PPh OP), perlakuan ini berdampak berkurangnya nilai beban Pajak yang masih harus dibayar. &lt;br /&gt;Tapi penerapan mekanisme ini berdampak kurang signifikan kecuali jika Zakat diperhitungkan langsung sebagai pengurang beban/hutang Pajak. Ini menunjukkan bahwa posisi Zakat dan Pajak adalah saling menggantikan namun tidak sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Undang Undang Nomor 38 Tahun 1999, dikenal dua jenis Zakat yaitu Zakat maal dan Zakat fitrah. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah atas kedua jenis Zakat yang sudah dibayarkan ini boleh dibebankan dalam perhitungan Pajak? Didalam pasal 11 ayat 2 huruf b UU tersebut disebutkan bahwa termasuk dalam harta yang dikenai zakat contohnya adalah perdagangan dan perusahaan. Sebuah ruang lingkup yang sejalan dengan penjelasannya mengenai definisi Zakat maal. Namun kondisi ini belum memungkinkan zakat fitrah untuk dapat dijadikan sebagai unsur pengurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun syarat Zakat agar dapat dibiayakan (diperhitungkan sebagai pengurang) menurut Pasal 9 UU Nomor 36 Tahun 2008 adalah dibayarkan kepada Badan Amil Zakat (BAZ)atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. Di Indonesia ada BAZ Nasional. Itu kenapa zakat fitrah tidak dapat memenuhi kriteria ini, lain hal dengan Zakat maal yang oleh perusahaan atau orang pribadi sering diserahkan ke BAZ atau LAZ. Sementara zakat fitrah diserahkan hanya atas nama individu dan kepada lembaga amil zakat yang sifatnya lokal atau langsung ke Mustahiq (orang yang berhak menerima zakat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleksitas penyelenggaraan kegiatan negara kian membutuhkan dana yang tinggi maka kembali lagi bahwa keberadaan Pajak sebagai penopang utama tidak bisa dihilangkan. Namun demikian ini bukan berarti Zakat tidak memberi peran, hingga Agustus 2011 BAZ Nasional sudah menerima 1,3 T Rupiah (sumber nya &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2011/08/27/123559/1712404/10/baznas-targetkan-penerimaan-zakat-2011-rp-2-t"&gt;disini&lt;/a&gt;) suatu pencapaian yang bisa digunakan untuk membantu kelancaran kegiatan ekonomi bangsa sebagai penunjang dari aspek kehidupan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dari tinjauan singkat ini dapat disimpulkan bahwa negara Indonesia sudah mengakomodasi kerancuan sistem Pajak dan Zakat dengan menempatkan Zakat sebagai unsur pengurang penghasilan netto yang akan diproses lebih lanjut untuk menjadi dasar pengenaan pajak. Sistem ini dianggap belum sepenuhnya membuat Pajak dan Zakat saling menggantikan karena dampak pengurangan ini tidak signifikan dan lagi hanya Zakat yang diserahkan ke LAZ atau BAZ yang didirikan atau disahkan oleh pemerintah yang boleh dibiayakan. Hanya jika pemenuhan kewajiban Zakat sudah optimal dan perananya bagi ekonomi negara makin besar maka ada kemungkinan posisinya makin sejajar dengan Pajak sehingga dapat betul betul saling menggantikan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1522753452998857061?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1522753452998857061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/tinjauan-singkat-pajak-dan-zakat.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1522753452998857061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1522753452998857061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/tinjauan-singkat-pajak-dan-zakat.html' title='Tinjauan Singkat Pajak dan Zakat'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-D2JZ2GRg-Lg/TmVw4G322OI/AAAAAAAABrg/DZARyAu4058/s72-c/20090408145448-3_5%2BKalkulator%2BZakat-vert.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-8542469444381871477</id><published>2011-09-03T15:20:00.002+07:00</published><updated>2011-09-03T15:24:25.047+07:00</updated><title type='text'>Berkebun di New York</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-067VAE_qIGA/TmHiyYJKq1I/AAAAAAAABrU/tmrdunmRJV8/s1600/duku.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="266" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-067VAE_qIGA/TmHiyYJKq1I/AAAAAAAABrU/tmrdunmRJV8/s400/duku.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;New York, awal Tahun 1990an.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak ku, Nenek ku dan &lt;b&gt;Mamakku&lt;/b&gt; sangat suka berkebun dan semua aktifitas yang berkaitan dengan tanam menanam, mulai dari menanam, menyiangi, merawat, sampai memanen, dan semua aktifitas ini sudah dimulai sejak dulu jauh sebelum aku lahir, itu sebabnya aku sudah biasa makan pisang, rambutan, duku, cempedak langsung dari pokok/pohonnya. Sekitar tahun 1990an, aku sudah berusia belum dewasa namun sudah cukup liar untuk terus dikungkung didalam rumah, sehingga mulai biasa ikut berkebun bersama Bapak. Kami punya kebun yang berada di New York. Tapi jangan bayangkan aku akan terbang ke negeri Paman Sam. Karena &lt;b&gt;New York disini adalah Tanjung Baru&lt;/b&gt;, betulkan? New itu Baru, York itu Tanjung. &lt;strike&gt;Silahkan kalau mau lempar pakai komen di BSE&lt;/strike&gt; :)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1990an itu pergi kekebun seperti bertamasya ke Taman Buah Mekar Sari kini. Karena kebun kami terawat dengan bersih, tertata disetiap blok lahan dengan jenis tanaman tertentu yang mengisinya, sehingga jelas mau kemana kalau ingin memanjat pohon Duku atau Rambutan atau sekedar memetik sayuran untuk lalapan. Belum lagi penjagaan dari Nenek yang ekstra ketat, tidak akan beliau (almh) membiarkan kulit rambutan berserakan dibawah pokoknya. Begitu aku masuk kandang kebun, langsung diwanti-wanti jangan buang kulit buah sembarangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku nakal, masih saja aku panjat dan kulitnya ku biarkan jatuh kebawah lalu aku bersembunyi di balik rimbun dedaunan sambil memperhatikan Nenek kebingungan menatap ke atas pohon dan menggerutui kulit buah yang berserak dibawah. Bingung beliau aku buat. Ah, biasa aku waktu itu masih anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;New York, Kini...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku menemani Bapak ke kebun kami yang rasanya cuma setahun sekali aku kunjungi, ya pas mudik saja. Semuanya sudah banyak berubah dan tidak serapi dan seasri dulu, pohon Rambutan banyak yang sudah mati dan rerumputan sudah lebat namun mati dengan daun kering tertunduk karena semprotan anti gulma. Aku maklum, Bapak ku sibuk dengan urusan yang lain, ke kebun masih tetap rutin setiap sore minimal 1 jam, tidak seperti dulu yang bisa full-time yang karena itu aku katakan bahwa aku dan saudara-saudaraku ini hidup dari hasil kebun apalagi kalau sedang panen tahunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi walau begitu tetap saja kami bisa menikmati hasil kebun kami dengan mudah, seperti makan Pisang, Tebu, Kopi, Pinang, Rambutan, Duku atau Sayur-sayuran. Kata sepupu ku ganti saja lirik lagu : "disini senang disana senang dimana-mana hatiku senang" dengan lirik "disini pisang disana pisang dimana-mana ada pisang".Kalau ada keluarga yang sedang hajatan biasanya Bapak menyumbang hasil kebun ini, dan kalau ada rejeki lebih barulah ditambah amplop. Itulah kurasa Bapak ku tidak cocok jadi orang kota, karena tak mungkin kalau ada resepsi menikah kami harus membawa hasil kebun kami. :). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan kebun memang tidak seperti waktu Nenek masih ada, namun kenangannya hingga kini masih tetap hidup. Membekas.Yang kini sangat banyak di tanam Bapak adalah Duku, sudah sejak 10 tahun lalu Bapak rajin mulai menanam Duku. Bapakku cukup visioner dan optimis melihat masa depan kebun kami ini, dan melihat potensi hasilnya. Aku hanya mengangguk setuju dan berharap kami semua diberi kesehatan dan kemampuan untuk mewujudkannya dan merasakan nikmatnya, hasil jerih payah Bapak, Nenek dan Mamakku. Mungkin 10 atau 15 tahun lagi cita-cita ayahku untuk menjadikan keturunannya juragan Duku, Pinang dan Kopi akan terwujud. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*): Mamak disini adalah Ibu Tiriku.&lt;br /&gt;*): Tanjung Baru adalah nama sebuah Desa di Kecamatan Baturaja Timur, tempat aku lahir dan dibesarkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-8542469444381871477?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/8542469444381871477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/berkebun-di-new-york.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8542469444381871477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/8542469444381871477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/09/berkebun-di-new-york.html' title='Berkebun di New York'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-067VAE_qIGA/TmHiyYJKq1I/AAAAAAAABrU/tmrdunmRJV8/s72-c/duku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-930026701360124803</id><published>2011-08-28T14:20:00.003+07:00</published><updated>2011-08-28T14:27:30.056+07:00</updated><title type='text'>Mudik 2011: Bukan Catatan si Boy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-TIxMFwdX_tc/TlntPkhq_UI/AAAAAAAABrM/811y7m4KWBg/s1600/page.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-TIxMFwdX_tc/TlntPkhq_UI/AAAAAAAABrM/811y7m4KWBg/s400/page.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645804459644353858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Minggu, aku sudah di Rumah Manis Rumah, Home Sweet Home kata orang Barat :). Harusnya Sabtu aku sudah sampai, tapi karena saking cintanya aku sama Pelabuhan Merak, harusnya cukup 1 jam sana aku disana tapi kali ini, lama juga, lama sekali malah! 15 Jam. Tempo waktu yang bisa cukup untuk 1 kali perjalanan Jakarta - Baturaja. Kenapa cinta? Karena katanya cinta sama benci itu beda tipis, mereka berdua ada dipikiran kita hanya saja beda rasa ! Cinta itu katanya enak sementara. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hatred is vice versa&lt;/span&gt;. Jadi daripada rasa tidak enak ini aku simpan-simpan, lebih bagus aku ubah saja jadi cinta. Enjoy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaren itu perjalanan yang rutin dalam 7 tahun terakhir, tp sekaligus jadi yang terlama. Mulanya lancar maju melaju membelah malam di tol Jakarta - Merak, cukup saja ditemani obrolan santai dengan kawan lama tentang cerita lama. Bedanya kali ini diiringi playlist dinamis anak muda rentang dua jaman. Jaman aku SMA dan jaman menjelang umur seperempat abad ini. Ah, sesekali lagu barat ada juga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Kami tidak sedang syuting "Catatan Harian si Boy" jadi tidak perlu ngebut melaju diatas angin, tapi bukan juga syuting tersanjung jadi bisa berlama-lama sampai muncul tersanjung 6. Biasa saja. Karena memang situasi ini diluar kendali kami. Keluar Tol, tidak ada lagi istilah langsung masuk Pelabuhan karena harus 'parkir gratis' alias mengantri berkilo-kilo panjangnya demi bisa masuk area ikan besi bersandar. Sempat terpikir dalam hati mengumpat kemalangan kali ini, hanya saja tidak tahu mau di tujukan kesiapa. Begitu selalu. Ke Presiden atau Menteri Perhubungan aku rasa tepatnya, tapi terlalu jauh khawatir tidak sampai ke Rumah Aspirasi. Buang-buang energi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada 'saviour' untuk setiap tragedi, kalau tidak ada mungkin pas lagi kurang beruntung kurasa. Kali ini beruntung aku membawa 5 buku yang sengaja aku niat untuk ditandaskan sepanjang perjalanan, sayangnya 1 tertunaikan 4 lagi masih belum. Ah, terlalu banyak rupanya !. Lain kali mungkin cukup 2 saja, seperti Keluarga Berencana. Dan sepertinya TTS adalah yang pasti akan dibawa ! Karena TTS ini cukup manjur untuk jadi obat anti stres dan darah tinggi. Energinya disalurkan buat main tebak kata hanya saja kadang ada yang sulit sehingga berubah jadi Teka Teki Sulit. Mungkin karena terbitan KOMPAS. Patutnya aku beli juga yang tipis yang biasa dijual di Kereta Api atau Terminal yang sampul depannya lebih bening :) sehingga berubah jadi Teka Teki Seksi. Aduh ! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih terang tanah, akhir nya kami masuk kapal juga, empat manusia dan empat bungkus nasi untuk berbuka yang harga dan kenikmatannya tidak berbanding lurus. Ah mungkin karena mendadak dan ramai jadi sang koki kehilangan cita rasa, yang penting laris dan kenyang. Itu cukuplah! Aku pun memang sudah bermasalah dengan lidah semenjak kecil, bagiku soal rasa itu hanya ada dua yaitu enak dan enak sekali, jarang ada yang tidak enak. Asyik sekali kan?!. Laut damai kali ini, tidak ada tanda tanda tak ramah, mungkin malam itu harusnya selat sunda bernama Selat Peacefull. Cukup malam itu tentu, karena besok besok hanya Tuhan yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan besi muntah sekitar jam 20.00 tepat pas bersandar di ujung Pulau Sumatera, Bakauheni namanya. Kamipun dimuntahkan juga, dan langsung terus saja seperti kuda poni yang lepas dari pacuan. Walau cuma mengandalkan lampu sorot yang hanya bisa melihat beberapa ratus meter kedepan. Tapi akhirnya sampai juga di bumi Sriwijaya, memang betul ternyata bahwa kita tidak perlu tahu banyak banyak soal apa yang didepan, cukup sebatas yang mampu kita usahakan saja, mengenai nanti ya lihat bagaimana nanti, yang penting jalan terus, kalaupun mau berhenti boleh saja supaya kebosanan tidak merampas umur kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asik sekali memang.. !&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-930026701360124803?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/930026701360124803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/mudik-2011-bukan-catatan-si-boy.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/930026701360124803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/930026701360124803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/mudik-2011-bukan-catatan-si-boy.html' title='Mudik 2011: Bukan Catatan si Boy'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-TIxMFwdX_tc/TlntPkhq_UI/AAAAAAAABrM/811y7m4KWBg/s72-c/page.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2337294893998142084</id><published>2011-08-24T12:27:00.006+07:00</published><updated>2011-08-24T13:03:55.443+07:00</updated><title type='text'>BSE 3 Tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-SEKfMdIMqfY/TlSNJdAcD4I/AAAAAAAABq8/EO_x475Jbwo/s1600/Isenglagi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-SEKfMdIMqfY/TlSNJdAcD4I/AAAAAAAABq8/EO_x475Jbwo/s400/Isenglagi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644291426546880386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selamat hari jadi yang ke Tiga buat blog ku, BSE. Ada yang bilang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;People Grow So Does Blog&lt;/span&gt; semoga waktu Tiga tahun ini sadar atau tidak sudah menjadi masa-masa untuk belajar dan begitu juga waktu waktu didepan nanti, supaya bisa lebih baik dari sebelumnya. Tanpa Henti. Aku suka senyum senyum sendiri kalau membaca ulang postingan dulu. Ah malu rasanya melihat kenarsisan diri sendiri, ketidakpentingan isi postingan dan cara bertutur di setiap tulisan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Tapi apa mau dikata, begitulah aku dulu itu. Sekarang aja mungkin sudah agak lebih baik. Hahaha... Itupun masih mungkin. Tapi ibarat perjalanan, semua postingan dulu itu seperti jalan setapak panjang, kalau aku tolehi kebelakang, warna warni, dan rupanya beragam. Dan setapak itu kini berhenti dipostingan ini. Sekarang, menunggu untuk dilanjutkan lagi dan semoga lebih baik. Aku pikir aku harus berterima kasih sama masa lalu itu, sebabnya karena mereka aku jadi tahu seperti apa yang baik itu. Tak mungkin ada baik kalau ada yang buruk, karena memang harus ada pembandingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi aku berterima kasih kepada semua kebodohan masa lalu yang terekam di postingan BSE ini berkat adanya memori itu aku bisa belajar dan karena itulah aku bisa jalani hari kini dan hari depan dengan lebih baik. Terdengar udik ya? Ya aku kira! Karena memang harus mengakui dulu kekurangan dan kekeliruan untuk bisa belajar lebih baik. Ibaratnya apa ya... Berdamai dengan diri sendiri lah. Selain itu aku juga mau terima kasih banyak sama pihak blogspot, yang masih menyediakan domain gratis, mungkin aku nanti mau beli domain sendiri. Entah kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya cita-cita sama BSE ini. Mau kurawat sampai aku meninggal. Demi apa? Demi anak cucuku nanti, supaya mereka bisa tau dan kenal cerita tentang Bapak atau Nenek nya apalagi kalau sudah meninggal nanti, jadi mungkin cuma cerita dari BSE ini hidup yang bisa mereka saksikan.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;C'est La Vie!&lt;/span&gt; Dan Blog ini telah membuat otakku tetap hidup jemariku mampu mengetik lancar di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;keyboard laptop&lt;/span&gt; HP ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S:&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Buat rekan-rekan blogger yang pernah dan akan berkunjung ke BSE ini, sebelum dan sesudahnya aku juga ucapkan terima kasih banyak. :))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2337294893998142084?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2337294893998142084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/bse-3-tahun.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2337294893998142084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2337294893998142084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/bse-3-tahun.html' title='BSE 3 Tahun'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-SEKfMdIMqfY/TlSNJdAcD4I/AAAAAAAABq8/EO_x475Jbwo/s72-c/Isenglagi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-5593341313615084781</id><published>2011-08-22T15:15:00.005+07:00</published><updated>2011-08-22T20:39:36.191+07:00</updated><title type='text'>Surat untuk Peserta USM STAN 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-M3vslpBVlco/TlJX-oNRsOI/AAAAAAAABq0/oYkLMpeT_JY/s1600/depan.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 256px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-M3vslpBVlco/TlJX-oNRsOI/AAAAAAAABq0/oYkLMpeT_JY/s400/depan.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643670016505262306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gelora Bung Karno. Minggu, 21 Agustus 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dek, tadi aku liat kalian di GBK, hampir penuh kayaknya. Aku jadi ingat 7 tahun lalu di Palembang tapi. Muka kalian macam-macam, ada yang cemas, ada yang santai macam di pantai ada juga yang fokus optimis. Mantaplah. Pas ujian dimulai, aku rasa aku paham gimana itu rasanya mulai mengerjakan soal hitungan yang banyak jebakan atau analisa logika yang membingungkan. Oh ya, hal yang paling aku ingat itu waktu dengar kalian membalik halaman pas pergantian sesi ujian. Serempak dan GBK jadinya seperti bergema kalian buat. Sensasional.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tadi pas aku sebelum masuk GBK, aku liat kalian datang bersama ayah dan atau ibu kalian pagi-pagi sekali, kalian masih menyempatkan diri duduk santai,sangat tenang diantara hiruk pikuk persiapan menjelang ujian yang cuma tinggal hitungan jam lagi. Aku kira pasti kalian sedang mendengarkan dukungan ayah dan atau ibu kalian agar tenang dalam ujian yang sebetulnya adalah bahasa lain yang bunyinya:'Nak, Bapak pengen sekali kamu lulus supaya masa depan mu nanti cerah dan kamu bisa mandiri'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mungkin semangat kalian sudah sangat tinggi, walau kalian tahu bahwa mungkin DI ini tidak menjanjikan kedalaman akademis apalagi prestis universitas, tapi tak masalah karena mungkin dua hal itu sudah jadi masa lalu yang sebagian dari diri kalian pernah menginginkannya. Tapi sekarang tidak lagi sebab hanya sekedar pernah. Karena disini yang diperlukan adalah sikap realistis dan siap menghadapi konsekuensi dari pilihan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;because life is not video game.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kalian berjibaku dengan soal ujian, aku yakin para orang tua kalian diluar sana berjibaku dalam doa, apalagi mengingat persiapan kalian yang sudah begitu panjang sejak beberapa bulan terakhir. Atau ketika bahkan kalian hanya sekedar mengadu nasib mencari peruntungan tanpa persiapan apapun dan hanya mengandalkan doa, keyakinan dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;innate agility&lt;/span&gt; saja. Dan isi harapannya tentu sama: Semoga ada rejeki kelulusan untuk kalian. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Hahaha.. lama- lama aku sok tua ya&lt;/span&gt;. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kalian pernah bertanya-tanya dalam hati, bahwa kalau hanya jenjang DI gimana kelanjutan akademisnya? Sekedar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sharing&lt;/span&gt;, kalau untuk urusan ini murni balik lagi ke pribadi masing-masing. Sepanjang masih ada niat dan kemauan, ada saja kesempatan untuk bisa lanjut kuliah. Bisa lanjut ke DIII Khusus, yaitu Prodip III khusus lulusan DI, kemudian bisa ambil DIV (setara S1) dan kemudian bisa ikut seleksi beasiswa S2 Luar Negeri atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;linkage&lt;/span&gt;. Bahkan hingga lanjur ke beasiswa S3 Dalam/Luar Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang barusan aku sebut itu programnya dari kantor jadi kedinasan sifatnya, kalau mau yang diluar juga bisa, tapi setiap pilihan ada saja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;opportunity cost&lt;/span&gt; nya. Tergantung prioritas masing-masing saja, tapi apapun itu yang pasti ada jalan untuk meng-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;upgrade&lt;/span&gt; diri, jadi jangan khawatir, cuman memang harus kuat mental agar tidak termakan dengan sikap dan pendapat skeptis mereka yang mungkin agak tidak yakin dengan pilihan yang telah kita ambil sejak awal ini, yaitu Prodip I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula adalah hak setiap orang untuk tidak percaya atau tidak mendukung tapi jangan coba-coba menghalangi, karena kita harus yakin bahwa semangat kita tak bisa terbendung. Lagipula kita sudah sadar dan realistis dalam memandang segala konsekuensi jalan yang harus ditempuh kedepan. Lalu yang perlu dilakukan sekarang adalah selalu bersyukur dan menikmati usaha/proses. Perkara hasil, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;that will be God's bussiness.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tu kan mulai sok tua lagi hahaha&lt;/span&gt;... :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah mari kita lanjut saja Dek, karena harapan orang tua mu dan orang tua kita menanti untuk sebisanya kita buat menjadi nyata. Lulus USM, Kuliah, Kerja, Bantuin Orang Tua. Terus? Ya.. terserahmu lah Dek.. Sudah sama-sama besar kita, sudah bisa menentukan jalan hidup masing-masing. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Just do whatever your heart says&lt;/span&gt;. :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Semoga berhasil dan semoga kita berjumpa di Kemenkeu. Amin.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-5593341313615084781?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/5593341313615084781/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/surat-untuk-peserta-usm-stan-2011.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5593341313615084781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5593341313615084781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/surat-untuk-peserta-usm-stan-2011.html' title='Surat untuk Peserta USM STAN 2011'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-M3vslpBVlco/TlJX-oNRsOI/AAAAAAAABq0/oYkLMpeT_JY/s72-c/depan.png' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-7885238600591792578</id><published>2011-08-19T15:16:00.004+07:00</published><updated>2011-08-19T15:30:32.870+07:00</updated><title type='text'>Antara UTS dan Perut Labil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Z1wCu81Q4gw/Tk4evJUeJaI/AAAAAAAABqs/airT7sF82wY/s1600/100_8824.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 258px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Z1wCu81Q4gw/Tk4evJUeJaI/AAAAAAAABqs/airT7sF82wY/s400/100_8824.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642481178446276002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa rasanya mendadak sakit perut saat sedang mengerjakan soal ujian? makin lama ditahan makin tak tertahan, keringat tidak lagi panas tapi dingin dan semua yang nempel dibadan makin terasa tak nyaman. Pagi tadi semua sederhana saja. Baca ulang bahan sekilas saja yang semalam dengan tidak senonoh saya tindih sampai tidak berbentuk karena ketiduran eh salah karena baca sambil tidur eh salah lagi tidur sambil baca maksudnya. Terus berangkat kekampus, duduk diam hening lalu... ahh mungkin karena dini hari tadi salah pilih makan sahur. Dan demi apapun tadi aku jadi yang pertama keluar ujian karena mau cepat-cepat ke bilik termenung.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Untunglah tadi dapat pengawas yang matanya sayu alias kurang tidur alias ngantuk alias tidur sambil ngawas, khawatir dicurigain soalnya, apalagi udah 2x wiri wara toilet-kelas. Maklum kampus STAN ini sangat ketat kalau sudah urusan ujian. Merciless kalau ketahuan nyontek dengan modus apapun, jadi kadang beberapa pengawas bawaanya paranoid kalau melihat peserta ujian agak aktif dikit. Cemas juga aku tadi mengingat UTS ini materinya masih teori (Komputer Audit) jadi butuh waktu lebih buat nulis dan menggambar, nah boro-boro mau menggambar kalau waktu yang ada buat nulis aja diganggu sakit perut ini yang gak sms dulu kalau mau datang. Whatever comes next, yang penting kerjakan sebisanya dan segera keluar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihlah makan sahur mu anak muda! jangan yang pedas-pedas, dan minumnya jangan terlalu banyak es. Tidak baik untuk kenyamanan ujianmu! :)) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-7885238600591792578?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/7885238600591792578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/antara-uts-dan-perut-labil.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7885238600591792578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/7885238600591792578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/antara-uts-dan-perut-labil.html' title='Antara UTS dan Perut Labil'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Z1wCu81Q4gw/Tk4evJUeJaI/AAAAAAAABqs/airT7sF82wY/s72-c/100_8824.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-3283253001746375158</id><published>2011-08-17T13:40:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T13:55:19.670+07:00</updated><title type='text'>Paradox of Plenty</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-4iPKntays8U/Tktls4FEhsI/AAAAAAAABqk/0ghyWT79UoU/s1600/world-currency.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-4iPKntays8U/Tktls4FEhsI/AAAAAAAABqk/0ghyWT79UoU/s400/world-currency.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641714779853981378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;What is the meaning of growth if it is not translated into the lives of people?&lt;/span&gt; (UNDP, Human Development Report, 1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Harian Seputar Indonesia edisi Jumat 22 Juli 2011 mengatakan bahwa Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memandang positif kondisi perekonomian Indonesia yang dinilai memiliki fundamental makro yang sangat kuat"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terlintas dalam pikiran kita waktu mendengar pernyataan IMF diatas?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Saya pikir kita sudah sama-sama paham bahwa membahas kondisi ekonomi akan menjadi suatu bahasan yang tidak ada habis-habisnya, bagi kita penduduk Indonesia bahasan ini menjadi begitu menarik karena bukan sekedar wacana tanpa menjadi nyata tapi lebih karena kita sendiri menjadi sasaran langsung yang merasakan dampak setiap kondisi ekonomi negara kita, Indonesia. Pernyataan IMF yang saya paparkan dalam pembuka tulisan ini adalah salah satu pemicu yang membuat saya merasa ingin turut andil menanggapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sebelumnya ijinkan saya berpendapat bahwa Indonesia adalah negara yang cukup kuat dalam bidang ekonomi, lantaran sudah dua kali diuji dalam dua resesi besar, yang pertama di era krisis moneter tahun 1998 dan kemudian menyusul 10 tahun berikutnya, di tahun 2008 sebagai dampak krisis di Amerika Serikat yang membuat Lehman Brothers gulung tikar. Untuk resesi yang pertama harus diakui bahwa Indonesia tidak cukup mampu berdiri bangkit dibandingkan beberapa negara tetangganya, namun untuk krisis yang melanda di tahun 2008, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara bersama India dan China yang bisa bertahan dari krisis. Ini menunjukkan adanya penguatan pondasi ekonomi secara berkesinambungan didalam 1 dekade terakhir. Akan tetapi saya bertanya-tanya, apakah makna perekonomian yang kuat itu, jika dalam praktik dilapangan masih banyak dijumpai pengemis dilampu merah, biaya sekolah yang makin tinggi, perkembangan daerah yang tidak merata dan lain sebagainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini membuat saya berpikir kembali mengenai sumber kekuatan ekonomi negeri ini yang sekarang dianggap memberi prospek positif bagi kondisi kedepan. Semacam sektor unggulan yang telah bisa dijadikan andalan selama ini, kalau kita melihat ke sekitar, dengan mudah kita bisa melihat pengaruh gaya hidup menjadikan ekonomi indonesia bergantung pada sektor konsumtif baik konsumsi jasa maupun barang yang wajar saja membuat pembangunan mall dan pusat perbelanjaan tumbuh pesat, apalagi di Ibu Kota. Sebuah sektor yang hanya mampu digawangi pemodal kelas tinggi yang biasanya menjalin kerja sama dengan pihak asing. Dan kemudian apa yang terjadi? Sektor ini menjadi penopang ekonomi dalam negeri. Kalau dilihat sekilas, sektor ini memang menjanjikan lantaran menyediakan kesempatan untuk bergelut dalam era globalisasi yang sarat kompetisi dengan banyak negara luar, sebut saja China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang dan jasa yang dianggap sejalan dengan gaya hidup bisa dengan mudah didatangkan dari pemasok dalam dan luar negeri, seperti misalnya Pakaian atau Gadget dengan merk ternama, lalu dijual kembali dengan menambahkan margin laba yang cukup tinggi. Tapi kalau ditelisik lebih dalam, sektor ini sebetulnya rentan, karena efek global yang melatarbelakanginya bisa berubah mengikuti kondisi ekonomi dunia, sehingga aspek kemandirian bangsa tidak menjadi bahasan utama dalam menjalankannya. Belum lagi instabilitas kondisi keamanan dan politik dalam negeri yang bisa saja membuat para pemodal baik dalam dan luar negeri menarik investasinya dalam sekejap sehingga meski menjanjikan tetap saja rentan. Dan kita sama-sama tahu bagaimana labilnya suasana politik pemerintahan dalam negeri saat ini, kasus timbul tenggelam silih berganti, menuruti paham ilmu komunikasi; mengganti suatu subjek untuk menggesernya dengan satu subjek yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sektor yang juga tak kalah menunjang ekonomi negeri saat ini adalah sektor perbankan yang justru menurut saya kini telah mengalami pergeseran dalam memandang apa yang disebut dengan Bunga. Bunga yang bagi para pemodal adalah rate of return (menurut Adiwarman Karim)  atas dana yang ia tanamkan di bank, kini seperti menjadi komoditi sektor perbankan dalam menarik pemodal sehingga mau tidak mau sektor perbankan telah bersandar dalam permainan Bunga atau Interest ini. Lalu lihat kemudian yang terjadi, sektor perbankan menjadikan nasabah sebagai alat untuk menghasilkan uang kembali, makin banyak nasabah yang meminjam maka makin besar kemungkinan untuk menerima pengembalian lebih dari nilai pinjaman yang akan dibagi antara Bank dan Pemodal. Suatu kondisi yang sebetulnya justru menghambat perkembangan ekonomi karena membuat banyak pebisnis kecil berpikir ratusan kali lantaran harus mempertimbangkan beban bunga yang harus ia bayar demi modal yang akan ia pinjam. Dan kemudian kondisi ini dimanfaatkan oleh para pemodal kapitalistik dalam dan luar negeri, mereka berlomba-lomba menyimpan dana dibank demi mengharap Rate Of Return yang tinggi, sehingga ketika disuatu titik, kompleksitas kondisi dalam negeri terganggu maka hal yang sama bisa saja terjadi yaitu: penarikan dana besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor Perbankan bisa saja memasang label beranggotakan LPS-IDIC (Lembaga Penjamin Simpanan) untuk memberi rasa aman pada para pemilik modal, namun hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah siapa yang dapat menjamin nasabah pengguna dana mampu mengembalikan pinjaman? Ok saja jika pinjaman diberikan pada para nasabah Pegawai Negeri yang pengembaliannya dijamin melalui sistem debit langsung atas take home pay bulanan, lalu bagaimana dengan nasabah yang berasal dari pemodal kecil yang hendak memulai usaha, untuk usaha kecil butuh waktu setidaknya 2-3 tahun untuk mencapai Break Event Point, lalu di terbayang betapa susahnya sang nasabah di awal 2-3 tahun pertama untuk membayar pinjamannya. Sebuah kondisi yang tidak memihak pada industri kecil yang sebetulnya dapat dijadikan kendaraan untuk mewujudkan sila keadilan sosial, sehingga jika terus dibiarkan maka benar saja bahwa kemajuan ekonomi masih akan terus dinikmati para kaum menengah keatas, pertumbuhan ekonomi hanya tetap berupa angka tanpa manifestasi yang merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, mungkin kondisi buruk itu belum secara nyata terjadi tapi suatu saat mana tahu kita. Sehingga mungkin sudah saatnya ekonomi negeri ini disandarkan pada sektor yang selama ini mungkin tidak terlalu dibanggakan tapi nyatanya dalam skala lokal bisa berdampak lebih mengena, adil dan berkesinambungan, meski memang belum merata diseluruh negeri lantaran ketersediaan modal yang belum memfasilitasi realisasinya. Kita tahu bahwa sejak kecil kita selalu di doktrin mengenai kekayaan alam yang melimpah. Tapi semakin tua kita makin dihadapkan oleh eksploitasi besar-besaran sumber daya alam oleh negara asing, yang dalam hitungan puluhan tahun bisa saja habis menyisakan kemelaratan bagi generasi mendatang, generasi yang sebetulnya dari mereka kita pinjam sumber daya alam ini untuk mereka nikmati kembali dalam kualitas yang lebih baik. Sementara itu perjanjian perpanjangan kontrak eksploitasi nya terus saja diperpanjang. Satu-satunya yang masih bisa kita harapkan adalah sumber daya alam yang meliputi sektor pertanian dan peternakan serta perikanan. Tiga sektor ini melimpah, menunggu untuk dikelola dengan lebih intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus secara total pada ketiga aspek ini dapat menggulirkan pertumbuhan yang sehat bagi masyarakat secara sosial, ekonomi bahkan psikisnya. Karena dapat membuka lapangan kerja, memberikan kesempatan untuk berkarya dan mengurangi angka kemiskinan didaerah yang justru disana ketiga sektor ini bertaburan, Paradox of Plenty kalau menurut Richard Auty (1993). Jika para penyelenggara negara dibidang ekonomi memperhatikan dan memberi perhatian lebih pada sektor ini, maka meski lambat, kelihatannya akan menjamin sebuah stabilitas dan kekuatan berasas kemandirian. Bermula dari penyediaan modal, pembinaan dan pengawasan hingga beberapa periode saja maka setiap sentra industri di tiap aspek ini bisa bergerak dengan sendirinya, namun dengan catatan bahwa sentra industri ditiap aspek harus dimodali dari kas negara tanpa dibarengi kewajiban untuk mengembalikan, atau kalaupun ada diberikan tempo waktu yang wajar yang tidak membuat para pelaku usahanya terseok-seok dalam menjalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat ketika terjadi resesi ekonomi di Amerika yang membawa dampak di banyak negara, terbukti banyak sentra industri kecil tetap bisa bertahan disaat banyak sektor perbankan dan sektor konsumtif lainnya gulung tikar. Benarlah saat JK mengatakan bahwa Sentra bisnis yang perlu diperhatikan bukanlah angka yang tertera di papan fluktuasi saham di BEJ, tapi adalah perputaran transaksi di pusat dagang Tanah Abang salah satunya, Lebih dari itu, jika pemerintah mau serius memberi perhatian lebih disektor ini dengan mendirikan banyak sentra industri untuk ketiga aspek yang saya sebutkan tadi, disertai dengan pembinaan dan pengawasan yang mantap, maka kekuatan yang bermula dari bawah akan menciptakan kondisi ekonomi mikro yang kuat, dan secara agregat menjelma menjadi kekuatan makro baru yang bersandar pada aspek yang lebih mengangkat nilai kemandirian bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, di tepi pantai para nelayan tidak perlu lagi membuat pasar dadakan untuk menjual ikan tangkapanya, cukup setor ke industri pengolahan yang didanai pemerintah, lalu dikelola menjadi produk siap jual yang seiring waktu berjalan, dibarengi dengan konsistensi pengawasan bisa juga memiliki nilai yang tak kalah baik, langsung dikemas dalam kaleng bahkan untuk tujuan jangka panjang bisa menembus pasar luar negeri. Bayangkan, di lahan jagung, petani tak perlu lagi mempreteli butiran jagung, cukup dimasukkan kedalam mesin lalu langsung dikemas menjadi produk siap olah. Begitu juga dengan susu sapi yang dari peternak bisa diolah menjadi susu kemasan siap jual, tidak lagi hanya terbatas penjualannya dari rumah ke rumah berkeliling dengan sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan hal itu tentu saja seperti yang sudah saya singgung: Perhatian dari Pemerintah, tetap menjadi syarat dengan menimang proporsinya juga. Bayangkan jika negeri ini sebebas barat atau seketat negeri sosialis, tentu tidak sesuai dengan kultur asli Indonesia, yang benar menurut saya adalah membuat batasan kebijakan dimana pemerintah tetap memainkan perannya sebagai regulator tanpa membuat pelaku usaha industri tadi merasa didikte tidak bebas berkreasi, tugas pemerintah adalah menunjukkan keseriusan dalam mendukung ekonomi penopang kemandirian bangsa dengan menjalankan serangkaian kebijakan yang membuat rakyat kecil non-pemodal merasa bahwa niat baik mereka kini telah dengan yakin difasilitasi, salah satunya yang sudah berjalan sejauh ini adalah pengucuran KUKM yang gencar ditayangkan televisi, mungkin masih dalam bilangan tahun sehingga masih sangat baru dan lama untuk diharapkan hasilnya, tapi setidaknya konsistensi dan dukungan terus menerus dari pemerintah akan mempercepat terwujudnya masa-masa dimana perekonomian dalam negeri bangkit dan kuat. Sehingga pertumbuhan ekonomi yang terjadi bukan hanya sekedar angka tapi juga peningkatan kualitas hidup penduduk kearah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini bukan sebuah kritik kepada pemerintah, karena penulis menyadari bahwa ia juga adalah bagian dari pemerintah dan keterbatasan ilmu yang ia miliki, tulisan ini murni hanya sebagai bentuk ekspresi intelektualitas sang penulis yang masih jauh dari baik apalagi sempurna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-3283253001746375158?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/3283253001746375158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/paradox-of-plenty.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3283253001746375158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3283253001746375158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/paradox-of-plenty.html' title='Paradox of Plenty'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-4iPKntays8U/Tktls4FEhsI/AAAAAAAABqk/0ghyWT79UoU/s72-c/world-currency.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-5026215658288387446</id><published>2011-08-17T13:31:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T13:38:33.535+07:00</updated><title type='text'>Pajak untuk Kemandirian Negeri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-7s-PMLJUZ-U/TkthxSmdAZI/AAAAAAAABqU/uRv3v7AzQDw/s1600/kerja-keras.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 273px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-7s-PMLJUZ-U/TkthxSmdAZI/AAAAAAAABqU/uRv3v7AzQDw/s400/kerja-keras.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641710457646285202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita sering berbicara mengenai kesejahteraan dan kemandirian bangsa dalam berbagai aspek kehidupan, dan membicarakan hal tersebut maka tidak bisa lepas dari pembahasan mengenai sumber pendapatan negara. Hal ini karena, untuk dapat mewujudkan hidup yang benar-benar sejahtera tanpa bayang-bayang ketergantungan atau kekhawatiran tentang masa mendatang diperlukan sumber pendapatan yang kuat dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjalanan Republik ini, telah kita ketahui bahwa sumber pendapatan negara dari Pajak telah menjadi unsur utama dalam menunjang kegiatan perekonomian, menggerakkan roda pemerintahan dan penyediaan fasilitas umum bagi masyarakat. Bahkan secara persentase, setidaknya pajak memenuhi kurang lebih 70% pos penerimaan dalam APBN beberapa tahun belakangan. Ini menunjukkan peranan Pajak dalam mewujudkan stabilitas roda kehidupan negeri ini harus makin ditingkatkan mengingat makin tingginya tuntutan kebutuhan dan makin kompleksnya tantangan jaman, terutama memasuki Era Globalisasi dan berlakunya CAFTA.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Karena kita tahu CAFTA telah membuat sektor UMKM terpuruk karena tingginya ongkos produksi dan harga yang tidak mampu bersaing dengan produk China, UMKM sendiri adalah sebuah sektor yang di tahun 2010 lalu diharapkan mampu mengisi 45% PDB sebesar Rp 3000T (Bataviase, April 2010) walaupun suku bunga sendiri belum juga bersahabat dalam mendukung kemajuan UMKM terutama yang masih berskala kecil. Sementara produk China bebas masuk ke pasar dalam negeri dan memposisikan diri sebagai pelayan yang memenuhi segala apa yang dibutuhkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi ke Pajak, jumlah pemenuhan porsi Pajak dalam APBN yang sangat dominan tersebut sebetulnya hanya dalam bentuk Persentase saja, nyatanya secara nominal jumlah tersebut masih jauh dari potensi yang sebetulnya bisa digali, penggalian potensi ini berubah menjadi semacam keharusan yang sebetulnya menjadi inti atau jiwa dari program modernisasi Perpajakan yang gencar berlangsung beberapa tahun belakangan ini. Mengapa? Karena menurut pendapat saya, modernisasi harus berujung pada satu titik yaitu terpenuhinya tujuan Budgetair dan Regulerend  atas Pajak dalam kehidupan Republik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Budgetair yaitu bagaimana Pajak terus difokuskan pada intensifikasi untuk menggali sumber penerimaan yang belum terungkap, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan ini, reformasi yang berlaku belakangan ini merupakan salah satunya, bagaimana regulasi dalam ketentuan perundang-undangan pajak kini telah secara lebih baik menjamin keseimbangan antara hak dan kewajiban Wajib Pajak dan Petugas Pajak, ini sangat penting karena kontrol internal yang efektif dari sisi kelembagaan akan dapat meminimalkan kebocoran potensi yang seharusnya bisa masuk ke kas negara sebagai Pajak sedangkan dari sisi Wajib Pajak ini berperan banyak dalam membangun kepercayaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi menurut saya, ada semacam euforia yang terjadi dalam kerangka reformasi ini. Bagaimana kemudian pemberian fasilitas Tax Cut atau Tax Holiday menjadi semacam pilihan kebijakan fiskal yang dianggap mampu mendorong atau dapat meningkatkan penerimaan Pajak, mungkin benar adanya namun dalam jangka panjang, sementara ibarat manusia, maka reformasi dalam bidang perpajakan ini seperti Bayi yang baru belajar berlari. Sehingga banyak Potensial Loss yang harus direlakan demi membangun iklim yang dirasa nyaman dan membangun kepercayaan bagi Wajib Pajak. Pemerintah bisa saja mengatasnamakan kebijakan ini untuk tujuan jangka panjang dan penyehatan iklim industri, namun harus dilihat sisi keberpihakan industri yang dipilih, apakah relevan dengan karakter bangsa atau yang juga harus dipikirkan adalah alternatif pembiayaan lain yang harus dicari sebagai ganti Potensial Loss yang terjadi. Entah itu SUN atau meminjam uang kepada IMF. Mana yang bunga nya yang lebih rendah dan kondisi yang memberi beban yang lebih ringan saat Maturity Date  tiba, tentunya ini setelah melalui analisis cost-benefit oleh para pengambil kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengejar dari sisi intensifikasi, upaya memaksimalkan penerimaan dari Pajak juga dilakukan salah satunya dengan Pencanangan jumlah Wajib Pajak 10 Juta, sebuah program ekstensifikasi karena meningkatkan jumlah Wajib Pajak walau mungkin dengan segala kekurangan administrasi disana sini dalam pelaksanaanya, namun satu hal yang dapat saya ambil hikmahnya adalah bahwa masih betapa sedikitnya jumlah masyarakat sadar pajak jika dibandingkan dengan jumlah total penduduk Republik ini. Disnilah perjuangan yang sesungguhnya untuk dapat mewujudkan konsep Pajak sebagai unsur yang menuntun pada kemandirian bangsa. Peran pemerintah disini bukan hanya mewajibkan membayar pajak, memberi NPWP dan mengenakan sanksi. Tapi lebih dari itu adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat banyak tentang arti penting Pajak bagi kehidupan negeri, kehidupan mereka dan kita semua juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara mencintai negeri ini, bisa dengan mendukung Timnas Sepak Bola, mendaki gunung, membeli produk dalam negeri, namun mencintai negeri dengan memiliki NPWP? rasanya ini akan menjadi pilihan ke 10 jika ada 10 pilihan saja. Disini fungsi pajak dari sisi Regulerend memainkan peranannya, tentu kita masih ingat penerapan kebijakan penghapusan biaya Fiskal Luar Negeri bagi para pemegang kartu NPWP atau kebijakan Sunset Policy yang memunculkan para pemain lama untuk meminta pengampunan dosa. Terlihat jelas bahwa memiliki NPWP baru sebatas motivasi untuk memperoleh fasilitas, bukan atas nama kebanggan pribadi sebagai penduduk negeri. Menurut saya, dalam kondisi semacam ini, cukup relevan jika tindakan untuk meningkatkan jumlah Wajib Pajak dilakukan dengan cara yang agak indirect-coercive mengingat masih rendahnya kesadaran untuk ber NPWP. Bahkan mungkin sudah waktunya field isian NPWP menjadi hal yang lumrah dalam banyak aspek kepengurusan terkait dengan kegiatan yang menunjukkan kemampuan finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma timbal-balik langsung masih menjadi alasan utama keengganan ber NPWP, sungguh lah kalau begitu betapa iklan himbauan mengenai arti penting pajak yang kini marak di layar kaca sangat tepat untuk disiarkan berulang-ulang supaya masyarakat disadarkan mengenai kemana larinya uang Pajak yang masuk ke negara. Ditjen Pajak harus lebih awas dan intens lagi mengenai penyiaran ini, terutama dari segi muatan dan sasaran, karena tidak dipungkiri bahwa ada banyak hal mengenai pajak yang masih secara keliru dipahami masyarakat, hal ini miris namun memang masih terjadi, seperti misalnya masih banyak yang beranggapan bahwa pembayaran uang Pajak itu dilakukan di kantor Pajak bukan ke Bank Umum/Persepsi/Kantor Pos atau adanya pengenaan biaya dalam pengurusan administrasi Pajak (padahal sudah jelas bahwa Jasa pengurusan NPWP ini secara nyata merupakan contoh Non Jasa Kena Pajak). Terdengar aneh, itulah faktanya, bukan suatu aib rasanya jika iklan layanan masyarakat yang sangat basic ini ditayangkan agar membangun persepsi yang lebih baik bagi masyarakat yang mungkin belum mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan dari pelaksanaan yang baik dari sisi tujuan Budgetair dan Regulerend ini dapat diukur melalui angka Tax Ratio dan kita harus mengakui bahwa Indonesia masih terbilang rendah dalam hal Tax Ratio ini, di tahun 2010 hanya 13,3% mengalami penurunan 0.6% dibanding tahun 2007. Kenyataannya adalah kita harus banyak berbenah, reformasi yang kin telah sedang berjalan harus kita teruskan sebagai jalan untuk memperbaiki banyak hal menuju pencapaian kesadaran masyarakat akan arti penting Pajak dan termasuk memperbaiki diri secara individual atas nama petugas pajak dan secara institusional atas nama DJP secara terus menerus. Sehingga Pajak sebagai penerimaan negara dapat menjadi sumber andalan menuju kemandirian bangsa sehingga kedepan pemerintah tidak lagi dihadapkan pada pilihan sulit mengambil kebijakan yang bagaikan buah simalakama, atau setidak-tidaknya jika memang ada yang harus dikorbankan, tentulah bukan kesejahteraan rakyat yang dipertaruhkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-5026215658288387446?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/5026215658288387446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/pajak-untuk-kemandirian-negeri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5026215658288387446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/5026215658288387446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/pajak-untuk-kemandirian-negeri.html' title='Pajak untuk Kemandirian Negeri'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-7s-PMLJUZ-U/TkthxSmdAZI/AAAAAAAABqU/uRv3v7AzQDw/s72-c/kerja-keras.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-3443952166112628016</id><published>2011-08-17T12:30:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T13:02:38.885+07:00</updated><title type='text'>Kakek Tua Negara Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-FYUD7kIWoyc/TktZPtoMW-I/AAAAAAAABqM/hIIAci83VmY/s1600/4926806349_0df040ca33.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-FYUD7kIWoyc/TktZPtoMW-I/AAAAAAAABqM/hIIAci83VmY/s400/4926806349_0df040ca33.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641701084692765666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Negeriku ini tepat 17 Agustus akan masuk usia 66 tahun, kalau ia adalah manusia, sepertinya ia akan terlihat berambut putih agak keriput kulitnya dan bisa jadi sudah memegang tongkat layaknya seorang kakek paru baya, mungkin kini ia sedang duduk di bangku tua sambil matanya menerawang ke langit. Bercerita mulutnya pada anak-anak dan pemuda generasi dibawahnya tentang bagaimana ia dulu dan perihal masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsinya lebih mirip seperti kakek-kakek betulan. Biar saya tebak, kisaran isi cerita sang kakek adalah seputar semangat muda, kisah cinta, membesarkan anak, menimang cucu, beratnya mencari nafkah atau sesekali soal waktu ia masih jadi bagian dari laskar bambu runcing bersama sohib seperjuangannya, tapi sepahit apapun ceritanya pasti selalu saja ada sisi happy ending nya, tidak CSM alias Cerita Sedih Melulu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Hidup sang kakek akhirnya Happy Ending  karena di hari tua nya, ia hidup memiliki istri yang mendampinginya dan anggap saja seperti di film-film maka sang kakek akan menutup usia diatas kasur empuk berselimut hangat tanpa ada lagi susah hati karena sudah mewariskan hidup layak dan nilai kehidupan pada anak-anak dan cucunya. Itu sudah. Dan cerita sulit masa lalu sang kakek berakhir manis. Semanis madu tanpa setetes pun empedu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak mau menyamakan negeri ini dengan sang kakek, karena selain analogi nya tidak tepat ya aku khawatir saja dianggap pesimis (apalagi fatalis) lantaran berpikir umur Negeriku ini sama dengan umur biologis kita manusia, karena paling tidak sikap optimis salah satu founding father, Soekarno bisa kita tiru, beliau senang sekali berkata bahwa dengan memandang peta saja, seorang anak pun dapat melihat betapa wajarnya integritas fisik Republik Indonesia (Donald K Emmerson 2001). Walau kini banyak gerakan separatisme diberbagai daerah mungkin sebaiknya kita berpikir saja bahwa Republik ini akan berumur panjang dan berdiri wajar dan optimis sebagai Republik tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada satu hal yang aku pikir boleh aku andai-andaikan seperti sang kakek tadi. Satu hal saja? Iya. Tentang apa? Tentang para pembesar negeri ini. Karena yakin saja bahwa bagaimanapun mereka sekarang atau pun nanti akan menjadi kakek tua yang memasuki masa ingin bercerita dan ingin didengarkan. Para pembesar negeri ini tersebar dimana- mana, mereka menangani berbagai bidang yang jika disinergikan, akan berujung satu yaitu: Kemakmuran Negeri. Jadi kalau sudah sama-sama tahu kita ujungnya. Maka tidak ada salahnya kalau aku tiba pada kesimpulan bahwa semua hal tadi belum berujung. Mungkin masih melingkar-lingkar pada lintasan yang bukan tempatnya demi bisa kembali berpacu dalam lintasan yang benar selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah malang nasib para pembesar negeri ini nanti jika di usia senja mereka nanti tidak ada happy ending,  kehidupan yang layak dan nilai kehidupan yang bisa diberikan untuk generasi dibawahnya, satu hal yang bisa menjadi penghibur diri adalah Harapan  bahwa anak cucu nya yang akan memperbaiki keadaan, sementara sejarah mencatat sejak dulu waktu Negeri ini lahir 66 tahun yang lalu pengharapan demi pengharapan terus saja di lempar antar generasi, semangat cinta tanah air yang turut menelurkan Pancasila dan mengumandangkan anti Imperialisme berlanjut sampai sebuah harapan bahwa Negeri ini bisa menjadi Negeri yang benar-benar merdeka secara batin bukan sekedar merdeka diatas kertas dan diakui pendiriannya. Dan akhirnya Soekarno dan pembesar negeri yang hidup disaat itu hanya bisa mewariskan cerita instabilitas kehidupan bernegara yang mewarnai pencarian model atau sistem yang kala itu diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya diera Baru, harapan yang telah ada makin dibawa lebih tinggi menuju tingkat kesejahteraan dan kemandirian hidup bernegara dan dalam tata pergaulan Internasional, namun rezim militer malah mengkebiri dan memangkas aspirasi politik, tapi aku melihat satu hal positif dari tindakan totaliter Soeharto yaitu upaya represif yang nampaknya memang dibutuhkan untuk mendukung terciptanya kehidupan yang "aman" dalam rangka membangun iklim yang kondusif bagi kemajuan ekonomi, tidak apa karena memang harus selalu ada trade-off dari setiap prioritas. Dan kala itu kebebasan berpendapat, kritik dan demonstrasi menjadi ongkosnya. Dan harapan pun berlanjut berganti warna dari gelap hitam kemerdekaan hakiki yang menanti untuk terwujud menuju kelabu langit politik yang terbuka bagi kebebasan, suatu warna yang sangat cerah bagi mereka yang apolitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunnya Soeharto secara dramatis menandai perjalanan baru Republik ini menuju Era Reformasi sejak 13 tahun lalu hingga SBY menjabat saat ini. Yang menarik dicermati adalah perkembangan kondisi ekonomi dan politik, yang pasti model kerangka yang diingini sudah tidak lagi menjadi bahasan utama karena yang lebih penting adalah apakah semenjak lepas dari kungkungan totalitarian Soeharto hingga kebebasan berpendapat tidak lagi mahal harganya, harapan yang semenjak awal untuk memperoleh kemerdekaan yang hakiki sudah diperoleh? Karena jika peralihan antar rezim bermula dari satu hal yang dianggap menghalangi, harusnya pergantian yang sudah terjadi sejak lama sudah mulai menunjukkan hasil. Tapi lihat apa yang terjadi kini, kondisi politik secara bebas memang dijamin namun mereka yang duduk sebagai ruling party masih disibukkan dengan silih bergantinya polemik yang saling menutupi secara periodik. Sehingga politik transaksional menjadi trend dan dianggap biasa. Hopeless.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampaknya menjalar kemana-mana, karena polemik politik yang membawa efek domino telah mengalihkan niat baik dan porsi pikiran para pembesar negeri untuk mencurahkan intelektualitas nya demi memajukan ekonomi dan membangun infrastruktur negeri, dua hal yang saling melengkapi untuk mencapai kemajuan yang bermanfaat dalam jangka panjang. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa stabilitas politik memberi daya tarik akan citra suatu negeri. Harapan yang ada kini adalah semoga suatu saat nanti negeri ini tiba pada suatu politik yang tidak represif namun fair dan jauh dari aroma transaksional agar mereka yang diberi tanggung jawab membawa negeri ini dapat menjalankan tugas dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lebih penting lagi agar kelak waktu mereka tiba di masa purna bakti mereka punya sesuatu untuk diwariskan sebagai modal bagi generasi berikutnya untuk menggantikan peran mereka, dan seperti yang ada di film-film, mereka akan menutup usia diatas kasur empuk berselimut hangat tanpa ada lagi susah hati karena sudah mewariskan hidup layak dan nilai kehidupan pada anak-anak dan cucunya, yaitu kita yang kini hidup dengan semangat muda yang potensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebuah tulisan untuk negeriku tercinta yang sudah memasuki usia 66 tahun. Darah ku merah dan tulang ku putih, karena aku berkewarganegaraan Indonesia dan kupikir seharusnya akan selalu begitu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-3443952166112628016?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/3443952166112628016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/kakek-tua-negara-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3443952166112628016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/3443952166112628016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/kakek-tua-negara-indonesia.html' title='Kakek Tua Negara Indonesia'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-FYUD7kIWoyc/TktZPtoMW-I/AAAAAAAABqM/hIIAci83VmY/s72-c/4926806349_0df040ca33.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1255519542210769014</id><published>2011-08-06T21:44:00.005+07:00</published><updated>2011-08-07T10:14:03.493+07:00</updated><title type='text'>Akhirnya Memang Kita Berbeda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-cyN3PFZswCU/Tj37fDAvy5I/AAAAAAAABqE/uIYaAaSaupg/s1600/Nasionalis.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-cyN3PFZswCU/Tj37fDAvy5I/AAAAAAAABqE/uIYaAaSaupg/s400/Nasionalis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637938819340684178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah berpikir mungkin lebih baik kalau aku ini jadi orang Amerika yang hanya memiliki satu bahasa yang memang benar-benar satu, bukan karena disatukan dalam ikrar yang sifatnya menghimbau. Dari semua daratan, dari Alaska sampai ke Florida, dari Maine sampai menmebus ke kepulauan Hawaii. Semua bahasanya sama, bahasa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;American English.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Aku ini orang Indonesia, sebagai konsekuensinya aku harus mampu hidup dalam ragam adat dan budaya, agama dan kepercayaan, bahasa serta kearifan lokal. Ini bukan perkara mudah karena pertemuan antara tabiat dan watak meramaikan proses ini. Aku benci sebetulnya, karena ini membuat aku sering menutupi dadaku yang bergemuruh naik pitam dalam rona senyum manis, hanya karena tidak mau dianggap menciderai nilai keragaman tadi. Ah, kesabaranku memang tipis, mungkin setipis kulit bawang saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah belasan ribu pulau dan aku ada di salah satunya, Indonesia adalah keragaman bahasa serta agama dan aku menggunakan serta memeluk salah satunya. Itu berarti secara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;zahir&lt;/span&gt; perbedaan antara kita memang sudah tidak bisa dihindari, dan proses pembentukan karakter berlanjutlah disini. Aku yakin bisa berdamai dengan hati dan pikiranku sendiri agar bisa hidup damai berdampingan dengan mereka disekitarku. Aku tidak boleh terpancing lalu mempertajam sisi perbedaan yang membuat kita semakin jauh. Bagiku untuk hal ini, urus saja urusan masing-masing. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;MYOB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang cenderung berpikir untuk menonjolkan sisi perbedaan itu, latar belakang dan motifnya banyak, mulai dari personalitas sampai ke marginalitas, aku jujur saja merasa tidak nyaman, namun kembali lagi pada realita bahwa aku tidak punya hak untuk membuat seseorang bersikap sama seperti yang aku pikir, mungkin memang harus seperti ini nadanya, kalau dipaksakan justru nanti malah sumbang. Dan aku harus sadar bahwa kemajuan dunia global menuntut cara pandang yang global pula, bukan lokal yang di kurung dalam perbedaan. Kiprah yang dimainkan secara total dalam dunia global oleh setiap pemuda lokal, bagiku adalah jalan untuk bisa mengharumkan nama bangsa menuju apa yang kita sebut Nasionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang berbeda dalam memaknai kecintaan akan tanah air, ada yang memberi arti dengan olah raga, batik, makanan daerah, seni dan lainnya, atau berupa pernyataan seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Garuda, maafkan aku yang melupakanmu, tapi cinta lebih kuat dari perbatasan". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini diucapkan oleh penyanyi berkewarganegaraan Perancis berdarah asli Indonesia, Anggun Cipta Sasmi, aku kurang tahu maksudnya apa, tapi mungkin semacam ungkapan hatinya waktu ia mau pindah kewarganegaraan. Dan mungkin ini adalah cara Anggun memaknai rasa kecintaanya akan Indonesia, yaitu mencintai tanpa harus tinggal di Indonesia, seperti kata-katanya sendiri, walau warna paspor nya jadi beda, namun darahnya tetap merah dan tulangnya tetap putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi-lagi setiap orang itu berbeda-beda.. Sukses buat Anggun! Sukses buat kita semua kawan.. ku hargai perbedaan diantara kita dan telah kuambil sikap dan pikiran dalam menanggapinya. :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1255519542210769014?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1255519542210769014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/akhirnya-memang-kita-berbeda.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1255519542210769014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1255519542210769014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/akhirnya-memang-kita-berbeda.html' title='Akhirnya Memang Kita Berbeda'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-cyN3PFZswCU/Tj37fDAvy5I/AAAAAAAABqE/uIYaAaSaupg/s72-c/Nasionalis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-4352852724068990508</id><published>2011-08-03T04:35:00.006+07:00</published><updated>2011-08-03T23:16:24.972+07:00</updated><title type='text'>7 Tahun Bersamamu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-5FBhoJQpwsI/TjlzlumcQbI/AAAAAAAABp8/HtGAsyXG6qc/s1600/20005332.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5FBhoJQpwsI/TjlzlumcQbI/AAAAAAAABp8/HtGAsyXG6qc/s400/20005332.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5636663500632506802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kau masih saja sama, seperti sore tadi waktu aku melewatimu, aku sama sekali tidak terkejut apalagi takjub, karena kau memang selalu begitu. Dan mungkin selamanya akan tetap begitu. Tidak disatu ujung atau di satu sisi, semuanya kini sudah sama memberi rona kelam pada wajahmu yang kian menua lantaran di makan usia dan rodan zaman.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Aku terbiasa menatapmu dari balik jendela kaca sambil sesekali menengadah keatas untuk melihat apakah awan sore ini cukup bersahabat sehingga membuatmu tidak makin dijejali dengan sumpah serapah mereka yang menjadikanmu dimensi ruang yang berisi harapan sekaligus semangat juang atau sesekali menjadikan mu tempat sampah sambil mengutuk kesialan, ketidakberuntungan atau ketidaknyamanan yang aku, mereka dan semua didalam mu alami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku dan mereka adalah bagian yang mengisimu, menambah gemerlap kesan kompleks atasmu bagai etalase hidup bertema diorama senja antara petang menjelang malam. Ada sebagian dari diriku yang mencintaimu, namun sayangnya sebagian lainnya sudah bosan. Rasanya hidupku kini bukan hidup yang bisa aku bayangkan atau sedikit saja mampu ku terka, karena kompleksnya kepingan puzzle mu yang terus menelikung harapan ku kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 2004, aku pertama kali mendatangimu, walau kala itu banyak yang bilang kau tidak sebaik Ibu tiriku, namun setidaknya waktu itu kepolosan pikiran ini membuatku tidak punya rasa takut, cemas dan ragu, sampai pelan-pelan aku mulai sadar bahwa kau sudah mengajariku soal hidup dalam perantauan, kemandirian, dan pada titik ini ku lihat aku setidaknya lebih baik daripada dulu. Itu artinya dalam tujuh tahun kita bersama, bukanlah hal yang sia-sia, ada faedahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku paling suka melihat mu basah dibawah temaram remang lampu jalanan, di malam yang sudah larut. Karena disitu aku bisa bangga melaju membelahmu dan melepas kepenatan lewat deru angin dibelakangku, maklum anak muda. Aku senang karena dekat dengan mu membuatku mampu melihat dunia lewat jendela melalui halaman yang mungkin jumlahnya beratus-ratus tandas ku baca. Tapi kudapati, kedekatan antara jiwa-jiwa hanyalah sebatas kulit yang setiap hari berganti atau lebih ekstrim lagi seperti rokok yang dihisap lalu dihembuskan menyisakan abu yang terbang ditiup angin. Tidak berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu kehidupan yang sebenarnya, dan apa yang kucari setelah 7 tahun dengan mu adalah rumah beserta keluarga, rumah adalah tempat dimana aku dibutuhkan oleh orang - orang yang hatinya membutuhkanku, dan hatiku juga membutuhkan mereka. Dan tentang keluarga, ia adalah mereka yang tidak akan pernah aku bisa pilih namun ALLAH.SWT yang menetapkan karena ada alasan untuk setiap cerita. Keluarga juga adalah orang yang layak menerima cinta dan hatiku yang kepada mereka aku bisa berbuat baik tanpa menuntut timbal balik karena aku sadar memang untuk merekalah aku hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Tahun bersamamu, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Terhitung bulan Agustus 2011 ini, sudah genap 7 tahun aku tinggal di Jakarta, dan aku kira sudah dekat saatnya mengucapkan "Selamat Tinggal Jakarta". Semoga saja ALLAH.SWT mengabulkan doaku untuk pindah ke Sumatera Selatan, Palembang. Amin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-4352852724068990508?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/4352852724068990508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/7-tahun-bersamamu.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4352852724068990508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4352852724068990508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/08/7-tahun-bersamamu.html' title='7 Tahun Bersamamu'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5FBhoJQpwsI/TjlzlumcQbI/AAAAAAAABp8/HtGAsyXG6qc/s72-c/20005332.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-476481709563505211</id><published>2011-07-29T21:16:00.006+07:00</published><updated>2011-07-30T09:35:11.033+07:00</updated><title type='text'>Dan Drama Berlanjut.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-lFm8DySD2OY/TjNrI3ZhodI/AAAAAAAABp0/JAdqnLyrjMw/s1600/Sejarah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 274px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lFm8DySD2OY/TjNrI3ZhodI/AAAAAAAABp0/JAdqnLyrjMw/s400/Sejarah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634965358824759762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun didepan monitor laptop ini, bingung mau memulai dari mana, semuanya sudah begitu jelas ketahuan, namun mereka berdatangan dari segala arah membuat imajinasiku seperti terkunci dalam hingar bingar lintasan partikel memori yang membentuk kilatan cahaya bak komet yang menggurat warna keemasan di biru gelap malam. Tertunduk. Hening.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Aktifitas ku sehari-hari biasanya mampu menuntun rasio ini melompat jauh lalu membuat rasa-rasa yang seperti tidak penting ini sesaat terpendam didalam. Hanya sesaat, namun hari ini kerinduan pada beberapa orang yang mengalir dalam riak pertalian darah di nadi ku, demi apapun telah membuatku menyimpan dua wajah dalam satu ekspresi. Haru dan Rindu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mereka lahir lebih dari lima puluh tahun yang lalu, tidak banyak orang yang tahu tentang siapa dia, selain tentu saja orang-orang yang hadir dalam kehidupan mereka yang kelak membawa kelanjutan kisah di mereka di masa depan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cerita ini dimulai ketika di tahun 1920an seorang pedagang asli India yang tinggal di pesisir pantai Malabar, bernama PP Amo memutuskan untuk berlayar makin ke timur melintasi Teluk Benggala yang mengarah ke Laut Andaman menuju Selat Malaka. Tidak ada data pasti apa tujuan beliau mengarungi jarak sejauh itu, namun di zaman itu hal yang menjadi magnet utama adalah lalu lintas perdagangan yang begitu ramai, terutama di Selat Malaka yang lazim menjadi tempat persinggahan para pelaut atau pedagang dari seantero negeri. Jadi besar kemungkinan beliau adalah seorang pedagang yang mengambil resiko, mencoba peluang lalu meninggalkan negeri asalnya dengan berlayar. Hal ini bukannya tanpa alasan, karena kelak waktulah yang akan menjelaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Beliau berpostur tinggi besar, mata besar dan hidung mancung, serta kulitnya coklat. Dan seperti lazimnya orang India, ia memiliki rambut wajah yang menambah kesan seram padanya. Seorang anak keturunannya menyebutkan bahwa beliau sempat singgah lama di pulau kecil bernama Temasek lalu meneruskan perjalanannya sampai menjejak tiba di Pulau Jawa, kala itu masih tahun 1920an. Garis takdir akhirnya sampai juga, disini ia berjumpa seorang wanita bernama Asyiah asal Kebumen, Jawa Tengah yang kemudian menjadi istrinya. Aku agak segan menerka-nerka mengenai dimana dan bagaimana mereka berjumpa. Yang aku tahu kemudian ia menjalankan aktifitas sehari-hari berdagang kain walau tidak lama, karena sempat terungkap cerita bahwa ia hendak mengajak sang istri pulang ke negara asalnya, India dan untuk melanjutkan hidup sebagai petani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sang istri menolak dan mungkin atas dasar rasa cintanya pada sang istri, ia mengalah dan akhirnya menetap di Pulau Jawa yang kala itu masih satu kesatuan dalam teritori Hindia Belanda. Kala itu negeri ini masih diwarnai isu rasial yang dimotori oleh Penjajah Belanda yang berupaya untuk mempertahankan dominasinya dalam strata ekonomi dengan membatasi jumlah non-Belanda yang berpeluang hidup layak dengan menjadi pedagang, karena dianggap suasana menjadi makin tidak kondusif, ia dan teman-temanya berinisiatif untuk berpindah mencari tempat dimana mereka bisa mencari nafkah dengan tenang. Selanjutnya, mereka makin terdesak ke barat sampai harus menyebrang ke Pulau Sumatera, yang dahulu di era jaman Pra Kolonialisme bernama Pulau Swarnadwipa atau Swarnabhumi dan menetap di sebuah wilayah jauh dari Palembang, yaitu Baturaja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di wilayah kecil ini, mereka yang berpindah dari Jawa, termasuk seorang PP Amo tadi tinggal menetap membentuk perkampungan bernama Kalam, yang kini dikenal dengan nama Desa Sukajadi, dari sinilah kehidupan seorang ia sebagai pedagang, sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai kakek dimulai. Kehidupan yang mungkin sama sekali tidak ada dalam pikirannya. Ia meninggalkan India tanah kelahirannya dan menetap sebagai seorang pedagang kain di kota kecil di Pulau Sumatera. Berkat keahliannya dalam berdagang, ia akhirnya sukses bahkan sanggup membangun toko miliknya sendiri, yang ia namai dengan Toko Jakarta. Aku pernah mendengar bahwa sebelum memiliki toko ini, ia menyewa toko kecil sebagai langkah memantapkan rintisan usahanya, dan dimasa-masa yang tentu saja penuh perjuangan ini tepatnya tahun 1954 salah seorang putrinya bernama Rukiah lahir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ia begitu menyayangi anak-anaknya, pernah aku melihat poto ia dengan tiga orang putrinya, diambil antara tahun 1954-1956 terlihat postur gagah dan tegarnya begitu tampak jelas dipoto itu. Tampak salah seorang putrinya yang bernama Rukiah dalam poto itu memegang balon, tampak lucu, gemuk dengan bola mata yang nyaris menyamai sang ayah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Istrinya, Aisyah adalah tipikal seorang perempuan Jawa yang tidak banyak bicara, dan setiap emosi entah senang atau sedih semuanya bicara dalam satu sikap yaitu Tangis. Ia adalah ibu bagi 10 orang anak-anak dari suaminya. Tak banyak yang bisa sang istri ceritakan selain sebuah figura besar berisi poto ia dan sang suami dalam seragam resmi yang sepertinya diambil sesaat setelah mereka menikah, di figura itu, ia nampak cantik dalam kebaya dan sanggul khas wanita Jawa, sungguh perpaduan yang tidak biasa, bagaimana tidak? Ia yang berkulit putih dan bermata sipit menjadi seorang istri yang berkulit agak gelap dan bermata lebar. Namun ya, jodoh hanya ALLAH.SWT yang tahu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebagaimana kelaziman seorang istri di jaman itu, maka rutinitas rumah tangga adalah profesi mulia yang tidak akan mampu mengisi pundi-pundi uang bagi ekonomi keluarga tapi lebih dari itu adalah ketenangan kehidupan berumah tangga, karena menghadirkan suasana rumah yang merupakan atap bagi anak dan suaminya dalam keadaan layak dan memberi ketenangan. Begitulah Aisyah. Istri dari seorang PP Amo.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kehidupan bagi keduanya makin menua, kini giliran tiba anak-anak mereka yang tumbuh dewasa, Rukiah adalah salah satu diantara mereka. Ia tumbuh dewasa menjadi seorang wanita berambut panjang dan berkacamata yang justru menjadi ia makin cantik, ia sendiri kemudian adalah separuh India dan separuh Jawa. Namun begitu, matanya yang lebar dan batang hidungnya yang mancung tidak akan membuat orang menyangsikan bahwa ia adalah putri dari seorang PP Amo, seorang pedagang tekstil dari India. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah, drama kehidupan pun berlanjut kisah kepada generasi sesudahnya. PP Amo dan Aisyah adalah dua orang yang telah mengalirkan darahnya kepadaku melalui anak perempuan mereka, Rukiah. Ibuku. Seorang separuh India dan separuh Jawa. Dan kemudian aku mewarisi seperempat darah sang pedagang India juga seperempat darah Jawa. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-476481709563505211?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/476481709563505211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/dan-drama-berlanjut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/476481709563505211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/476481709563505211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/dan-drama-berlanjut.html' title='Dan Drama Berlanjut.'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lFm8DySD2OY/TjNrI3ZhodI/AAAAAAAABp0/JAdqnLyrjMw/s72-c/Sejarah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-1903032140071699258</id><published>2011-07-28T19:34:00.004+07:00</published><updated>2011-07-28T23:21:52.850+07:00</updated><title type='text'>Sadari dan Jalani Saja.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-gJlFnn7YS4A/TjGMQCREVVI/AAAAAAAABps/QRjVs37ZLB4/s1600/2108068723_b6750e7869.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 274px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-gJlFnn7YS4A/TjGMQCREVVI/AAAAAAAABps/QRjVs37ZLB4/s400/2108068723_b6750e7869.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634438815931454802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua orang punya prinsip, itu karena tidak mudah berpegang teguh atas prinsip tersebut, ada harga yang harus dibayar, yang paling murah adalah ketidaknyamanan, kekhawatiran dan kegelisahan. Ketiganya baru akan muncul bereaksi waktu dihadapkan pada keadaan yang membuat prinsip tersebut diuji.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Prinsip hidup itu banyak, tergantung urusan apa dulu yang dijalani, postingan ini aku buat mengenai urusan dalam mencari ilmu, prinsip ku dalam urusan yang satu ini dengan jelas aku buat dalam postingan &lt;a href="http://blogsierikson.blogspot.com/2011/03/kamu-pergi-aku-senang.html"&gt;inihhh...&lt;/a&gt;, dan makin kesini, aku makin paham bahwa hidup dengan memiliki sebuah prinsip itu menuntut adanya konsistensi sampai akhirnya indah pada waktunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin tidak semua orang memiliki prinsip yang sama sepertiku, ada yang mirip atau bahkan berbeda sama sekali, itu semacam konsekuensi dalam kehidupan sosial yang membuat kita akan selalu terhubung dengan banyak orang karena berbagai urusan dan alasan, namun hal ini tidak boleh jadi masalah, karena perbedaan prinsip tidak boleh menjadi alasan untuk menarik diri, dan setiap orang pun sebaiknya tidak boleh terlalu memaksakan prinsipnya kepada orang lain, meremehkan prinsip orang lain dengan merasa prinsip nya paling benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataanya adalah, aku tidak mungkin memaksakan agar seseorang dapat bertindak dan bersikap seperti yang aku mau, yang aku bisa lakukan adalah menyadari bahwa yang kini aku hadapi adalah sebuah tempat yang menguji seberapa tangguh aku dalam menjaga keyakinan akan prinsip yang sudah kupancangkan dalam-dalam sejak lama. Sekedar sadar saja tidak cukup tapi jika sudah sadar pun rasanya sudah sangat layak diapresiasi, sebab ditempat itu terjadi banyak kecamuk yang harus ditenangkan, mulai dari rasa amarah, takut, khawatir dan semacam perasaan tersingkir atau tidak dihargai lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, untuk sementara ini, memiliki kesadaran saja sudah cukup. Karena dengan jadi sadar, tidak ada lagi yang perlu aku cemaskan, takutkan atau khawatirkan, sebab aku paham esensi dari prinsip yang aku jalani, dan apapun yang mereka lakukan, mereka yang bersebrangan prinsip denganku, atau beda cara pandang atau pemahaman atau apa saja itu namanya, tidak akan merugikanku dalam berusaha barang sedikitpun, aku punya cita-cita tapi aku tidak mau cita-cita ku membuat ku menjadi orang yang ambisius dalam berusaha sampai menegasikan makna kebesaran ALLAH.SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku nikmati saja hari-hariku.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-1903032140071699258?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/1903032140071699258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/sadari-dan-jalani-saja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1903032140071699258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/1903032140071699258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/sadari-dan-jalani-saja.html' title='Sadari dan Jalani Saja.'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-gJlFnn7YS4A/TjGMQCREVVI/AAAAAAAABps/QRjVs37ZLB4/s72-c/2108068723_b6750e7869.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2666927310822411745</id><published>2011-07-18T15:00:00.003+07:00</published><updated>2011-07-19T00:41:51.621+07:00</updated><title type='text'>Kandang Badak, Pangrango Saja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-_J3D3fnQkLc/TiRvY4_HFuI/AAAAAAAABpk/Z6lEtY0vsgI/s1600/black-rhinoceros-7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-_J3D3fnQkLc/TiRvY4_HFuI/AAAAAAAABpk/Z6lEtY0vsgI/s400/black-rhinoceros-7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630747907524597474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Betis dan paha masih pegal dan sakit, tapi enak. Kok bisa?? Ya bisalah!! :D. Namanya juga manusia apa aja bisa. Gila.. sombong benar ah! hahahaha.. katanya sihhh apa saja yang bisa dipikirkan ya pasti bisa kita wujudkan. Cuman bagaimana dengan cerita dibawah ini! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;*tabuh genderang*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Malam tanggal 16 Juli dua hari yang lalu, aku dan ber tujuh temans baru turun dari puncak Gunung Pangrango (3019mdpl) setelah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trekking&lt;/span&gt; 3 jam dari Pos Kandang Badak dan kembali turun ke Pos yang sama dengan waktu tempuh dari Puncak Pangrango sekitar 2,5 jam. Perjalanan menuju Puncak Pangrango ini cukup mengguncang emosi karena jalurnya yang memang meliuk-liuk apalagi kami dikejar hari yang semakin gelap, untunglah walau sudah menjelang magrib masih bisa juga menikmati Mandalawangi. Lembah dibelakang Pangrango, dengan dingin yang luar biasa, juga indahnya Edelweis yang anggun dan damai. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;*sok puitis*&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di tenda dan istirahat sebentar alakadarnya seadanya secukupnya sewajarnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(bosen gak sih? :D)&lt;/span&gt; kami langsung menyiapkan kompor, nesting, logistik, air, dll. Kemudian tidak lama aksi memasak pun dimulai, diawali dengan merebus air untuk bikin minuman lalu masak nasi dan masak lauk utamanya. Aku membuat kopi nescafe rasa mocca sedikit gula dan halus kopinya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(emosi gak sih bacanya :P)&lt;/span&gt; lalu menghirupnya dengan nikmat khidmat dan ahhhh kena banget sensasinya menghangatkan tubuh yang ditusuk-tusuk angin malam yang dingin tapi terang bulan jadi suasananya pas, tapi jangan dibayangkan cahanya remang-remang kayak warung remang-remang ya.. :)) &lt;span style="font-style:italic;"&gt;*apasih*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini masih jumawa, baru turun ceritanya. Dan pas tiba acara makan bersama, TIDAK TAHU KENAPA perut ini jadi tiba-tiba hilang selera, mau makan tidak ada nafsu, tidak ada logika dan tidak ada perasaan, yang ada hanyaa... ahhh entahlah.. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;*mulai meracau*&lt;/span&gt;. Dan akhirnya setelah dibujuk dengan ucapan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;'pliss lu makan ya, kita udah capek jalan hari ini belum lagi besok pagi mau muncak ke Gede, jadi pliss lu makan dikit doang juga gak apa-apa...'&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dalam hati aku bilang: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;memangnya nama aku Cuplis!&lt;/span&gt;) Jadinya masuk juga itu 3-4 sendok nasi sama lauk dan ujung-ujungnya tidur, dan setel alarm jam 02.45 am 17 Juli. Masuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sleeping bag&lt;/span&gt; urusan selesai, dan mari kita lanjutkan cerita hari esok, tidurlah nak.. hari sudah malam.. besok kau harus kembali berjuang. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;*ujar induk kancil kepada anak kancil yang tadi sore hampir masuk perangkap petani* :D&lt;/span&gt;. Tepat waktu alarm bunyi aku juga terbangun lalu langsung &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngumpulin nyawa&lt;/span&gt; pakai jaket, bawa barang-barang yang perlu (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;headleamp&lt;/span&gt;, dompet, air minum, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;snack&lt;/span&gt;, jaket) dan iseng- iseng membangunkan kawan sebelah yang akhirnya ikut juga ke Puncak Gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu keluar tenda, langsung diserang hawa dingin, parahnya lupa pakai kaos kaki, ah tidak apalah nanti juga kalau sudah jalan bakalan hangat sendiri, tapi ahh udah keburu disusul mual jadinya segera cari pegangan pohon kayu dan terjadilah muntahan bukan lahar di Pos Kandang Badak, bukan lahar tapi isi perut ku yang pas lewat mulut ini rasanya asam, pahit jadinya bukan nano-nano. Tapi itu aku belum nyerah, masih jumawa masih yakin bakalan bisa dan masih masih yang lainnya.. :). Sudah aku coba masukan dua sobekan roti tawar, tapi mental, minum air malah jadi mulas, ya sudah jalan terus saja. Tapi akhirnya belum ada setengah jam berjalan, muntahan lahar dari perut ku makin kuat mendesak muncrat mau keluar, dan akhirnya jebol juga pertahanan yang dari tadi aku jaga, dibawah terang bulan malam bumi Cibodas, aku terguling menahan perut sambil muntah dengan posisi kepala dekat dengan tanah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;*muntah aja didramatisir*&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih yakin aja bakalan bisa, setelah bisa tegak dan jalan lagi, sekitar 10 menit jalan mungkin, akhirnya mual tadi pindah keatas, tepatnya ke kepala alias pusing, tempat yang katanya membuat manusia bisa berbangga karena punya akal. Aku coba menenangkan diri bersandar dibawah pohon, menguasai diri, berpikir jernih. Tapi banyak ragunya daripada yakinnya, ragu daripada nanti merepotkan, ragu nanti dari pada malah sudah terlalu jauh jalan malah harus balik dan ragu karena diserang pertimbangan daripada daripada yang lainnya. Dan akhirnya:"AKU TURUN, MUNDUR!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, karena kesalahan tidak makan tadi malam, aku gagal menuju puncak Gede, hanya Pangrango saja, ada rasa kecewa, tapi sudah kejadian jadi percuma disesali, lain kali saja mungkin, toh tidak akan lari Gunung Gede dikejar, yaaa.. kecuali kalau tanahnya diuruk buat pelebaran komplek perumahan yaaa.. baru buru-buru kesana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Andai kuulang waktu.. kukan kembali ke malam itu.. dan kan ku habisi makan malamku..&lt;/span&gt; Ah.. tapi sudahlah, ALLAH tidak suka kalau terlalu menyesal, berandai-andai dan sejenisnya. :). Btw, itu potonya belum dikopi dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;flashdisk&lt;/span&gt; temen jadinya yaaa.. yang pas saja dulu, yaitu BADAK! :))&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2666927310822411745?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2666927310822411745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/kandang-badak-pangrango-saja.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2666927310822411745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2666927310822411745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/kandang-badak-pangrango-saja.html' title='Kandang Badak, Pangrango Saja'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-_J3D3fnQkLc/TiRvY4_HFuI/AAAAAAAABpk/Z6lEtY0vsgI/s72-c/black-rhinoceros-7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-4136143613267877315</id><published>2011-07-15T00:54:00.003+07:00</published><updated>2011-07-15T02:07:55.516+07:00</updated><title type='text'>Belum Ada Judul</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-9LRh5Nsz3OU/Th8-fccDq2I/AAAAAAAABpc/tLlrYzRavsM/s1600/IMG_1795.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-9LRh5Nsz3OU/Th8-fccDq2I/AAAAAAAABpc/tLlrYzRavsM/s400/IMG_1795.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629286769167149922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buatmu, terima kasih sudah memberi cinta, perhatian, dan sayang. Pria ini bukan mereka yang dengan mudah merasa layak dicinta, karena setiap orang punya kisah. Tapi ia juga manusia biasa yang tahu dan sadar bahwa ia juga ingin mencinta. Disatu waktu nanti semoga cintanya bertemu dalam semua rasa yang satu, di saat yang penuh restu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Kau tahu, kehadiran mu sudah menjadikan hari-hari pria ini bukan sekedar hitam putih. Dan baginya hanya sebuah doa saja semoga kiranya Tuhan memberi dan merestui jua. Tinggi harapan dan keyakinan pria ini bahwa dirimulah yang ia tunggu-tunggu untuk menjadi pendamping menjalani hidup kedepan dengan segala lika liku yang menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diatas semua itu, sampai sejauh ini, tidak ada yang lebih penting baginya selain rasa nyaman yang engkau ciptakan yang membuatnya merasa telah diterima apa adanya. Tanpa harus berpura-pura manis, baik, rapi atau sopan. Ia selalu tenang karena ia bisa menjadi dirinya sendiri setelah ia lelah berputar-putar menjadi dan menjalani hidup yang bukan dirinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diam.. di tengah hiruk pikuk dunia yang penuh ambisi duniawi ini, dihatinya ada gema suara kerinduan dan rasa cinta untuk mu, tempat bagi pria ini memberi rasa sayang, cinta dan perhatiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Juli 2011, 01.47 WIB&lt;br /&gt;Rembulan Penuh malam ini, sayang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-4136143613267877315?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/4136143613267877315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/belum-ada-judul.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4136143613267877315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4136143613267877315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/belum-ada-judul.html' title='Belum Ada Judul'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-9LRh5Nsz3OU/Th8-fccDq2I/AAAAAAAABpc/tLlrYzRavsM/s72-c/IMG_1795.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-4413720815848707166</id><published>2011-07-13T00:43:00.003+07:00</published><updated>2011-07-13T01:43:02.011+07:00</updated><title type='text'>Buruk Baik Buruk Baik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-8NBAU2Xhp6c/ThyVjYcC_jI/AAAAAAAABpM/K_IsuI-yUUs/s1600/droga.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8NBAU2Xhp6c/ThyVjYcC_jI/AAAAAAAABpM/K_IsuI-yUUs/s400/droga.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628538069394325042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir 7 bulan ini aku mengajar les privat, kebutuhan sehari-hari dikampus cukup banyak terbantu dari sini, aku memang tidak pernah pasang tarif, seikhlasnya dikasih ya itu yang aku terima, dan alhamdulillah cukup saja. :D. Tapi kalau aku pikir balik ke saat-saat kenapa bisa akhirnya mengajar les privat ini, aku cuma bisa diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, aku membantu adik kawan kos yang kena tilang di daerah Tanah Kusir, waktu itu kondisi uang lagi pas-pasan, dan kesalahan memang ada di kami, cukup banyak. Jadi pas sampai di lokasi dimana motor ditahan, aku langsung menemui polisi yang ternyata orang Batak, marganya Hutajulu. Biasa, orang Batak memang bernada tinggi kalau bicara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Aku pun sudah maklum kalau itu, sama-sama dari Sumatera juga, cuman karena tuntutan peran sebagai polisi yang menangkap tilang jadinya Pak Hutajulu ini jadi lebih sangar, sementara adik sikawan tadi berdiri disebelah ku, aku membuka obrolan dengan Pak Hutajulu dan kemudian dialog pun mengalir dengan intonasi berimbang harmonis, satu tinggi membentak-bentak, satu lagi tenang (berusaha tenang sebetulnya) dan berusaha sesopan atas nama penghormatan kepada orang yang lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku terpaksa berbohong (maaf ya Pak :D), aku mengaku berasal dari NAD sama seperti adik si kawan tadi, supaya meyakinkan, dan aku sebut saja kini aku sedang kuliah sudah masuk di tahun kedua terakhir di STAN jurusan Pajak, dan mohon kemakluma beliau untuk memaafkan kesalahan adik si kawan yang sudah melanggar peraturan (gak pakai helm, plat nomor &lt;span style="font style:italic;"&gt;expired&lt;/span&gt;, gak bawa STNK), dan naek motor sampai ke pertigaan Tanah Kusir ini untuk mencari kerjaan sampingan di bengkel. Sebetulnya waktu itu aku sudah menyiapkan uang 50rb buat yaaaa... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;you know what i meant.. :))&lt;/span&gt;, tapi setelah aku jelaskan kondisinya dan mau menyerahkan uang tadi, Pak Hutajulu nya menolak dan justru bertanya mengenai kuliah ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahhh... rupanya disini dimulai cerita kemudian, rupanya Pak Hutajulu ini juga pengen anaknya (namanya Hendrik) bisa diterima di STAN dan sudah ikut Bimbel STAN di LIA Bintaro, namun beliau berkata bimbel disana mahal dan anaknya sering saja mengeluh karena tenaga pengajarnya yang kurang bisa merangkul. Dan, Pak Hutajulu kemudian ngomong ke aku bahkan dengan menurunkan nada bicara meminta bantuan kesediaan ku mengajar privat untuk anaknya, bahkan bertanya aku mau minta dibayar berapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku kira sudah OOT, jadinya aku tidak terlalu menggubris karena yang aku pikir cuma bagaimana mendapatkan kembali motor itu pulang kekos, tapi rupanya Pak Hutajulu serius, dan barulah kemudian aku mulai memikirkan ulang tawarannya, sebetulnya aku tidak berani pasang tarif karena dua hal, yaitu karena aku maklum penghasilan Polantas yang sudah menjadi kepala keluarga tentu banyak kebutuhan lain, dan kemudian aku enggan menjadi beban moral jika aku tentukan harga, seolah-olah muncul keharusan/kontrak yang memberi kepastian bahwa anak nya pasti lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ambil keputusan, Ok aku mau, dan aku putuskan terserah Pak Hutajulu saja mau bayar berapa, namun dengan catatan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;i promised nothing&lt;/span&gt;. Dan kursusnya baru dimulai setelah USM STAN 2010 diumumkan hasilnya karena anaknya yang sudah kadung kursus di LIA. Pembicaraan usai, dan sebagai rasa terima kasih, Pak Hutajulu memberikan motor itu kepada kami tanpa permintaan apa2. Aku senang saat itu karena bisa membantu kawan, namun aku sadar tanggung jawab ku yang lebih besar mulai bertambah didepan nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah jalan ceritanya ternyata Hendrik tidak lulus dan jadilah sejak beberapa bulan dari saat itu ia rajin datang ke kos, sekitar 2 kali dalam seminggu dengan jadwal yang fleksibel mengikuti jadwal kuliah dan aktifitas ku yang sering naik turun gunung. Enak kan? :) lagipula metode belajar dengan Hendrik aku memposisikan diri sebagai teman dan aku juga tahu bahwa tidak semua orang tahan belajar selama berjam-jam itu kenapa aku tidak pernah terlalu lama kalau belajar dengan Hendrik, paling lama dua jam sekali pertemuan, dan pulang selalu membawa PR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sebulan sekali, Pak Hutajulu melalui Hendrik selalu memberikan amplop berisi uang bayaran les, biayanya alhamdulillah lebih dari cukup untuk aku gunakan dalam kebutuhan sehari-hari, selain itu aku juga senang mengajar ini karena mencegah otak dari ketumpulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bermula dari kejadian penilangan, seperti sebuah kebetulan, dan seolah bermula dari sebuah kejadian yang dianggap buruk, namun itu semakin menguatkanku bahwa jalan cerita hidup ku ini sudah diatur oleh ALLAH.SWT karena dari situ muncul kebaikan2 yang bisa aku rasakan. Kalau saja malam itu, aku enggan membantu kawan ku mengambil motor adiknya yang ditilang... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;it will never run this way&lt;/span&gt;. Alhamdulillah terima kasih ya ALLAH..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2:216). Tak selamanya hal yang kita benci tidak baik dan tak selamanya hal yang baik selalu baik. Sesungguhnya Allah Maha Pemilik Kebaikan yang Abadi. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-4413720815848707166?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/4413720815848707166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/buruk-baik-buruk-baik.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4413720815848707166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4413720815848707166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/buruk-baik-buruk-baik.html' title='Buruk Baik Buruk Baik'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8NBAU2Xhp6c/ThyVjYcC_jI/AAAAAAAABpM/K_IsuI-yUUs/s72-c/droga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-4136097559568928335</id><published>2011-07-11T14:19:00.003+07:00</published><updated>2011-07-12T00:57:52.551+07:00</updated><title type='text'>0842 0711</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-rJ4RL1rQpW8/Ths4ZlnO3xI/AAAAAAAABoc/aUniYW9qoP0/s1600/2011-04-23%2B07.47.10.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-rJ4RL1rQpW8/Ths4ZlnO3xI/AAAAAAAABoc/aUniYW9qoP0/s400/2011-04-23%2B07.47.10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628154171574116114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Semalam begadang ngerjain tugas sampai jam 2 lalu ngutak ngatik blog baru tidur jam 3, alarm sudah disetel jam 4.30, ah indah nya hidup ini! yakin besok akan menjalani hari seperti biasa, masuk kuliah jam 8, ngajar les, nonton film, ngurusin kegiatan, dll!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tapi rencana tinggal rencana, kupingku tidak mempan diserang dering alarm dari hp, atau mungkin sebetulnya aku bangun terus pencet tombol off? Pas bangun liat jam sudah pukul 08.42, padahal kuliah mulai jam 8! sudah telat 40 menit lebih, mandi, sholat?? wah sudah jam segini, gak apalah hajar aja yang penting dilaksanakan, nyetarter motor, langsung kebut kekampus! Parah, padahal ketua kelas, kelakuan begini, ya maaf! :D&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Kejadian seperti pagi tadi itu, terjadi tidak sengaja, ya mana mau telat, 1 jam malah, untungnya pas sampai dikampus (setelah dua kali hampir jatoh dari motor karena ngebut) dosennya belum datang. Tapi kecewa juga, karena tidak ada kawan (hanya Fadli yang kebetulan juga wakil ketua kelas) yang menghubungi untuk sekedar menanyakan via sms atau telpon mengingatkan bahwa ada kuliah jam 8 pagi sementara jam segitu masih aku masih dikasur. Tapi ya sudahlah, tidak baik selalu mengharapkan orang lain, dan jangan menyalahkan siapapun, hadapi saja lalu tersenyumlah.. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu juga pernah pas hari pertama pengangkatan sebagai CPNS apa PNS aku lupa, tahun 2007 kesiangan juga, buru-buru naik bis kota turun di Gatot Soebroto Jakarta Selatan sampai kantor sudah telat weeee.. :D. Lucu sih kalo diingat-ingat, lucunya itu disuasana buru-burunya itu. Ada seni, seni menekan kepanikan dan tetap kalem, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;and everything is gonna be OK.&lt;/span&gt;, biasanya kalau sudah begini aku cenderung grasa grusu, tapi harusnya tidak begitu ya? toh, kondisinya sama saja. Ya, belajar dr pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja aku posting kejadian lucu ini, lucu bagiku ini, karena jarang-jarang aku telat sampai separah itu, memang kalau dipikir-pikir bakat telat itu sudah ada sejak jaman SMP, rumah dekat tapi telat terus sampai sekolah sampai-sampai Kepala Sekolah bosan memberi hukuman mungut sampah keliling sekolahan :)). Sekalian jadi kenangan yang yaaa... mana tau dibaca sama anak cucuku nanti tentang kelakuana bapaknya yang juga manusia biasa ini. Halahh... jadi kangen ma kamu di sana :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-4136097559568928335?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/4136097559568928335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/0842-0711.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4136097559568928335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/4136097559568928335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/0842-0711.html' title='0842 0711'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rJ4RL1rQpW8/Ths4ZlnO3xI/AAAAAAAABoc/aUniYW9qoP0/s72-c/2011-04-23%2B07.47.10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2559084976103932054</id><published>2011-07-11T00:50:00.013+07:00</published><updated>2011-07-11T02:16:54.555+07:00</updated><title type='text'>Menerawang Gili Trawangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Fv_PoCK3BRI/Thn3XwD8K5I/AAAAAAAABns/PtZM2Jh6tjQ/s1600/IMG_2235.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 309px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Fv_PoCK3BRI/Thn3XwD8K5I/AAAAAAAABns/PtZM2Jh6tjQ/s400/IMG_2235.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627801196786625426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada satu pulau kecil di Provinsi Nusa Tenggara Barat, bernama Pulau Trawangan dan terkenal dengan nama Gili Trawangan (Gili, dalam Bahasa Sasak artinya Pulau), dalam rangkaian pendakian Rinjani kemarin, aku menyempatkan diri singgah ke pulau ini. Dan, baru saja beberapa menit aku menjejak di pulau ini, aku mengalami semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cultural shock&lt;/span&gt; aku seperti merasa asing di negara ku sendiri, karena banyaknya turis asing wara wiri sepanjang jalan di pulau ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Untuk mencapai Gili Trawangan, kita harus menuju pelabuhan Bangsal yang berada di Lombok Utara masuk secara administratif dalam kabupaten Bayan, dengan membayar tiket &lt;span style="font-style:italic;"&gt;boat&lt;/span&gt; seharga Rp 30.000,- dan menyebrangi selat selama kurang lebih 1 jam, maka akan sampai di pulau yang banyak menyembunyikan keindahan sekaligus kehidupan budaya yang bak paradoks dalam kehidupan nyata. Dari kejauhan sebelum mendarat, pasir putih di tepian pantai membuat Gili Trawangan begitu indah, belum lagi biru terang laut di tepinya yang sesekali berkilau karena memantulkan cahaya matahari seakan menambah keinginan untuk segera menjelajah lebih jauh lagi ke pulau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-FOt6RA20bj8/Thn0I1TrQmI/AAAAAAAABnM/6UO7HIPC_Sc/s1600/IMG_2187.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 322px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-FOt6RA20bj8/Thn0I1TrQmI/AAAAAAAABnM/6UO7HIPC_Sc/s400/IMG_2187.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627797641961882210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiba, aku dan dua orang rekan seperjanan, segera mencari penginapan, dan karena menyadari 'ketebalan' dompet kami, membuat kami enggan menanyakan harga penginapan yang berjejer rapi ditepi pantai dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;view&lt;/span&gt; yang indah. Jadinya, untuk mencari penginapan dengan harga yang lebih miring, kami semakin masuk kedalam, dan makin kedalam harga penginapan makin murah dan tentunya makin jauh dari tepi pantai. Ada kawan yang menawarkan penginapan namun harganya masih terlalu tinggi menurut kami, dan setelah cukup lama mencari akhirnya dapat juga penginapan dengan ruang kamar yang luas pas untuk bertiga, kamar mandi ada dua (1 dalam 1 luar) dan kipas angin seharga Rp 100.000/malam, yang aku yakin kalau ditawar lagi jadi Rp 90-80rb mungkin masih mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ejlDz35a9RI/Thn12lBkD1I/AAAAAAAABnc/mW0VxK9Qr5I/s1600/IMG_2183.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 360px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ejlDz35a9RI/Thn12lBkD1I/AAAAAAAABnc/mW0VxK9Qr5I/s400/IMG_2183.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627799527376555858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mandi, istirahat, bongkar carrier, sholat, terus lapar. Kita bertiga langsung &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hunting&lt;/span&gt; makanan tapi sudah sadar situasi makanya cari lokasi makan yang agak dalam ketimbang yang dipinggir pantai yang dipasang dengan harga standar turis asing. Sudah mahfum kalau penduduk setempat memanfaatkan kondisi pengunjung turis asing dengan pasang harga tinggi makanya kita tidak mau mengganggu pancing rejeki mereka. Akhirnya ketemu warteg yang posisinya masuk gang, dan ada tulisan Warung Jawa, kami makan disana, aku masih ingat makan ayam gorang, sayur, tempe harganya Rp 7.000,- bayangkan kalau ditepi pantai tadi mungkin bisa Rp 10.000 bahkan Rp 12.000,-. Tapi ya itu, makannya tidak bisa sambil menikmati pantai. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bodo amat, yang penting kenyang dan sanggup muterin pulau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-B3OnRdpYCUs/Thn1LUm5xYI/AAAAAAAABnU/ZtsJ28V8so0/s1600/IMG_2203.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 205px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-B3OnRdpYCUs/Thn1LUm5xYI/AAAAAAAABnU/ZtsJ28V8so0/s400/IMG_2203.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627798784235390338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah tentang menikmati sore di Tepi pantai Gili Trawangan ini. Bisa duduk diatas pasir putih, sambil menikmati angin pantai dan memandang langsung Puncak Rinjani diseberang sana, adalah pengalaman yang begitu berharga, tapi untuk bisa sampai setenang ini butuh waktu, maklum selama ini hanya lihat di TV cewe-cewe bule pakai bikini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;two pieces&lt;/span&gt;, nah kali ini mereka wara wiri didepan mata, ya bagaimana gak naek turun, degap degup jadinya. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-tmlCGLjmwxg/Thn4AUdSWLI/AAAAAAAABn0/sZMLSP2ayf8/s1600/IMG_2287.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 365px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tmlCGLjmwxg/Thn4AUdSWLI/AAAAAAAABn0/sZMLSP2ayf8/s400/IMG_2287.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627801893751380146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang pantai ini, para pengunjung bisa dengan bebas lalu lalang, bahkan para turis asing tampak santai dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;enjoy&lt;/span&gt; berjalan sambil memegang bir di tangan mereka, makanya di sini Bir laku keras, karena bagi turis asing, Bir sudah seperti minuman wajib di setiap kondisi. Kami bertiga terus berjalan ke arah timur pulau (sengaja, karena sisi barat giliran besoknya), melihat penangkaran penyu dan sepanjang jalan di tepian pantai ini banyak sekali disediakan semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shelter&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;exotic hut&lt;/span&gt; dimana para pengunjung bisa santai disana sambil menanti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sunset&lt;/span&gt;. Suasanannya memang romantis, ah.. semoga saja nanti saya bisa mengajak istri saya (kalau sudah menikah nanti) menikmati &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sunset&lt;/span&gt; ditepi pantai yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-1kO--auK7v8/Thn5j-ToDxI/AAAAAAAABoM/vYxDE7nz2NI/s1600/IMG_2385.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-1kO--auK7v8/Thn5j-ToDxI/AAAAAAAABoM/vYxDE7nz2NI/s400/IMG_2385.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627803605792198418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika matahari tenggelam kami sudah berada tepat di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;spot&lt;/span&gt; yang pas, benar-benar bersyukur aku bisa menikmati pemandangan ini, melihat matahari pelan-pelan tenggelam ditelan laut, perlahan menyisakan guratan cahaya kuning yang menyembul di langit senja. Disaat seperti ini aku sempat menelpon pacar di Sumatera Selatan untuk menceritakan apa yang baru saja aku lihat sekaligus menggambarkan dan berandai-andai kelak bisa mengajaknya kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/--D7VbT6_EE4/Thn49pvSGfI/AAAAAAAABoE/iykwDbCYteM/s1600/IMG_2337.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 293px;" src="http://4.bp.blogspot.com/--D7VbT6_EE4/Thn49pvSGfI/AAAAAAAABoE/iykwDbCYteM/s400/IMG_2337.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627802947436026354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari mulai gelap, kami bertiga kembali ke penginapan namun aku menyempatkan ke masjid setempat untuk sholat, penduduk asli Gili Trawangan ini mayoritas muslim dan di pulau ini ada dua masjid, rasanya begitu kontras, masjid dibelakangnya sementara begitu keluar didepannya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;party-party and bars&lt;/span&gt; berjejer begitu ramai. Tapi ya sudahlah, toh aku yakin kenapa kondisi ini masih bertahan tentunya karena ada semacam rasa saling mengerti atau juga saling membutuhkan antara turis pengunjung dengan penduduk setempat. Sambil jalan kami membeli makan dan minuman (minuman mineral kemasan botol 1,5L merk NARMADA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami berada dipulau ini, pas sedang bulan rembulan penuh, jadinya ada semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;full moon party&lt;/span&gt; yang diadakan bar setempat dan biasanya kalau sudah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;party&lt;/span&gt; suasanannya jadi ramai, tapi aku tidak sempat ikut, capek, ketiduran. Sebetulnya ingin juga menikmati sajian khas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;seafood&lt;/span&gt; disini tapi harus realistis dengan kantong, apalagi kalau lihat warnet.. ahh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the rate does not make sense to me!&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-xbT3qUoGC5o/Thn6Hl2oobI/AAAAAAAABoU/ZMccw5L54Go/s1600/IMG_2296.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-xbT3qUoGC5o/Thn6Hl2oobI/AAAAAAAABoU/ZMccw5L54Go/s400/IMG_2296.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627804217703440818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya disiang hari setelah makan, kami mulai jalan lagi keliling pulau tapi dengan tujuan sisi barat pulau, bagian ini rupanya memang tidak segemerlap bagian timur yang memberikan banyak tempat hiburan dan fasilitas lainnya, disini masih cukup banyak lahan kosong yang belum digunakan bahkan beberapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cafe dan cottages&lt;/span&gt; seperti tidak terawat, sebetulnya hanya tidak lebih dari 1 (satu) jam untuk mengelilingi pulau ini sampai habis jika menggunakan kidomo (andong kalau di Jogkakarta), namun kami lebih memilih jalan kaki agar lebih puas menikmati. Jujur saja, karena masih belum terlalu terjamah inilah sebetulnya pantai disisi barat ini lebih cantik dan bersih dan jika air laut sedang surut, tepiannya bisa terlihat hingga beberapa meter sehingga kita bisa melihat terumbu karang yang indah dan kepiting laut yang berwarna-warni.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-8qqcU9-swAg/Thn4bxg5xAI/AAAAAAAABn8/zdxg9eYPyUc/s1600/IMG_2300.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 308px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-8qqcU9-swAg/Thn4bxg5xAI/AAAAAAAABn8/zdxg9eYPyUc/s400/IMG_2300.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627802365407642626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memisahkan diri dari dua kawan ku tadi, karena mereka mau pulang duluan sekalian mau makan. Tapi akhirnya ketemu lagi di tempat yang pas untuk melihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sunset&lt;/span&gt; menjelang senja dan memanfaatkan momen ini untuk diabadikan. Karena tidak terasa keesokan harinya kami harus sudah meneruskan perjalanan pulang ke Jakarta. Sementara Yoga, memutuskan pulang naik pesawat dan untungnya di Gili Trawangan ini banyak tersedia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;travel agent&lt;/span&gt; yang melayani jasa pembelian tiket pesawat termasuk juga paket perjalanan wisata di Pulau Lombok bahkan ke Nusa Tenggara Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poto iseng:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-1ODdLR5mahc/ThnzNEyiLTI/AAAAAAAABnE/nCNzybAAnu4/s1600/IMG_2303.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 373px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-1ODdLR5mahc/ThnzNEyiLTI/AAAAAAAABnE/nCNzybAAnu4/s400/IMG_2303.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627796615325691186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-LGCtzsGLiTs/Thn2m-Z_OzI/AAAAAAAABnk/sEQAh1w3OPw/s1600/IMG_2221.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 371px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-LGCtzsGLiTs/Thn2m-Z_OzI/AAAAAAAABnk/sEQAh1w3OPw/s400/IMG_2221.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627800358823607090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9047418933719088639-2559084976103932054?l=blogsierikson.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blogsierikson.blogspot.com/feeds/2559084976103932054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/menerawang-gili-trawangan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2559084976103932054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9047418933719088639/posts/default/2559084976103932054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blogsierikson.blogspot.com/2011/07/menerawang-gili-trawangan.html' title='Menerawang Gili Trawangan'/><author><name>Erikson Bin Asli Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01640398179548142809</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_e7-C92brBfw/Sij_iS0R5LI/AAAAAAAAAcs/L8B4ixXl3cs/S220/IMG_7313.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Fv_PoCK3BRI/Thn3XwD8K5I/AAAAAAAABns/PtZM2Jh6tjQ/s72-c/IMG_2235.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9047418933719088639.post-2343601652890590275</id><published>2011-06-27T20:00:00.013+07:00</published><updated>2011-06-28T18:13:26.905+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Ucapan Terima Kasih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-_9DjCU8NG3s/TgioRsQ8GMI/AAAAAAAABlU/270ygqC9fPg/s1600/IMG_2178.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-_9DjCU8NG3s/TgioRsQ8GMI/AAAAAAAABlU/270ygqC9fPg/s400/IMG_2178.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622929156665514178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ucapan terima kasih, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gratitude&lt;/span&gt;, menjadi begitu dalam maknanya jika direnungkan sejenak, karena didalamnya menunjukkan bahwa kita telah menerima kasih dari seseorang, dan yang sebetulnya berasal dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendakian menuju Rinjani kemarin, ada begitu banyak orang yang telah membantu kami sehingga kami dipermudah, memungkinkan kami menjalankan semua agenda yang kami rencanakan sebelumnya. Semua bantuan mereka begitu berarti dan jika harus ku urai dalam cerita mungkin akan menjadi begitu panjang, oleh karena itu hanya 1 (satu) saja yang aku tulis ceritanya sementara yang lainnya, tanpa mengecilkan arti bantuan dari mereka akan dibuat dalam paragraf khusus masih dalam postingan ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Sore itu adzan magrib sudah berkumandang, dan semua urusan sudah kami selesaikan sehingga menurut rencana harusnya kami sudah bergerak meninggalkan kawasan menuju ke Gili Trawangan, sebetulnya agenda ini ingin tetap kami jalankan namun kelihatannya tidak mungkin karena kami mulai kehabisan uang sementara jasa ojek yang tersedia memanfaatkan keadaan kami yang membutuhkan dengan menaikkan harga diluar kemampuan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat itulah, kami berusaha mencari solusi. Aku, Tamsin dan Yoga berusaha untuk menguasai diri agar tidak terjebak dengan keadaan. Sebetulnya Bang Roni sudah berbaik hati dengan hendak mengembalikan kembali uang yang kami bayar atas jasanya namun tidak tega kami menerimanya. Sehingga pilihan yang sangat mungkin dan rasional malam itu adalah terpaksa bermalam dulu di kawasan Senaru ini, dan alternatif nya adalah di pos &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rinjani Trekking Center&lt;/span&gt; namun rupanya RTC tidak menyediakan kamar atau ruangan 'mendadak' untuk pendaki dengan kondisi seperti kami, dan ini sepertinya berbeda dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rinjani Information Center&lt;/span&gt; di Sembalun yang menyediakan ruang untuk sekedar bermalam untuk para pendaki. Bahkan RTC ini tutup ketika hari sudah beranjak gelap tanpa ada yang berjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah mencoba minta tolong ke petugas RTC namun ybs hanya mampu membantu sebatas memberikan ijin bermalam di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lounge&lt;/span&gt; depan yang terbuka. Mengingat isu tidak sedap yang berhembus mengenai tingkat kriminalitas di kawasan Senaru, belum lagi dingin malam tentunya membuat istirahat malam ini menjadi terganggu, sehingga aku berupaya mencari alternatif, dan akhirnya pikiran ku tertuju ke tempat sebuah warung sederhana dimana sore tadi aku numpang sholat Ashar dan aku tawarkan ke Yoga dan Tamsin, mereka mengiyakan sehingga aku coba menemui Ibu pedagang di warung tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama beliau rupanya adalah Ibu Deni, sementara suaminya belum pulang berolahraga. Aku coba menjelaskan kepada Ibu Deni mengenai kondisi kami, dan tanpa berpikir dua kali, raut wajah Ibu Deni langsung sumringah mempersilahkan kami bermalam di rumah beliau. Akhirnya kami bertiga langsung membawa serta carrier kami kedalam tempat yang disediakan Ibu Deni untuk kami. Belakangan aku baru tahu bahwa Deni adalah nama anak sulung beliau, sementara suami nya bernama Pak Rasiana. Kami begitu berterima kasih karena malam ini kami bisa 'aman' untuk beristirahat. Bu Deni menceritakan bahwa minggu sebelumnya ada juga beberapa orang pendaki dari Jakarta yang kondisi nya sama seperti kami dan bermalam dirumah warung beliau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bingung bagaimana membalas kebaikan jasa Ibu Deni ini, Tamsin memberikan usul agar kita coba memberikan semacam ungkapan terima kasih dalam bentuk kiriman pulsa, dengan meminta bantuan seorang kawan kuliah di Jakarta, namanya Relevan Butar- Butar yang punya pekerjaan sampingan berdagang pulsa. Namun saat aku coba sampaikan ke Ibu Deni, beliau menolak, bahkan beliau menawari kami untuk makan malam karena ketika kami tadi ditanya sudah makan atau belum, saya menjawab belum. Tidak lama kemudian, kami bertiga makan malam yang sudah disiapkan oleh Ibu Deni bahkan adik iparnya membuatkan kami bertiga kopi hitam hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil makan malam dibilik samping warung, kami melihat Ibu Deni sedang mengasuh anak bungsunya, usianya mungkin baru 1 atau 2 tahun, lucu dan pintar, matanya bulat dan bulu matanya panjang, namanya Lutfia, Dena Lutfia lengkapnya. Kemudian setelah makan kami pun bercengkrama dengan Ibu Deni dan keluarganya, ada adik iparnya yang sehari-hari mengajar ngaji anak-anak setempat dan adik kandungnya yang duduk di bangku SMA. Tak lama kemudian suami Bu Deni muncul dengan sarung dan peci baru selesai Isya, rupanya tadi selepas magrib tadi, beliau baru saja latihan Sepak Bola untuk menyemangati pemuda di kampungnya dalam turnamen rutin tahunan di Kecamatan Senaru, beliau senang sekali berolahraga nampaknya. Kamipun ngobrol-ngobrol di bale keluarga Pak Rasiana persis didepan warung nya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ugKXa9Y9m3g/Tgmwq9-oDJI/AAAAAAAABmc/gOpUjvtiNUg/s1600/IMG_2179.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ugKXa9Y9m3g/Tgmwq9-oDJI/AAAAAAAABmc/gOpUjvtiNUg/s400/IMG_2179.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5623219861987003538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu begitu dingin, namun Pak Rasiana dan keluarganya memang sudah terbiasa, sehingga sama sekali tidak perlu pakaian penghangat. Kami ngobrol banyak hal mengenai bagaimana kami sampai kehabisan uang dan rencana perjalanan kami besok, sekaligus mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan keluarga beliau. Tak lama, kemudian kami masuk kedalam untuk beristirahat mengambil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sleeping bag&lt;/span&gt; kami masing-masing lalu menyempatkan memberi kabar keluarga dan rekan-rekan terdekat. Selanjutnya kami semua terlelap. Gelap dan hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira menjelang pukul 6 pagi, aku mulai terbangun dan segera mengambil wudhu untuk sholat dan mendapati Pak Rasiana baru pulang dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jogging&lt;/span&gt; pagi. Setelah itu, Tamsin dan Yoga bangun dan aku mengingatkan mereka bahwa pagi ini harus lanjut perjalanan lagi, sehingga kami mulai bersiap-siap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;repack&lt;/span&gt; untunglah akhirnya semua barang-barang ku muat dimasukkan dalam 1 carrier ini. Ketika selesai mandi dan bersiap-siap tiba-tiba Bu Deni memberikan untuk kami tiga gelas kopi hangat dan tak lama muncul Pak Rasiana memberikan kami tiga buah nasi bungkus sebagai sarapan. Sambil dinaungi rasa syukur bertemu dengan orang-orang yang begitu baik ini, akupun sarapan bersama Yoga dan Tamsin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kami sudah siap, carrier dan fisik kami sudah OK. Lalu Pak Rasiana muncul melihat kondisi kami dan tiba-tiba menawarkan kami bantuan uang sebagai tambahan setidak nya bekal perjalanan sampai ke lokasi yang ada mesin ATM, lalu kami jelaskan bahwa uang kami alhamdulillah masih cukup jika hanya untuk sampai di lokasi mesin ATM. Dalam hati aku bingung mau berkata apa mendapati kebaikan Pak Rasiana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami sudah bersiap meneruskan perjalanan, Pak Rasiana memberi gambaran rute menuju lokasi yang ingin kami tuju, yaitu Pelabuhan Bangsal. Dari Senaru menuju terminal terdekat didaerah Bayan yaitu terminal Ancak, dari Ancak perjalanan dilanjutkan ke Bangsal, di Pasar daerah Bangsal inilah ada mesin ATM, karena dari Ancak kami meneruskan perjalanan dengan ijin dulu ke sopir bahwa mohon turun sebentar di mesin ATM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, 15 Juni 2011. Kami berangkat meninggalkan Senaru, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Rasiana dan Ibu Deni serta segenap keluarganya, aku hanya bisa berdoa semoga ALLAH.SWT membalas kebaikan beliau-beliau dengan lebih baik lagi, amin. Tamsin memberikan kupluk/balaclava nya sebagai kenang-kenangan untuk Lutfia. Tak lupa kami berpoto sebagai kenang-kenangan, rencananya kami bertiga hendak membelikan semacam sepatu/seragam olah raga di Jakarta lalu dikirim kepada Pak Rasiana di Senaru. Begitulah, satu malam di Senaru ini rasanya akan menjadi malam yang tidak akan bisa aku lupakan seumur hidup, diantara hiruk pikuk kehidupan jaman modern ini ternyata masih ada orang-orang yang membantu tanpa pamrih, memberi tanpa menghitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Pak Rasiana dan Ibu Deni yang kuceritakan diatas, terdapat juga beberapa rekan yang membantu perjalanan ini diantaranya adalah dibawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1365203341"&gt;Bang Fian&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100001787800634"&gt;Bang Ashwan&lt;/a&gt; dan semua rekan di Khyber Pass dan Oasistala Lombok Timur Nusa Tenggara Barat atas bantuan, tumpangan menginap dan keramah tamahan yang membuat kami seperti berada di rumah sendiri. Mengenal mereka maka aku harus berterima kasih juga kepada &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1036328612"&gt;Yudha&lt;/a&gt; yang sudah mengenalkan aku kepada Bang Fian.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-1nF-taSwWuY/TgmyCwEkhcI/AAAAAAAABmk/GTy_FFl5NkE/s1600/DSC06058.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-1nF-taSwWuY/TgmyCwEkhcI/AAAAAAAABmk/GTy_FFl5NkE/s400/DSC06058.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5623221370082330050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/wildan.codet"&gt;Codet&lt;/a&gt;, si kawan ini sudah banyak membantu, sudah tidak usah disebutkanlah apa saja, tapi rasanya durhaka juga aku kalau tidak kubuat ucapan terima kasih untuk dia. Ni dia orangnya ni.. Thanks Det!&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-qeGsy5pDbLQ/Tgmu2tYpj8I/AAAAAAAABl8/e_Aw85t9eDU/s1600/200269_199959040026151_100000361698795_640858_8370550_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 262px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-qeGsy5pDbLQ/Tgmu2tYpj8I/AAAAAAAABl8/e_Aw85t9eDU/s400/200269_199959040026151_100000361698795_640858_8370550_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5623217864667926466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/RidwanPP"&gt;&lt;br /&gt;Bewok&lt;/a&gt;, sorry Wok waktu lu dateng ke kos nganterin SB ma Sepatu, gw lagi g
